
Happy birthday to you...
Happy birthday to you...
Happy birthday, happy birthday.
Happy birthday to you.
"Selamat ulang tahun, little princes-nya Papa dan Mama," ucapan selamat terdengar penuh sayang dari sepasang suami istri. Sebuah kue ulang tahun dan kado terbungkus kertas bermotif Teddy Bear, terulur tepat di depan gadis kecil beriris hazel.
Berselimut kebahagiaan, Naora meniup api lilin dan menerima bingkisan kado berupa kalung liontin itu seiring dengan senyuman pada bibir mungilnya yang mengembang sempurna. "Yeey..! Terima kasih Ma ... Pa, Naora sangat senang!" ucapnya setelah berhamburan ke dalam pelukan kedua orang tuanya.
"Naora sayang, maafkan Papa ya, karena harus pergi. Kelak jadilah wanita yang kuat dan tegar. Kasih sayang Papa akan selalu menyertaimu."
Seketika gadis kecil itu tertegun, karena sosok sang Ayah perlahan menghilang dari pelukannya. "Papa akan pergi ke mana? Sekarang hari ulang tahun Naora, kenapa Papa tidak menemani Naora saja di sini?"
Sekali lagi, Naora kembali dibuat tertegun karena isak tangis sang Mama tiba-tiba menyeruak ke dalam indera pendengarannya. "Ma ... kenapa menangis?" tangan kecilnya mencoba mengusap buliran bening yang membasahi pipi sang Mama.
"Naora sayang, jangan pernah tenggelam ke dalam kesedihan terlalu lama jika Mama sudah berada di tempat yang sangat jauh dari Naora. Percayalah, kamu tidak akan pernah sendiri. Akan ada banyak kebahagiaan yang akan Tuhan berikan kepadamu."
"Mama ... akan pergi ke mana? Apa Mama juga akan pergi bersama Papa? Naora ikut, Naora tidak ingin ditinggal sendiri."
Si gadis kecil mulai terisak di kala tubuh sang Mama perlahan berubah menjadi bayangan samar dan kemudian menghilang. Sepasang mutiara hazelnya yang sudah basah diajak mengedar ke sekitar, mencari keberadaan kedua orang tuanya. Namun, hampa dan kosong. Kedua sosok sumber kehangatan kasih sayangnya selama ini sudah tak lagi di depan mata.
"Mama! Papa! Naora ikut! Jangan tinggalkan Naora...!"
"Mama! Papa!"
Sepasang mata yang semula masih terpejam seketika terbuka sempurna, seiring dengan deguban jantung dan deru napas tak beraturan. Sebelah tangannya mengepal, menenggelamkan liontin kalung ke dalam genggaman.
Mengusap kasar muka bantal berhiasakan butiran keringat, Naora mencoba mengambil sepenuhnya nyawa yang mungkin saja sebagian masih tertinggal di Negeri Kapuk. Lalu ia merubah posisi terbaring ke dalam duduk. Tertunduk, menatap sendu sebuah liontin cantik di genggaman, benda kesayangan sekaligus hadiah terakhir dari kedua orang tuanya.
"Sepertinya aku sedang sangat merindukan kalian, makanya aku sampai bermimpi," monolognya, kemudian mencium liontin tersebut.
Wanita itu meregangkan otot-otot kaku pada tubuhnya seraya melihat ke arah jam dinding. "Ternyata sudah pukul 6."
Naora tercenung sejenak. Tiba-tiba teringat akan pernikahannya dengan Axton yang jauh dari kata baik-baik saja. "Akhirnya, satu malam sudah aku lewati di rumah ini. Haah! Aku tidak tahu, rumah ini akan jadi surga atau neraka bagiku."
Setelah mencuci muka, menyikat gigi, dan mengeluarkan sisa-sisa pembuangan makanan dari dalam tubuh, wanita bersurai coklat itu keluar dari kamar. Menyusuri koridor, melewati beberapa ruangan. Namun, ayunan tungkai perlahan melambat saat melewati kamar milik Axton dan Lana.
Sungguh, kebahagiaan tampaknya masih enggan berteman dengan Naora. Di awal paginya, wanita itu harus kembali dihadapkan oleh sesuatu yang menyesakkan dada. Kedua netra mulai memanas, selaras dengan pilu hati yang diremas.
Sayup-sayup, ia mendengar suara de.sahan dari dalam. Siapa pun pasti akan tahu kegiatan apa yang sedang berlangsung. Suatu aksi panas yang terjadi di antara sepasang suami istri.
Meski di dalam pernikahan, Naora sadar bahwa posisinya hanyalah sebagai seorang istri yang tak diinginkan, tapi ia tak menampik akan harapan sebuah keadilan akan cinta dan perlakuan baik dari seorang Axton. Bagaimanapun, dia juga seorang wanita dengan segumpal hati yang harus dijaga dan dihargai. Sampai kapan aku harus menelan siksaan batin ini? rintih batin merana Naora.
