Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Kecoa


__ADS_3


Sunyi kian menyelimuti kelam. Dinginnya udara pun turut mencekam. Hanya senandung binatang malam yang mengisi suasana di bawah lampu temaram.


Di sebuah ruang tamu yang berukuran tidak terlalu luas, Nathan menyibukkan diri dengan benda pipih di tangannya. Sebenarnya ia bermaksud mengalihkan pikiran dari bayang-bayang tentang Axton yang diyakini sedang melepas rindu bersama Naora. Apalagi suami istri itu tengah berada di kamar yang terletak tepat di depan mata, memancing otak untuk berkelana.


Di sana, Nathan tidak sendirian saja. Tidak jauh dari tempat ia duduk ada Jovana yang tampak asyik dengan sebuah novel di tangannya. Sesekali pria tampan bermata teduh itu melirik ke arah si wanita, seraya menggerutu di dalam hatinya.


Apa aku ini tidak terlihat di matanya? Wanita itu seolah tidak menganggapku ada. Dia sama sekali tidak mengajakku berbicara. Padahal aku ini tamu yang seharusnya dijamu. Ah sudahlah.


Nathan kembali memusatkan perhatian ke ponselnya. Ibu jari terus di ajak men-scroll layar naik turun tidak jelas karena tidak ada hal yang membuatnya tertarik.


Sekali lagi! perhatiannya kembali tergiring ke arah Jovana saat wanita itu mengubah cara duduknya. Pria itu berdecak di dalam hati seraya menggelengkan kepala.


Apa dia tidak bisa duduk dengan benar? Bagaimanapun penampilannya, dia itu tetap seorang wanita. Sangat tidak pantas jika duduk mengangkang seperti itu. Ingin sekali aku menegurnya. Ah sudahlah! Buat apa aku peduli?


Detak jarum jam masih mengiringi sunyi. Pria itu mulai dilanda kebosanan kini. Sepasang lensa coklatnya diajak menyisiri ruangan seraya mengamati. Entahlah, tindakannya itu tidak memiliki tujuan yang berarti. Dia hanya mengikuti kejengahan hati.


Mengabaikan keberadaan Jovana yang masih asyik dengan dunianya sendiri, Nathan beranjak dari sofa. Ia mendekati rak kayu dipenuhi oleh buku-buku yang tertata rapi di sana. Diambil satu di antara mereka dan berniat kembali ke tempat duduknya semula.


Namun, kaki yang hendak melangkah tak jadi bergerak, disusul bulu kuduknya yang mendadak berdiri tegak. Nyali seketika menciut dan rasanya ingin berteriak.


Sial! Kenapa harus ada kecoa?! Aku harus segela menjauh sebelum kecoanya berulah! Batinnya menjerit.


Tidak ingin merusak pamornya di depan Jovana, ia tetap berlagak tenang. Dengan kikuk ia berjalan miring seperti kepiting, berniat menjauh dari hewan yang sukses membuatnya meremang. Nathan kian tercekat saat menyadari ekspresi si kecoa yang seolah sedang menantang.


Mampus! Mode terbang! Please jangan terbang ke arahku.


Nathan berusaha menghindar saat hewan kecil itu terbang ke arahnya.


Syukurlah meleset.


Namun batinnya belum bisa lega begitu saja selama hewan berkaki empat itu masih berada di dalam satu ruangan dengannya.


Sudah tidak tahan karena merasa takut dan jijik, Nathan reflek berjalan mendekati Jovana, berniat sembunyi di belakangnya. Hingga wanita tomboy itu dibuat keheranan karena gelagat anehnya.


Ditutup buku novelnya lalu diletakkan di atas meja. "Ada apa dengan mukamu?" tanya Jovana.


"Memangnya aku kenapa?" Nathan masih sempat-sempatnya bertanya balik. Padahal diam-diam ia sudah ketakutan setengah mati.


Jovana memasang muka jengah. "Kok malah tanya balik sih? Itu mukamu pucat seperti orang yang baru saja melihat setan udik!" cebiknya.


"Itu cuma pikiranmu saja. Aku baik-baik saja kok." Nathan berkilah dengan gelagat berbicara sesantai mungkin.

__ADS_1


Harus jaga image dong ...! Meski Jovana tomboy, dia tetap wanita.


"Ow ... Terus kenapa kau tiba-tiba berdiri di sampingku?" tanya Jovana dengan tatapan menyelidik.


Belum sampai ia menjawab pertanyaan Jovana, Nathan si pria gagah mendadak menjerit histeris seperti anak gadis saat si kecoa terbang mendekat ke arahnya. Jovana yang merasa mendapat serangan dadakan spontan memukul hewan itu hingga terpental jauh melewati bingkai jendela.


Plak!


"Ah! Reflek kepukul kecoanya. Maaf ya ... aku tidak sengaja." Bukannya merasa jijik, Jovana malah merasa bersalah. Ia lalu melongok ke arah luar jendela. "Apa kecoanya mati?" monolognya pada diri sendiri.


Teringat akan Nathan yang sempat histeris, Jovana memutar leher dan mendaratkan perhatian ke arah pria itu. Dilempar mimik muka meledek seraya menggerutu.


