
Naora seketika terperanjat dari posisi duduk hingga tubuh besar Axton terhuyun ke peraduan. Ia seketika terlihat salah tingkah di depan Nathan dan Wildan.
Tatapan kedua pria di depannya itu seolah baru saja memergoki sepasang pemuda yang berbuat asusila. Padahal tidak ada yang salah dengan tindakan mereka. Di saat Axton bisa bersikap terkesan biasa, Naora justru merasa malu luar biasa.
"Kalian datang di waktu yang salah." Axton mengutarakan protesnya diiring pergerakan tubuh yang bangkit dari ranjang dan berdiri di sebelah Naora.
Nathan berdecak lidah. "Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari dirimu." Pria itu menelisik keadaan sahabatnya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Dan kulihat lukamu tidak sampai mengalami patah tulang atau gegar otak. Haah! Rugi sekali aku mencemaskanmu."
"Sialan! Apa kau baru saja menyumpahiku?!"
"Anggap saja seperti itu." Nathan lantas menggiring perhatian ke wanita cantik yang masih setia dengan rona malu di wajahnya. "Naora, apa kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka 'kan? Apakah suami laknatmu ini bisa melindungimu?"
"Seperti yang kau lihat Nathan, aku sangat baik-baik saja." Wanita itu menjawab seraya tersenyum manis lalu mengalihkan pandang kepada luka di lengan sang suami. Perlahan kesuraman menyapu wajahnya yang semula berseri.
"Semalam Axton terluka karena mencoba melindungiku. Padahal luka sebelumnya belum sembuh."
"Jangan merasa bersalah, Naora. Itu memang sudah menjadi kewajibannya sebagai suami. Jangankan dia, aku pun pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya semalam." Nathan terus berceloteh tanpa menghiraukan gurat tidak suka di wajah sahabatnya itu.
Kini giliran Axton yang berdecak lidah. Tangan dibawa merangkul posesif pinggang ramping Naora. "Buang perhatianmu itu dari wanitaku." Ia seolah menegaskan atas sebuah kepemilikan akan diri Naora.
Senyuman penuh arti seketika menghiasi wajah tampan Nathan. "Pertahankan sikapmu itu."
"Bagaimana dengan penyelidikan kasusnya?" Axton mulai mengalihkan topik.
Semalam ia memang sempat mengabari Nathan dan Wildan untuk membantunya mengurus kasus aksi anarkis para preman itu.
Nathan menoleh ke arah asisten pribadi Axton. "Kau yang jelaskan, Wildan," titahnya.
Wildan mengangguk kecil sebelum memberikan laporan. "Pihak petugas yang berwenang sudah terjun langsung ke TKP. Kasat Reskrim Polres setempat mengungkapkan ada kendala dalam melacak para pelaku. Salah satunya karena pelaku diduga menggunakan kendaraan dengan pelat palsu. Selain itu, polisi kesulitan melacak pelaku karena hasil rekaman dash cam mobil juga kurang bisa menangkap gambar dengan jelas sebab saat itu cuaca sangat buruk, sehingga pelaku sulit dikenali."
Helaan kasar seketika terdengar dari bibir Axton. Menandakan akan ketidak puasan dari dirinya. "Apa tidak ada bukti lain yang bisa dijadikan petunjuk?"
"Saat Ini pihak petugas masih melanjutkan penyelidikan. Kita tunggu saja bagaimana pengembangan kasusnya," sela Nathan.
"Aku ingat, kalau salah satu dari preman itu memilik tato doraemon di lengan kirinya." Naora menyela dan langsung mendapat perhatian dari ketiga pria tersebut.
"Naora, kau yakin kalau gambar tatonya doraemon?" Axton mencoba mencari mimik serius di wajah Naora.
"Iya, aku sangat yakin. Semalam aku bisa melihatnya dengan jelas saat kilat petir menerangi langit beberapa kali."
"Wah! Sebenarnya lucu juga ya, seorang preman bertato doraemon," sela Nathan antara percaya dan tidak.
"Itu memang ulah kejahilan si penulis omes cerita kita Ini. Semua preman di ceritanya selalu dibuat tidak berwibawa dan tidak memiliki harga diri. Miris!" Wildan turut menyela seraya terkekeh geli dan disusul oleh Naora dan Nathan.
__ADS_1
"Dasar Author somplak!" Ejek Nathan.
"Aku setuju!" Wildan sefrekuensi dengan ucapan Nathan.
Jeglerrr ...!
Ke empat anak manusia itu seketika terjingkat saat tiba-tiba suara petir seolah menggelegar di atas kepala.
"Siapa yang somplak?! Hah?! Dasar anak-anak durhaka! Berani-beraninya ngatain authornya! Mau aku kutuk jadi batu nemenin malingkinding?!"
Suasana semakin mencekam setelah terdengar gema suara yang entah berasal dari mana. Empat pasang itu tampak merotasi mencari keberadaan sumber suara. Sementara Nathan dan Wildan tampak bergidik karena mereka lah tersangka utamanya.
"Nggak usah nyari-nyari. Sudah sana lanjutin peran kalian! Aku pantengin dari sini sambil makan basreng!"
