
"Kyaak ...!"
Byur ...!
Axton terhenyak saat kaki hampir menapaki anak tangga. Indera pendengarannya menangkap jeritan seseorang. Yakin kalau sumber suara berasal dari arah kolam renang, ia pun bergegas menuju ke sana.
"Apa yang kau lakukan?!" sentak Axton setelah sampai di kawasan kolam.
Dari jauh pria itu melihat Lana sudah berada di dalam genangan air, sementara Naora tampak berdiri di bibir kolam dengan mimik muka terkejut. Ia berjalan mendekat, membawa aura tak bersahabat.
Axton melayangkan tatapan geram kepada Naora sebelum mengulurkan tangan kokohnya kepada Lana, membantu mentas dari kolam. Beruntungnya tidak ada drama tenggelam yang di alami wanita itu, karena ia bisa berenang. Syukurlah. Eits! Tunggu ... jangan lega dulu, sister!
"Pelayan! Cepat bawa handuk!" titah Axton dengan nada tinggi masuk oktaf 8. Begitulah kira-kira.
"Baik, Tuan," jawab seorang pelayan bernama Ana. Tidak butuh waktu lama, ia datang membawa bathrobe dan membalutkannya ke tubuh Lana yang basah.
Bersamaan dengan itu, Milah datang dengan raut muka penuh tanya. "Tuan Axton, Nak Naora, apa yang terjadi?" ia mencoba mencari tahu. Sayangnya tidak mendapat jawaban dan akhirnya memilih mengamati apa yang sedang terjadi.
"Beraninya kau bersikap buruk kepada istriku, Naora!" Axton menuding Naora sebagai penyebab terjatuhnya ke kolam.
Naora tercengang. Bagaimana bisa Axton langsung menuduhnya sebelum mengetahui yang sebenarnya? Belum-belum dia sudah menjadi tersangka. Ini tidak boleh dibiarkan.
Melipat kedua tangan di depan dada, menyematkan eskpresi tenang berwibawa. Naora berpegang teguh pada prinsip 'Jangan takut jika kau tidak bersalah'. "Apa kau sengaja membutakan pikiranmu tanpa bertanya atau mencari tahu yang terjadi sebenarnya? Istrimu itu terjatuh sendiri saat aku ingin mengambil kembali barangku yang ingin dimilikinya."
Menggilir perhatian kepada Lana, tangan kanan Naora menyodor tegas tepat di depan mukanya. "Kembalikan kalungku," pintanya.
Atensi Axton kini juga beralih ke Lana, lengkap dengan kedua ujung alis yang hampir terpaut. "Apa itu benar, Lana? "
Lana sedikit tertunduk pasrah, tak ada daya untuk mengelak akan perkataan Naora yang memang benar adanya. Sekalipun ia ingin mengarang indah sebuah alasan, tapi itu adalah tindakan yang sia-sia, karena setiap sudut bangunan rumah terpasang CCTV yang selalu memantau dengan siap siaga.
"Maafkan aku. Sebenarnya aku berniat mengembalikannya, tapi Naora keburu salah paham dan mengira aku benar-benar ingin memilikinya. Maaf ini memang salahku." Lana berbicara sangat lirih. Lengkap dengan tampang melas dan gelagat lemah. Mengundang rasa iba bagi siapa saja yang melihat.
Lana melepas kalung dan berniat mengembalikannya kepada Naora, tapi Axton merampas benda itu dengan kasar. "Jadi gara-gara kalung murahan ini kau bersikap kasar kepada Lana?! Benda ini tak lebih beharga dari pada sampah!" ia berucap sesuka hati, tanpa dia tahu ada hati yang tersakiti.
__ADS_1
Naora mulai tersulut emosi, tidak terima barang yang dianggapnya sangat berharga dimaki-maki. "Seperti sampah? Ck! tapi nyatanya istrimu itu sangat menyukainya. Apa selama ini kau terlalu miskin dan tidak bisa memuaskannya dengan barang-barang mewah, hingga benda yang kau anggap murahan itu pun masih ingin dimilikinya?"
