
Axton hendak mencabut kembali miliknya, tapi tarikan tangan Naora mengurungkan niatnya.
"Aku tidak apa-apa. Teruskan saja."
"Tapi aku tidak ingin menyakitimu, Naora. Kita hentikan saja."
Axton seolah berusaha mematah hasratnya. Kendati serangan libido masih menggelora. Ia bahkan menarik kembali perkataan tentang dirinya yang tidak bisa berhenti jika sudah merasakan nikmat bercinta. Namun, melihat Naora kesakitan timbul rasa iba di hatinya. Hingga rasa tidak tega muncul begitu saja.
Dituntun oleh naluri, Naora sedikit beranjak lalu mengalungkan tangan di leher keras si pria. Hingga membuat tubuh gagah yang semula sedikit menjauh kembali terjatuh dan menindih tubuh mungil dibawahnya. Axton kembali meremang, saat merasakan ciuman lembut di bibirnya.
Tak kuasa untuk berkilah, pria itu menyambut cumbuan amatiran si wanita. Tubuhnya serasa lemas, tindakan Naora memancing kembali gairah keperkasaannya.
Axton terhenyak dari keterbuaian, kala pagutan bibir ranum Naora terlepas secara tiba-tiba. "Naora ...," lirihnya yang nyaris terdengar seperti dessahan.
Dipandang raut berkabut gairah di atasnya, Naora bersuara di sela menahan hasrat yang kian membakar. "Di saat aku sudah mantap dengan keputusanku, kau tidak seharusnya ragu, Axton."
Satu kecupan dalam dijatuhkan ke bibir sang istri sebelum lidah membentuk kata. "Kau terlihat kesakitan. Aku tidak tega."
Ada kesungguhan di dalam sorot mata Axton, Naora melihatnya. Kali ini dia dibuat terkesima. Biasanya seorang pria akan tak terkendali jika nafsu sudah berkuasa. Apa lagi jika lawan mainnya tampak suka rela membuka lebar kedua kakinya di depan mata.
Namun, hal itu seolah tak berlaku untuk suaminya. Pria tampan itu rupanya masih bisa mengesampingkan hasratnya, dan lebih mementingkan perasaan si wanita. Axton yang saat ini sungguh sangat berbeda. Berbanding terbalik dengan dia yang dulu suka sekali memaksa.
"Axton, bukankah sudah wajar jika seorang wanita merasa kesakitan di saat pertama kali melakukannya?"
"Iya, yang pernah aku dengar memang seperti itu."
"Lantas?"
"Naora ...."
"Teruskanlah. Lagian kita sudah terlanjur basah."
Axton menggiring pandangannya ke bawah di mana ujung miliknya sudah sedikit tenggelam ke liang kenikmatan milik Naora lalu kembali memandang wajah cantik kekasih hatinya itu.
"Dan kita sudah melakukan separuh perjalanan."
Usaha meyakinkan Naora akhirnya sukses mengusir sisa keraguan pada diri Axton.
"Tahan ya, Sayang."
"Iya."
Axton melabuhkan kecupan di kening Naora cukup lama. Meluapkan indahnya rasa yang bergumul di dada. Seolah ingin menunjukkan bahwa sentuhannya malam ini tidak sekedar di bawah naungan nafsu sahwat belaka, melainkan ada jejak cinta di setiap cumbuannya.
__ADS_1
"Hmmmp!"
Naora membungkam bibirnya sendiri, diikuti jemari meremas kain seprai saat Axton kembali menghentak tubuhnya.
"Maaf, Sayang."
Dikecupnya kelopak mata Naora yang basah seiring dengan bibir berlisan maaf. Ia lalu kembali fokus dengan tujuan penyatuan raga yang sebenarnya.
"Hmmp! Axton!"
Wanita itu sontak menenggelamkan wajahnya di ceruk pundak si pria seiring dengan tangan melingkari dadanya. Usaha keras Axton tak berakhir sia-sia.
Hentakan susulan membawa dirinya masuk sempurna di gerbang mahkota Naora. Disambut langsung oleh cairan merah tanda terkuaknya tirai keperawanan yang teramat beharga. Ia pun kian merapatkan tubuhnya.
"Maaf, Naora." Axton menyeka titik-titik kristal di bingkai netra wanitanya.
Ia menjeda sejenak kegiatannya, berniat memberi kesempatan pada Naora untuk beradaptasi dengan tamu penebar benih yang menyambangi dunia kecilnya. Si wanita tak sanggup berkata-kata, rasa perih di tubuhnya seolah menyumbat pita suara.
"Sangat sakit ya?"
Naora hanya mengangguk pelan.
Axton melumatt lembut bibir Naora, seiring dengan tangan memberi sentuhan pada titik sensitifnya untuk mengalihkan rasa penuh dan perih di mahkotanya.
