Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Cemburu


__ADS_3


"Kau mengangetkanku! Lagian untuk apa kau berada di kamarku malam-malam begini, Axton?!" Naora bersungut karena kesal sembari mengusap sayang dadanya yang masih berdebar kencang.


Ia menatap sangsi ke arah Axton yang terlihat duduk di sofa dengan mimik muka tak bersahabatnya. "Ada apa dengan mukamu itu?" Wanita itu bahkan masih enggan berpindah dari posisinya saat ini. Berdiri di dekat ambang pintu yang masih dibiarkan terbuka.


"Tutup pintunya, Naora." Suara Axton terdengar tenang tapi terkesan dingin. Selaras dengan kalimat titahan yang meluncur dari ujung lidahnya.


"Biar pintunya terbuka seperti ini saja," tolak Naora. Melihat aura tak ramah yang berkobar pada diri Axton, mengundang rasa was-wasnya.


Dia bisa langsung kabur lewat pintu jika sewaktu-waktu Axton bertindak nekat kepadanya. Itulah yang dipikirkannya. Bagaimanapun, ia juga percaya, bahwa setangguh apapun dirinya, tidak akan mampu menyaingi kekuatan seorang Axton, suaminya.


"Aku bilang tutup pintunya!" Kali ini Axton sedikit menaikan nada suaranya. Mungkin naik dua atau tiga tangga nada. Begitulah kira-kira.


Naora menggeleng dan masih setia dengan tatapan sangsi. "Sayangnya aku menolak perintahmu."


"Kau sangat tahu kalau aku tidak suka penolakan. Patuhi semua perintahku, itulah kewajibanmu."


Beranjak dari duduk, Axton mendekati balkon kamar lalu mengeluarkan sebuah kalung liontin kesayangan Naora dan memainkannya, seolah ingin melempar benda itu ke kolam yang berada di bawah.


Brak!


Tidak butuh kerja keras. Sebuah kalung yang hingga saat ini masih berada di dalam kuasa tangan Axton, nyatanya cukup ampuh membuat istri ke-duanya itu menyerah akan sikap tak patuhnya. Naora langsung menuruti titahnya. Menutup daun pintu dengan segera.


"Kembalikan kalungku itu."


Naora tampak berusaha keras merebut kembali kalung itu dari tangan Axton. Namun, pria berperawakan tinggi itu seolah enggan berbelas kasih, kendati si wanita terlihat kepayahan dalam menjangkau.


"Ternyata kau masih memiliki banyak tenaga, wanita murahan."


'Wanita murahan', dua kata yang terangkai menjadi kalimat hinaan itu, sukses menghentikan aksi Naora. Mengundang rasa tak terima akan harga diri yang direndahkan.


Bagaimana bisa, Axton berkata seperti itu, sedangkan mahkota kesuciannya masih sangat terjaga dari tangan-tangan nakal seorang pria.


Sungguh tak pantas.


Menatap tajam muka pongah di hadapannya, Naora membalas perkataan Axton. "Orang berpendidikan serta berintegritas tinggi sepertimu seharusnya lebih bijak dalam berlisan, Axton. Lidahmu tak lebih sopan dari lidah anak kecil."


Axton yang sudah terbiasa hidup bergelimangan sanjungan tinggi, tentu saja akan sangat mudah tersinggung jika dirinya direndahkan. Celaan halus Naora, sukses menyulut api amarahnya.


Dirangkumnya kasar pipi Naora dengan satu kali cengkeraman jari jemari besarnya. Memangkas sebagian jarak di antara tubuh keduanya. "Apa namanya jika bukan murahan, ketika wanita yang sudah bersuami bersenang-senang dengan pria lain hingga pulang larut malam?!" Axton mendesis geram.


Sungguh, tindakan Axton membuat Naora merasa kesakitan pada kedua pipinya. Cengkeramannya teramat kuat, hingga menciptakan sebuah ringisan di muka cantiknya. Namun, bukan Naora namanya jika ia harus gentar menghadapi keangkuhan suaminya.


"Aku sudah pernah bilang bukan, pria sejati tidak akan berlaku kasar kepada wanita?! Dan apa maksud dari perkataanmu itu?!"


Mencoba bebas dari rengkuhan jari-jari besar si pria, Naora mendorong tubuh besarnya dengan sekuat tenaga. Sayangnya ... sia-sia. Axton justru kian berkuasa.


Naora didorong hingga punggung membentur dinding. Himpitan tubuh kekar yang begitu posesif, membuatnya merinding. Wanita itu, berakhir pada posisi terkunci oleh rengkuhan tangan yang tergiring.


"Axton, apa yang kau lakukan?!"

__ADS_1


"Katakan, siapa pria yang bersamamu tadi?"


"Pria yang mana?"


"Memangnya ada berapa pria yang bersenang-senang denganmu tadi? Hah?!"


"Axton! Tolong jaga mulutmu!"


"Cepat katakan! Siapa pria yang bersamamu saat aku meneleponmu tadi?!"


Naora akhirnya paham, siapa pria yang dimaksud Axton. Siapa lagi kalau bukan Nathan, si pria tampan dengan keramahan paripurna.


"Dia adalah Nathan."


Nathan? Apakah ... ah! Lagian ada banyak orang yang bernama Nathan di luar sana. Sekilas Axton sempat berkelut dengan pikirannya karena nama yang disebut Naora terdengar tidak asing.


"Lepaskan aku, Axton. Kau menyakitiku," keluh Naora. "Ahhk! Jauhkan tubuhmu dariku!"


