Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Di Penghujung Kisah


__ADS_3


"Beneran tidak apa-apa? Aku takut Daddy kelelahan." Naora merasa tidak enak hati jika harus menitipkan bayi Axcel kepada Edrich.


Menginjak usia 10 bulan, putranya itu memang sudah mulai bisa berjalan dan sangat aktif seolah tidak kenal lelah. Ditambah lagi rasa ingin tahu yang tinggi membuat Axcel selalu mengesplor ke setiap sudut bangunan meski langkah kecilnya masih tertatih-tatih.


"Apa kau sedang meragukanku? Aku masih sehat dan bugar," jawab Edrich sembari menggendong si cucu kesayangan. "Pergilah sekarang. Malam ini biar Axcel tidur bersamaku. Kalian bersenang-senanglah."


"Tapi, Dad, kalau Axcel rewel bagaimana?" Naora masih kepikiran.


"Nak Naora tenang saja. Bibi juga akan membantu menjaga Tuan muda kecil. Lagian Ada Alan yang akan menjadi teman bermainnya." Milah ikut meyakinkan.


Axton merangkul pundak istrinya. "Naora sayang, kita hanya keluar sebentar dan tidak pergi ke tempat jauh. Kenapa kau secemas itu?" tuturnya memberi pengertian.


Mulai merasa tenang, Naora mengulas senyum. "Baiklah. Dad, kami pergi dulu ya," pamitnya kepada Edrich.


"Iya sudah pergi sana. Nikmati quality time kalian."


"Kami akan berkencan, Daddy jangan iri," celetuk Axton.


"Dasar bocah tengil!"sembur Edrich membuat semua orang yang ada di sana tergelak.



Di sebuah restauran bernuansa mewah diiringi alunan live music santai yang dibawakan seorang artis. Pencahayaan yang redup menciptakan suasana romantis. Samar-samar suara deburan ombak di pantai kian menciptakan atmosfer manis.


"Aku yakin kau sangat menyukai tempat ini," ucap Axton yang sedari tadi menyadari raut Naora yang tampak menikmati makanannya.


"Iya, tentu saja. Makanannya sangat lezat. Suasananya juga syahdu dengan alunan lagu romantis."


Sejenak Naora menjeda makannya lalu membawa pandangan ke langit-langit bangunan yang terbuat dari kaca. "Dan di sini kita juga bisa menikmati makanan sambil melihat bintang dan bulan. Aku sangat menyukainya, Axton. Terima kasih sudah membawaku ke sini," imbuh Naora kembali.


Axton tersenyum manis lalu meraih tangan Naora, dikecup buku-buku jarinya dengan penuh cinta. "Aku masih ingin menunjukkan sesuatu kepadamu."


"Apa?"


"Kau penasaran?" goda Axton.


"Kenapa masih bertanya?" sungut Naora dengan bibir manyun.


"Kondisikan bibirmu, Naora."


"Bibirku kenapa?"


"Seperti bibir ikan," ledek Axton. Padahal dia sedang menahan hasrat untuk mencium wanitanya itu.


"Hiish! Kapan sih kau bisa berkata manis dan romantis?" Naora menggerutu seraya melipat kedua tangan di depan dada.


"Kau tahu aku sangat payah dalam hal itu, Naora."


"Kau bisa mencobanya 'kan."


"Kau pasti akan menertawaiku."


"Itu tidak akan. Ayolah, cobalah berkata yang sangat manis, aku ingin mendengar dari bibirmu," desak Naora.


"Kau ingin aku menggombalimu?"


"Hmm ... anggap saja seperti itu."


"Aku tidak bisa menggombal, Naora."


"Kau cukup mengatakan apa yang kau rasakan menggunakan rangkaian kata cantik."


Axton tampak terdiam sejenak, membiarkan Naora menunggu responnya dengan tatapan penuh harap.


"Baiklah," ucap Axton. Tanpa banyak berbicara ia beranjak dari tempat duduk lalu melangkah menuju panggung tempat para musisi yang sedang menjalankan pekerjaannya.


