Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Akhir Kesedihan


__ADS_3


Di ruang ICU, Axton terduduk di sebelah ranjang tempat tubuh Edrich terbaring kaku. Tatapannya kosong seolah ribuan perasaan bergejolak tak menentu. Tiada air mata ataupun isak tangis yang berseru. Dunia pria itu bagaikan dihentikan waktu.


Gemuruh di dada mengantarkan sesak tak terkira. Axton diam-diam tengah melawan trauma yang kembali melanda. Meski kali ini ia tak lagi meraung dan menggila, tapi takaran perih lukanya masihlah sama.


Tekanan jiwa akibat kematian sang ibu belumlah sembuh sepenuhnya. Dan kini Axton juga harus dihadapkan lagi dengan kenyataan bahwa dia lah yang menjadi penyebab kematian ayahnya.


Kalau sudah seperti ini, bukahkah sama saja sang takdir menabur garam pada lukanya yang masih menganga? Trauma yang perlahan-lahan mulai sirna malah kembali lagi tanpa diminta.


"Daddy, benar katamu dulu. Aku ini memang anak pembawa sial. Harusnya kita tidak perlu kembali berdamai jika akhirnya kebahagiaan yang singkat ini berujung maut." Axton tersenyum getir di sela tatapan nanarnya.


Ia menurunkan pandangan ke arah tangan Edrich yang terlihat keriput dan kurus itu. Kemudian ia meraih tangan itu dan diletakkan di kepalanya. "Bangunlah dan pukul aku sesuka hatimu."


Axton tertunduk seolah beban pikiran yang dirasa begitu berat ia sanggah. Deru napasnya juga bergetar, menandakan gulungan sesak di dada kian membuncah.


Namun, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Axton masih menaruh harapan tinggi akan belas kasih Tuhan. Bukan bermaksud menolak surat takdir kehidupan, pria itu hanya berusaha mempercayai adanya sebuah keajaiban. Kendati, sempat goyah karena bisikan nurani yang mendorongnya agar pasrah menerima kenyataan.


Axton terlalu hanyut dengan kesedihan sehingga tidak menyadari akan keberadaan Naora yang baru saja diantar oleh seorang perawat menggunakan kursi roda. Dia juga terlihat sedang menimang bayinya yang masih merah. Beberapa saat yang lalu, Naora juga mendengar kabar tentang kondisi Edrich.


Perlahan, Naora mencoba bangkit dari kursi roda lalu berjalan mendekati suaminya. "Daddy ...," lirih wanita itu. Suaranya bergetar seiring dengan air mata yang menyapa.


Axton memutar leher ke arah Naora yang sudah berdiri di sampingnya. Dan saat itu pula ia langsung beranjak dari duduk dan memeluk istrinya. "Naora ...," ucapnya sangat lirih. Bahkan hampir tidak terdengar.


"Axton, apa benar daddy sudah ...." Naora bahkan ragu untuk berkata. Sama halnya dengan Axton, dia pun teramat sulit menerima kenyataan.


"Dia hanya tertidur," ucap Axton yang terkesan menolak kenyataan.


Sebisa mungkin untuk tersenyum kendati bulir-bulir air mata sudah bercucuran. Naora mengurai pelukan Axton lalu kembali bersuara. "Daddy, benarkan yang dikatakan Axton kalau kau hanya sedang tidur? Lihatlah, aku datang bersama cucumu. Bukalah matamu, Dad!" Isak tangis Naora mulai terdengar. "Bagaimana bisa kau pergi begitu saja tanpa melihat cucumu ini?"


Dengan sangat berhati-hati, Axton mengambil alih bayinya dari rengkuhan Naora. Dipandang sendu wajah polos yang masih terlelap itu lalu menciumnya. "Putraku, apa kau rela jika kakekmu pergi untuk selamanya secepat ini? Kau bahkan belum sempat bermain-main dengannya. Proteslah kepadanya. Marah dan menangislah."

__ADS_1


Tanpa disangka, bayi yang belum sempat diberi nama itu tampak menggeliat pelan dan langsung menangis melengking. Makhluk kecil itu seakan paham dengan apa yang dikatakan ayahnya.


Axton langsung berinisiatif mendekatkan bayinya di sebelah telinga Edrich. Dengan menaruh harapan teramat besar bahwa suara tangisan sang cucu pertama itu mampu membawa sebuah keajaiban.



Setapak demi setapak meninggalkan jejak di atas rumput hijau yang basah. Selimut kabut putih mengantar nyawa menuju di penghujung latar savana bercahaya cerah. Semilir angin mengalir bebas ke hamparan bunga liar yang merekah, mengiringi di setiap langkah.


