Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Penyesalan


__ADS_3


Deru mesin mobil menggema di pelataran rumah mewah. Kaki diajak menuruni tunggangannya dengan segera lalu mengambil langkah jenjang menuju bangunan yang berdiri gagah.


"Di mana wanita itu?" tanya Axton tanpa berbasa-basi.


Bug!


Sayang, bukannya sebuah jawaban yang langsung ia dapat melainkan sebuah tinjuan di muka. Pukulan dari Nathan memang tidak sampai membuat ia terjatuh, tapi sukses merobek bagian sudut bibir kirinya. Diusap kasar darah segar di sana lalu menatap sinis ke arah pria di depan mata.


"Ck! Ternyata kau ingin balas dendam."


"Pukulan itu bukan untuk balas dendam, tapi sebagai pelajaran karena kau telah berlaku buruk kepada, Naora!"


Padahal Nathan sudah menyiapkan diri agar tidak dikuasai emosi, tapi nyatanya hal itu sulit dijalani. Mengingat, Naora yang kini sedang terbaring lemah karena ulah sahabatnya itu, membuat ia lepas kendali.


"Kau tidak berhak ikut campur ke dalam urusan rumah tanggaku!"


"Aku hanya berusaha bertindak sebagai seorang pria yang ingin melindungi seorang wanita."


Axton menyunggingkan sebelah sudut bibir, membentuk sebuah senyuman sinis. "Kau tidak perlu repot-repot, karena dia istriku."


"Istri yang akan kau ceraikan." Nathan menegaskan sekaligus mengingatkan perkataan yang pernah terlisan langsung dari lidah Axton beberapa hari yang lalu.


"Itu urusanku." Axton tiba-tiba menatap Nathan dengan sorot mata tak terbaca. "Kenapa? Apa kau mengharapkan perceraian itu?" Ia kembali tersenyum sinis. "Bodoh! Kenapa juga aku masih menanyakan? Jelas-jelas hubungan kalian bukan lagi sekedar sebuah hubungan layaknya antara bos dan sekretaris. Kalian bahkan sudah saling bermain bibir. Kau mengkhianatiku, Nathan," tudingnya tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu.


"Aku berkhianat? Aku rasa tuduhanmu itu tidak benar karena sebelumnya aku tidak tahu kalau Naora adalah istrimu. Kau yang bodoh, Axton! Kenapa dari awal tidak memberi tahuku siapa istri ke-duamu itu. Waktu di restauran beberapa hari yang lalu, kau juga membiarkanku terlihat seperti kambing congek di depan kalian!"


Axton seketika membisu. Kali ini ia membenarkan perkataan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Asal kau tahu, Naora tidak salah apa-apa. Aku lah yang tiba-tiba menciumnya tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Jadi jangan berpikiran buruk tentangnya. Dia adalah sosok wanita yang sangat menjaga kehormatan dan harga diri," terang Nathan, mencoba meluruskan kesalahpahaman.


Sekali lagi, pria bermuka dingin bak gunung es di daratan tinggi Antartika itu tak mampu berkata-kata. Otaknya tiba-tiba mengulang kembali ingatan akan setiap tuduhan kasar yang ia lontarkan kepada Naora.


'Wanita murahan!' Dua kata itulah yang sering dijadikan pisau untuk merobek hati lembut Naora. Axton mulai dirubung oleh rasa sesal di dada.


Sementara di sisi lain, Nathan menyadari gelagat muka sahabatnya yang terlihat pasi. Dari situ ia yakin, bahwa ada banyak hal buruk yang telah Axton lakukan kepada Naora selama ini.


"Kebisuanmu ini membuatku semakin yakin kalau kau tidak pernah bersikap lembut kepada Naora, Axton." Pria berparas teduh itu melempar tatapan sanksi. "Aku tidak pernah mendoakan sebuah perceraian di antara kau dan Naora. Bagaimanapun juga, kau itu sahabatku. Berharap kau bahagia itu sudah pasti. Akan tetapi ... jangan salahkanku jika suatu saat pundakku ini mampu menjadi sandaran nyaman untuk Naora karena ulahmu sendiri."


Barisan kalimat yang terangkai cantik dari bibir Nathan tidak hanya sekedar tuturan bijak, melainkan juga sebuah utimatum tegas tapi terlantun dengan sangat halus. Dan hal itu, sukses membuat hati Axton tergerus. Kendati, ia masih terkungkung oleh keraguan hati yang seolah enggan pupus.