Dari jauh, terlihat Axton berbicara kepada sang vokalis. Hingga Naora dibuat bertanya-tanya saat sebuah mic sudah beralih ke tangan suaminya itu.


Di atas panggung, Axton terlihat mati-matian menepis raut dingin yang memang sudah menjadi bawaan lahirnya. Disematkan senyuman ramah di muka. Haaah! Rasanya ia akan gila.


Tersenyum ramah? Oh tidak! Bagi seorang Axton, lebih mudah mematikan lawan bisnisnya dari pada harus menampilkan wajah bak malaikat di depan publik.


Namun, gegas ia mengesampingkan egonya demi menyenangkan Naora. Meski mulai geli dengan kelakuannya sendiri tapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Tidak ingin membuang waktunya yang berharga, pria itu pun mulai berucap kata.


"Selamat malam semuanya."


Suara bariton Axton sontak menarik perhatian semua pengunjung restauran. Sementara Naora tampak menahan debaran. Padahal, si raja hatinya itu belum sepenuhnya mengambil peran.


Axton mengedar pandangan ke seluruh penghuni ruangan. "Saya berada di sini, di atas panggung ini meminta perhatian kalian dan bersedia menjadi saksi dari ungkapan suara hati kecil ini." Kini pandangannya mulai berpusat penuh dengan jari menunjuk ke arah Naora. Bersamaan dengan itu, semua mata turut tertuju ke arah yang sama.


"Wanita itu, namanya adalah Naora Alesha. Nama yang cantik bukan? Secantik orangnya. Aku yakin kalian sependapat denganku. Tapi!" Axton menjeda kalimatnya dengan sebuah penekanan. "Tapi hanya aku yang boleh memujinya. Terus terang, aku merasa seperti ada ribuan semut di dalam telingaku jika mendengar orang lain memujinya. Percayalah. Aku sangat benci hal itu."


Suara gelak tawa para pengunjung seketika mengisi setiap sudut ruangan. Sementara Naora tampak tersipu malu karena ulah Axton.


"Naora istriku, kau membuatku bahagia lewat cara yang orang lain tak bisa. Kau telah mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, masa lalu kelamku dengan harapan cerah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan, dan ketakutanku dengan ketulusan."


Axton kembali menjeda kalimatnya. Sesaat ia tampak menarik napas lalu membuangnya perlahan ke udara. Pria itu juga tengah mengatur deguban keras di dada. Setelah itu, ia kembali mencetak senyuman yang membingkai muka.


"Naora, peganglah tanganku, ambillah seluruh hidupku, karena aku tidak bisa tidak jatuh cinta padamu. Sosok dirimu di dalam hidupku bagaikan miniatur taman surgaku."


Terdengar beberapa pengunjung menyoraki Axton setelah mendengar kalimat manisnya yang membuat hati wanita manapun pasti meleleh begitu saja. Ditambah lagi paras tampan dan bentuk tubuh proposional yang dimiliki, kian menanambah nilai lebih bagi para mata.


Axton memberi instruksi kepada para musisi yang juga berada di panggung bersamanya. Satu anggukan mengerti dari pemain gitar sebagai pembuka satu lagu yang dipersembahkan khusus untuk Naora.


Jreng ...!


Axton mulai menarik suara, melantunkan sebuah lagu cinta dari penyanyi terkemuka. Dan di saat itu pula semua mata terkesima. Naora bahkan sampai tidak percaya bahwa Axton memiliki suara emas yang sangat beharga.


~


~


~


Jauh waktu berjalan kita lalui bersama


Betapa di setiap hari, kujatuh cinta padanya


Dicintai oleh dia kumerasa sempurna


Semua itu karena dia


Oh Tuhan kucinta dia

__ADS_1


Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia


Utuhkanlah rasa cinta di hatiku


Hanya padanya, untuk dia


Dia-Anji


"Naora ... aku sangat mencintaimu," ucap Axton di akhir persembahan nyanyian lagunya.


