
Langkah kaki membawa hati yang resah. Dengan diantarkan Lana, Naora menyusuri lorong rumah menuju ruang bawah tanah. Ia baru tahu, bahwa di kediaman Axton memiliki sebuah ruang asing yang jarang terjamah.
Seiring ayunan kaki kian mendekat ke tempat tujuan, samar-samar terdengar gema suara histeris yang terus berseru. Naora tentu langsung tahu siapa pemilik suara itu.
Axton ....
Nama sang suami lah yang seketika terlisan di hati kecilnya. Ia kian disergap kecemasan saat kaki sudah berpijak tepat di depan pintu ruangan tempat Axton berada.
"Axton, ada di dalam. Aku mohon, bantu aku Naora. Sungguh aku sangat kasihan kepadanya." Lana tampak menangis pasrah. Wanita itu memperlihatkan segala kekhawatirannya hingga memancing rasa iba pada diri Naora.
Naora tak besuara untuk menanggapi Lana. Namun, garis-garis di muka sudah cukup menjadi jawaban akan apa yang sedang dirasa. Sungguh, gemuruh detak jantung kian rancu di dalam rongga dada. Suara kegaduhan dari dalam ruangan sukses menarik getaran jiwa.
"Sebenarnya ... Axton kenapa Lana?" Naora mencoba mencari tahu sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam.
Bibir Lana yang sudah setengah terbuka dan siap meluncurkan kata, seketika terurungkan. Raungan Axton yang kembali menguar membuatnya ketakutan.
Berbeda dengan Lana. Hati kecil Naora justru merasakan kepiluan yang mendera. Baginya, suara raungan amarah Axton bagaikan ungkapan dari berbagai rasa yang selama ini bersembunyi bersama jiwa rapuhnya. Marah, kecewa, sedih, tersakiti dan juga terabaikan seolah terbingkai menjadi satu luka.
Bagi seorang Naora, suara raungan Axton terdengar begitu menyayat hati. Hingga dorongan naluri, menuntun kaki masuk ke dalam dengan hati-hati. Tanpa ia ketahui, Lana langsung mengunci pintu dari luar lalu menyeringai penuh arti.
"Kita lihat saja. Apa dia masih akan tetap mau tinggal di sini setelah tahu Axton mengidap penyakit mental? Di dunia ini, hanya aku satu-satunya wanita yang bisa menerima semua kekurangan pria itu."
Brak!
Lana langsung terjingkat karena mendengar dentaman keras dari dalam ruangan. Tubuhnya seketika bergidik membayangkan keadaan Axton yang tampak mengerikan. Gegas ia membawa tubuhnya pergi dari pada ikutan menjadi korban.
Baru saja mengambil beberapa langkah, wanita itu harus berpapasan dengan Milah yang memandangnya dengan tatapan sanksi.
"Kenapa Bibi melihatku seperti itu?" tanyanya keheranan dan juga tidak suka dengan cara wanita tua itu memandangnya.
"Kenapa Nyonya melakukan itu?" Milah langsung melempar pertanyaan tuduhan tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Bi?" Lana berpura-pura tidak mengerti.
"Nyonya sengaja mengorbankan keselamatan Nak Naora."
Lana memiringkan salah satu sudut bibirnya, mencetak sebuah senyuman dingin. "Aku ingin membuktikan kepada orang-orang, siapa yang pantas menjadi satu-satunya Nyonya di rumah ini."
Milah membingkai muka cemasnya dengan senyuman getir. "Kian hari, Nyonya semakin menunjukkan sifat asli di balik topeng yang Nyonya pakai."
Ucapan monohok Milah sukses menyadarkan Lana akan kecerobohannya. Ia langsung mengembalikan mimik muka lemah lembutnya.
"Kenapa Bibi sangat tega berkata seperti itu kepadaku? Aku hanya kasihan dengan suamiku. Dan aku yakin Naora mampu menenangkannya."
Milah seketika tercengang berkali-kali lipat. Pintar sekali wanita di depan itu merubah mimik muka secepat kilat. Beruntung, ia menyadarinya dengan cepat. Hingga ia tidak akan mudah kemakan daya tipu yang menjerat.
"Bi, seharusnya kau mendukungku. Bukankah jika Naora bisa mengendali Axton, jalinan pernikahan mereka bisa lebih harmonis?" Lana seolah memberi restu terhadap hubungan suami dan madunya.
Sayangnya, semua itu hanyalah lain di bibir, lain pula di hati. Kenyataannya, bukan kebaikan yang dia harapkan di antara Axton dan Naora, melainkan sebuah keretakan.
Milah mencoba meraup kesabaran sebanyak mungkin agar tidak lepas emosi. Ia lebih memilih menghindari perdebatan yang diyakini bisa bikin darah tinggi.