Suasana kembali tenang. Gelegar gema suara mendadak menghilang.
Oke! Cukup iklannya!
"Terus apa lagi ciri-ciri dari preman itu yang kau ketahui lagi, Naora?" Nathan kembali menyelidik.
Naora mencoba mengingat-ingat. "Hmm ... preman itu sangat bau. Aku sampai ingin mengeluarkan senua isi perutku," ujar wanita itu dengan apa adanya seraya menunjukkan mimik muka layaknya seseorang yang ingin muntah.
Nathan dan Wildan mendengus geli bersamaan. Ekpresi Naora saat berkata barusan terlihat menggemaskan. Namun, hal itu justru ditanggapi serius oleh si pria arogan.
Siapa lagi kalau bukan Axton Sanders.
"Baunya sangat amis seperti daging mentah dan darah hewan."
Binar wajah Axton seketika berubah. Ia seperti mendapatkan sebuah titik terang. "Sepertinya kita juga perlu memeriksa setiap rumah jagal hewan di setiap sudut kota."
…
Setelah menjalani interogasi dari pihak penyidik, Axton dan Naora berniat langsung pulang ke kediaman. Sekilas, si pria menyadari kebisuan istrinya itu seolah sedang hanyut ke dalam pikiran.
Naora yang semula masih setia bertopang dagu di bingkai jendela mobil seraya memandangi pemandangan di sepanjang perjalanan tiba-tiba terkesiap saat Axton menarik tubuhnya ke dalam dekapan.
"Kau kenapa, Naora?" tanya Axton.
"Aku hanya kepikiran saja."
"Apa yang kau pikirkan?"
"Banyak. Satu di antaranya tentang kasus yang menimpa kita semalam."
"Jangan membebani otakmu. Biar aku saja yang memikirkannya." Axton melabuhkan kecupan di sebelah pelipis istrinya.
__ADS_1
"Axton, apa Daddy juga sudah mendengarnya tenang apa yang terjadi dengan kita semalam?"
"Belum. Aku memang sengaja tidak dulu memberi tahu Daddy karena tidak ingin membuatnya kepikiran."
"Kau benar. Terus apa kau sudah menghubungi Lana? Aku lihat di ponselmu dia terus meneleponmu tapi tidak jua kau angkat. Dia pasti sedang mencemaskanmu di rumah."
"Jangan kau pikirkan, Naora." Axton kian menenggelamkan Naora ke dalam dadanya. "Sekarang kau tidurlah, masih butuh 1 jam lebih waktu perjalanan untuk sampai rumah."
"Iya." Naora pun mematuhi ucapan suaminya. Kebetulan kelelahan juga masih melanda.
Sementara Axton, diam-diam tengah berkecamuk dengan pikirannya. Bukan perihal kasus tindakan anarkis para preman semalam, melainkan karena Lana.
Bagaimana caraku menjelaskan kepada Lana tentang perasaanku ke Naora? Dan bagaimana caraku menjelaskan kepada Lana bahwa perasaanku ke dia selama ini ternyata bukanlah cinta.
Pria itu kembali mendilema. Di saat hati ingin melepaskan Lana, tapi keadaan seolah menghalau niatnya. Tanpa ada angin maupun hujan, misal tiba-tiba ia menceraikan wanita itu, bukankah menciptakan kesan buruk pada dirinya? Apalagi sebuah janji yang harus ditepati kian menyudutkan posisinya.
Maafkan aku Lana, karena telah menghianatimu. Hatiku ini benar-benar sudah terikat oleh pesona Naora. Rasa cinta itu datang tanpa kuminta.
Selang beberapa waktu, Axton dan Naora telah tiba di kediaman mereka. Badan masih memaku di depan anak tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Hati seolah memprotes saat kaki hendak melangkah menuju ke kamar Lana.
Kalau bukan karena suruhan Naora, mungkin ia sudah berada di kamar istri ke-duanya itu sekarang. Menikmati perlakuan lembut yang memberi rasa senang. Sungguh, sentuhan wanita itu membuatnya mabuk kepayang.
Naora sudah menjadi candu bagi seorang Axton.
Dengan berat hati ia pun menapaki anak tangga dan berjalan menuju kamar Lana. Di dorong daun pintu hingga ranjang tak berpenghuni tertangkap mata. Ia mengedar pandangan ke seluruh ruangan, mencari sosok yang selalu bersikap manja di depannya.
Hueekk ...! Hmmp! Hueeek ...!
Garis-garis kernyitan seketika terukir di kening saat telinga menangkap suara aneh dari kamar mandi.
Hueekk ...! Hueek ...!
Tangan pun diajak memutar handle pintu untuk mencari tahu rasa penasarannya. "Lana, kau kenapa?"
☘
☘
☘
Bersambung~~
Maaf ya, belum bisa balas satu-satu komen kalian. Tapi percayalah, Nofi sangat senang membaca komen-komen para readers tersayang🥰 Insha Allah kalau ada waktu senggang, Nofi bakal balas kok..
Terima kasih ya taa dukungan kalian🥰
__ADS_1
lop you😘