Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Kembali cemburu


__ADS_3


"Karena aku ...." Nathan menggantung kalimatnya seiring dengan lirikan penuh arti ke arah Axton yang masih setia dengan muka air peresan jeruk nipisnya. Masam sekali, membuat siapa saja harus menelan cucuran air liur, meski cuma membayangkannya saja. Termasuk Authornya. Ahaa!


Sunggingan terlihat samar di bibir. Pria berparas tampan nan teduh itu seolah tengah mencibir. Dan gelagatnya itu, tentu disambut oleh tatapan tajam Axton yang terukir.


Kedua pria itu seolah sedang melakukan perang batin. Beruntungnya, Naora yang berada di antara mereka tak menyadari situasi.


"Karena apa, Nathan?" Kalimat pertanyaan dari Naora dengan cepat menarik kembali perhatian Nathan.


"Ee?" Sesaat pria itu terlihat lambat berpikir. Namun, gegas ia sematkan senyuman termanis di bibir. "Karena bangunan hotel ini adalah milikku. Kebetulan aku melihat namamu dan Axton di Guest in house list. Dan aku langsung berniat untuk memastikan keadaanmu, Naora," terang Nathan.


Selain itu aku memang sengaja memantaumu melalui sopirku, Naora. Aku ingin memastikan bahwa Axton tidak berlaku buruk lagi kepadamu.


Guest in house list: Daftar tamu yang sudah menginap di hotel.


Wanita itu mengulas senyuman tipis di bibir mungilnya. Perhatian Nathan menghangatkan hatinya. "Seperti yang sudah kukatakan di telepon tadi, aku sudah lebih baik sekarang. Terima kasih ya. Kau sudah sangat perhatian kepadaku."


"Kau tidak perlu repot-repot bersikap perhatian kepada wanita yang sudah bersuami, Nathan." Axton menyela tegas. Terus terang ia sangat tidak suka melihat interaksi di antara Naora dan Nathan yang terkesan akrab. Ditambah lagi, mereka terlihat saling melempar senyuman.


Naora bahkan tidak pernah tersenyum untukku.


"Naora, kenapa kau hobi sekali menebar pesona di depan Nathan? Apakah itu pantas bagi wanita yang sudah bersuami?!" Kini Axton melempar protes ke Naora. Wanita itu hanya menanggapinya dengan raut muka cemberut dan perasaan jengah. Jujur, ia masih kecewa dengan suami arogannya itu.


"Aku memberi perhatian ke Naora karena aku tahu suaminya itu sering lalai." Sindiran mencelos begitu saja dari bibir Nathan. Pria itu tampak sengaja membuat darah di kepala Axton mendidih karena amarah.


"Kau sudah terlampau jauh ikut campur ke dalam rumah tanggaku, Nathan?" sengit Axton.


Bukannya gentar, Nathan malah tersenyum remeh seraya mengedikkan bahu. Ia lalu kembali menggiring perhatiannya ke Naora. "Oke, bukannya kau mau pulang, Naora? Biar aku antar sekarang."


"Baiklah. Ah, tunggu sebentar." Naora memutar tumit lalu melangkah melewati tubuh Axton. Diambil tas miliknya lalu kembali berjalan menuju pintu keluar. "Sudah, kita bisa pergi sekarang."


Namun, kaki yang hampir saja terayun melewati ambang pintu, harus terhenti. Sepasang matanya menangkap penampilan Axton yang terlihat kurang rapi. Hingga membuatnya tidak bisa bersikap cuek sampai hati. Namun, bukan berarti ia tak merutuki diri. Karena tangannya sangat gatal tak terkendali, ingin segera membenahi dasi miring milik si suami.


Naora kembali memutar tungkai lalu menghampiri Axton. "Bukankah sudah kukatakan, kau sebagai figur utama di perusahaan jangan sampai abai akan penampilan." Tangannya bergerak luwes merapikan dasi yang melingkari leher suami arogannya.


Lagi-lagi, Axton terkesima. Ia memang tidak bisa lagi menampik akan pesona seorang Naora. Dengan sikap perhatian yang sesederhana ini saja, sudah sukses menggetarkan hatinya. Apa lagi jika ia merasakan nikmatnya bercinta bersama.


