
Pagi yang cerah, secerah binar durja sepasang suami istri, Axton dan Naora. Keduanya melewati hari-hari dengan penuh suka. Hangat senyuman terus bersua menciptakan hubungan harmonis yang didamba. Lembut sentuhan cinta membelai setiap tutur kata.
Namun, jalinan indah sepasang kekasih itu justru berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Lana. Meski Axton masih melimpahkan banyak kemewahan, tapi nyatanya hal itu sudah tidak bisa menyenangkan hatinya. Ditambah lagi aura panas kerap kali menyelimuti hubungan mereka. Wanita itu, sama sekali tidak bahagia.
Setelah tahu cinta Axton hanya untuk Naora, hatinya kian digerogoti oleh kedengkian. Keserakahan juga mulai meracuni pikiran. Kendati perasaan durjana itu masih disimpan dalam kebisuan.
'Axton hanya boleh menjadi milikku selamanya. Hartanya, hartaku juga. Wanita lain dilarang menyentuhnya'. Begitulah bisikan-bisikan setan yang menyeretnya ke dalam lubang keserakahan akan nikmat dunia.
Sempat sekali, Axton membahas perceraian kala perdebatan di antara mereka kembali terjadi. Akan tetapi Lana kembali mengukungnya dengan mangatas namakan sebuah janji yang harus ditepati. Hingga pria itu mau tidak mau menahan diri dan akhirnya frustrasi.
'Seorang pria sejati adalah orang yang selalu menepati janjinya. Apalagi janji itu diucapkan di depan ibunya sebelum menutup mata'. Kalimat itulah yang dijadikan senjata oleh Lana agar Axton tidak menceraikannya.
"Axton, apa kau tahu ke mana perginya Bi Milah? Biasanya dia sudah ada di dapur untuk membuat sarapan." Naora bertanya sembari meletakkan berbagai menu hidangan sarapan di atas meja makan.
Axton yang baru saja tiba di ruang makan pun tampak keheranan. Tak seperti biasanya Milah belum menampakkan diri di jam sarapan seperti sekarang.
"Apa kau sudah mencari di kamarnya?" Pria itu balik bertanya seiring dengan tangan menarik kursi lalu mendudukkan tubuhnya.
Naora tampak telaten melayani sang pria kesayangan. Piring yang semula kosong sudah berpenghuni oleh nasi, lauk, dan sayuran. Tidak lupa segelas susu less sugar diletak bersandingan.
"Aku sudah datang ke kamarnya, tapi tidak ada. Apa mungkin dia pergi ke pasar lebih pagi hari inu? Aku tiba-tiba merasa khawatir." Naora mengambil tempat duduk tepat di sebelah Axton seraya melabuhkan perhatian ke pria itu.
"Cepat makan sarapanmu, bukannya hari ini kau ada survey lahan untuk proyek baru?" imbuh wanita itu karena Axron tak kunjung menjamah makananannya.
"Karena aku masih mendengarkanmu, Naora." Ia meraih garbu lalu menusuk fillet ikan salmon yang berakhir ke penggilingan mulut.
"Kau 'kan bisa mendengarkan sambil mengunyah," tutur Naora sebelum menyeruput minuman susunya.
"Kau sudah meneleponnya?" tanya Axton.
"Aah iya. Kenapa aku baru kepikiran hal itu?" Naora merutuki diri seiring dengan gelengan kepala, lalu jari-jarinya merogoh ponsel dari saku celana.
Axton mendengus geli melihat ekspresi Naora yang terlihat menggemaskan di depan mata. Hingga tidak mampu menahan hasrat untuk mencium pipi putih istrinya.
"Iihh ...! Mulut bau ikan, Axton. Selesaikan dulu makanmu." Naora melayangkan protes diikuti sepasang bibir yang manyun ke depan.
Bukannya berhenti, Axton malah semakin bertindak nakal. Diletakkan sepotong fillet ikan pada mulut lalu disuapkan ke Naora. Mau tidak mau si wanita memakannya karena pria itu memaksa.
"Sekarang kau juga bau ikan. Jadi kita sama." Axton tersenyum puas.
"Hish! Dasar jahil!" Dengan mulut yang masih mengunyah, ia mulai menyibukkan diri dengan ponselnya. Namun, tidak lama helaan napas terdengar dari bibirnya.
__ADS_1
"Bi Milah, tidak bisa ditelepon. Nomornya tidak aktif. Sebenarnya dia ke mana sih?"
"Kita tunggu saja dulu, Naora."
"Ya sudah."
Naora mengakhiri perhatiannya dari ponsel, bertepatan dengan itu ia tampak mengedar mata seolah mencari seseorang. "Lana kok juga belum turun?"
"Paling masih tidur. Biarkan saja," ucap Axton terkesan malas.