Wanita tua itu masih sempat melontarkan kalimat sindiran sebelum mengabaikan majikan perempuannya yang tampak lambat berpikir. Rasa cemas kepada kedua majikannya yang masih di dalam ruangan menyokong niatnya untuk bergegas masuk ke kamar, memastikan tidak ada seorang pun yang terluka. Namun, ternyata pintu terkunci.
"Kenapa pintunya tidak bisa dibuka?" Milah beberapa kali menarik handle pintu. Sedetik kemudian ia memutar tubuhnya ke arah Lana. "Nyonya, apakah anda yang mengunci pintunya?"
"Aku tidak menguncinya. Mungkin Naora yang mengunci pintu dari dalam." Wanita itu berdusta.
"Ya Tuhan ... aku takut Tuan Axton bertindak nekat kepada Nak Naora." Milah panik. Kecemasan pun merambat semakin dalam. Tidak ingin mengulur waktu, Ia lantas berlari tergopoh-gopoh untuk segera mencari bantuan.
Di dalam ruang kamar bawah tanah, Naora dibuat terkejut luar biasa. Suguhan pemandangan di depan mata membuatnya sulit untuk berkata-kata. Kondisi di sekitar, bak perahu layar diterjang ombak badai yang tengah murka. Hancur dan berantakan hingga tak tersisa.
Namun, bukan itu yang menjadi perhatian paling utama Naora, melainkan seonggok daging bernyawa yang tengah meringkuk gemetaran di salah satu pojok ruangan dengan keadaan memprihatinkan. Terpukul, itu lah yang wanita itu rasakan. Rasanya ia belum bisa percaya bahwa Axton si Tuan muda arogan memiliki sisi kelemahan yang begitu menyedihkan.
Perlahan ia mengayun tungkai mendekati pria itu. Kemudian berjongkok di depannya dengan melabuhkan tatapan sarat akan kekhawatiran. "Axton ... kau kenapa seperti ini?" tanyanya dengan sangat hati-hati dan penuh perhatian.
__ADS_1
Namun, respon yang diterima membuat deguban kencang di dalam rongga dada. Axton menatapnya tajam, bak serigala kelaparan yang hendak menyantap mangsa. Pria itu langsung mencekik leher kecil Naora tanpa aba-aba. Hingga merenggut ruang bebas pernapasannya.
"Ax-ton, lep-paskan. A-ku ti-dak bi-sa ber-napas!" Suara Naora terputus-putus. Cengkeraman jari-jari besar Axton di lehernya sungguh menyiksa.
"Aku pembunuh! Aku seorang pembunuh!" Axton kian menggila. Masih dalam posisi mencekik, ia mendorong tubuh Naora dan mengungkungnya. Wanita itu kian tak berkutik.
Di saat posisi menahan sakit, Naora justru kian merasa iba. Sorot mata Axton di atasnya bagaikan menyimpan sejuta luka. Hatinya seakan ikut merasakan hal yang sama.
"Si-apa o-rang yang be-rani bi-lang Ax-tonku ini se-orang pem-bunuh?! Ka-takan pa-daku, bi-ar a-ku mem-beri pela-jaran ke-padanya." Naora tampak harus bekerja keras untuk bersuara.
"K-au ti-dak sen-dirian Ax-ton. A-da a-ku yang 'kan se-lalu mene-manimu."
Dengan sisa tenaga, Naora mengangkat sebelah tangan lalu merangkum lembut pipi sang suami. Tatapan penuh cinta pun turut mengiringi. "Ax-ton y-ang ku ke-nal ti-dak mung-kin mem-bunuh."
Muka cantik Naora tampak memerah akibat oksigen di dalam paru-paru kian terampas. Lidah sudah tak mampu berucap tangkas. Suaranya tercekat di ambang batas. Tangan yang masih menempel di pipi Axton, seketika terjatuh lemas.
Pandangannya mulai kabur, seiring dengan buliran kristal yang meluncur dari pelupuk mata. Naora sudah pasrah akan nyawanya.
Tuhan ... apakah ini bakal jadi takdirku? Mati di tangan pria yang selama ini aku cintai dalam diam.
โ
โ
โ
Bersambung~~
Nofi mau bercerita.
Nofi adalah seorang TKW di Negeri Formosa. Tugasku merawat seorang lansia yang sedang sakit. Nofi mulai bekerja dari subuh dan benar-benar bisa beristirahat total jam 10 an ke atas.
Jadi mohon dimaklumi ya, jika Nofi masih mampu up sehari cuma 1 bab๐ Jujur Nofi terharu dan sangat senang. Karena komplenan dari para pembaca perihal update bab kurang banyak, Nofi anggap sebagai sebuah wujud dari antusiasme kalian dalam memberi dukungan pada karya ini๐ฅฐ
__ADS_1
Sekali lagi maaf ya, jika Nofi sedikit mengecewakan kalian๐
Wo i nimen...๐๐