
Angin musim kering menjerit lemah, berdesir di cela ranting yang patah, menerbangkan daun-daun mati karena lelah, berhembus kencang ke dinding cekrawala tak cerah.
Alam tampaknya sedang bermuram durja. Di tandai dengan awan kelabu di atas kepala. Hal itu selaras dengan hati seorang insan di sana. Tepatnya, di sebuah pemakaman umum pinggiran kota.
Ditemani Naora, Edrich tampak hanyut dalam duka. Di depan pusara sang istri tercinta, ia menitikkan air mata. Meski 20 tahun lamanya ajal telah memisahkan, tapi keihklasan tak jua menyapa.
Pria itu, masih terkungkung di dalam penjara kesedihan. Rasa cinta yang terlampau dalam menyulitkannya untuk menerima kenyataan. Baginya, kepergian sang istri adalah sebuah ladang penderitaan.
Naora yang sedari tadi tampak menghayati suasana, menatap nanar punggung sang Daddy. Kesedihan pun turut membingkai hati. Ia sangat menyayangkan akan sikap pria tengah baya itu yang seolah menolak jalan takdir.
Bukankah Tuhan memberi ujian kepada para makhluknya sesuai dengan takaran kemampuan masing-masing? Bahkan Tuhan selalu menyelipkan solusi di setiap ujian yang diberikan. Termasuk solusi mengatasi duka di hati.
Namun sayang, Edrich seolah melupakan hal itu. Ia membiarkan jiwanya terus hanyut ke dalam kubangan derita yang dia ciptakan sendiri. Termasuk menanam kebencian kepada Axton, putra semata wayangnya.
Sesaat Naora mengamati cuaca langit yang seolah akan memuntahkan isi perutnya dengan segera lalu kembali mengalihkan atensinya kepada Edrich. "Daddy, langit terlihat gelap. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Sebaiknya kita kembali sekarang," tuturnya.
Edrich menoleh sebentar lalu kembali memandangi batu pusara istrinya. Tangan dibawa mengusap lembut gundukan di depannya, sebelum akhirnya beranjak dari posisi jongkok lalu pergi dari kawasan permakaman umum kota.
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, Naora terus diselimuti oleh rasa penasaran. Hal itu berkaitan dengan Axton, si pria arogan. Hingga, lidah tak lagi mampu menahan. Wanita itu mulai berlisan.
"Daddy, bolehkah aku bertanya?"
Edrich memutar leher ke arah Naora lalu menyematkan senyuman tipis. "Tanyakan saja Naora."
"Sebenarnya apa kaitannya Axton dengan peristiwa meninggalkan mendiang mama mertuaku?"
Muka Edrich tiba-tiba berubah suram. Pertanyaan Naora seketika mengingatkan akan masa lalunya yang kelam. Namun, bukannya segera memberi jawaban, ia malah memilih bungkam. Hingga membuat wanita itu harus menelan rasa ingin tahunya dalam-dalam.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Melihat gelagat aneh Axton tadi pagi membuatku sangat kepikiran. Daddy bahkan seolah enggan memberi jawaban.
Jawaban yang tak kunjung didapatkan dari sang Daddy membuat pikirannya kian berkelana. Rasanya ingin sekali ia segera kembali ke rumah dan menemui suaminya. Entah mengapa, perasaan tak enak terus saja melanda.
Axton ... apa kau baik-baik saja sekarang?
Wanita cantik bak barbie itu bahkan sudah beberapa kali mengirim pesan dan juga menelepon Axton untuk memastikan. Akan tetapi, satu respon pun tak didapatkan.
Milah yang biasanya selalu sigap mengangkat panggilannnya pun kini tak bisa dihubungi. Naora sungguh dibuat frustasi.
"Naora, apa Axton sering bersikap buruk kepadamu?" Pertanyaan Edrich, sontak memecahkan lamunan Naora.
Gegas ia mencari jawaban dengan rangkaian kata yang tepat dan meyakinkan. "Axton sangat baik kepadaku. Daddy tidak perlu cemas." Naora sedikit mengarang cerita karena tidak ingin membuat pria itu mengkhawatirkannya dan juga menambah kebencian terhadap Axton.
"Kau jangan berbohong, Naora."
Pria itu tampaknya tak bisa langsung percaya. Sudah 17 tahun Naora berada diasuhan tangannya. Barang tentu ia sudah sangat hafal dengan apa yang dirasakan putri angkatnya itu, meski hanya melihat dari garis muka dan terutama sorot mata.
__ADS_1
Sayang sekali, Edrich bisa sangat mengerti akan perasaan Naora, tapi kenapa ia seolah membutakan hati tentang perasaan putranya? Bukankah hubungan darah dan daging itu memiliki ikatan batin yang kuat meski bersifat tak kasat mata?
Miris!
Naora mendesah pasrah. Ia memang sangat tidak bisa berbohong di depan pria itu yang sudah dianggapnya ayah. Di saat berdusta, sorot matanya akan terlihat rapuh dan lemah.
Itulah titik rahasia hati dari seorang Naora. Andai Axton bisa sedikit peka, mungkin atmosfer di dalam pernikahan tidak dipenuhi oleh hati yang terluka.
Ah ... sepertinya agak sulit meminta pria arogan itu untuk peka akan perasaan Naora, sedangkan dengan perasaannya sendiri saja ia masih sulit mengartikan tentang jenis rasa yang bagaimana dan seperti apa.
