Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Mengenang


__ADS_3


"Dia terluka karena berusaha melindungi tuan Edrich dari amukan massa demo yang mengatas namakan masyarakat tempatan di lingkungan proyek."


"APA?!" Naora terkejut.


"Iya. Tadi pagi Axton menerima kabar bahwa proyek pembangunan terbaru milik Sanders Corp mendapat demo dari warga. Kami langsung menuju ke tempat kejadian menggunakan helikopter agar tiba lebih cepat. Sesampainya di sana ternyata aksi demo sudah sangat ricuh. Di bawah komando seorang pria yang diduga provokator kerusuhan, massa menyerbu bangunan proyek, merusak pembatas lahan serta alat-alat berat yang berada di lokasi. Tuan Edrich dan tim proyek yang mulai terpojokkan juga tak luput dari serangan. Mengetahui beberapa pelaku demo hendak menyerang tuan Edrich menggunakan balok kayu dan batu, Axton langsung menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi tuan Edrich. Hingga dia terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit," terang Nathan panjang kali lebar.


Sesaat pria itu memandang sendu sahabatnya yang tengah terpejam di atas rajang. Bagaimanapun juga rasa iba di hati turut meradang. Walaupun sang Daddy tak pernah memberi secuil pun perhatian, Axton tetap menyimpan rasa sayang.


Dan apa yang dirasakan Nathan juga dirasakan Naora. Bahkan lebih dalam hingga tak terkira. Ingin rasanya ia menumpahkan seluruh air matanya. Akan tetapi ... masih dilarang sama mak Authornya. Haha!


"Bagaimana dengan para pendemo anarkis itu? Apakah sudah ditangkap?" tanya Naora kembali.


Mendapat pertanyaan dari wanita itu, Nathan menoleh ke arah Wildan yang dirasa lebih tahu menahu. "Wildan, bagaimana tentang informasi penyelidikannya? Apa sudah ada perkembangan lebih lanjut?"


"Provokator kerusuhan dan sebagian massa sudah langsung tertangkap oleh petugas keamanan dan polisi, yang lainnya berhasil kabur menyusup ke dalam hutan semak belukar. Beruntungnya pihak berwajib juga tidak kesulitan dalam mengembangkan kasus. Dari hasil penyelidikan, kerusuhan diprakarsai oleh para pesaing bisnis tuan Edrich. Mereka ternyata memanfaatkan ormas-ormas yang biasanya hanya kedok untuk mengumpulkan massa. Menyuapi para ormas dengan lembaran rupiah hingga mereka bisa sangat mudah terhasut dan melakukan apa saja sesuai keinginan pesaing bisnis tuan Edrich." Wildan mengakhiri laporannya dengan helaan napas miris.


Memang kalau sudah berurusan dengan perut, demi beberapa lembar rupiah, rakyat kecil yang tidak mengerti apa-apa pun mudah terhasut. Kalau sudah begini, siapakah yang harus di salahkan?


Mendengar penjelasan Wildan, Naora mulai bernapas lega. Namun, paras sendu masih ada. Melihat Axton tertidur dengan balutan perban, tetap saja membuat hatinya sebagai seorang istri nelangsa.


Tiba-tiba wanita itu teringat akan sesuatu yang sempat terlupakan. Ia membawa manik hazelnya menyisiri ruangan. Mencari sosok seseorang yang seharusnya tertangkap pandangan. Sayang, kenyataannya tak sesuai harapan.


"Bagaimana dengan keadaan Daddy Edrich?"


"Dia baik-baik saja. Tidak ada satu pun luka yang dia terima. Tentunya ... berkat Axton," terang Nathan.


"Terus di mana Daddy sekarang? Apa dia sudah menemui Axton?" Naora melabuhkan pandangannya secara bergantian kepada kedua pria di depannya. Entahlah, saat ini batinnya sudah menduga-duga suatu hal yang sangat tidak diinginkan terjadi.


Raut sendu kembali menghiasi wajah tampannya. Nathan merasakan denyutan pilu di dada. Keprihatinan lagi-lagi menyapa. Sungguh, sebagai seorang sahabat rasanya tidak tega.


"Setelah insiden kerusuhan di lokasi proyek tadi, tuan Edrich belum lagi menampakkan diri," terang Nathan.


Sakit hati, itulah yang melanda wanita bermanik hazel itu. Perasaan sedih yang menguar di hati kembali mendorong lebih banyak lagi tetesan air mata pilu.


