
Naora mengekori suaminya menuruni tangga menuju lantai satu. Wanita itu juga ingin tahu siapa orang yang sedang bertamu di kediaman. Hingga, ia dibuat tidak percaya saat melihat keberadaan Wildan yang datang bersama seseorang.
"Stefan?" Ucap Naora dengan tatapan menyelidik.
Yang Naora tahu, Stefan seharusnya masih menjalani hukumannya di balik jeruji besi, tapi kenapa sekarang bisa berada di sini? Ia tentu bertanya-tanya di dalam hati.
Di di sisi lain, didorong oleh rasa syukur dan haru yang terlampau besar, Stefan menjatuhkan tas bawaannya lalu bersimpuh di depan Axton dengan menitihkan air mata. Sepasang pundaknya bergetar seiring dengan lirih isakan tangisnya.
"Terima kasih atas kebaikan anda, Tuan. Tidak seharusnya saya diberi kesempatan untuk menghirup udara segara secepat ini. Bagaimana cara saya membalas kebaikan dari Tuan?"
Kemarin, si tuan muda arogan itu memerintahkan Wildan untuk mengurus pencabutan gugatan terhadap Stefan. Pengajuan penarikan laporan aduan itu sempat terkendala, karena mengingat tindak kriminal yang dilakukan Stefan cukup berat. Ditambah lagi sudah melewati proses persidangan. Begitu banyak syarat prosedur yang harus dilakukan. Namun, berkat turun tangan kekuasaan Axton, pihak penegak hukum memilih menghargai haknya sebagai korban.
Masih setia dengan pembawaan dingin dan arogan, Axton menurunkan pandangan ke arah Stefan yang sedang bersimpuh di bawahnya.
"Jangan mengira aku sudah memaafkanmu. Kebencianku ini akan tetap ada. Dan aku mencabut gugatan itu sebab tidak ingin mempunyai hutang budi karena waktu itu kau mendonorkan darahmu untukku."
"Tidak seharusnya anda merasa berhutang budi, Tuan. Itu memang sudah kewajiban saya sebagai bentuk penebusan akan kejahatan yang sudah saya dan Lana lakukan. Bahkan hal itu tidaklah cukup untuk membayar semuanya."
"Terserah kau saja. Berdirilah, kau membuatku risih."
Tidak ada rasa tersinggung sama sekali. Kendati sikap dingin yang didapati, Stefan sanggup memahami. Dia juga harus sadar diri. Masih beruntung Axton mau menunjukkan sisi kemanusiaannya kali ini. Coba kalau orang lain, barang pasti akan tetap membiarkan ayah biologis bayi Alan itu membusuk di balik jeruji besi.
Sementara Naora, ternyata diam-diam ia menyimpan kecurigaan di balik tempurung kepala. Wanita itu sangat yakin, ada tujuan lain yang membuat si pria bertindak di luar kebiasaannya.
"Tuan, tolong ijinkan saya untuk bertemu dengan putra saya." Stefan memohon. Sungguh, sebagai seorang ayah ia sudah dirundung kerinduan yang mendalam.
Bertepatan dengan itu, ternyata Milah datang seraya menggendong bayi Alan. Binar keharuan terpancar seketika di muka Stefan. Diulurkan tangannya sebagai isyarat bahwa ia ingin segera membawa sang putra ke dalam pelukan.
Stefan memandang wajah tak berdosa bayi Alan dengan berbagai perasaan di hati. Bahagia? sudah pasti. Namun, dia juga sedih dan meratapi.
Bayi Alan sudah piatu semenjak awal melihat warna di dunia. Tiada lagi sentuhan lembut yang di dapatkan dari sang mama. Belum lagi ia terlahir dari orang tua mantan narapidana. Stefan khawatir kalau masa lalu kelamnya berpengaruh kepada nasib masa depan putranya.
"Bagus, sekalian kau bawa pergi bayi itu."
Mendengar ucapan Axton, Naora seketika merasakan denyutan tak nyaman di dada. Ia seakan tiada rela jika bayi Alan berpisah dengannya.
__ADS_1
"Axton, apa Alan akan benar-benar pergi dari rumah kita?" tanya Naora, berharap ia salah mendengar.
"Iya, itu memang sudah sepatutnya.
"Tapi, Axton ... aku sudah terlanjur menyayangi Alan seperti anak kandungku sendiri." Sepasang netra Naora mulai berkaca-kaca.
"Dia bukan anakmu, Naora. Apa kau lupa asal-usul bayi itu? Lagian sudah semestinya ia menjadi tanggung jawab ayahnya."
Pasrah sudah, Naora tidak ingin terlalu banyak membantah. Meski hati memberontak parah.
"Stefan, setelah ini kau akan membawa Alan tinggal di mana?" Tanya Naora.