"Di mana Naora, aku harus membawanya pulang." Entah ke mana perginya sifat arogansi yang melekat pada diri. Suara Axton tak lagi terdengar sarat oleh amarah hati. Yang ada, ia ingin keluar dari topik pembicaraan menyudutkannya kini.


"Bukannya istrimu ada di rumah. Lana si wanita lemah lembut yang sangat kau cintai," sindir Nathan. Rupanya ia tak ingin segera menyerahkan Naora.


"Cukup bercandanya, Nathan. Cepat beri tahu aku di mana Naora!" Baru saja amarahnya sedikit menurun, kini harus kembali menguar. Axton mulai tak sabar. Sungguh kecemasan di hati masih menjalar.


Tukikan tajam seketika tercetak di sepasang alis Axton, bersamaan mimik curiga yang kembali membungkus paras tampannya. Nathan sontak berdecak lidah karena melihat reaksi muka sahabatnya.


"Kenapa? Kau tidak suka mendengarnya?" cebiknya.


Tak ingin menanggapi celotehan Nathan yang terus saja memancing emosinya, Axton mulai bersikap abai dan memilih membawa kaki menuju ke kamar tempat Naora berada. Walaupun sempat terselip setitik kecurigaan tentang posisi si wanita yang sekarang sedang berada di ranjang pria lain, tapi hal itu seolah tak lebih berarti dari keinginannya untuk bisa segera melihat keadaan Naora.


"Ck! mentang-mentang kita bersahabatan, dia seenaknya saja main masuk ke kamarku," gerutu Nathan di sela langkahnya membuntuti Axton.


"Naora," lirihnya. Axton medekat dan mengajak mata menelisik keadaan Naora dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan tidak ada goresan di tubuhnya. Namun, kernyitan di kening menandakan akan sebuah tanda tanya besar tengah memenuhi otaknya saat menyadari rona pasi yang menghiasi muka lelap Naora.


"Apa yang terjadi? Dia kenapa?" Ia sontak meletakkan telapak tangannya di pipi dan kening Naora. "Dia panas sekali."

__ADS_1


"Kenapa kau terlihat sangat peduli sekarang? Bukankah ini kemauanmu?" sengit Nathan yang memang masih sangat kesal. Mengingat keadaan Naora yang menggigil kedingainan di bawah sadisnya guyuran hujan di malam hari, bahkan sampai pingsan, siapapun bisa menduga kalau itu perbuatan Axton.


"Berhentilah menyudutkanku Nathan. Katakan dia kenapa," desaknya. Ia juga kesal dengan sikap Nathan yang menurutnya terlalu banyak bicara sedari tadi.


"Bagaiamana jadinya jika aku terlambat sedikit saja tadi. Pasti dia sudah tergeletak di pinggir jalan karena pingsan. Bisa kau bayangkan, seorang wanita berjalan kaki sendirian di bawah guyuran hujan, belum lagi melewati kawasan sepi dan gelap, terus tiba-tiba pingsan di pinggir jalan, itu sangat berbahaya, Axton! Kau memang tidak punya hati! Suami seperti apa kau ini? Kalau saja bukan sahabatku, sudah ku hajar kau sampai babak belur." Nathan kembali geram.


Sedangkan Axton lagi-lagi terbungkam. Tak berdaya mengelak dari rasa sesal yang menerkam.


"Kata dokter dia terkena demam, dan obatnya ada di sana," imbuh Nathan lagi seraya menunjuk ke arah meja nakas kamar.


"Aku akan membawanya pulang." Setelah meraup obat tersebut, Axton langsung menggendong tubuh ringkih Naora dengan sangat hati-hati. Wanita itu bahkan sama sekali tak menunjukkan gelagat terusik.


"Di luar masih hujan." Nathan mengingatkan.


"Kau wajib memayungiku sampai mobil."


"Kau meminta tolong?"


"Bukan meminta tolong, tapi titah."


"Yang benar saja."


"Cepatlah!" Axton pun melenggeang pergi seraya menggendong Naora.




__ADS_1


Bersambung~~


Maaf cuma bisa up seribu kata. Mata Nofi benar-benar udah tinggal 5 watt nih.🤤


__ADS_2