Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Mulai Mengagumi


__ADS_3


Senandung merdu terdengar dari dalam kamar mandi. Suara gemericik air shower juga turut mengiringi. Naora tampak menikmati ritual bersih-bersih di pagi hari.


Harum aroma sabun dan sampo seketika menguar ke penjuru ruangan saat wanita itu keluar dari kamar mandi selang tidak lama. Baru beberapa langkah melewati ambang pintu pandangannya langsung terpaku pada gulungan selimut di atas ranjangnya.


Sesaat ia melirik ke arah jarum jam dinding yang sudah menunjuk angka tujuh lalu gelengan ringan di kepala pun tercipta. Tubuh masih berbalut bathrobe dan rambut basahnya masih terbungkus handuk kecil, Naora berjalan mendekati ranjang berpenghuninya.


"Axton ... bangun lah, ini sudah siang. Bukankah kau harus bekerja?" ia menepuk ringan tubuh pria yang masih terlelap di bawah selimut, berniat membangunkannya. Namun, dengkuran halus masih terdengar di telinga. Axton masih belum bergerak juga.


Tak ingin menyerah begitu saja, Naora mulai menggoyang-goyangkan tubuh besar suaminya. "Axton ... cepat bangun. Lana akan merajuk kalau kau tidak segera kembali ke kamarnya."


"Hm ...." Axton hanya mendengung malas. Mendengar nama istri pertamanya seolah sudah tak berpengaruh baginya.


"Axton ...."


"Aku baru saja tertidur, Naora. Masih sangat ngantuk," jawabnya dengan suara serak dan mata masih terpejam.


Semalaman pria itu mati-matian menahan hasrat adik kecilnya yang terus menuntut pelampiasan. Sungguh, menekan gejolak libido yang sudah lama mati suri bagaikan berperang tanpa lawan.


Panas, ngilu dan tersiksa!


Andai dia tidak memegang perkataanya, andai ia tidak menghiraukan perasaan Naora, mungkin ia tak segan memperkosanya saat itu juga. Tidak peduli dengan reaksi wanita itu yang pasti akan mengumpat dan membencinya. Namun, pada akhirnya ia memilih pasrah seraya memeluk tubuh si wanita. Ingin pergi meninggalkan kamar, tapi hati seolah enggan jauh dari si istri ke-dua. Hingga menjelang subuh, ia baru bisa memejamkan mata.


"Bangun ...."


"Aku sudah bangun, Naora."


"Kau masih molor di bawah selimut, apanya yang bangun?"


Naora menarik selimut yang membungkus tubuh Axton dan bersamaan dengan itu dia langsung tercekat lalu membuang muka ke sembarang arah. Pipinya seketika memerah. Pemandangan di depan mata membuatnya malu dan juga ... terpanah.


"Iya ... ternyata sudah bangun ... si adik kecilmu," lirihnya terdengar kikuk.


Axton mengulum tawa karena menyadari mimik Naora yang terkesan tersipu malu.


Naora seperti anak kucing yang menggemaskan. Selama ini, belum ada wanita yang berekspresi seperti itu di depanku. Bahkan Lana sekalipun.


"Kyaak ...! Axton!" Naora memekik di sela rasa keterkejutan saat tangan kekar menarik tubuhnya hingga terjerembab di atas dada bidang Axton.


"Sebentar saja seperti ini, Naora."

__ADS_1


Aku belum pernah memiliki pagi secerah seperti saat ini. Belum pernah aku menyambut pagi dengan debaran menyenangkan seperti sekarang. Aku sadar aku sudah terpesona dengan wanita ini. Namun, apakah ini bisa dikatakan cinta? Sebaiknya aku segera menemui Nathan untuk menanyakan perihal jenis perasaanku ke Naora.


Wanita itu menggelengkan kepala. "Tidak, Axton. Kau harus segera kembali ke kamarmu dan bersiaplah untuk kerja. Aku juga terlalu malas jika harus mendengar rengekan Lana karena kau terlalu lama bersamaku," ucap Naora terang-terangan.


"Iya ... baiklah! Aku akan kembali ke kamarnya." Axton menampilkan muka masam.


"Terus?"


"Apanya yang terus, Naora ...?"


"Terus kenapa ini masih melingkari perutku?" Wanita itu mencubit gemas tangan Axton yang masih memeluknya, tapi cubitannya tak berarti apa-apa bagi pria itu.


"Iya ... Iya ...." Ia akhirnya melepas lilitan tangannya.


"Axton ...."


"Kenapa lagi sih, Naora?"


"Buang kakimu dari tubuhku, aku tidak bisa beranjak," protes Naora lagi karena sebelah kaki besar Axton mengunci kedua kakinya. Hingga ia masih belum bisa berpindah dari atas tubuh pria itu.