Bahkan setelah Axton berkorban untuknya, masih belum bisa menggerakkan hatinya. Ya Tuhan ....


"Naora ...."


Wanita itu seketika terhenyak dari larutnya perasaan saat mendengar gumaman lemah dari bibir suaminya. Ia mengambil duduk di sebelah ranjang, diraih jari-jari besar Axton lalu memberi sebuah kecupan hangat di sana.


"Naora ...." Axton kembali menggumam di sela tidurnya.


"Iya, Axton ... aku di sini."


Nathan terkesima melihat adegan manis yang memenuhi ruang mata. Hati tak menyangkal, perasaan hangat memang ada, walaupun setitik kecemburuan belumlah sirna. Namun, ia lebih memilih untuk berlapang dada.


Apakah masih ada alasan bagiku untuk mengharapkan Naora? Aku rasa, sudah tak patut lagi harapan itu ada. Aku ... sudah cukup senang jika sahabat dan juga pujaan hatiku bahagia. Kepiluan hatiku ini biarlah kusimpan saja.


Keberadaan Naora sudah sukses memberi pengaruh yang luar biasa bagi Axton. Tidak hanya dari segi lahir, tapi juga batin. Bahkan jiwa di bawah alam sadarnya pun masih mengajaknya menyerukan nama Naora.

__ADS_1


"Kau mau ke mana, Naora?" Nathan menampilkan muka penuh tanya saat wanita itu beranjak dari duduk.


Berusaha menyematkan senyuman tipis di muka sendunya, Naora menjawab. "Nathan, aku akan pergi sebentar. Tolong jaga Axton ya. Aku akan segera kembali."


"Tapi ini sudah malam."


"Ini masih pukul 8, Nathan."


"Ya sudah, berhati-hatilah di jalan."


Naora menanggapi perhatian Nathan dengan senyuman simpul sebelum membawa kaki keluar kamar.



Kesunyian menyergap hati. Di sebuah ruangan yang menyimpan berbagai kenangan, Edrich termenung seorang diri. Dipandang sendu sebuah dinding berhias puluhan foto berbingkai mendiang sang istri. Hingga satu di antara mereka menarik perhatiannya kini.


Tangan terulur, melabuhkan jari pada senyuman mendiang sang istri yang tercetak dalam sebuah foto masa lalu. Manik abu-abunya mulai bergeser pada senyuman lain yang membuat hatinya kian bertalu. Di dalam foto wanita itu tidak sendiri, ada Axton kecil duduk di pangkuannya dengan wajah lugu.


"Putraku ...." Edrich menatap nanar muka polos putranya yang dulu selalu bertingkah ceria. Seorang putra bersifat penyayang kepada siapa saja. Namun, kini menjadi sosok yang ia benci dalam kurung waktu lama.


Larut ke dalam perasaan, ia mulai mengenangkan masa-masa indah bersama Areum dan Axton kecil.


"Daddy ...! Kau sudah pulang?" Axton berlari berhamburan ke pelukan Edrich yang baru saja kembali dari Inggris. Senyumannya begitu merekah seolah tiada beban di hidupnya.


"Putra Daddy yang paling tampan ini pasti sudah merindukan Daddy ya?"


Axton mengangguk cepat tanpa menghilangkan senyumannya. "Tentu saja. Axton sangat rindu bermain rubik dan game bersamamu, Dad."


Muka polos bocah itu menampilkan cengiran ala-ala kuda, menunjukkan deretan gigi putihnya. "Kemarin Axton terjatuh saat bermain sepedah, Dad."


"Bisakah putra kesayangan Daddy ini tidak membuat Daddy cemas? Setiap Daddy pulang selalu saja ada luka di tubuhmu. Berjanjilah kau akan lebih berhati-hati saat bermain."


"Baik, Daddy. Axton berjanji."


Pria itu mengacak gemas rambut tebal putranya. "Anak pintar."


"Oya, Daddy tidak lupa dengan janjimu yang akan mengajak Axton memancing di tengah laut 'kan?" Bocah itu melisankan tanya sekaligus menagih janji sang daddy.


"Tentu saja Daddy tidak lupa. Coba Axton lihat itu?" Pria itu menunjuk ke arah benda yang terletak di salah satu sudut ruangan. "Daddy sudah membeli semua perlengkapan memancing kita."


Axton melepas pelukannya dari Edrich. Dengan perasaan senang ia berlari mendekati benda yang sudah sangat diidam-idamkannya.


