
"Kyaaak! Honey ...! Kenapa ada hewan mengerikan itu di sini?!"
Ketenangan di pagi hari harus dibuat gempar karena teriakan histeris Lana yang memenuhi langit-langit kamar. Wanita itu beringsut di atas ranjang, membuat jarak sejauh mungkin dari hewan berbulu tersebut.
"Honey ...! Cepatlah keluar dan usir kucing itu!" Ia melempari si kucing dengan bantal dan guling.
Alih-alih keluar dari kamar, merasa keselamatannya teracam, si kucing malah berlari ke sana kemari dan meloncat ke atas ranjang. Membuat Lana semakin kelimpungan dan reflek menendang hewan itu dengan sangat kuat.
Axton terpaksa mengakiri ritual mandinya yang belum selesai. Dengan hanya berbalut handuk di bagian tubuh bawahnya, ia keluar dari kamar mandi. Ekspresi terkejut langsung terbit di mukanya saat melihat kondisi kamar yang sudah seperti kapal pecah.
Keterkejutannya tidak berakhir di situ saja. Ia gegas menggendong kucing peliharaannya itu yang semula beringsut lemah di bawah meja. Hewan itu seperti sedang menahan sakit. "Kau apakan dia tadi, Lana?"
"Cepat bawa jauh-jauh hewan mengerikan itu, Honey. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk meletakkannya di dekat gudang belakang saja. Kenapa sekarang dia bisa berada di sini?!" Lana masih terus mengomel seperti nenek-nenek yang kehilangan gigi palsunya, mengabaikan pertanyaan Axton.
Bibir yang hampir terbuka untuk bersuara seketika terurung saat beberapa kali suara ketokan pintu terdengar. Axton lantas mendekati daun pintu yang ternyata sudah sedikit terbuka. Kemungkinan si kucing masuk ke kamar tanpa permisi melalui cela teresebut.
Dibukanya lebar akses jalan keluar masuk kamar tersebut hingga terlihat sosok Naora yang langsung menunjukkan keterkejutannya.
"Ada apa kau datang ke sini?" tanya Axton kepada istri ke-duanya itu yang saat ini lebih memilih memalingkan muka.
Wanita itu merasa canggung jika harus berhadapan langsung dengan dada polos Axton yang tiba-tiba muncul di depannya. Dia malu, karena belum terbiasa. Mungkin.
"Aku ingin mengambil kembali si Juve?"
"Juve? Siapa dia?" Axton tampak tak mengerti.
"Kucing." Ia menunjuk hewan yang dibawa Axton.
"Dia namanya Ventus, bukan Juve."
"Ya anggap saja namanya Juventus," celetuknya.
"Kau harus menatapku jika berbicara, Naora."
Naora tak mengindahkan ucapan Axton yang terdengar seperti sebuah protesan. Ia tetap memalingkan muka. "Aku hanya ingin mengambil si Juve, dia harus diberi makan," jawabnya, lalu berniat mengambil alih si kucing dari pelukan Axton.
Akan tetapi, pria itu terkesan tak ingin menyerahkan hewan itu begitu saja. Hingga tangan Naora tak sengaja menyentuh perut berkotak-kotaknya.
Ahh ... sial! Wanita ini memang sangat beracun. Ia mengumpat di dalam hati hanya karena sentuhan sekilas tak sengaja Naora. Reaksinya memang terkesan berlebihan, tapi tidak ada yang tahu jika hangatnya kulit wanita itu sukses mengusik bagian tubuh sensitif Axton. Menciptakan sensasi denyutan berngilu ria. Ahaaa.
"Kau sangat berani, Naora. Tanganmu bertindak kurang ajar."
__ADS_1
Naora langsung membalas tatapan Axton. Perkataan si pria bermuka kulkas empat pintu itu membuat telinganya gatal. "Apa maksudmu?"
Belum sempat Axton menjawab, Lana muncul dari balik punggung lebarnya dengan membawa tampang was-was. Dan pria itu langsung menyerahkan kucingnya kepada Naora.
"Bisakah kau membawa pergi hewan mengerikan itu?" pinta Lana, sesekali bahunya terlihat bergidik seolah menganggap anabul yang super lucu, imut, dan menggemaskan itu adalah makhluk paling menjijikkan di muka bumi. Please, Lana!
"Mengerikan? Hewan lucu ini?" Naora keheranan lalu memandang muka polos si Juve. "Bagaimana hewan secantik ini dibilang mengerikan? Aku rasa justru kau yang mengerikan. Pagi-pagi sudah berteriak-teriak seperti orang gila. Hish! Mengerikan," celetuknya kemudian.
"Naora, kau tega sekali berkata seperti itu kepadaku." Lana protes dengan suara super manjanya. Mendayu-dayu merdu seperti mbak Kuntilinik menyanyikan lagu horor Lingsir Wengi di atas pohon rambutan yang lebat buahnya.
Bikin merinding saja.
"Itu memang fakta," ucap Naora dengan santainya, lantas melenggang pergi, tak menghiraukan Lana yang sudah menekuk mukanya hingga kusut.
"Honey ... apa yang kau tertawakan?" Lana memperhatikan gelagat Axton yang terlihat menahan gelak. Meski lengkungan bibirnya, hanya terulas samar hampir tidak kentara, tapi wanita itu menyadarinya.
"Kau pasti salah lihat," kilah Axton dan berlalu dari sana, berniat melanjutkan ritual bersih-bersih badannya yang sempat terjeda karena drama pagi yang dibuat Lana.
Setelah ritual pengisian perut kosong di pagi hari, Axton dan Naora berniat langsung berangkat mengunjungi ke kediaman Edrich yang berada di kota tetangga. Kebetulan sekarang hari minggu, waktu yang tepat untuk menemui Edrich yang bebas kerja, dan begitu juga dengan Axton.