Sengatan kenikmatan kembali menjalar ke seluruh tubuh. Naora menggeliat seperti cacing kepanasan. Sentuhan nakal Axton disambut oleh pinggul yang terangkat. Memacu naluri si pria melakukan gerakan berirama. Sepasang kekasih halal itu pun saling merengkuh erat.
Mereka merenda nikmat berbalut kelopak cinta yang merekah. Dinginnya malam terus berpadu dengan hangatnya cumbuan mesrah.
"Axton ... emmm."
"Iya sayang ...."
"Aku ... sudah ... tidak tahan," ucap Naora dengan suara terputus-putus karena hentakan Axton.
"Keluarkan saja."
"Emm ... Axton ...."
Suara erangan sepasang kekasih terdengar beriringan saat raga tak berbalut benang itu menegang setelah meneguk puncak nikmatnya penyatuan pertama mereka.
Axton menjatuhkan muka berpeluh keringatnya ke dalam ceruk leher Naora. Keduanya tampak lemas, menyiskan deru napas yang saling bersautan.
Pria itu kembali mengangkat durja tampannya hingga pahatan cantik berhias keringat itu memenuhi ruang mata. "Terima kasih, Sayang. Dan maaf," ucapnya dengan suara tersengal-sengal lalu mengecup bibir Naora yang sedikit terbuka karena mencoba meraup rakus udara.
Naora masih tak berkata. Hanya butiran bening yang mengalir dari ujung mata. Sebagai ungkapan kebahagiaan atas tercapainya impian menjaga mahkota kesucian untuk persembahan sang raja hati telah di lalui dengan sempurna.
__ADS_1
Dirasa deru napasnya sudah teratur, axton mengusap lembut air mata bercampur keringat istrinya dengan haru.
"Terima kasih telah menjadikan aku yang pertama. Dan maaf karena membuatmu kesakitan tadi."
Terlintas rasa sesal di hati Axton, jika mengingat akan semua sikap kasarnya kepada Naora. Andai dulu dia tahu bahwa melepas keperawanan sesakit itu, tidak akan ia beberapa kali mencoba menggagahi istrinya dengan paksa. Beruntung niat bejatnya waktu itu selalu berakhir sia-sia.
Axton pun mencabut miliknya lalu mulai berpindah dari posisi menindih dan berbaring di sebelah Naora. Sepasang tangan diajak merengkuh tubuh kecil selembut sutra itu dengan penuh cinta.
"Maafkan aku, Naora. Sekali lagi maaf."
Senyuman tipis terulas di bibir Naora sebelum mengajak lidah untuk berbicara. "Lucu. Kau meminta maaf karena sudah menggagahi istrimu sendiri, Axton."
"Bukan untuk itu saja, Naora. Aku minta maaf atas semua sikap kasarku kepadamu selama ini."
"Aku sudah memaafkanmu bahkan di jauh-jauh hari sebelum kau meminta maaf."
Axton kian mengerat pelukannya seolah tidak ingin membebaskan Naora dari dekapannya. "Terima kasih."
Ditariknya selimut yang sempat terhempas di pinggir ranjang selama kegiatan penyatuan raga mereka untuk menutupi tubuh polos Naora. Setelah itu, sang suami yang sedang berbahagia itu menuruni peraduan lalu meraih gelas dari atas meja dan menuangkan air ke dalamnya.
"Minumlah, kau pasti kehausan."
Naora langsung duduk bersandar headboard saat Axton membawakan segelas air untuknya. Ia pun langsung meneguk air itu hingga tak tersisa. Rupanya, kegiatan panas tadi cukup membuatnya tenggorokan diserang dahaga.
Axton menerima uluran gelas kosong dari Naora dan kembali menuangkan air. Kali ini ia sendiri yang meneguk cairan bening itu. Setelah selesai melepas dahaga pria itu kembali ke ranjang.
"Tidurlah, kau pasti kelelahan."
"Kau juga tidur ya."
"Iya, Sayang."
Naora merasakan kenyamanan tak terkira saat Axton menariknya ke dalam dekapan. Sepasang kelopak matanya perlahan menutup hingga terlena menuju lelap.
Di saat wanitanya sudah terlelap, Axton justru masih terjaga. Ia ternyata sedang kalut dengan pikirannya. Sosok seseorang di tempat lain menumbuhkan rasa sesal di dada.
Maafkan aku Lana, saat ini aku sudah menjadi suami yang buruk untukmu. Akan tetapi aku tidak bisa membohongi perasaanku, bahwa sosok Naora sudah menjadi bagian dari nyawaku.
Kedilemaan mulai merengkuh hatinya.
☘
☘
☘
__ADS_1
Bersambung~~
Terus terang Authornya keder setelah nulis part hareudang. Mana lagi LDRan ma misua lagi😭