Sementara di sisi lain. Kekaguman turut bersua di hati Nathan. Andai pria itu aku, Naora tidak akan pernah kubiarkan lepas. Sayang, perasaanku ini tak seharusnya ada dan harus kukubur dalam-dalam. Dia memang wanita yang sangat mudah dicintai. Axtonnya saja yang buta.


"Baiklah, aku pulang sekarang. Tubuhku juga masih terasa lemas."


"Biar aku saja yang mengantarmu." Axton sepertinya langsung berubah pikiran. Ia berniat mengesampingkan terlebih dahulu pekerjaannya. Bahkan, bayangan akan Lana seolah sirna begitu saja.

__ADS_1


Naora yang sudah berniat untuk pergi seketika urung. Ia kembali memutar leher dan membalas tatapan Axton. "Maaf, aku menolak tawaranmu. Bukannya kau akan bekerja? Dan apa kau lupa, kau selalu menjujung tinggi perasaan Lana?"


Axton yang sejatinya membenci akan sebuah penolakan seolah enggan memamerkan kearoganannya kali ini. Bahkan sindiran Naora sangat menyentil hati. Ia seolah kemakan oleh perkataannya sendiri. Hingga membuat ia kian terpaku dari tempatnya berdiri.


"Naora, ayo aku antar kau sekarang. Kau masih harus banyak beristirahat. Tinggalkan saja suamimu yang bodoh itu."


Nathan sengaja terang-terangan merengkuh bahu Naora. Si wanita bahkan tak merasa keberatan olehnya. Kejengahan yang dirasa seolah membuatnya pasrah begitu saja. Saat ini, ia sangat berhasrat untuk pergi dari sana dengan segera.


"Turunkan tanganmu, Nathan!" hardik Axton tidak suka.


"Kenapa? Kau tidak suka? Atau kau cemburu? Apa mungkin kau sudah mulai ada rasa cinta kepada Naora?" Nathan menggelontorkan beberapa pertanyaan sekaligus yang nyatanya tak mampu dijawab Axton.


Sikap yang ditunjukkan Axton, kian menumbuhkan rasa kecewa di hati Naora. Tiada jawaban dari bibir si pria kian meyakinkan diri bahwa mengharapkan cinta di dalam pernikahannya adalah hal sia-sia.


Lain halnya dengan Nathan. Pria itu sangat mampu membaca apa yang dirasakan Axton.


Maaf, Axton. Kali ini aku memang harus ikut campur ke dalam pernikahanmu bersama Naora. Agar kau bisa menyadari bahwa kau sedang salah dalam memilih. Dibandingkan dengan hatiku yang sedang patah ini, aku justru lebih mengasihanimu yang buta akan perasaanmu sendiri. Hah ...! Aku semakin yakin, kalau aku ini memang berhati emas.


"Tenang saja, Axton. Tidak ada aroma pebinor pada diriku. Sekalipun ada, berarti kau harus bertanya pada dirimu itu." Terkesan sangat santai dan tanpa beban, Nathan kembali memancing kekesalan Axton yang terlihat sedang menahan diri.


Akhirnya, Axton hanya mampu menyaksikan kepergian Naora dan Nathan dengan perasaan kesal dan juga ... tak rela. Padahal, sahabatnya itu hanya berniat mengantar istri ke-duanya, tapi rasa takut kehilang sudah mengusik jiwa.


Dihempas tubuhnya ke sofa empuk kamar hotel lalu menjatuhkan kepala pada sandaran. Di kedua pelipisnya, ia memberi pijitan ringan. Berharap tindakan kecil seperti itu mampu mengurangi kepenatan. Dan juga ... kalutnya pikiran serta perasaan.


"Hah! Tidak tidur semalaman membuat kepalaku pusing. Aku dibuat cemas setengah mati gara-gara istri ke-duaku itu sakit. Lana bahkan tidak pernah membuatku secemas ini. Dasar, Naora."


Axton menghentikan pijitan di kedua pelipisnya, beralih memberi usapan frustrasi di muka. "Setelah semalaman membuatku cemas sekarang dia malah pergi bersama Nathan. Awas saja kalau dia kembali sakit karena tidak segera pulang dan malah keluyuran."