Merasa terhina. Perkataan Naora sukses mengusik harga diri si Axton Sanders. "Kau sepertinya memang harus diberi pelajaran, Naora!" Kalung liontin yang masih terkungkung di bawah jari-jarinya, dilempar ke tengah-tengah kolam.
"Apa yang kau lakukan, Axton?! Ambil kembali kalungku!" sentak Naora, menatap nanar barang kesayangan yang sudah tenggelam ke dasar kolam. Ingin sekali ia terjun ke air untuk mengambilnya, tapi tidak bisa karena ia terlalu takut.
"Honey ... kenapa kau lakukan itu?" Lana menegur Axton. "Naora maaf ya, aku akan mengambilnya lagi untukmu."
"Berhenti di situ, Lana," cegah axton.
"Tapi, Honey ...."
"Kau lupa aku tidak suka dibantah?!"
"Maaf." Lana akhirnya mengurungkan niatnya.
"Biar dia sendiri yang mengambilnya." Axton mencengkeram lengan kurus Naora lalu melemparnya ke dalam kolam tanpa belas kasihan.
"Aahk!"
Byur ...!
"Jangan coba-coba menolongnya Bi!"
"Tuan, tindakanmu itu keterlaluan," ucap Milah. Jika dibandingkan dengan pelayan lainnya, wanita tengah baya itu memang satu-satunya yang berani menegur sang majikan, karena keberadaannya sudah dianggap seperti ibunya sendiri oleh Axton.
"Itu sebagai hukuman karena dia sudah bersikap kasar kepada istriku, Bi!"
"Apa Tuan lupa, Nak Naora juga istrimu? Harusnya Tuan bisa bersikap adil dan Bibi percaya kalau Nak Naora tidak akan bertindak kasar," tutur Milah. Sungguh ia merasa sedih dan kecewa dengan sikap Tuan sekaligus anak asuhnya itu.
"Nak Naora ... apa kau baik-baik saja?" Mata memindai permukaan kolam. Namun, tidak terdengar sahutan, bahkan tanda-tanda pergerakan dari dalam air pun tak terlihat.
Ia baru menyadari bahwa tubuh Naora tidak tertangkap oleh matanya terlalu lama. Kecemasan seketika menyeruak ke dalam perasaan.
"Tuan Axton! Sepertinya Nak Naora tenggelam!"
__ADS_1
Deg!
"APA?!"
Sementara di dasar air kolam, sebuah jiwa seakan terbelenggu oleh ingatan trauma masa lalu. Menjarah segala rupa daya yang hanya menyisakan pilu. Melemahkan semua saraf persendian tubuh hingga membeku. Menyesakkan rongga dada seolah terhimpit dua batu.
Ckiiitt ...!
Bruaakk ...! Bruaakk ...!
"Aaahk ...! Mama ...!
Byuurr ...!
Otaknya mengulang kembali sebuah ingatan yang telah lama ia kubur. Ingatan akan peristiwa mengerikan, di mana mobil yang ia tumpangi bersama sang Mama mengalami tabrakan dan melompat ke dalam sungai.
Siapa saja yang di sana, tolong aku. Aku ... sangat takut.
Ya Tuhan ... apakah kisah hidupku akan berakhir sia-sia? Aku belum ingin mati. Aku masih ingin mewujudkan impian kedua orang tuaku.
Jerit hati kecil Naora di detik-detik kesadaran yang hampir sepenuhnya memudar.
Byur ...!
Saat pandangan mulai larut dalam kegelapan, pendengaran hanya mampu mendengung tak jelas. Naora merasa tubuhnya tertarik dan tenggelam ke dalam dekapan seseorang.
☘
☘
☘
Bersambung~~
Ditergen : Pendek banget Thor babnya ...!
__ADS_1
Thor : Di sini lagi mati lampu bergilir, batrai hp tinggal 1%. Ini aje buru2 ngetiknya. Lanjut besok aja ya. Muup.