
Sama halnya dengan Naora, Axton menatap tidak percaya pada beberapa lembaran foto yang berserakan di lantai. Di dalam foto-foto itu memperlihatkan adegan kemesraan Axton bersama Lana serta foto pernikahan mereka.
"Sudah aku katakan, jauhi wanita itu! Apa kau tidak mendengarnya?!" Edrich sangat berang, tatapannya menyalang. "Kau memang anak tidak tahu diri. Sudah bagus aku tidak membuangmu sedari dulu!"
Axton terdiam sesaat, lalu menarik jiwa yang sempat tenggelam ke dalam perasaan terlukanya karena hati yang terkoyak oleh lidah tajam Edrich. Mencoba meneguhkan dan mengingatkan diri, bahwa ucapan kasar yang baru saja diterima dari bibir sang Daddy, bukanlah kali pertama. Harusnya dia sudah terbiasa dengan hal itu.
Ia menatap nanar muka Edrich. Ingin rasanya ia menjatuhkan semua beban luka perasaan yang dipikul selama ini. Meluapkan segala emosi jiwa yang menggenang di hati. Akan tetapi, nyatanya hal semudah itu akan menjadi sulit ia lakukan jika berada di depan sang Daddy.
"Bukahkah Daddy sudah membuangku? Aku sudah tinggal terpisah darimu semenjak usiaku masih 8 tahun. Waktu itu kau mengusirku secara halus."
Axton seolah mengingatkan. Meski nada suaranya tidak terdengar selayaknya protesan seseorang putra yang terabaikan, tapi kekecewaan tergurat jelas di mukanya yang tampan.
Kini ganti Edrich yang terdiam sesaat. Ucapan monohok sang putra cukup menyentil hatinya. Namun, tatapan tajamnya tak jua berhenti menghunus muka Axton. Suara deru napas berat dan terputus-putus menandakan ia tengah menahan sesak di dada. Mengingat kondisi tubuhnya yang memang sedang tidak sehat.
"Ceraikan wanita murahan itu."
"Mungkin aku masih bersedia menuruti kemauan Daddy untuk menikahi wanita yang tidak aku cintai itu, meski terasa berat. Akan tetapi, jika Daddy memintaku menceraikan Lana, maaf aku tidak bisa, karena aku mencintainya." Axton berucap tanpa memikirkan keberadaan Naora yang terlihat menahan rasa kecewa.
"Beraninya kau membatahku!" Edrich kian dibuat berang. Kembali diangkatnya sebelah tangan dan siap melesat ke muka putra semata wayangnya itu.
Tak tega melihat keadaan sang suami yang terlihat sudah sangat menyedihkan, Naora melangkah cepat dan berdiri di antara perseteruan kedua pria itu, mencoba menghalau tindakan kasar Edrich.
Plak!
Edrich sontak terkejut saat tangannya berakhir salah sasaran. "Naora ... ." Edrich seketika dirundung rasa bersalah karena meninggalkan bekas memerah di pipi Naora yang terlihat meringis menahan sakit.
Sementara Axton reflek menangkap tubuh kecil Naora yang terhuyun mundur ke arahnya. Di dalam hati ... pria itu terkesima. Naora mencoba melindunginya, sungguh tak diduga.
Kenapa dia mencoba melindungiku? batinnya bertanya-tanya.
Naora menurunkan pelan tangan Axton yang sempat menangkapnya, lalu mencoba kembali berdiri tegak. "Aku mohon, kalian berhentilah bertikai." Ia memandang muka sepasang anak dan ayah itu secara bergantian dengan tatapan sendu. "Daddy ... kondisimu sedang tidak sehat, ada baiknya Daddy kembali beristirahat."
"Aku tidak akan puas jika belum memberi pelajaran pada anak berandalan ini. Berani-beraninya dia memasukkan wanita murahan itu ke dalam pernikahan kalian. Bikin malu keluarga saja!" tukas Edrich, menuruti emosinya.
