
Bertepatan di akhir kalimatnya, Naora melambaikan tangan ke arah jalan, hingga sebuah taksi berhenti di depannya. Pergi meninggalkan Axton dan Lana bersama mobil yang membawanya pergi.
Aku sangat benci penolakan. Dan dia terang-terangan berani menolak niat baikku.
APA?! Niat baik kata Axton? Apa kalian mempercayainya?
Naora membawa tubuhnya keluar dari mobil setelah menyodorkan beberapa nominal uang ongkos taksi. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum mengajak kaki melangkah mendekati gerbang masuk rumah megah bak istana.
Istana? Itu mungkin bagi persepsi orang lain, dan tidak untuk Naora Alesha.
Ironis memang, rumah yang cantik dipandang dari luar, nyatanya tak seindah ekspetasi di dalamnya. Keteduhan yang dipamerkan hanyalah sebagai kamuflase dari neraka dunia. Itulah yang dirasakan Naora.
"Siang, Nona Naora," sapa ramah seorang security setelah membukakan gerbang.
Tak kalah ramah, wanita cantik itu juga membalas sapaan dari pria paruh baya berseragam putih biru tersebut. "Selamat siang juga, Pak Hasan."
"Cepat sekali pulangnya, Non," tanya Hasan berbasa-basi.
"Iya, Pak Hasan. Selesai melakukan interview, aku langsung pulang. Badanku sudah pegal, capek," Naora tampak meringis seraya memijat ringan pundaknya, membuat Hasan kembali tersenyum.
Ingat akan sesuatu, wanita bersurai coklat itu menghentikan pijatan tangannya. "Oya Pak, aku mempunyai sesuatu." Ia merogoh isi tasnya. Seutas senyuman menghiasi muka setelah menemukan benda yang dicari. "Ini untukmu, Pak." Ia menyodorkan beberapa bungkus obat kepada Hasan.
Spontan Hasan menyambut pemberian majikan barunya itu, kendati ekspresi penuh tanya menghiasi muka. "Ini apa, Non?"
"Itu hanya suplemen vitamin. Aku melihat Pak Hasan terlihat sangat lesu dan kelelahan. Setidaknya, rajinlah minum vitamin untuk daya tahan tubuhmu."
Perasaan hangat seketika menjalar ke dalam relung hati Hasan. Sikap perhatian Naora sukses menyeret batin untuk menguarkan segala kekaguman. Nona Naora memang berhati emas. Semua pelayan di rumah pun tak luput dari perhatiannya. Baru sehari ia tinggal di rumah ini, tapi pengaruhnya sungguh membawa aura positif.
"Terima kasih, Nona. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu," ucap Hasan, tak menyurutkan senyuman teduh penuh syukur.
Sederhana memang. Bentuk sikap kepedulian sosial Naora tak membutuhkan banyak aksi, tidak harus menggelontorkan banyak uang, atau pun berkoar-koar demi menyiarkan kepada kalayak umum bahwa 'aku orang baik dan dermawan'.
Akan tetapi bukankan hal yang luar biasa itu selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana? Kalian tidak percaya? Coba mulailah hal sederhana itu dari sekarang? Yakinlah, sesuatu yang baik akan menyapamu.
"Ya sudah, aku masuk dulu ya. Pak Hasan harus segera makan kalau sudah waktunya makan," tuturnya, seolah tak bosan menyalurkan kepeduliannya.
Itulah Naora. Selalu bersikap ramah, lembut, dan penuh perhatian. Maka tak mustahil kalau para pelayan di kediaman Axton bisa sangat mudah akrab dengannya.
TIN ... TINNN ...!
Naora yang berniat pergi masuk ke rumah namun belum sempat melangkahkan kaki harus terjingkat kaget saat klakson mobil menjerit tidak sopan tepat di belakangnya.
__ADS_1
TINNN ...!
Jeritan klakson susulan, reflek membawa tubuh Naora yang semula berada di tengah jalan bergeser ke pinggir. Dan bertepatan dengan itu, sebuah mobil yang dtumpangi Axton dan Lana melewatinya.
"Nona Naora, apa anda baik-baik saja?" tanya Hasan yang menyadari gelagat terkejut Naora.
Wanita itu memberi elusan sayang di dadanya, menenangkan jantungnya yang bertabuh tak karu-karuan. "Tidak Pak Hasan. Aku sedang tidak baik-baik saja. Jantungku rasanya mau loncat dari sarangnya barusan," jawabnya menahan kesal setengah mati.
Naora langsung mengambil satu hentakan keras kaki sebelum menciptakan beberapa ayunan tungkai yang membawanya masuk ke rumah. Langkahnya sempat tersendat saat berpapasan dengan Lana dan Axton yang juga melewati ruang tamu, hendak menaiki tangga ke lantai dua.
Sepasang mutiara hazelnya melirik sekilas kepada Lana yang terus saja menggelayut manja di lengan kekar Axton. Menggamit posesif dan sangat menempel seperti segumpal upil di tembok seolah takut pria kesayangannya itu lepas, terbang, dan menghinggap ke hati yang lain.
Apa Axton tidak risih? Aku yang melihatnya saja sangat risih.
"Naora," panggil Lana, menghalau langkah Naora yang hendak menapaki anak tangga pertama.
"Iya, ada apa?" jawab Naora, sedikit memutar posisi tubuhnya menghadap Lana yang masih menggamit lengan kekar itu.