"Hah! Kenapa kau sedari tadi terus menyuruhku?Kau tahu sendiri kalau aku tidak suka disuruh-suruh. Apa kau ingin aku hukum?"


"Aku tidak peduli! Buang kakimu sekarang atau aku akan--"


"Aku akan--" Sejenak Naora tampak berpikir hingga sebuah ide muncul di kepala. "Aku akan mencubit pipimu sampai kau jelek."


"Aduh duh! Sakit, Naora ... lepas!" Axton meringis kesakitan karena capitan maut Naora di kedua belah pipinya.


"Lepas dulu kakimu dari tubuhku maka aku akan melepaskan cubitanku." Wanita itu mencoba bernegoisasi.


"Iya ... baiklah!"


Naora langsung melepas cubitan lalu gegas beranjak dari posisinya kala tubuh sudah terbebas dari kuncian kaki si pria. Namun, ternyata dia belum bisa bernapas lega. Axton rupanya masih belum bersungguh-sungguh ingin melepasnya.


"Kau mengajakku bernegoisasi di saat yang tidak tepat, Naora."


"Kyaak ...! Axton!"


Pekikan sedikit tertahan seketika keluar dari bibir Naora disusul posisinya yang kini sudah berada di bawah kungkungan Axton. "Kau memang harus diberi hukuman, kucing kecil."


Pria berparas tampan itu tersenyum penuh arti sebelum melahap sepasang bibir mungil milik Naora. Cecapan lembut Axton lagi-lagi membuat ia terlena. Sekali lagi, si wanita masih tidak percaya kalau si raja arogan seperti suaminya itu bisa berlaku manis kepadanya.

__ADS_1


"Sudah, Axton. Kau harus kerja," ucapnya dengan napas terputus-purus karena Axton menciumnya tanpa jeda untuk beberapa menit.


Ia menghapus jejak salivanya yang membasahi sepasang benda kenyal nan ranum milik wanita cantik bak barbie itu. Kemudian berhenti mengukung tubuh kecil di bawahnya lalu menuruni ranjang.


"Cepat keringkan rambutmu. Jangan sampai kau sakit, karena aku tidak suka," titah Axton sebelum meninggalkan kamar dengan perasaan tak rela.


Padahal aku masih ingin bersamanya, tapi dia terus saja mengusirku. Berani sekali ia bersikap seperti itu kepadaku. Dasar Naora ...!


Sesampainya di kamar, Axton langsung disuguhi muka sedih Lana. Ia sedikit terkejut, tapi tidak bertahan lama. Dia sangat tahu, istri pertamanya itu sedang merajuk karena semalaman dia tidak berada di kamarnya.


"Lana ... kau kenapa?" tanyanya hanya sekedar berbasa basi.


Sementara Lana tampak terperangah sedikit tak percaya. Ini kali pertama, Axton tak langsung berhamburan memeluknya ketika ia memasang mimik sedih dan kecewa.


"Semalaman aku tidur kesepian di kamar, dan sementara kau malah tidur bersama wanita itu."


"Maaf, Lana," sesal Axton, tapi nyatanya tidak menyesal sampai hati.


Entahlah, ia hanya merasa tidak ada yang salah dengan tindakannya. Lagian setelah kejadian di malam gejolak jiwanya kambuh, Lana belum juga menunjukkan perhatian selayaknya seorang istri. Wanita itu seolah abai. Justru Naora lah yang sangat berperan penuh dalam menenangkannya.


Ahh ... Naora, sepertinya di dalam tempurung kepala pria itu sudah dipenuhi oleh bayang-bayangmu. Hingga ia sedikit abai dengan perasaan Lana.


"Kau sudah kemakan dengan goda rayuannya, Honey. Rumah tangga kita bisa hacur karena dia!"


Suasana menjadi hening. Axton tampak termenung ke dalam pikiran. Terselip rasa tidak terima saat lidah Lana berkata buruk tentang Naora.


"Honey, kenapa tidak segera menjawabku? Benar 'kan wanita itu terus menggodamu? Lagi-lagi wanita itu menyakiti perasaanku. Kenapa dia sangat jahat sekali?." Ia mulai bermain dengan air mata, membuat kesan bahwa ia wanita lemah yang butuh dada pelindung Axton.


Perasaan tidak terima kian menyisiri bilik hati. Baginya, Naora bukanlah wanita seperti itu. Bagaimana bisa seorang malaikat tak bersayap seperti istri mudanya itu di bilang jahat? Ah ... perkataan barusan sangat tidak cocok jika disematkan pada seorang Naora Alesha.


"Sepertinya ... aku sudah menjilat air ludahku sendiri, Lana. Aku mulai mengagumi Naora."





Bersambung~~


Maaf, bab kali ini agak pendek karena Othornya gi kurang enaK badan. Tapi masih ada 1000 kata lebih kok.

__ADS_1


Terima kasih ...


Lop you sekebon jengkol.


__ADS_2