Suara riuh tepuk tangan para pengunjung terdengar saling beradu. Mereka tampak berdecak kagum karena pria itu menyanyikan syair lagu cinta dengan sangat merdu.


Naora sedari tadi juga sudah menahan genangan cairan bening di pelupuk mata. Ia sungguh tidak menyangka sang suami bisa bertindak romantis melebihi dugaannya.


Rasa bahagia dan haru mendorong kaki Naora untuk mendekati si pangeran hatinya. Ditatap penuh damba paras tampan di depan mata. Senyuman di bibir juga kian mengembang sempurna.


Sepasang tangan dibawa melingkari leher prianya kemudian ia berkata. "Dari mana kau belajar kata-kata secantik itu? Bukankah kau sangat payah dalam berkata manis?"


Axton mengimbangi tindakan manja Naora dengan merangkul pinggang rampingnya. "Sang penulis kisah cinta kita yang mengajariku," jawabnya.


"Author Nofi?" tanya Naora.


"Siapa lagi?"


"Kau harus memberi reward kepadanya, Axton."


"Tentu saja. Mungkin uang 1 Milyar sudah bisa menyenangkannya."


*Eaaa! Authornya langsung mendadak kaya. Auto narik koper untuk pulang ke kampung Jawa. Haha!


"Axton?"


"Hm?"


"Aku juga mencintaimu. Terima kasih. Untuk kesekian kali kau kembali buat aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia."


"Semua kalimat manis yang aku katakan tadi, belum cukup mewakili perasaan cintaku kepadamu, Naora."


Sepasang kekasih itu memangkas jarak di antara muka hingga bibir saling bertemu. Seolah dunia hanya milik berdua, semua keberadaan pengunjung hanya dianggap semu. Bahkan diabaikannya rasa malu. Yang mereka tahu, hasrat cinta mereka kian menggebu.


Semua para pengunjung kembali menyoraki pemandangan mesrah yang tersaji di depan mata. Mereka seolah turut merasakan bahagia. Tidak lama Axton melepas pagutan bibirnya, membiarkan Naora bernapas dengan leluasa.


"Ada sebuah tempat indah di dekat sini. Apa kau ingin melihatnya?" tanya pria itu tanpa melepaskan rangkulannya dari pinggang Naora.


"Asalkan bersamamu, kemana pun aku mau."


Axton mengulas senyum sebelum menarik Naora keluar restauran, membawanya menuju ke tempat yang tidak jauh dari kawasan pantai.


"Axton ... ini sungguh menakjubkan," seru Naora, takjub akan pemandangan unik yang tersaji di hadapannya.


Dari atas bukit kecil, ia melihat di sepanjang pesisir pantai berpendar cahaya biru kehijauan yang berkelap-kelip. Pandangan matanya bahkan sampai tak berkedip.


Di tambah lagi hamparan laut bintang di langit gelap kian membuat suasana malam begitu mempesona. Ah ... sentuhan tangan Tuhan yang seperti ini saja sudah mampu menggetarkan jiwa, apalagi sentuhan ajaibnya di surga.


"Kau menyukainya?" tanya Axton seraya memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang. Sesekali ia kecup pundak lembut si wanita dengan lembut.


"Iya, aku suka sekali. Pantainya bercahaya, seperti dihiasi lampu neon di sepanjang pesisir. Ya Tuhan ... sepanjang hidup baru kali ini kali ini aku melihatnya."


"Ini namanya bioluminesensi. Sebuah fenomena biologis di mana makhluk hidup tertentu tubuhnya bisa mengeluarkan cahaya di dalam air.



"Apa kau tahu, pendar cahaya di pantai itu memang indah, tapi di mataku itu tak seindah ciptaan Tuhan yang satu ini," puji Naora penuh damba.


"Mata indah ini milik ibumu."


Naora terkesima seiring dengan jari-jari berpindah di bibirnya yang sedikit terbuka. "Kau sudah mengetahuinya? Sejak kapan?"