"Ini terimalah. Saat Axton mengajakku belanja dan bersenang-senang tadi, aku teringat denganmu, jadi aku membeli beberapa baju untukmu. Axton juga ikut memberi saran baju apa yang cocok untukmu. Semoga kau suka ya." Tersenyum semanis mungkin, Lana menyodorkan satu paper bag kepada Naora.
Naora melempar tatapan menyelidik kepada Lana dan juga Axton yang masih setia dengan tampang pongahnya. "Kalian tidak ada maksud lain 'kan? Maaf, di rumah ini aku memang harus lebih berhati-hati," sindirnya terang-terangan.
"Ck! Dasar Benalu tak tahu terima Kasih. Memang kau pikir kau itu siapa?! Kalau bukan karena Lana yang berbaik hati, aku tidak sudi membayar baju itu untukmu!"
"Terserah kamu!" Axton melenggang pergi meninggalkan kedua istrinya tersebut dengan sebelah tangan menenteng tas berisi belanjaan Lana.
Srek!
Axton melempar barang belanjaan Lana di atas ranjang. Melepas tiga kancing kemejanya, hingga dada bidang terekspos sebagian. Mengingat sikap Naora beberapa saat yang lalu nyatanya cukup membuatnya tersinggung. "Dia pikir dia siapa di rumah ini?!"
Pria itu mendaratkan pantat di bibir ranjang. "Kenapa juga Lana berkata seperti itu tadi? Yang ada wanita itu bisa besar kepala."
Waktu masih di pusat perbelanjaan mall, Axton memang memberi saran kepada Lana agar tidak membelikan Naora pakaian seksi. Hal itu bukan semata-mata sebagai wujud kepedulianya, melainkan dia tidak nyaman melihat istri ke-duanya tersebut berpenampilan yang memamerkan lekuk tubuhnya.
"Aku tidak ingin perasaan aneh seperti semalam kembali menggangguku. Itu saja tujuanku tidak ada yang lain." Axton masih bermonolog sendiri.
Jeritan nada dering ponsel dari dalam saku celana, memaksa Axton untuk segera menjamahnya. Di gesernya layar pipih yang menyala terang tersebut.
"Halo?"
"Selamat siang Tuan Axton. Maaf telah menggangu waktu anda."
"Langsung katakan saja. Wildan."
__ADS_1
"Saya baru saja mengirim sebuah proposal pengajuan teknis untuk proyek baru perusahaan via email untuk segera ditandatangani, Tuan," lapor Wildan dari seberang telepon yang menjabat sebagai Personal Assistant Axton.
"Iya," balas Axton singkat dan mengakhiri panggilan.
Tubuh kembali beranjak dari bibir ranjang. Niat hati ingin langsung meninggalkan kamar tapi harus tertunda sesaat ketika Axton tidak sengaja melihat obat luka yang dibeli Lana terkapar di atas ranjang super empuknya.
Bayang-bayang akan tangan Naora yang memerah karena ulahnya tiba-tiba kembali terngiang, diikuti sebuah perasaan asing di dalam hati. Menciptakan sebuah helaan napas kasar, ia meraup obat tersebut dan kembali berjalan mendekati pintu kamar.
"Honey ... kau mau ke mana?" tanya Lana yang baru saja memasuki kamar.
Axton gegas menyembunyikan obat tersebut di dalam saku, tidak ingin Lana mencurigainya. "Aku akan pergi ke ruang kerja pribadiku dulu. Ada sedikit urusan yang harus segera diselesaikan," jelas Axton.
Lana mengulas senyuman tipis. "Baiklah."
…
Axton tampak mondar-mandir di depan pintu kamar Naora seraya menggenggam obat di tangannya. Sebentuk gengsinitas membuat ia sedikit ragu. Namun, nyatanya dorongan hati yang begitu kuat, menuntun diri untuk membuka daun pintu di depannya. Seperti biasa, tanpa ada ketukan pintu ataupun ucapan permisi, ia memasuki kamar.
"Kyaaak..!" Naora yang ternyata dalam keadaan setengah telanjang seketika menjerit karena Axton yang tiba-tiba masuk ke kamar. "Apa yang kau lakukan Axton?! Keluar!"
Tidak hanya Naora, pria itupun terkejut luar biasa. Ia sampai harus beberapa kali kesulitan menelan cairan saliva. Pemandangan yang terpampang jelas di depan mata tentu saja mengundang hasrat keperkasaannya. Sungguh menggoda.
"Dasar bajingan mesvm!" Lana melempari Axton dengan barang-barang yang terjangkau oleh tangannya.
"Hei! Hentikan, Naora!" Axton berusaha menangkis dan menghindar serangan lemparan bantal dan guling dari Naora. Namun, wanita itu malah semakin menjadi.
"Diamlah!" sentaknya kembali.
Tidak ingin keributan di kamar sampai memancing perhatian orang lain khususnya Lana, Axton mendekati tubuh ramping yang hanya berbalut pakaian dalam tersebut. Satu tangan besarnya dibuat mencekal kedua tangan Naora dan dilipatnya ke belakang, sementara tangan yang lainnya untuk membungkam bibir ranumnya.
"Aku bilang diam! Atau aku akan menghukummu!" gertak Axton.
"Hmmp! Hmmp!" Ternyata gertakan Axton seakan tiada arti. Naora yang berani dan tak gentar justru semakin meronta, menggerak-gerakkan tubuhnya, membuat Axton kesulitan menguasai keseimbangan. Dan--
Bruk!
☘
☘
☘
Bersambung~~
__ADS_1