
Terkesima, pandangan Axton terpaku pada sosok lembut di depannya. Debar jantungnya seketika menggebu luar biasa. Aliran berbagai perasaan terus berdesir di dalam dada. Sekali lagi, air mata Naora mengalihkan dunianya.
"Naora ... kenapa kau menangis?"
"Apakah harus tertawa setelah mendengar ceritamu, Axton? Itu sangat menyedihkan. Aku tidak percaya kau mengalami hal seperti itu."
Air mata kian menganak sungai di pipi putih Naora. Apa lagi melihat ekspresi tenang Axton saat bercerita justru kian menambah denyutan pilu di jantungnya. Ia sangat tahu, pria itu sedang menyimpan banyak luka di balik sikap yang seolah bukan apa-apa.
Axton bergeming, tapi batinnya berbisik.
Aku kira dia akan mengkecamku setelah tahu cerita masa laluku seperti orang-orang. Tapi kenapa? Sebenarnya terbuat dari apa hatimu itu, Naora?
Isak tangis Naora terdengar menyayat hati. Wanita itu seakan bisa merasakan apa yang dulu dirasakan oleh si Axton kecil.
"Naora ...," lirih Axton.
Hanya satu kata itu yang masih mampu untuk terlisan. Rasanya sulit baginya untuk mempercayai dengan tanpa alasan. Namun, itu lah kenyataannya. Respon yang ditunjukkan Naora setelah mendengar kisah masa lalu kelamnya ternyata di luar dugaan.
Kenapa dia manangis untukku? Bukankah dia membenciku?
"Betapa malangnya Axton kecil di masa itu. Di usia semuda itu kau harus mengalami hal yang orang dewasa belum tentu bisa menahannya. Hatiku sangat sakit mendengar ceritamu, Axton."
"Aku tidak apa-apa," lirih Axton kembali.
"Setelah semua kejadian buruk yang menimpamu selama ini, kenapa kau masih saja bersikap seolah tidak terjadi apa-apa?"
Harus sampai kapan kau harus merasakan sakit seorang diri? Andai kalau diberi kesempatan, aku bersedia menjadi temanmu di saat sedih.
Naora meremas kain di dada. Menepis himpitan rasa sesak di sana. Sungguh, ia yang menjadi pihak lain saja merasakan sakit hati karena kemalangan suaminya. Hatinya seolah dikuasai oleh perasaan tidak terima.
Aku benar-benar kasihan kepadamu, Axton. Aku marah karena semua hal malang menimpamu itu.
Axton tiba-tiba tersenyum getir. Merasa miris karena dirinya yang selalu memasang sikap kuat dan arogan justru kini terlihat menyedihkan di mata Naora. "Pada akhirnya kau mengasihaniku. Kau tidak perlu lakukan itu karena aku tidak butuh." Pria itu masih terus mengelak perasaannya.
"Kau memang butuh dikasihani saat ini. Apakah ada yang salah dengan hal itu? Apakah kau akan merasa rendah saat aku mengasihanimu? Percaya lah, Axton ... rasa kasihanku ini adalah salah satu bentuk perhatian, tidak ada sedikit pun berniat untuk merendahkan."
Axton kembali bergeming. Lagi-lagi ujung lidahnya terasa berat untuk berkata. Dia memang tak bisa menampik, bahwa di salah satu sudut ruang hatinya yang paling dalam memang membutuhkan sebuah perhatian. Selama ini, siapa yang menyangka bahwa sebenarnya dia merasa kesepian meski di tengah keramaian.
"Sudah cukup, Naora. Aku tidak suka berada di posisi menyedihkan."
Puk!
Pria itu terhenyak diikuti sebuah tangkapan cepat saat Naora melempar cardigan hangat yang sempat membungkus tubuhnya. Wanita itu memasang mimik muka kesal di balik linangan air mata.
__ADS_1
"Kau yang bercerita dan bersikap seolah bukan apa-apa, justru membuatku bertambah sedih."
"Cukup, Naora." Pendirian Axton mulai goyah.
"Aku kasihan kepadamu yang tidak bisa menjatuhkan air mata barang setetes pun meski berada di dalam situasi yang teramat menyakitkan." Seolah enggan mendengar perkataan Axton, Naora terus meluapkan segala isi hatinya.
Axton membuang muka ke sembarang arah, tidak ingin wanita itu menyadari perubahan gurat-gurat yang menyiratkan makna di sana. "Aku ... tidak mungkin menangis," ucap Axton.
Ia terus saja melawan perasaannya meski sepasang mata sudah terasa panas dan memerah. Bahkan angin ribut di dalam dada kian membantah. Kepedihan yang sudah dikubur dalam seolah marah.
"Kenapa kau tidak menangis demi dirimu sendiri? Kenapa kau tidak marah demi dirimu sendiri?" Itu bukanlah cerita yang bisa dikatakan dengan ekspresi wajah setenang itu. Menangis lah, Axton. Kau harus menangis. Luapkan segala kesedihanmu. Kau membutuhkan hal itu sekarang."
Gejolak rasa di dalam hati kecil Axton kian membuncah. Semua ucapan Naora tampaknya sukses memancing sisi lainnya yang lemah.
Selama ini ... tidak ada yang meneteskan air mata demi aku. Tidak ada satu pun orang yang mengatakan aku boleh untuk menangis. Bahkan Lana tidak pernah melakukan hal itu untukku. Naora ... kenapa kau lakukan itu? Kau bisa membuat pertahananku goyah.
Pria tampan yang mulai beraut muka sendu itu sesaat teringat akan semua perkataan Lana saat jiwanya kembali bergejolak karena masa lalu kelam yang menyiksa.