Sementara dari arah berlawanan, sosok Areum mendekat membawa senyuman hangat sarat akan kerinduan. "Axton terus saja membahas perihal janjimu itu selama kau belum kembali. Dia juga sangat tidak sabar menunggumu pulang. Kau harus segera menepatinya," ujar Areum.


Edrich seketika memasang muka masam lalu mendekatkan bibirnya di telinga. "Beginikah caramu menyambut suami setelah 1 bulan tidak bertemu? Apa kau tidak merindukanku?" Ia berbisik agar Axton tidak mendengar. Areum seketika tampak tersipu malu.


"Daddy, bolehkah aku mengajak Bi Areum ketika memancing nanti?" Axton menyela pertanyaan dengan sedikit berteriak, membuat kedua orang dewasa itu mengalihkan perhatian kepadanya.


"Tentu saja boleh," jawab pria itu tanpa berpikir panjang lalu melirik penuh makna ke arah wanita yang menjadi kekasih hatinya itu. "Sangat boleh malahan. Nanti kita bisa sekalian menyewa sebuah penginapan di area tepi pantai." Lagi-lagi, Edrich membuat Areum tersipu malu.


"Ya sudah, kamu sebaiknya bersihkan tubuhmu terlebih dahulu," saran Areum dengan nada lirih.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu."


"Edrich." Sejenak wanita itu menghalau kaki Edrich yang hendak melangkah pergi.


"Hm, ada apa?"


"Aku ... merindukanmu," ucapnya, masih dalam mode lirih, tidak ingin orang lain mendengar selain pria di depannya.


Pria dewasa itu kembali mendekatkan bibirnya ke daun telinga si wanita. "Aku jauh lebih merindukanmu, kekasihku."


Areum sedikit tertunduk malu. "Aku ... mencintaimu," ucapnya tanpa melihat wajah tampan Edrich yang tengah memandang kagum dirinya.


"Dan cintaku jauh lebih besar darimu. Cintaku ini akan kubawa sampai mati."


Wanita berparas anggun itu seketika memutar leher hingga netranya bersiborok dangan milik Edrich. "Begitu juga dengan cintaku."


Areum terperangah saat Edrich mencuri sebuah ciuman singkat di bibirnya secara tiba-tiba. "Edrich! Bagaimana nanti kalau Axton dan orang-orang melihatnya?" jeritnya setengah berbisik sembari mengedar pandangan menelisik. Ia berharap tiada mata tak diinginkan yang membidik.


"Aku memang berniat menyudahi rahasia konyol ini, Areum. Kau itu istriku, sudah seharusnya semua orang tahu termasuk putra kita."


"Tapi, Edrich ... Rosmala pasti akan sangat menentangnya begitu juga dengan para orang tua."


"Aku tidak peduli. Sebagai seorang pria yang mencintaimu, aku merasa perlakuanku sangat tidak adil. Maka dari itu aku akan membuatmu menerima semua hak yang selama ini tak kau dapat. Salah satunya menyandang predikat 'nyonya' di rumah ini."


Edrich berhenti mengenang masa lalu seiring dengan helaan napas panjangnya. Ia memutar tumit dan kembali menduduki sofa. Tangan diajak memijit kedua pelipis karena pusing melanda.


"Aku bahkan belum sempat membuatmu mendapatkan semua hakmu sebagai menantu keluarga Sanders, tapi kenapa kau harus pergi begitu cepat, Areum? Aku sangat merindukanmu."


Pria itu terhenyak dari pikirannya saat beberapa suara ketukan pintu menyeruak ke dalam indera pendengaran. Gegas ia buang raut muka kesedihan.


"Masuklah," ucapnya.


Daun pintu terbuka disusul seonggok daging bernyawa yang menyembul dari balik sana. Edrich seketika tampak keheranan saat muka sendu tertangkap mata.


"Kau kenapa?"





Bersambung~~


Maaf ya, kemarin Nofi nggak bisa up. Memang akhir-akhir ini alhamdulilah masih diberi nikmatnya rasa sakit.


Dan maaf ya jika alur ceritanya sedikit lambat dan membosankan. Tapi percayalah, Nofi selalu berusaha sebaik mungkin. Kendati masih banyak salah dalam penulisan😁


Well! Jangan lupa dukungannya ya ... tanpa kalian aku bagaikan butiran debu. Haha😆✌


Lop you sekebon pisang😘😘

__ADS_1


__ADS_2