"Saya belum tahu, Nona. Saat ini saya tidak memiliki tempat tinggal," jawab Stefan.
"Apa?! Kau bahkan tidak tahu mau tinggal di mana." Naora menggeleng cepat sebagai bentuk tidak terimanya. Ia seketika berderai air mata, tidak tega membayangkan nasib bayi Alan jika pergi dari kediamannya.
"Anda tenang saja, Nona. Saya bisa menyewa kamar kos."
"Tidak! Aku tidak setuju. Di rumah ini ada banyak kamar kosong. Kau bisa menempati salah satunya, Stefan."
Apa-apa'an kau ini, Naora? Bagaimana bisa kau membiarkan dia tinggal bersama kita?!" sela Axton tidak suka.
"Itu bukan urusanku!"
"Ternyata kau sudah tidak mencintaiku, Axton."
"Apa hubungannya mencintaimu dengan bayi itu?"
"Tentu saja ada hubungannya. Kau lebih memilih menuruti egomu dan mengabaikan rasa bersedihku karena berpisah dengan Alan." Naora kian terisak.
Stefan merasa tidak hati saat ini. Keberadaannya dan sang putra telah membuat sepasang suami istri itu beradu lidah. Ingin sekali ia menyela, tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Sementara Milah, malah tersenyum di dalam batin. Wanita seakan sudah tahu apa yang akan terjadi nanti.
"Naora, berhentilah bersikap seperti ini." Axton sangat tidak suka melihat wanitanya menangis.
"Aku hanya ingin mereka tinggal di sini, Axton." Wajah memelas Naora kian memberi damage yang sangat mempengaruhi perasaan Axton.
"Haah! Kenapa kau selalu membuatku kesulitan untuk berkata 'tidak'?! Baiklah, terserah kau saja!" Axton mengerang frustrasi karena lagi-lagi ia tidak mampu menolak kemauan, Naora.
__ADS_1
Axton langsung meninggalkan ruangan dengan bibir yang terus menggerutu tidak jelas. Sedangkan Naora, senyuman di bibir seketika terulas.
"Bi Milah, tolong antar Stefan ke kamarnya ya," ucapnya cepat-cepat lalu berusaha mengejar langkah kaki suaminya.
"Naora, jangan berlari. "Axton langsung memelankan langkahnya, menyetarakan gerak kaki Naora agar wanita itu tidak kepayahan saat mengikutinya.
Di ruang kerja, Naora menelisik ke arah Axton yang terlihat fokus dengan pekerjaannya. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu, hanya saja sebuah jawaban dari pertanyaannya belum diterima.
Kesabaran kian terkikis, karena rasa ingin tahunya sama sekali tidak digubris. Naora tetap mencoba duduk manis, tapi nyatanya kedongkolannya malah mendramatis.
Satu pijakan kaki membawa tubuhnya berdiri. Ayunan tumit menggiring langka mendekati si suami. Ia langsung mendaratkan bokong di pangkuan kokoh Axton tanpa permisi. Hingga pekerjaan yang masih menumpuk harus terhenti. Dipandang paras tampan di depannya yang selalu menggetarkan hati. Menuntut sebuah hak untuk dimengerti. Bahwa ia sudah tidak tahan lagi.
"Ada apa, Naora? Apa punggungmu sakit lagi?" tanya Axton sebagai bentuk perhatian lalu mengecup bibir mungil yang tersuguhkan di depan muka. Tangan juga dibawa mengusap punggung Naora.
Tindakan sederhana itu memang sudah menjadi kebiasaanya semenjak Naora hamil. Mengingat wanita itu sering mengeluh sakit punggung, Axton pun selalu berinisiatif memberi pijatan lembut guna mengurangi rasa tidak nyaman di sana.
"Bukan itu, Axton. Aku belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa alasan utamamu mencabut gugatan Stefan?"
"Kenapa semenjak hamil rasa ingin tahumu itu semakin tinggi, Naora?"
"Itu anakmu yang meminta," celetuk Naora dengan mudahnya ia mengkambing hitamkan bayi di dalam perutnya yang jelas-jelas belum mengerti apa-apa.
Axton tertawa geli karena jawaban asal Naora. Merasa gemas ia kembali mengecup bibirnya. "Kau membuat pekerjaanku tidak cepat selesai, Naora. Bukankah kita juga harus segera menjenguk Daddy?"
"Jawab dulu pertanyaanku."
Helaan napas panjang mencelos dari bibir Axton. Rasanya ia tidak akan mampu melawan rasa penasaran Naora.
"Aku hanya ingin, Alan mendapatkan kasih sayang yang semestinya dari ayahnya. Aku sangat tahu bagaimana rasanya berjauhan dengan orang tua, Naora."
☘
☘
☘
Bersambung~~
__ADS_1
Maaf ya belum bisa balas komen kalian satu2😩