"Daddy ... sebenarnya ...," ucapan Naora tersendat, keraguan yang mendera seolah menghadang lidah untuk berkata. "Sebenarnya aku lah wanita yang masuk ke dalam pernikahan mereka. Aku lah orang ke-tiga di antara mereka. Aku istri ke-dua, bukan istri pertama." Ia tertunduk pasrah saat berkata, menghalau air mata kesedihan yang tak diijinkan terjatuh.
Meski Naora tahu, bahwa kehadiran dirinya di antara pernikahan Axton dan Lana bukan karena kesalahannya. Akan tetapi dia juga membenarkan akan posisi dirinya sebagai orang lain yang tiba-tiba menelusup ke dalam kebahagiaan mereka.
Andai saja dulu Axton langsung berterus terang akan statusnya yang sudah beristri, mungkin ia tidak akan terjebak ke dalam pernikahan poligami.
Tukikan tajam pada kedua pangkal alis Edrich, seolah menunjukkan tanda tanya besar di atas kepalanya dan menuntut akan kejelasan yang sebenarnya sudah bisa ia cerna dengan baik.
Namun, ia seolah bersikeras menyangkal kenyataan itu. Yang dia tahu selama ini, Axton dan Lana masih dalam tahap berpacaran dan tak lebih.
"Aku dan Lana sudah menikah sebelum Daddy memintaku untuk menikahi Naora." Axton turut bersuara, memperkuat pernyataan Naora. Tidak ada lagi rahasia. Edrich sudah terlanjur tahu semua. Ingin terus ditutupi juga tiada guna.
Lemas yang datang tiba-tiba seakan meminta Edrich untuk mengistirahatkan diri. Ia berjalan mundur dan mendaratkan pantat di bibir ranjang. Pusing yang kembali menyerang kepala, menimbulkan reaksi kernyitan di dahinya. Pernyataan yang terlontar dari bibir Axton dan Naora sungguh menguras emosinya.
Aku tidak menyangka, bahwa niatku ingin membahagiakan Naora malah justru menyeretnya ke dalam kubangan derita. Apa yang harus aku lakukan?
"Daddy ... sebaiknya kau beristirahat sekarang." Naora mendekati sang Ayah angkat, mengusap sayang pundaknya, mencurahkan perhatian yang sangat kentara.
Untuk beberapa detik, Edrich berusaha mengatur suasana emosinya agar sedikit mendingin. Di dalam diam, ia berkelut dengan pikirannya. Hingga akhirnya ia melayangkan tatapan yang sulit diartikan kepada Axton.
"Aku tidak peduli tentang pernikahanmu bersama wanita itu. Semakin cepat kalian bercerai, itu lebih bagus. Ingat! Tugasmu hanya membahagiakan putriku, Naora. Kau harus menjaga perasaannya."
Tersenyum getir, kekecewaan kembali menyeruak dari dalam hati seorang Axton. Pada akhirnya semua ini hanya untuk Naora. Demi kebahagiaan Naora. Perasaan? Aku juga punya perasaan di sini. Aku lah anak kandungnya, bukan Naora!
__ADS_1
Ingin sekali ia memberontak gila akan ketidak adilan yang dia dapat. Sikap Edrich yang selalu terkesan pilih kasih, menghempas jauh perasaan hangat yang sempat menjalar di hati karena tindakan Naora yang melindunginya beberapa saat yang lalu. Mengangkat kembali kebencian di atas permukaan dari semua rasa.
Di sudut hati yang lain, Naora dibuat semakin tidak enak hati. Perlakuan sayang Edrich yang lebih condong terhadapnya dari pada Axton, justru mendorong dirinya di posisi tak nyaman. Sungguh dia tidak pernah memipikan berada di posisi seperti saat ini.
"Segeralah berikan keturunan penerus untuk keluarga Sanders."
Axton dan Naora terkejut kompak saat lidah Edrich meluncurkan sebaris kalimat permintaan yang nyatanya lebih terdengar seperti sebuah titahan mutlak. Sepasang anak manusia itu sontak saling melempar tatapan.