Tidak ada yang bisa mengerti dan menerima semua kekuranganmu selain aku, Honey. Semua orang akan memandang buruk dirimu jika sampai tahu kisah masa lalumu yang tragis. Sembunyikan air mata kesedihanmu, karena kau akan terlihat lemah. Tetap lah menjadi dirimu yang kuat dan arogan agar mata dunia tidak memandang rendah dirimu. Sungguh, suamiku yang malang.
"Axton ...."
Pria itu terhenyak dari lamunan kala suara lembut Naora menyebut namanya. Perlahan ia menggiring pandangan ke arah Naora. Kali ini ia seakan tak lagi segan menunjukkan raut paras sendunya.
"Axton ... kemarilah. Kau boleh tumpahkan semua rasa sakitmu kepadaku." Naora merentangkan kedua tangannya.
Di saat Lana menyuruhku untuk menyembunyikan sisi kelamku dan bahkan tidak pernah menangis untukku justru Naora yang sering kusakiti, menangis untukku, dan satu-satunya orang yang mengijinkanku menangis.
"Kemarilah, Axton."
Sungguh, begitu sulit memilah kata yang mampu melisankan apa yang dirasakan pria itu. Yang jelas, saat ini dadanya sedang bertabuh hingga bertalu-talu. Semua ragam rasa tersembunyi seolah mulai menyeruak ke permukaan kalbu.
Axton ... mulai mengabaikan rasa gengsi yang selama ini tersemat pada diri. Ia tidak lagi berusaha untuk mengelak perasaanya kini. Perlahan ... ia melangkah mendekati sang istri. Tanpa ragu, ia menyambut pelukan yang sudah menunggunya sedari tadi.
Tumpah sudah air mata si Tuan muda Arogan yang sudah ditahan sejak lama. Ia luapkan segala rasa kepedihan luka. Bahkan ceruk leher Naora sudah basah karena pria itu membungkam isak tangisnya di sana.
Naora yang juga masih berderai air mata mencoba mengusap lembut punggung Axton yang berguncang. Berharap tindakan itu bisa menambah rasa nyaman dan tenang.
Setelah beberapa saat meluapkan emosinya, Axton mengangkat mukanya dari ceruk leher Naora dan sedikit mengurai pelukannya. Ia menatap dalam sepasang mutiara hazel yang juga membalasnya.
"Jangan menangis. Kau sangat jelek."
Bukannya marah, Naora malah tergelak lirih di sela tangisannya yang mulai reda. Ejekan Axton terasa menggelikan telinga.
"Kau juga jelek!" balasnya.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, Axton tersenyum tulus di depan Naora. Hingga wanita itu dibuat terpesona. Lengkungan di bibir kian menambah ketampanannya yang paripurna.
Ketika Axton sedang tersenyum, aku seolah melihat sisi hangat pada dirinya. Apakah seharusnya aku mulai mempercayai perkataan Bi Milah dan Nathan bahwa Axton sebenarnya seorang yang berkepribadian hangat dan penyayang?
"Naora."
"Hm?"
"Aku ... tidak akan menceraikanmu. Kau tetap akan menjadi istriku," ucap Axton dengan tegas dan lugas. Ia mencoba mengikuti dorongan hati. Berkata dengan sadar dan tanpa ada paksaan dari siapapun.
Antara senang dan ragu, Naora tak langsung menanggapi ucapan Axton. Ia sangat senang karena ikatan pernikahannya tak lagi berada di ambang perceraian. Akan tetapi ia juga ragu, apakah hatinya bisa selamanya tahan melihat sang suami berbagi cinta dengan madunya.
"Kau memutuskan secara sepihak, Axton."
"Kau tinggal menerima keputusanku ini, Naora."
"Lagi-lagi kau bertindak sesuka hatimu." Naora memasang muka cemberut disusul bibir yang mengerucut, membuat Axton merasa gemas.
"Beginilah aku."
"Iya ... iya ... kenapa aku bisa lupa?" celetuk Naora sementara Axton mendengus geli.
Susana kembali hening. Hanya iringan nyanyian hewan malam yang berdesing. Sepasang anak manusia itu masih bergeming.
Mata mereka saling mengunci pandang. Menggali perasaan melalui sorot mata. Hingga pergerakan Axton membunuh jarak ruang di antara mukanya dan Naora. Hingga bibir mereka saling menyatu seiring dengan debaran jantung yang menggetarkan jiwa.
Lembut sekali, Axton mencicipi bibir mungil Naora dengan penuh perasaan. Tiada lagi perlakuan kasar atapun paksaan. Hingga ciumannya pun menuai sambutan. Keduanya begitu menikmati rasa manis di setiap sesapan. Pria itu rupanya sangat pintar bermain-main, membuat si wanita terbuai ke dalam nikmat yang tak terelakan.
"Ahk! Axton?" Naora terkejut saat tubuhnya tiba-tiba terasa melayang dan sudah berada di dalam gendongan gagah Axton.
"Axton, kau mau apa?"
"Tubuhmu sudah terlalu lama tersapu udara dingin, Naora. Kau perlu yang hangat-hangat sekarang."
Tanpa menunggu protesan lagi, Axton membawa tubuh Naora menuju ke bangunan rumah.
β
β
β
Hayoooo ... siapa yang sebelumnya nebak kalau Naora ketiduran? Bahkan ada yang nebak Naora kentut segala ... hahaha ... aku dibuat ngakak karena komen para readers kesayangan.
Ini kan masih di bab melow ibok-ibok .... Please deh yaπ€£
__ADS_1
Tapi terima kasih ya, semua komen kalian telah menghibur dan juga menjadi penyemangatku.
I lop yu sekebon pisangππππ