Memang, kurangnya belaian kasih sayang dan curahan perasaan dari orang tua yang seharusnya dia dapatkan dari kecil, membuatnya tidak banyak belajar tentang apa itu ragam rasa. Yang Axton tahu, ia harus bekerja keras untuk menyabet beragam prestasi agar mendapatkan sebuah pengakuan akan keberadaan dirinya.
Pengakuan dari sang Daddy tentunya.
"Aku merasa ... perlahan Axton mulai menunjukkan sikap baiknya kepadaku, Dad."
Kali ini Naora memang berkata apa adanya. Ia tak menampik kenyataan, bahwa sikap Axton memang sedikit berbeda. Kendati sifat arogannya masih melekat posesif di setiap tindakannya.
"Apa wanita tak tahu diri itu masih tinggal di rumah itu?"
Naora bisa langsung mengerti tentang siapa wanita yang dimaksud Edrich. Siapa lagi kalau buka Lana.
"Lana memang sudah seharusnya tinggal di sana, Daddy. Dia istrinya Axton. Apa Daddy lupa, akulah orang ke-tiga yang menyusup ke dalam rumah tangga mereka." Ia mencoba memberi pengertian meski hatinya merasa pilu.
"Daddy berniat membuat wanita itu pergi dari rumah itu. Dia tidak seharusnya dia tinggal bersama kalian."
Kebencianku pada wanita itu bukanlah tak beralasan. Aku masih sangat ingat, dulu dia pernah menjadi suruhan bayaran dari pesaing bisnis untuk menjebakku agar mau tidur dengannya. Dasar murahan!
"Daddy, aku senang karena Daddy sangat peduli kepadaku. Akan tetapi, untuk kali ini tolong beri aku kepercayaan untuk menyelesaikan urusan rumah tanggaku sendiri."
"Kau yakin?"
Naora tersenyum tipis di sela anggukan mantapnya. "Aku yakin, Dad."
Edrich menghela napas kasar. Rasanya ia terlalu sulit untuk tidak menuruti permintaan putri angkatya itu. " Baiklah, Naora. Akan tetapi, kau harus tetap memanggil Daddy saat kau benar-benar sudah tidak kuat."
"Siap!" Ia menjawab seraya memberi hormat, membuat pria itu mendengus geli.
Hari sudah melewati petang. Naora tengah dalam perjalanan pulang. Jujur, sedari tadi perasaannya sangat tidak tenang. Entah apa yang terjadi dengan otaknya, sosok Axton terus saja terbayang.
Ya Tuhan ... kenapa perasaanku sangat tidak nyaman? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Semoga saja tidak ada sesuatu yang buruk.
Naora terus berteman resah. Rangkaian doa masih terus meluncur dari ujung lidah.
"Pak Hasan, bisakah kau menambah kecepatan laju mobil?" pinta wanita itu. Rupanya ia sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah.
"Baik, Nona."
__ADS_1
"Kalau ngantuk bilang saja, aku akan menggantikanmu."
Mendengar tawaran Naora, sukses membuat si sopir tergelak lirih. "Mana mungkin saya menerima tawaranmu, Nona."
"Itu tidak masalah bagiku, Pak Hasan."
"Tapi itu masalah bagi saya, Nona."
Naora pun tersenyum tipis. "Terserah Pak Hasan saja."
"Iya, Nona."
Beberapa waktu kemudian. Mobil yang ditumpangi Naora sudah berhenti di halaman luas kediaman. Gegas ia bawa kaki menuruni kendaraan. Rasanya hati sudah sangat gatal ingin mencari jawaban akan keresahan.
Setelah kaki melewati bingkai pintu, ia langsung disambut oleh muka sedih seorang wanita. Pipinya bahkan sudah dibasahi oleh cucuran air mata. Hal itu membuat Naora heran dan cemas seketika.
"Bi Milah, kenapa kau menangis?"
Milah menyeka bingkai netranya yang basah sebelum menjawab. "Nak Naora, Tuan Axton--"
Belum sampai Milah menyelesaikan kalimatnya hingga titik akhir, Lana datang seraya menangis histeris.
"Naora ... bisakah kau membantuku?"
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi, Lana? Berbicaralah langsung ke intinya."
"Axton Lana ...."
"Iya dia kenapa?!" Naora kian tak sabar. Ia juga sangat cemas sekarang.
"Sebaiknya kau ikut aku, dan melihat kondisi Axton secara langsung sekarang."
"Tapi Nyonya, itu sangat berbahaya jika melihat Tuan muda sekarang." Milah mencoba menghalau niat Lana.
"Kau diamlah, Bik!" sentak Lana sebelum menyeret Naora menuju tempat di mana Axton berada.
Ya Tuhan ... berilah perlindunganmu kepada Nak Naora. Dan berikanlah kesembuhan untuk Tuan muda. Bibir Milah tak henti-hentinya melantunkan doa di dalam hati.
β
β
β
Bersambung~~
Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon LIKE Tinggalkan KOMEN cantik di setiap bab.. Nofi maksa iniπ€£ Berncanda kokβ
__ADS_1
Yang punya Vote dan Gift bolehlah disumbangkan ke karya ini..π₯°
Sarangheyo ...ππ