Dengan cepat, jemari lentiknya menyapu bingkai mata yang ternyata sudah mengembun. Tak ingin mengumbar kerapuhan diri Naora Alesha. Apa lagi di depan Axton Sander, si Tuan Muda arogan. Segera ia kembali melangkah menjauhi tempat itu, sebelum telinga polosnya ternodai oleh suara-suara menggairahkan bagi Axton dan Lana tapi begitu menyayat hati Naora.
Naora yang malang!
"Selamat pagi Bi Milah," salam pagi Naora dengan binar muka cerah, secerah langit kota Jakarta. Namun, siapa yang tahu kalau hatinya sedang bermendung kelabu derita.
Milah terhenyak, lantas sesaat berhenti berkutat dengan bahan-bahan makanan dan alat tempur dapur hanya untuk membalas salam pagi Naora yang terdengar bersemangat.
"Selamat pagi juga, Nak Naora." Mila membalas dengan senyuman hangat membingkai muka yang tak lagi muda.
Naora tampak memindai satu persatu bahan-bahan makanan yang teronggok di atas meja dapur. "Bibi mau masak apa?" tanyanya ingin tahu.
__ADS_1
"Seperti biasanya, Nak Naora. Menu sarapan di rumah ini harus menuruti kesukaan Nyonya Lana. Capjay goreng, sup tomat brokoli, daging sapi asam manis dan jus tomat," jelas Milah dan Naora hanya ber-o ria sebagai tanggapan.
"Nak Naora?"
"Iya Bi, ada apa?" Naora keheranan akan tatapan tak terbaca Milah yang tiba-tiba.
"Jika hatimu lelah dan sudah tidak baik-baik saja, bersandarlah kepada pundak Bibi," ucapnya yang tersirat akan sebuah bentuk simpati dan juga kepedulian untuk Naora. Semua orang dewasa tentunya akan mengerti bagaimana perasaan dari seorang istri yang tak dianggap.
Senyuman lebar terbit di bibir Naora, sebagai upaya mengelabuhi mata Milah. "Aku sangat baik-baik saja Bi. Aku masih bisa berdiri tegak dengan kedua kakiku, dan aku juga masih bisa tersenyum. Apakah ada yang lebih baik dari ini?"
Tersenyum lega, Milah membelai sayang punggung Naora. "Syukurlah, kau memang wanita kuat dan tegar."
Tidak Bi, aku tidak sepenuhnya kuat. Aku juga belum bisa dikatakan sebagai wanita tegar. Karena kenyataannya, hatiku terlalu rapuh hingga rasa sakit hati ini selalu membuat aku ingin menangis.
Di balik senyuman manis Naora, batinnya menjerit.
"Ya sudah, Nak Naora duduk dulu. Bibi akan membuatkan sarapan untukmu dan yang lainnya," tutur Milah.
"Aku akan membantumu, Bi, agar cepat selesai dan Bibi bisa segera beristirahat."
Alih-alih mendengarkan saran Milah untuk duduk manis di bangku meja makan sembari menunggu masakan matang, Naora malah mulai berjibaku dengan sayur-sayuran. Menyibukkan diri dan mulai memotong.bahan-bahan dengan cekatan.
Nyonya Lana bahkan tidak pernah membiarkan tangan mulusnya menyentuh pisau dapur selama ini. Sangat berbeda dengan Naora. Batin Milah.
Selang dua jam kemudian, semua menu sarapan kesukaan Lana sudah tersaji di atas meja makan. Ketepatan dengan itu, Axton dan Lana tampak menuruni tangga dengan langkah beriringan. Rona segar dan cerah juga menghiasi muka keduanya.
Sesekali Lana cekikikan seraya memberi cubitan manja karena Axton menggodanya. Pasangan romantis itu seolah sengaja memamerkan kemesraan di depan Naora yang tampak bersikap acuh dan tenang.
"Selamat pagi, Tuan Muda dan Nyonya Lana," salam Milah.
"Selamat pagi juga, Bi," respon Lana sementara Axton hanya tersenyum tipis.
"Selamat pagi, Naora," Lana pun memberi salam yang terlihat ramah kepada Naora.
Berbeda dengan Lana yang bersikap manis, Axton justru memasang muka masam kepada Naora. "Sepertinya suasana sarapan kali ini akan sangat buruk," sindir Axton ditujukan kepada istri ke-duanya. Sayangnya, orang yang dimaksud justru terlihat masa bodoh dan memilih memberi makan cacing-cacing kelaparan di perutnya.
"Bi Milah mau ke mana? Makanlah bersama kami," pinta Naora, menghalau langkah wanita tua itu agar tidak pergi.
Axton terkesima akan tindakan Naora. Selama ini, Lana bahkan tidak pernah meminta wanita yang sudah berjasa mengasuh dan menemaninya dari kecil itu untuk makan di meja yang sama dengan mereka.
"Nak Naora, Bibi akan makan di dapur saja bersama pelayan yang lainnya," tolak milah dengan halus.