Alih-alih mengabulkan permintaan Naora, Axton kian mempererat kuncian tangan dan menambah itensitas himpitan tubuhnya.


"Kau tidak perlu sok suci, Naora. Bukankah tubuhmu ini sudah disentuh oleh pria itu tadi? Kau memang wanita murahan."


Antara tersinggung dan berpilu, dua perasaan itu saling berpadu. Sekali lagi, Hati Naora tersakiti bak tersayat sembilu karena perkataan pria itu.


Sungguh terlalu.


"Menjauhlah dari tubuhku, Axton."


Naora melempar tatapan marah. "Bagaimana bisa kau berkata seperti itu sementara ciuman pertamaku saja kau yang merenggutnya!"


Axton menyeringai sinis, tidak bisa percaya dengan perkataan Naora begitu saja. "Pembohong. Aku mendengarnya dengan sangat jelas saat di telepon tadi kau sedang bercinta dengan pria itu," cemoohnya.


Tanpa disadari, Axton sudah terbelenggu oleh sebuah rasa, di mana ia takut jika pria lain akan mengambil Naora yang merupakan miliknya. Rasa itu biasa kita sebut 'cemburu'.


Kecemburuan yang membuatnya payah dalam berpikir jernih, buruk dalam bersikap dan bahkan pedas saat berkata di depan Naora. Hingga akhirnya, hati lembutnya kembali menoreh luka.


Naora menatap Axton dengan perasaan tidak percaya. Akhirnya, ia tahu bahwa sebuah kesalah pahaman adalah pangkal alasan dari kemarahan pria yang berstatus sebagai suaminya itu.


"Kau salah paham Axton. Kejadian yang sebenarnya tidak seperti itu," terang Naora, meluruskan apa yang tidak benar.


"Aku tidak bodoh, Naora!


Naora mulai jengah akan sikap Axton. "Ck! Bilang dirimu tidak bodoh, tapi nyatanya kau itu kebalikannya. Kau sangat bod--,"


Ucapan Naora seketika terputus saat Axton membungkamnya dengan sepasang bibirnya.


"Hmmp ...! Hmmp ...!" Wanita itu meronta, mencoba melepas pagutan Axton yang sangat kasar.


"Katakan, bagian mana lagi yang disentuhnya!"


Lidahnya mulai menjelajah. Meninggalkan jejak-jejak saliva basah. Menggambar kupu-kupu merah yang indah di matanya yang berkabut gairah.

__ADS_1


"Axton! Hentikan, tolong jangan seperti ini! Emp ...!"


Teriakan Naora kembali meredam karena Axton menggunakan bibirnya untuk membungkam. Bahkan tangannya tak dibiarkan diam. Menelusup di balik kain dan bermain semakin dalam.


Ini sangat aneh.Tubuhku selalu bereaksi jika menyentuhnya. Sebenarnya, wanita seperti apa dia ini? Aku membencinya tapi kenapa tubuhku seolah membutuhkannya?


Di sela cumbuan liarnya, Axton berkelut dengan hatinya. Hasrat keperkasaan yang selama ini tertidur, mulai menunjukkan eksistensinya. Sungguh ia tidak menyangka.


Axton menghentikan permainan bibirnya, saat merasakan pukulan-pukulan kecil di dada. Rupanya, Naora hampir kehabisan stok oksigen pada rongga paru-parunya, membuat ia sulit untuk bernapas.


"Hentikan, Axton. Kau hampir saja membunuhku."


Masih di dalam kuncian tubuh Axton, Naora mencoba meraup udara dengan rakus.


"Aku belum selesai menghukummu, Naora!"


Naora kembali meronta saat Axton berniat mengulangi aksinya. Hingga akhirnya ....


"Argg ...! Beraninya kau!"


Tidak ingin membuang kesempatan, Naora segera menjauh dari dari Axton yang tampak meraung kesakitan dengan kedua tangan menangkup batang kesayangannya yang baru saja menerima sebuah hadiah manis dari serangan lutut Naora.


"Maaf. Aku hanya melakukan yang semestinya. Apa yang kau dapatkan saat ini adalah hasil dari perbuatanmu."


Naora memutar tubuhnya, berniat meninggalkan Axton yang masih menikmati sensai ngilu pada tubuhnya. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti dan kembali berkata. "Segeralah kembali ke kamarmu. Istri kesayanganmu pasti sedang merengek karena kau tidak memeluknya saat tidur," cibirnya lalu melenggang pergi menuju ke kamar mandi.


Rasa lelah dan tubuh yang lengket, membuatnya ingin segera membersihkan diri. Dia sudah membayangkan, betapa menyenangkan berendam di air hangat dengan harum aroma minyak terapi yang membuat badan dan pikiran rileks.


"Kyaaa! Apa yang lakukan, Axton?!"


Baru beberapa detik Naora bisa bernapas lega, ternyata Axton kembali beraksi. Mendorong tubuhnya masuk ke kamar mandi, ia pun menyusul ke dalam dan menutup pintu dengan sekali bantingan keras.


"Kyaaa! Axton!"


โ˜˜


โ˜˜


โ˜˜


Bersambung~~


Selamat Tahun Baru 2022 semuanya ....


Semoga tahun baru ini membawa semua hal hebat dalam hidup yang benar-benar pantas kalian dapatkan. Tujuan baru, impian baru, prestasi baru semuanya menunggu kalian๐Ÿค—


Kemarin lupa belum ngucapi selamat tahun baru ke kalian. Maaf ya..๐Ÿ™


Terima kasih masih setia mendukung karyaku ini ... Like, komen, gift, dan vote dari kalian sangat berharga bagi Nofi..


lop lop you๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2