Mengalihkan perhatian ke Naora yang tampak membisu, Edrich kembali berucap. "Daddy yakin kau masih ingat akan permintaan terakhir dari kedua orang tuamu. Yaitu menjadikanmu bagian dari keluargaku dan menikahmu dengan putraku. Menghasilkan keturunan penerus untuk keluarga Sanders."
Naora tertunduk, ia tak menampik ucapan Edrich. Memang itulah adanya. Naora bahkan masih ingat akan isi surat terakhir dari mendiang sang Mama. Salah satu isinya mengatakan tentang keinginan terakhir mendiang sang Papa, yaitu menginginkan putri semata wayangnya itu menjadi menantu dari sahabat kesayangannya, Edrich.
"Ternyata aku hanyalah alat untuk mewujudkan permintaan konyol dari kedua orangtua Naora yang sudah mati itu." Gelombang suara bariton yang menguar dari sepasang bibir Axton sukses menarik kembali perhatian Naora dan Edrich.
"Jaga mulutmu, Axton! Kau harus tahu, betapa besarnya jasa yang kedua orang tua Naora telah lakukan kepada kita." Edrich kembali tersulut amarah karena perkataan sang putra yang terkesan sangat tidak sopan.
"Aku tidak tahu jasa besar apa yang telah mereka lakukan hingga perasaanku yang selalu dikorbankan. Lagian aku juga tidak mau tahu. Tapi, jika Daddy ingin aku memberi keturunan dari rahim wanita itu, baiklah, akan aku turuti kemauan Daddy."
Axton berkata dengan nada rendah serendah rendahnya, seolah tiada kekecewaan yang terpatri dari suaranya. Namun, air mukanya tak bisa berbohong. Bahkan, sepasang mata elangnya terlihat memerah.
"Aku akan memberi Daddy cucu, tapi jangan paksa aku menceraikan Lana. Sama halnya dengan Daddy, aku juga memiliki janji yang harus kutepati," sambungnya kembali.
Hingga akhirnya, tekanan batin yang kian mencuat, menyokong keinginan untuk segera pergi dari ruangan. Suara jeritan daun pintu yang tertutup sebagai tanda Axton sudah hilang di baliknya.
"Daddy ...." Naora berhamburan ke dalam pelukan Edrich. Menumpahkan cairan bening yang sedari sudah ditahan.
Wanita cantik berparas bak barbie itu sangat sedih. Padahal dia sangat mengharapkan hubungan Axton dan Edrich membaik. Namun, nyatanya apa yang terjadi tidak sesuai ekspetasi.
"Maafkan Daddy Naora. Semua ini Daddy lakukan bukan hanya sekedar untuk membalas jasa kedua orang tuamu, tetapi juga demi mewujudkan keinginan terkahir mereka. Maaf jika Daddy bertindak egois, tapi Daddy harap kalian tidak bercerai."
Deg!
Diam-diam Naora menahan denyutan di dada. Maafkan Naora, Daddy. Pada akhirnya, Axton akan tetap menceraikanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dan jika Axton masih bersikap buruk kepadaku, mungkin aku pun akan menerima perceraianku kelak dengan lapang dada.
"Jantung ayahmu selalu baik di dalam sini, Naora."
"Aku sangat merindukan suara detak jantungnya. Saat berada di dalam pelukanmu, aku merasa Papa sedang menyapaku. Sama halnya ketika aku bersitatap dengan Axton, aku merasa Mama sedang melihatku."
Pria tengah baya itu menghela napas panjang, seiring dengan pikiran menerawang ke masa di mana mendiang kedua sahabatnya itu masih hidup.
"Daddy masih sangat ingat ketika kami masih sering bersama. Waktu itu Ayah dan Ibumu selalu berkata bahwa mereka bersedia mendonorkan jantungnya jika ajal lebih dulu menjemput. Ternyata takdir memilih Ayahmu sebagai pendonor jantung untukku, ia meninggal terlebih dahulu."
