Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Perasaan Rahasia


__ADS_3


Langit desa sedang cerah. Di balik sang mega putih, mentari tersenyum merekah. Sinarnya membelai hangat suasana pagi yang basah.


Geliat aktifitas warga sudah tampak mengisi hari. Semangat seolah tak lekang oleh waktu untuk mengais rejeki. Luas bentangan sawah pun sudah terjamah oleh para petani. Pasar desa juga terlihat sibuk oleh kegiatan jual beli.


Harusnya, hari ini bisa menjadi minggu yang tenang bagi Jovana. Ya ... seperti di hari-hari libur biasa. Ia lebih memilih membaca novel dan menonton film di kamarnya, atau berbincang ringan dengan para orang tua.


Namun, untuk hari minggu kali ini Jovana harus dibuat geleng kepala karena ulah Naora. Awalnya wanita tomboy itu sempat cemas karena mendengar suara isak tangis dari kamar si sahabat, hingga ia dibuat tercengang saat mendengar alasan penyebab wanita itu berderai air mata.


"Jadi kau menangis hanya karena tidak sengaja menginjak kecoa? Astaga ... Naora, kau itu sangat berlebihan? Tau nggak, akhir-akhir ini kau itu sangat aneh. Mudah sekali marah dan juga menangis hanya karena alasan sepele." Jovana terus mengomel-ngomel tanpa menghiraukan muka cemberut Naora.


"Kau itu sahabatku bukan sih? Sukanya marah-marah terus di depanku?" sungut Naora yang sukses membuat Jovana melongo.


"Yaelah! Bukannya kau yang suka marah-marah?" sanggah Jovanka.


Kaki diajak menuruni ranjang lalu mendekati salah satu sudut ruangan. Noara mendorong daun jendela dan langsung bersambut udara sejuk di pagi hari yang menenangkan. Anak cahaya mentari juga tampak membelai paras ayunya tanpa sopan.


"Itu karena kau menyebalkan, Jo. Padahal aku sangat merindukan saat-saat kita bersama, tapi kau seolah tidak menyukai keberadaanku." Naora mendadak melow.


"Heleh! Modus! Kau hanya jadikan sahabatmu ini sebagai tempat pelarian," cebik Jovanka sebelum beranjak dari duduknya. "Ke pasar yuk! Nyari sarapan dan kudapan. Udah laper," ajak gadis tomboy itu seraya mengusap perutnya yang rata.


Binar suram pada wajah Naora seketika berubah cerah. Sepasang bibir ranumnya menampakkan senyuman yang merekah. Ajakan Jovana sukses membuat suasana hatinya bersumringah.


"Ayuk kalau begitu," jawab Naora antusias. Ia kembali menutup jendela kamarnya lalu berjalan mendekati lemari dan mengambil sesuatu di dalam. "Tapi aku ingin kau mengenakan ini." imbuhnya seraya menyodorkan sebuah rok berbahan plisket selutut kepada Jovana.


"Gila! Aku mana mungkin pakek Rok! Nggak! Aku nggak mau!" tolak Jovana mentah-mentah. Ia bahkan terlihat bergidik seolah barang feminim itu sesuatu yang mengerikan.


"Jangan paksa aku, Naora. Atau aku akan melipatmu ke dalam koper lalu kukirim ke suamimu!" ancam gadis tomboy itu saat melihat Naora mendekat dengan ekspresi penuh makna.


"Aku tidak peduli. Pokoknya aku ingin melihat kau pakai rok."


"Nggak mau! Awas kalau mendekat! Aku akan melemparmu!"



Naora menjajakan kaki pada jalan setapak yang masih berlapis tanah. Terlihat kedua tangannya sudah menenteng masing tas kresek berisi makanan dan kudapan. Wajah cantiknya begitu cerah tapi tidak dengan Jovana di sebelahnya.

__ADS_1


"Nih makan dari pada itu muka ditekuk melulu." Naora menjejal paksa sepotong kue lapis ke mulut Jovanka. "Kau sangat cantik jika berdandan feminim. Rok itu juga pantas jika dilekatkan di tubuhmu yang semampai dan ramping," imbuhnya kembali, mencoba meyakinkan Jovana agar dia lebih percaya diri menggunakan rok.


"Terserah kau saja dah." Jovana terlihat malas berdebat.


"Kau bilang terserah aku tapi bibirmu masih mancung ke depan," cebik Naora.


"Iya, ini bibir udah siap nelan ubun-ubunmu!" sambar Jovana sekenanya. Naora justru tergelak renyah.


Namun suara tawa Naora mendadak senyap seiring dengan langkah kaki yang berhenti. "Joe, coba kau lihat di sana." Ia menunjuk tegas ke arah pohon jambu air berbuah lebat yang berada di seberang sungai.


"Ada yang salah dengan jambu itu?" tanya Jovana dengan mimik jengah.