"Edrich ...."


Gelombang suara menggema lembut menyentuh gendang telinga. Seberkas nyawa itu mengedar pandang ke sekelilingnya. Hingga, sebuah sosok berparas anggun memenuhi ruang mata.


Pundi-pundi kerinduan akhirnya mengantarkan senyuman bahagia. Setelah puluhan tahun lamanya, Edrich kembali berjumpa dengan kekasih hatinya.


"Aruem? Benarkah itu kau?" Tidak mampu lagi menahan hasrat kerinduan lebih lama, pria itu melangkah cepat mendekati dan memeluk tubuh si wanita yang namanya masih terjaga rapi di bilik hati.


Belum ada lagi ucapan kata, hanya tetesan air mata yang menjadi bahasa jiwa. Sungguh, tiada rangkaian prasa yang mampu menggambarkan kebahagiaannya.


"Areum, tapi aku masih sangat merindukanmu."


Areum tersenyum hangat lalu merangkum lembut kedua pipi Edrich. "Kembalilah, suamiku. Aku akan setia menunggumu di sini. Dan jika sudah waktunya, kita akan kembali bertemu."


"Tapi--"


"Dengarkan aku, ada kebahagiaan putra dan cucu kita yang harus kau saksikan. Kembalilah, mereka sangat mengharapkan keberadaanmu untuk melengkapi kebahagiaan mereka."


"Baiklah." Edrich mengecup kening Areum dengan sarat akan cinta tulus. "Istriku, aku sangat mencintaimu. Dan rasa itu tidak pernah pudar. Percayalah, cintaku ini akan kubawa sampai mati."


"Aku tidak pernah meragukan perasaan cintamu, Edrich, karena kita memiliki perasaan yang sama."


Tiba-tiba suara tangisan bayi yang entah berasal dari mana terdengar samar. Bersamaan dengan itu ia merasakan sensasi dingin karena tetesan air langit jatuh menimpa kepala dan muka. Anehnya, hanya dia yang terlihat basah, sementara Areum masih dalam kondisi kering.

__ADS_1


"Itu suara cucu kita, Edrich. Dia sedang memanggilmu. Setelah kembali, tolong sampaikan maafku kepada putra kita karena tidak bisa menjadi sosok ibu yang baik untuknya. Selama ini dia sudah sangat menderita karena menjadi korban dari kesalahan kita berdua. Dia adalah putra yang baik dan berbakti kepada orang tua. Sayangilah dia, jangan lagi kau mengulangi kebencianmu. Itu sangat tidak adil untuknya," tutur Areum terkesan mengejar waktu yang kian terkikis.


Di depan mata, jiwa Edrich perlahan tak lagi menapak rerumputan hijau. Tubuhnya sudah melayang bersama udara.


"Areum, aku akan selalu merindukanmu. Tunggulah aku. Ketika ajalku benar-benar tiba semoga kita bisa kembali bersama."


Areum kembali mengulas senyum hangat. "Sampai bertemu lagi, suamiku. Aku mencintaimu." Ia melambaikan tangan ke arah Edrich yang sudah terbang ke langit, menuju portal ke dunia lain.


Dari kejauhan, Edrich juga terlihat membalas lambaian tangannya dengan ulasan senyum keihklasan sebelum tubuhnya benar-benar menghilang ditelan gulungan cahaya putih.



Malaikat kecil itu, seakan tengah memohon kepada Tuhan melalui isakan tangisannya. Tetesan air matanya juga tampak berjatuhan di wajah pucat sang kakek. Hingga Axton dan Naora seketika terkejut saat melihat tubuh Edrich kembali menunjukkan adanya tanda kehidupan. Suara mesin pendeteksi jantung juga terdengar kembali normal.


"Axton, Daddy sudah kembali!" seru Naora yang kini terlihat menangis lega.


Masih dengan menggendong bayinya, Axton bergegas menekan tombol pelayanan yang berada di sebelah ranjang. Selang tidak lama, beberapa tim dokter tiba dan langsung bergerak cepat menangani pasien.


Inilah salah satu bukti keajaiban Tuhan Yang Maha Kuasa. Axton dan Naora sampai berkali-kali mengucapkan rasa syukur mereka.





Bersambung~~


Maaf ya yang sudah terlanjur sedih karena baca bab sebelumnya🙏


Sebenarnya Edrich mau Nofi matiin seperti di bab sebelumnya. Akan tetapi... entah mengapa Nofi merasa tidak rela dan kepikiran terus. Jatuhnya jadi nggak enak banget ini hati.

__ADS_1


__ADS_2