Edrich mulai hanyut dalam kesenduan. "Dan sepertinya Tuhan juga ingin menunjukkan kepadaku tentang arti loyalitas persahabatan yang sebenarnya, yaitu dengan keputusan terkahir Ibumu sebelum meninggal, di mana ia bersedia mendonorkan matanya untuk Axton yang waktu itu didiagnosis dokter bahwa ia mengalami kebutaan permanen akibat insiden kecelakaan beruntun."
20 tahun yang lalu, Naora dan sang Mama merupakan korban insiden kecelakaan beruntun yang di mana Axton dan Edrich juga merupakan dua korban di antara korban lainnya pada insiden tersebut. Sayangnya, Mama Naora tak lagi mampu bertahan hidup setelah satu minggu mendapati perawatan medis di Rumah Sakit.
"Hubungan persahabatan kalian sungguh luar biasa, Dad."
Mengulas senyuman hangat penuh kasih sayang, Edrich mengajak tangannya mengusap lembut pucuk kepala Naora. "Kami sudah seperti saudara kembar tapi beda rahim."
Naora mendengus geli karena ucapan Ayah angkatnya yang terdengar seperti gurauan. "Baru kali ini aku dengar ada saudara kembar tetapi beda rahim," celetuknya.
Edrich pun tergelak lirih. "Ikatan persahabatan kami memang sudah seperti saudara kandung sendiri. Selalu bersama di saat suka dan duka. Saling membantu, melindungi dan bahkan rela saling bekorban."
"Aku sangat senang setiap Daddy menceritakan semua hal tentang kedua orang tuaku."
Naora mengurai pelukannya, lalu memandang muka Edrich. "Dad, bisakah Daddy tidak memberi tahu Axton perihal dia yang menerima donor mata milik mendiang Mama?"
"Kenapa kau selalu meminta Daddy untuk tidak memberitahunya, Naora? Harusnya dia tahu tentang itu." Edrich tak habis pikir.
__ADS_1
Naora tersenyum simpul. "Tidak apa-apa Dad, aku merasa dia belum saatnya tahu."
Aku tidak ingin Axton bersikap baik kepadaku hanya semata-mata merasa memiliki hutang budi kepada kedua orang tuaku. Yang aku inginkan sikap tulusnya yang benar-benar dari hati.
Naora sedikit terjingkat saat getaran ponsel memberi reaksi geli dari dalam saku celananya. Gegas ia rogoh benda pipih tersebut, lanjut menggeser layar untuk membuka kunci.
"Siapa ya?" lirihnya, setelah melihat nomor tanpa nama menghiasi layar ponselnya. Ia tersenyum sekilas ke arah Edrich sebagai maksud meminta ijin waktu untuk menerima panggilan telepon.
"Halo, ini siapa?"
"Segera pulang setelah urusanmu selesai di sana."
Naora langsung tahu siapa orang yang berbicara di seberang telepon setelah mendengar suaranya. Siapa lagi kalau bukan suaminya, si Tuan muda arogan.
"Bukankah kita akan pulang bersama?"
"Aku sudah pulang duluan."
"Kau meninggalkanku?"
"Kau bisa pulang diantar sopir pribadi Daddy."
"Aku akan menginap di sini saja dan pulang besok."
"Tidak ku ijinkan. Kau harus pulang."
"Aku ingin di sini lebih lama, Axton."
"Permintaanmu ditolak!"
"Aku tidak akan mendengarkanmu."
"Silahkan membantahku jika ingin aku membakar kalungmu yang masih kubawa."
"Kau?!"
Belum sampai Naora menyelesaikan kalimatnya, Axton memutuskan panggilan secara sepihak.
Lagi-lagi dia bertindak sesuka hatinya. Dasar pemaksa.
☘
☘
☘
Bersambung~~
AXTON SANDERS
NAORA ALESHA
Terima kasih ya kawan, masih setia mengawal kisah Axton dan Naora..
Jangan lupa tinggalkam jejak seperti lika dan komen. Sumbangan Vote dan Gift juga sangat Nofi harapkan..
__ADS_1
Semoga kalian semua bahagia selalu..
lop yu pul..😘😘