"Kenapa? Apa Bibi merasa tidak pantas makan di sini?"
Milah terdiam dengan senyuman yang masih tersemat di bibir. Ingin sekali dia menjawab 'iya' namun nyatanya satu kata itu hanya mampu berhenti di ujung lidah.
"Bukankah Bibi yang sudah mengasuh Tuan Muda arogan itu dari kecil? Jasamu sangatlah besar. Posisimu sudah seperti ibunya. Jadi Bibi sangat pantas makan bersama kami," ucap Naora, lalu melabuhkan pandangannya ke Axton yang diam-diam terkesima. "Bukankah begitu, Axton? Harusnya kau juga tahu hal itu."
Sungguh tindakan Naora kali ini membuat posisi Axton dan Lana terkesan buruk.
"Nak Naora, ini memang kemauan Bibi. Jadi--"
"Bi, makanlah bersama kami. Duduklah," titah Axton, memotong ucapan Milah yang belum tuntas.
Sudah hafal dengan sifat Axton yang membenci penolakan, Milah memilih langsung menuruti perintahnya. Dan akhirnya ritual mengisi perut di pagi hari dimulai. Lana tampak beberapa kali menyuapi Axton dengan berbagai menu kesukaanya itu.
Diam-diam, Naora menyadari ekspresi Axton yang terkesan terpaksa menelan semua makanan yang terus tersodor di depan mulutnya.
Bodoh! Demi menyenangkan hati Lana, Axton rela menyiksa dirinya. Kalau tidak bisa memakannya seharusnya bicara jujur, -kan punya mulut. Dan apa ini? Apa Lana tidak bisa membaca mimik muka Axton yang terlihat menyedihkan itu?
__ADS_1
"Lana sayang, sudah cukup menyuapiku. Kau juga harus makan sekarang. Aku tidak ingin kau sakit," ucap Axton.
"Baiklah kalau begitu." Lana lantas mulai menyantap sup tomat brokoli kesukaannya.
"Uhuk! Uhuk!"
"Lana makanlah dengan pelan-pelan. Ini minumlah!" Axton gegas memberikan minuman kepada Lana yang masih terbatuk-batuk.
Sementara Naora dan Milah tampak keheranan.
"Uhuk! Uhuk! Honey, sepertinya sup ini mengandung banyak bubuk merica. Kau -kan tahu sendiri, kalau aku tidak suka dengan bubuk merica. Uhuk! Tenggorokanku sampai sakit!" Lana mengadu.
"Bi Milah, kenapa kau meletakkan bubuk merica.ke dalam sup?" tanya Axton kepada Milah.
"Maaf, itu salahku. Aku tadi membantu Bi Milah masak dan tidak tahu kalau istrimu itu tidak menyukai bubuk merica," sela Naora untuk mengakui kesalahannya. Jujur, ia merasa tidak enak hati.
Axton seketika geram. "Apa kau itu bodoh?! Seharusnya kau bertanya dulu kepada Bi Milah! Baru sehari di tinggal di rumah ini tapi sudah bertindak sok pintar!" hardiknya dan sukses membuat Naora terkejut.
"Maaf."
"Uhuk! Honey ... uhuk!" Lana terus mengeluh, dan hal itu kian menyulut api amarah Axton terhadap Naora.
"Sekedar kata maaf tidaklah cukup! Kau harus menerima hukuman yang setimpal!"
Prank..!
"Aahkk..!" Naora seketika terpekik bersamaan dengan tubuh yang terjingkat saat Axton menumpahkan semua sup panas ke tubuhnya.
"Nak Naora!" pekik Milah yang ikut terkejut.
Sakit! Rasa panas karena kulit yang terbakar nyatanya tak mengalahkan rasa sakit di hati. Andai yang melukainya bukan suaminya sendiri mungkin gores lukanya tak sedalam ini. Ingin rasanya ia menangis histeris saat ini. Akan tetapi keinginannya itu harus di pendamnya dalam-dalam hingga terpatri.
"Honey ... redamkan emosimu. Aku tidak apa-apa." Lana mencoba menenangkan Axton.
"Dia memang harus diberi pelajaran untuk kesalahan yang diperbuat!"
☘
☘
☘
Bersambung~~
Ditergen: Tahu nggak Thor?
Thor: Kagak!
Ditergen: Belom selesai. Dengerin dulu gue ngomong🤨 (lempar sepatu)
Thor: ogah!
Ditergen: Thor..!
Thor: Iye ... iye, kenape?
Ditergen: Tu si Axton kejamnya perfect najis audzubillah, pasti karena othornya juga sadis di real life -kan?
Thor: Iye, gue kanibal, suka makan orang kalau marah. Ya ... minimal suka ngerobohin gedung lah. Dan habis ini lu yang jadi korbannya.
__ADS_1
Ditergen: 😱😱😱😱😱😱
Salam sayang dari Nofi untuk kalian..❤ Dan terima kasih atas dukungannya. Lop lop you sekebon pisangnya pak Camat😘