Sebenarnya, Naora sudah beberapa kali meminta kepada Axton agar dia berangkat sendirian saja. Dirasa itu lebih baik daripada membiarkan telinganya gatal karena harus mendengar rengekan Lana yang seperti anak kecil baginya.
Cemburu, itulah alasan Lana merajuk. Ia terang-terangan menunjukkan perasaannya itu di depan Naora. Membuat jengah.
"Honey ... apa kau tega membiarkan aku kesepian di rumah? Sekarang hari minggu, harusnya kau menemaniku." Lana merengek di dalam dada Axton. Tangan melingkar posesif di perut keras yang memiliki otot-otot seksi pembentuk roti sobek.
Sakit rasanya, ketika mengetahui tujuan axton mengantarnya hanya untuk sebagai alat agar bisa bertemu dengan sang Daddy. Padahal Naora sempat menganggap Axton tak seburuk yang dikira. Tak munafik, istri mana yang tak senang jika sang suami menunjukkan perhatiannya.
"Tapi aku tiba-tiba berubah pikiran, Honey. Membayangkan kau akan berada satu mobil dengan Naora, membuatku cemas."
Ck! Andai dia tahu, sebelum Axton pingsan kemarin, ia menciumku. Pasti ia bakal seperti orang kebakaran bulu ketek. Decih Naora di dalam hati.
"Kalau begitu, kau ikut saja bersama kami, sekalian aku akan berterus terang kepada Daddy tentang hubungan kita." Perkataan Axton sukses membuat Lana berpikir.
"Jangan dulu, aku belum siap, Honey," tolak Lana.
Sebenarnya, jauh di dalam lubuk relung hati, Axton selalu digerayangi rasa kecewa ketika Lana menolak untuk membeberkan status mereka di depan sang Daddy dengan alasan tiada restu yang menyertai hubungan mereka.
Cinta tanpa restu, bagaikan kapal yang teromba-ambing di tengah laut. Tak memiliki arah kemana akan berlabuh.
Di saat Axton mengajak bergandengan tangan untuk memperjuangkan restu sebagai pembuktian keseriusan hubungan, Lana justru meremehkanya. Memilih bertahan menjadi istri rahasia yang tidak jelas masa depannya.
"Aku akan segera kembali, Lana." Axton kembali membujuk, tapi wanitanya terlihat masih sangat betah dengan tingkah yang membuat sepasang mata Naora melempar pandangan jengah.
__ADS_1
"Hah! Kalian berdua sungguh membuang-buang waktu. Aku pergi sendiri saja."
"Jangan coba-coba kau pergi sendiri, Naora, jika tidak ingin membuatku marah," gertak Axton. Satu tangan besarnya bahkan menarik sebelah lengan kecil Naora, menghalau langkahnya agar tidak pergi.
"Makanya, cepat akhiri obrolan kalian." Naora melirik ke arah jam tangannya. "Sekarang sudah hampir siang." ia mengingatkan sambil menahan kesal. Dan juga ... perih di hati. Di sini, dia juga sebagai istri, tapi nyatanya posisi itu seolah tak dianggap berarti.
Tanpa melepas cengkeraman tangan dari lengan Naora, Axton kembali membujuk Lana. "Katakan saja, apa yang ingin kau beli saat ini. Aku akan memborongnya untukmu, Lana."
Binar berseri seketika terpancar di muka Lana, menepis kemuraman durja yang sedari tadi dijadikan senjata rayuan. Di urai pelukannya sebelum menatap Axton. "Benarkah? Baiklah akan aku pikirkan, nanti aku kirim lewat pesan di ponselmu."
Naora diam-diam tersenyum masam. Bisa-bisanya Lana sangat mudah dirayu dengan iming-imingi seperti itu.
"Naora."
"Apa?" sahut Naora saat Lana memanggil namanya.
"Bisakah kau menjaga jarak dan sikapmu jika bersama suamiku? Aku mohon sekali kepadamu untuk ingat akan posisimu."
Apa-apa'an ini? Ada lidah setajam pisau di balik tutur kata dan mimik muka lembut Lana. Sebuah peringatan keras terbingkai oleh permohonan kamuflase belaka. Sindiran halus yang hanya bisa ditangkap oleh kepekaan saja.
Tersenyum manis nan rupawan, memamerkan kecantikan yang menawan. Naora menggelayut gemulai pada lengan Axton di depan lawan. Tatapan elegan pun tak ketinggalan. Mengabaikan reaksi suaminya yang keheranan.
"Tentu saja aku tidak lupa dengan posisiku yang notabene sebagai istri sah dan diakui oleh keluarga Sanders, Lana. Terima kasih sudah berbaik hati mengingatkanku." Balasan menohok Naora, berhasil membuat lawan bicaranya sulit untuk berkata-kata.
Ah ... kau sungguh keren Naora.
Lana menurunkan tangan yang melingkari lengan Axton. "Tolong hargai perasaanku."
Naora tergelak, merasa lucu karena ucapan madunya itu. "Aku yang korban di sini, kenapa aku juga yang harus menjaga perasaanmu? Berpikirlah sedikit pintar, Lana, agar kau tidak kelihatan bodohnya."
"Naora ...! " pekik lana geregetan dan kembali histeris.
"Hah..! Sebenarnya kita jadi berangkat atau tidak, Axton?"
☘
☘
☘
Bersambung~~
Alhamdulilah hari ini bisa up juga. Terima kasih untuk para readers yang masih setia membaca dan memberi like serta komentar🥰
__ADS_1
Dukung terus karya ini ya ... terima kasih ....🙏
Wo ai nimen😘