"Kau tidak boleh bersikap seperti itu, Axton. Aku akan memanggilnya dulu."
"Kembali duduk, Naora," titah Axton tanpa menghentikan kesibukannya mengisi mulut dengan makanan.
"Tapi--"
"Aku tidak suka dibantah, kau tahu itu."
Pasrah dan memilih mematuhi perintah suaminya, Naora kembali menghela napas ke udara. Dia menyadari kerenggangan di antara Axton dan Lana. Saat ini seolah ada tembok yang menjulang tinggi di tengah-tengah mereka.
Namun, wanita berparas cantik itu tidak tahu pasti, apa alasan keretakan hubungan keduanya. Axton seolah memilih menekuk lidah saat ditanya. Akhirnya, Naora hanya bisa menunggu sang suami bercerita dengan sendirinya.
"Aku merasa tidak enak hati."
"Kerenggangan di antara kami tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, Naora. Kenapa juga kau harus tidak enak hati?"
Iya, bagi Axton mengendurnya ikatan jalinan pernikahannya bersama Lana adalah akibat dari permasalahan sebuah perasaan yang tidak bersemayam pada tempatnya. Apalagi setelah tahu kalau istri pertama lebih menggilai hartanya. Hal itu sukses melemahkan cara penilaian baiknya selama ini terhadap si wanita.
Penilaian hati tentang Lana yang lemah lembut, baik, dan penyayang seketika memudar. Dan Axton merasakan hal itu dengan sangat sadar.
Namun, dia tidak tahu saja. Bagi Lana, keberadaan Naora lah yang menjadi akar penyebab ketidakharmonisan rumah tangga mereka. Wanita itu bahkan sudah menyimpan bom kebencian yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja.
Tidak lama, kegiatan sarapan mereka pun usai. Seperti biasanya, Naora akan mengantar sang suami hingga sampai pintu.
"Kau di rumah saja. Jangan pergi ke mana-mana sampai aku pulang," titah Axton setelah menghadiahi kecupan di kening Naora.
"Tapi aku berniat belanja hari ini."
"Tunda sampai aku pulang, Naora."
"Tapi, Axton."
"Naora ... patuhlah."
__ADS_1
Seperti yang sudah-sudah, Axton tidak suka bantahan apa lagi penolakan.
"Tidak seperti biasanya kau melarangku keluar," cicit Naora.
"Entahlah. Aku hanya mengikuti kata hatiku."
"Baiklah. Ya sudah sana segera berangkat."
Tersenyum tipis, Axton kembali melabuhkan kecupan di kening istrinya. "Awas kalau sampai aku tahu kau keluar rumah," ancamnya.
"Iya ... iya. Sana sana cepet berangkat. Kau terlalu membuang waktumu, Axton." Wanita itu mendorong kecil tubuh gagah sang suami agar segera masuk mobil.
Setelah kendaraan yang membawa Axton sudah hilang dari ruang mata, Naora kembali masuk ke rumah. Ia berniat menemui Lana yang sedari tadi tidak terlihat. Namun, sesampainya di kamar, ia tidak melihat keberadaan madunya.
"Ke mana dia? Apa dia pergi bersama Bi Milah ya? Soalnya mereka sama-sama tidak di rumah sekarang." Naora bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi memikirkannya?" Wanita itu akhirnya memilih menyudahi rasa ingin tahunya.
Tidak terasa hari hampir menjelang siang. Naora masih asyik menata bunga di vas dengan berteman seekor kucing kesayangan bernama Juventus.
"Stefan?" panggil Naora yang melihat si sopir pribadi Lana itu berjalan melewati kolam tidak jauh dari ia duduk.
Mendengar suara lembut memanggil namanya, Stefan pun menoleh dan manaruh atensi. "Iya Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Ia bersikap sangat sopan.
Naora memasang wajah penuh tanya. "Tidak biasanya kau tidak mengantar Lana pergi?"
Kegugupan seketika menyelimuti jiwa. Pria itu mendadak gelisah. "I-itu saya mau--" Stefan bahkan belum sampai menjawab pertanyaan dari Naora karena benda berisik di atas meja itu tiba-tiba berbunyi.
"Dia?" lirih Naora setelah membaca namanya tertera di layar ponselnya.
Entah apa yang dipikirkan Stefan. Yang jelas, kegugupannya kian menjalar tanpa sopan. Pria itu seolah tengah ditakuti akan sesuatu yang tak diinginkan.
"Halo?" sapa Naora duluan.
Wanita cantik itu tiba-tiba terkejut saat mendengar suara jeritan di balik panggilan teleponnya. Kecemasan pun seketika menguar rata di rongga dada.
☘
☘
☘
Bersambung~~
Terima kasih ya atas segala dukungan kalian ....🥰
__ADS_1