"Ck! Rupanya kau takut sama kecoa tapi gengsi untuk mengakui. Bodoh! Gitu saja sudah histeris dan bikin berisik. Kau sudah mengganggu ketenanganku, Tuan," sembur Jovana. Ia bersedekap sembari menatap sensi pria di hadapannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud. Hewan itu terlihat sangat mengerikan." Nathan akhirnya pasrah dan mengakui. Image sudah tercoreng. Tidak mungkin dia akan tetap berkilah sementara Jovana sudah menyaksikan reaksinya yang terlampau memalukan.


"Yang benar saja." Wanita itu menelisik penampilan Nathan dari ujung jempolan kaki sampai ubun-ubun. "Kau tinggi dan gagah." Ia lanjut menepuk sedikit kasar lengan pria itu menggunakan punggung telapak tangannya. "Kau juga memiliki otot tangan yang besar. Apa kau tidak malu takut dengan hewan lemah seperti itu? Kau seperti banci saja."


Perkataan Jovana rupanya sukses menyinggung perasaan Nathan. Sudah cukup harga dirinya tercoreng karena keberadaan kecoa tadi, selebihnya dia tidak akan membiarkan lidah tajam wanita itu menusuk harga dirinya juga.


"Siapa yang kau bilang banci?" tanya Nathan, barangkali lawan bicaranya itu salah bicara.


"Kau."


"Iya! Kau seperti banci."


"Kalau aku banci, terus kau itu apa? pria jadi-jadian atau seorang preman?" Nathan seolah tidak mau kalah.


Ia Mengitari tubuh Jovana seraya mengamati penampilannya. Kaos over size dan celana jeans panjang robek-robek, begitulah style pakaian wanita itu sekarang.


Wanita ini sangat jauh berbeda dengan Naora yang lemah lembut. Dia ini sangat kasar dan urakan. Sebenarnya sangat disayangkan kalau dia sampai melupakan fitrah seorang wanita.


"Jangan pancing lidahku untuk berkata lebih pedas, Nona. Sebaiknya kau meminta maaf kepadaku," tegas Nathan. Sebisa mungkin tidak bertindak kasar apa lagi terhadap wanita. Itu bukan gayanya.


"Ck! Kau itu memang seperti banci kaleng!" cerca Jovana tak pantang takut. Diraup buku novel miliknya dari atas meja lalu memutar tubuh dan berniat pergi. Namun ....


"Tunggu kau mau ke-ma-na?" Suara Nathan kian mengecil di akhir kalimat seiring dengan dorongan kasar air ludahnya di tenggorokan.


Niat hati ingin menghalau Jovana pergi dengan cara menarik bajunya, tapi tangan laknatnya malah bergerak terlampau jauh. Tidak hanya kain lapisan luar yang ditariknya, tapi juga tali pengait bra yang terletak di punggung si wanita.


Mati! Kenapa aku ceroboh sekali?!


Sementara Jovana seketika memasang muka mode memangsa. Tindakan mesum Nathan sukses mendidihkan amarahnya.

__ADS_1


"Dasar kurang ajar!" hardiknya lalu menarik tubuh gagah Nathan dan menjatuhkannya dengan sekali bantingan.


Kedebug!


"Aarrggg ...!" raung Nathan karena merasakan skait pada tulang punggungnya.


Belum puas, Jovana kembali menarik tangan Nathan yang masih terkapar di lantai lalu memitingnya. Saat ini dia sedang menerapkan teknik kuncian yang pernah dipelajarinya di kelas taekwondo.


"Rasakan ini! Dasar pria mesum!"


Sebagai pria sejati, tentu Nathan tidak ingin kalah kekuatan dengan wanita apalagi terlihat lemah. Ia mencuri kesempatan saat Jovana lengah.


"Kyaaakk ...! Lepaskan!" pekik wanita itu yang kini sudah berada di bawah kungkungan Nathan.


"Kau yang memulainya, Nona."


"Itu karena kau bertindak kurang ajar!"


"Aku tadi tidak sengaja. Kau harus tahu itu."


"Aku tidak akan percaya dengan ucapan pria bajingan sepertimu! Lepaskan aku tidak!"


"Nathan? Joe? Apa yang sedang kalian lakukan?!" seru Naora yang baru saja datang bersama Axton. Mendengar keributan dari luar kamar ia langsung keluar.


Nathan sontak berajak dari posisi mengukung, tidak lama Jovana juga beranjak dari lantai. Kedua anak manusia itu terlihat kikuk meski sebisa mungkin bersikap santai.


"Kalian kalau mau bercinta pergi ke kamar, jangan di sini. Apalagi di lantai. Seperti tidak ada tempat saja."


"Axton!" sentak Naora, Nathan, dan Jovana secara serempak.





Bersambung~~


Nofi selepin sedikit tentang Nathan dan Jovana ya. Biar ada selingannya gitu. Takutnya kalian bosan jika bahas tentang Axton dan Naora melulu🤭


Makasih ya masih setia baca karya Nofi ini. Tetap jaga kesehatan kalian ya ... Makan yang tetatur. Rajin olah raga. Dan sikat gigi sebelum bubuk.


Lop you😘

__ADS_1


__ADS_2