"Waktu kau menghilang dan aku menggila, Daddy pun menceritakan semuanya," jelas Axton lalu ditatap lekat netra cantik Naora. "Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku yang sebenarnya?"


Perlahan Naora sedikit tertunduk. "Aku hanya tidak ingin kau bersikap baik dan mencintaiku karena merasa berhutang budi."


Ditarik dagu tirus si wanita agar kembali membalas tatapannya. Axton mellumat lembut bibir ranum Naora. "Kau tahu bahwa aku sudah memiliki rasa spesial terhadapmu jauh sebelum aku mengetahui fakta yang sebenarnya."


"Iya aku tahu, kau sudah bercerita dan aku mempercayainya."


Axton merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. "Ini milikmu, aku kembalikan." Ia memasangkan sebuah kalung liontin peninggalan orang tua Naora. "Kenapa selama ini kau sudah tidak pernah memintaku untuk mengembalikannya? Bukankah kalung ini sangat berharga?"


Naora mencium liontin kalung itu dengan sayang lalu menjawab pertanyaan Axton. "Karena aku percaya kau akan menjaganya untukku."


"Terima kasih karena sudah mempercayakan benda berhargamu itu kepadaku."


Axton mengambil dua langkah kebelakang. Kemudian ia sedikit membungkuk dengan tangan kanan terulur ke arah Naora. "Aku akan sangat senang jika Ratu bersedia berdansa denganku."


"Dansa? Tanpa musik pengiring?"


"Anggap saja suara alam sebagai musiknya."


Naora tersenyum manis sebagai tanda tidak keberatan. Kemudian ia menyambut uluran tangan Axton. "Dengan senang hati, Baginda Raja."


Berselambu aura asmaraloka, sepasang rama dan sinta menari di bawah naungan permadani langit bertabur bintang. Suara deburan ombak, semilir angin, dan binatang malam membentuk sebuah simponi alam yang berdendang.


Deg!


Deg!


Deg!


Sepasang mahkota jiwa bertalu merdu sekali, menyambut rasa indah yang membingkai sanubari. Kedua insan hanyut ke dalam pusaran cinta suci yang akan dibawa hingga akhir hayat nanti.


"Raja hatiku, ketika aku melihat matamu, aku tahu aku telah menemukan cermin jiwaku."


"Ratu hatiku, jangan berpikir untuk menghilang dari hadapanku, karena cermin jiwamu ini akan retak jika tak lagi menangkap bayanganmu."


"Aku mencintaimu." Kedua anak manusia itu tertawa geli saat berucap secara bersamaan tanpa disengaja.


Kian larut dalam suasana romantis, mereka membiarkan bibir saling mencecap rasa. Memagut lembut, menyalurkan hasrat yang mulai menggelora. Hawa panas yang menjalar ke setiap seluk raga, menepis dinginnya gegana malam berkabut asmara.


Basah ... sepasang anak adam itu sudah dirajai oleh gairah. Sentuhan demi sentuhan halal kini tak mampu terbantah. Hangat sapuan napas menyapu kulit dengan ramah.


"Axton, jangan di sini," cegah Naora saat tangan besar suaminya kian bermain nakal di setiap pahatan indah tubuhnya.


"Naora ...," lirih Axton, suaranya terdengar parau dengan tatapan berkabut gairah.


"Jangan di sini." Naora juga tampak berupaya menekan hasrat yang membuat tubuhnya berkedut.

__ADS_1


"Di mobil?"


"Tempatnya sempit."


"Pelan-pelan saja."


"Baiklah."


Kesabaran seolah terkikis, Axton langsung menggendong tubuh mungil Naora menuju mobil lalu meletakkannya di bangku belakang.


Tangan saling meraba, melepas benang dari raga. Gesekan kulit bersambut kehangatan di antara mereka. Ruang sempit kian menciptakan keintiman dalam mencapai cumbanarasa. Persatuan kali ini memberikan sensasi yang berbeda. Sungguh, rasa indahnya tiada tara.