Di dalam mobil milik Nathan, Naora melempar tatapan menghakimi kepada Nathan yang sudah duduk di depan setir. "Kau harus meminta maaf kepadaku karena sudah bersikap lancang, Nathan."


Pria itu tersenyum kikuk di sela rasa bersalah karena sudah tanpa sopan mencium Naora kemarin. "Maaf, Naora. Waktu itu aku lepas kendali dan tidak tahu kalau kau istri dari sahabatku sendiri. Tapi percayalah, aku tidak ada niat untuk melecehkanmu. Tindakanku waktu itu atas dasar rasa dari dalam sini," terang Nathan diakhiri jari telunjuk yang mendarat di dada.


"Tapi tenanglah, aku sangat mampu mengubur perasaanku kepadamu, jadi aku mohon jangan berprasangka buruk kepadaku yang sangat tampan bak pahatan patung Dewa Yunani ini," imbuhnya lagi untuk meyakinkan Naora meski diselingi kenarsisan yang haqiqi. Tanpa siapapun yang tahu, akan hati Nathan yang patah.


Si wanita tampak menahan tawa. Kenarsisan Nathan terkesan lucu di netra cantiknya.


"Aku sempat kecewa kepadamu, Nathan. Namun, sudahlah. Toh kau juga sudah meminta maaf."


Nathan tersenyum lega. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas dengan sempurna. "Aku tahu, kau tidak akan bisa marah kepadaku yang baik hati ini."


"Hish! Dasar narsis!" Naora mencebik disusul sebuah gelak tawa yang pecah dari bibir Nathan.

__ADS_1


"Tapi aku benar 'kan?"


"Iya ... iya ... kau memang baik hati, Nathan." Wanita itu tak menyangkal.


"Tapi perihal meminta maaf kepadamu, itu aku serius, Naora. Aku juga merasa bersalah karena telah bersikap lancang kepadamu."


"Ya sudah, sekarang lupakan soal itu. Setidaknya kau sudah tahu tentang statusku. Sebenarnya, kau juga bisa tahu tentang statusku jika kau melihat curticulum vitae saat aku melamar kerja di perusahaanmu."


Curriculum vitae merupakan daftar riwayat hidup yang berisi data dan informasi yang diperlukan untuk melamar pekerjaan.


Nathan seketika menepuk jidat, merutuki dirinya yang telah lalai dari ketelitian. Ia seolah dibuat lena oleh sejuta pesona Naora.


"Oya, Nathan. Aku juga ingin meminta maaf karena tidak bisa bekerja lagi di perusahaanmu." Wanita itu tampak tak enak hati.


Bukannya marah, Nathan malah kembali tergelak. Pria itu tiba-tiba teringat akan tindakan nekat Axton. Pagi-pagi sekali, sahabatnya itu menelepon untuk menyampaikan perwakilan pengunduran diri Naora sebagai sekretaris pribadinya.


Sebelumnya, Nathan menolak keras karena hal itu melanggar salah satu peraturan di lembaran kontrak kerja yang sudah ditanda tangani. Namun, pria itu langsung dibuat tak berkutik saat Axton mengancam akan mencabut 20 persen saham miliknya di perusahaan Nathan.


"Aku tahu, karena itu ulah Axton. Pria itu memang selalu bertindak memaksa dan sesuka hati," celetuk Nathan. Naora hanya tersenyum simpul.


Perlahan, Nathan menyurutkan senyumannya. Bahkan kesenduan mulai membingkai muka. Ia cukup tahu, beban yang selalu dipikul sahabatnya. "Aku ingin kau tahu, bahwa Axton yang dulu tidaklah seperti sekarang, Naora."





Bersambung~~


Terima kasih ya, masih setia nyimak kisah Axton dan Naora.


Jujur, Nofi sebagai emaknya Axton merasa tidak enak hati karena telah membuat tokoh Axton di cerita ini dibenci oleh para pembaca.


🤣🤣🤣


Maafkan emakmu yang endel jelita ini ya Ton. Emak memang sengaja🤣


Oya jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN di setiap babnya ya..


VOTE dan GIFT juga boleh disumbangkan ke karya Nofi🥰


Bye bye..

__ADS_1


Wo ai nimen🥰


__ADS_2