Naora menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu dengan satu kali anggukan cepat. Tindakan spontannya itu tentu saja menarik rasa penasaran Jovana dengan secepat kilat.


"Apanya yang salah? Jangan aneh-aneh, Naora." Jovana menatap sangsi ke arah sahabatnya.


"Yang salah itu, kenapa jambu itu tidak berada di tas kresekku saja?" Naora menarik lengan sahabatnya. "Kau pandai manjat 'kan? Tolong petikkan jambu itu untukku ya?" pintanya sembari memasang mata puppy eyes.


Wanita itu bahkan beberapa kali terlihat menelan air ludah seolah sedang melihat makanan lezat di depan mata. Sementara Jovana lagi-lagi dibuat melongo karena tingkah aneh Naora.


"Apa kau tidak lihat aku sedang mengenakan rok? Mana mungkin aku manjat pohon?Ampun deh, Naora ...!" sembur Jovana tampak frustrasi.


"Nggak nggak! Gila kau ini!"


"Jadi kau benar-benar tidak mau memetiknya untukku?" Naora memasang wajah yang sudah bersiap-siap menumpahkan air mata.


Luluh juga pada akhirnya. Sekasar-kasarnya Jovana saat berucap kaca, dia tidak akan tega melihat wajah sedih Naora. Percayalah, kendati berpenampilan maskulin, gadis itu tetap memiliki sisi kelembutan seorang wanita.


"Hadeeh ...! Ya sudah, ya sudah!"


"Eh? Kau mau ngapain?" Naora menghalau gerakan tangan Jovana yang hendak menurunkan roknya.


"Manjatlah. Mau ngapain lagi coba?"


"Eh jangan lepas roknya!"


"Apa'an sih?!"

__ADS_1


"Fyuh ...! Aku kirain." Naora seketika merasa lega, rupanya Jovana masih mengenakan celana saat melepas roknya.


"Emang kau pikir aku gila apa? Lagian aku akan kesulitan manjat pohon sambil pakai rok. Haah! di dalam hidup aku hanya memiliki satu sahabat, itupun selalu saja buat aku repot," Jovana terus saja ngedumel seraya berjalan mendekati pohon jambu air itu.



Di ranjang super empuk berukuran king size, Axton tampak terbaring lemah di atas sana. Sudah dua hari ini ia terus diserang oleh rasa mual yang membuatnya harus memuntahkan semua isi perutnya. Bahkan seorang dokter pribadi sampai harus memasang jarum infus di pergelangan tangan sebagai pengganti asupan cairan untuk tubuhnya.


Dari hasil pemeriksaan dokter, Axton sedang menderita gerd atau orang awam bilang 'asam lambung'. Hal itu disebabkan pikiran stress, kurang beristirahat, dan jam makan tidak teratur.


Memang, semenjak Naora pergi pria itu seolah abai dengan kesehatan diri. Pikirannya terus diserang frustrasi. Ia bagaikan sebuah insan yang kehilangan separuh nyawanya kini.


Demi menemukan sang pujaan hati, pria itu rela mengesampingkan pekerjaan. Hampir seluruh waktunya ia gunakan untuk menyusuri setiap sudut perkotaan. Laporan atas kasus orang hilang kepada petugas polisi juga sudah dilakukan. Namun, masih saja belum menunjukkan hasil yang diharapkan.


"Tuan muda, sekarang makan dulu ya," ucap Milah yang baru saja masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi bubur.


Baru dua kali suapan, Axton kembali diserang rasa mual. "Aku lanjut makan nanti saja Bi, taruh saja buburnya di atas meja."


Milah tampak menghela napas. Sungguh, melihat wajah pucat Axton membunya prihatin. "Ya sudah, tapi nanti tetap dimakan ya. Meskipun sedikit, setidaknya perutmu tidak dibiarkan kosong," tutur wanita tua itu.


"Hm, iya." Axton seakan sudah kehilangan banyak tenaga, jadi hanya bisa menjawab singkat.


"Oya, Bibi ada sesuatu untukmu. Tunggu sebentar ya." Milah langsung keluar kamar. Selang tidak lama Ia datang dengan membawa sebuah kotak bewarna merah muda di tangannya.


"Ini apa, Bi?" tanya Axton bersungguh-sungguh.


"Bibi menemukan kotak ini saat membersihkan kamar Nak Naora, Tuan. Tentang isinya, Tuan bisa melihatnya sendiri."


Perlahan tangan Axton terulur guna membuka tutup kotak itu. Gurat-gurat penuh tanya seketika bertamu. Tumpukan amplop surat di depan mata sukses menggetarkan dadanya hingga bertalu-talu.


Dibacanya setiap barisan kata yang tertoreh di atas kertas putih. Hingga Axton langsung dibuat terkesima setelah tahu sesuatu yang selama ini dirahasiakan Naora.


"Naora, selama itu kau telah menyimpannya sendrian. Maafkan aku yang sangat terlambat menyadarinya."



__ADS_1



Bersambung~~


__ADS_2