Senandung kenikmatan saling beradu, mengiringi gerakan berirama dengan debaran menggebu. Pertukaran saliva bagaikan menyesap manisnya madu. Axton dan Naora terbang membawa cawan candu.


"Axton ...."


"Iya, Sayang. Aku menyakitimu ya?"


"Emm ...." Naora menggeleng seolah lidah tak mampu melepas kata. Ia hanya pasrah menikmati sentuhan suaminya.


Hingga, pencapaian puncak hasrat membuat tubuh keduanya bergetar beriringan, serasa terbang menuju nirwana asmara.


Masih dalam posisi duduk di atas pangkuan kokoh, Naora terkulai lemas ke dalam tengkuk leher suaminya. Sementara Axton menghujani pundak polos Naora dengan kecupan sarat akan cinta.


"Terima kasih, Naora."


"Hmm ..."


Saat napas masih tersengal-sengal, Axton tiba-tiba merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Perutnya bergejolak, menciptakan rasa mual di saat itu juga.


"Axton, kau kenapa?" Naora tampak cemas."


"Aku tiba-tiba merasa mual. Hmp! Hmp!"


"Kau masuk angin?"


"Entahlah." Axton kian menenggelamkan tubuh Naora ke dalam pelukannya. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu. "Tetaplah seperti ini sampai mualku hilang. Harum tubuhmu yang mampu mengobati rasa tidak nyamanku ini."


"Axton, jangan-jangan aku hamil lagi?"


...♡♡♡...


...~TAMAT~...


AXTON SANDERS



NAORA ALESHA



EDRICH SANDERS



NATHAN ALEXANDERS



JOVANA



WILDAN



STEFAN



MILAH



AYU



LANA



BABY AXCEL (AXTON & NAORA)



BABY JONATHAN ( JOVANA & NATHAN)



BABY ALAN (STEFAN & LANA)



Akhirnya tamat juga. Antara rela dan nggak rela, karena Nofi sudah terlanjur sayang dengan Axton dan Naora🥺 Tapi mau gimana lagi?


Tidak lupa Nofi ucapkan beribu terima kasih kepada para readers yang sudah setia mengikuti kisah cinta Axton dan Naora hingga happy ending. Dukungan kalian selama ini sungguh menjadi moodbosterku yang teramat berharga🥰


Ya Allah, Nofi sampai terharu karena kalian sudah rela menyisihkan waktu emas kalian hanya untuk membaca karya yang jauh dari kata sempurna ini. Karya sepi yang bukan dari author famous.


Dan Nofi juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para sesama Author yang sudah suka rela membaca dan memberi dukungan pada karyaku. Percayalah, Nofi banyak menyerap ilmu dari tulisan kalian🥰 Nofi banyak belajar dari kalian.


Maaf ya jika selama di karya ini ada perkataan Nofi yang menyinggung perasaan kalian. Maaf karena upnya juga nggak rajin. Dan maaf karena Nofi nggak selalu bisa balas semua komenan kalian jadi terkesan sombong. MAAF YA ....🥺


OYA, NOFI MINTA KESAN DAN PESAN TERKAHIR KALIAN UNTUK AXTON DAN NAORA DONG .... ANGGAP SAJA ITU SEBAGAI KENANG-KENANGAN🥰


BAGI YANG BELUM PERNAH KOMEN SEBELUMNYA, BOLEHLAH SEKALI-KALI KOMEN. ITUNG-ITUNG NYENENGIN HATI AUTHOR DI BULAN RAMDHAN YANG PENUH BERKAH INI🥰


OYA, TETAP FAVORTIKAN KARYA INI YA. AGAR SEWAKTU-WAKTU KARYA BARUKU PUBLISH LANGSUNG ADA NOTIFICATION DI AKUN KALIAN. KALI SAJA KALIAN BERMINAT MEMBACA KARYA NOFI LAGI🤭


BYE-BYE👋👋


SEE YOU NEXT TIME. LOP LOP YOU SEGUNUNG GEDE😘

__ADS_1


__ADS_2