
Seperti biasanya, semua staff karyawan akan meletakkan sejenak pekerjaannya di saat jam istirahat. Sebagian besar dari mereka memilih menuju ke kantin untuk memberi makan pada cacing-cacing lapar di perut.
Di meja kerja sekretaris yang terletak bersebelahan dengan ruang CEO, Naora tampak masih bersibaku dengan pekerjaan yang baru saja dipelajarinya. Tentunya tidak lepas dari pengarahan sekretaris senior, Bella.
"Naora, ini sudah waktunya jam istirahat. Kita ke kantin bersama, yuk," ajak Bella. Kendati ia bekerja lebih lama di perusahaan tapi tidak ada sikap senioritas buruk yang ditunjukkan kepada Naora. Justru sikap ramah dan sabar yang dia sematkan pada diri, apalagi di saat membimbing karyawan baru.
Memang tidak dapat dipungkiri. Senioritas merupakan masalah yang sering dijumpai dalam suatu organisasi, dunia kerja, bahkan dunia pendidikan. Banyak dari mereka menyalah gunakan istilah 'senioritas' untuk bertidak sewenang-wenang, merendahkan, dan bahkan merenggut hak para juniornya.
Mungkin kita perlu meminta tolong kepada mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti agar menenggelamkan pelaku senioritas yang merabak ke seluruh penjuru negeri tercinta kita ini.
Oke. Kembali ke laptop!
Bibir Naora yang sudah sedikit terbuka dan siap untuk berucap kembali terkatup saat Nathan menemuinya. Gegas ia beranjak dari duduk dan begitu juga dengan Bella.
"Selamat siang, Tuan." Kedua wanita itu mengucap salam secara bersamaan.
"Siang," balas Nathan, lengkap dengan bentuk bibir melengkung menyerupai bulan sabit.
Pria berparas teduh itu menggiring atensinya kepada wanita berkaca mata di sebelah Naora. "Bella kau bisa menuju ke kantin sekarang. Naora akan pergi bersamaku."
"Baik, Tuan." Tak ingin pikiran buruk merajai isi kepala, apalagi membiarkan hati diselimuti perasaan tak patut ada, Bella langsung mematuhi perkataan si atasannya. Meninggalkan Nathan dan Naora di sana.
"Kau pasti sudah lapar, sebaiknya kita pergi mencari makan sekarang."
"Baik Tuan."
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, kendaraan besi yang dikemudi Nathan sudah terparkir cantik di sebuah pelataran restauran langganan.
"Biarkan aku membantumu, Naora." Nathan mencondongkan tubuhnya, lalu membawa tangan bergerak cekatan untuk melepaskan seat belt yang melingkari perut Naora. Ia seolah tak memberi kesempatan pada si wanita untuk menolak niat baiknya.
"Terima kasih, Tuan. Tapi tak seharusnya anda merepotkan diri untuk hal kecil seperti ini. Saya bisa melakukannya sendiri." Naora merasa tindakan majikannya itu memang sedikit berlebihan.
Pria beriris hitam legam itu, menoleh ke arah Naora. Hingga hanya tersisa sedikit ruang di antara muka mereka. Dan di saat itu juga, ia kembali mengagumi kecantikan yang memenuhi ruang pandangannya.
Andai saja boleh, pasti sudah aku ... ah! Jangan lancang Nathan. Itu bisa memberimu nilai buruk di depannya.
"Aku tidak merasa repot. Menurutku ini malah menyenangkan. Dan berapa kali kau harus kuingatkan untuk ersikap santai di depanku ketika berada di luar kantor?"
"Tapi, Tuan--"
__ADS_1
"Panggil aku Nathan." Ia menyela ucapan Naora dengan cepat.
"Nathan," lirihnya. Sepertinya ia mulai mengambil sikap santai.
"Hm?" respon Nathan dengan tersenyum simpul.
"Bisakah kau sedikit menjauh? Kau terlalu dekat." Ia terlihat tidak nyaman saat muka Nathan begitu dekat. Ditambah lagi sapuan hangat napas Nathan yang terasa di pipi, membuatnya ingin segera keluar dari situasi yang seharusnya tak boleh terjadi.
Ucapan Naora menyadarkan posisi Nathan seketika. Ditariknya tubuh yang semula masih mendoyong ke arah si wanita.
"Ah, maaf." Pria itu terlihat kikuk, begitu juga dengan Naora. "Baiklah, kita masuk ke restauran sekarang," imbuhnya lagi mencoba mencairkan suasana canggung.
"Iya."
"Tunggu sebentar, biar aku yang membukakan pintu untukmu."
"Tidak perl--"
Lagi-lagi Nathan bergerak cekatan. Tak menghiraukan ucapan Naora yang barang tentu sebuah penolakan. Pria itu, seakan ingin memperlakukan Naora seperti putri bangsawan.
Manis sekali bukan?
Tidak sampai di situ saja, perlakuan manis masih berlanjut ketika berada di dalam restauran. Nathan membukakan kursi untuk si wanita dan mempersilahkannya duduk.
Terus terang ... Naora sempat terkesima. Nathan sangat pintar menyenangkan wanita. Membuatnya mengandai-andai sekilas tentang suaminya.
Andai ... Axton bisa bersikap seperti Nathan, pasti aku akan senang dan merasa dihargai.
Naora sontak berhenti dari lamunan, saat Nathan terlihat sedang memanggil seseorang.
"Axton! Wah ... kebetulan kau juga berada di sini. Bergabunglah dengan kami." CEO Alexindo Corp. itu terlihat antusias.
"Apa perlu?"
Otak Naora seketika menyelidik saat lidah Nathan menyebut sebuah nama yang sangat familiar di telinga. Di tambah lagi suara bariton yang menguar dari belakang, membuatnya yakin bahwa dia tidak salah mengira.
Wanita itu tiba-tiba merasa hawa dingin yang mencekam di punggungnya. Bulu kuduknya seketika meremang hingga naik ke ubun-ubun kepala. Perlahan diputar lehernya, hingga muka super dingin tak bersahabat memenuhi ruang matanya.
Ternyata benar Axton. Hish! Apa urat-urat di mukanya sudah putus semua? Mukanya terlihat kaku dan sangat dingin, batin Naora.
Jadi ini alasannya ia berani menolak ajakan makan siangku tadi! Awas kau Naora ...! Axton geram di dalam hati.
__ADS_1
Pandangan mereka saling bertaut, hingga suara Nathan kembali menjalar di udara.
"Ayo duduk. Apa kau tidak capek berdiri terus?"
Sama sekali tidak ada niat penolakan akan tawaran Nathan, Axton justru tampak tertarik bergabung di satu meja dengan mereka. Ia lantas menarik satu bangku yang terletak di sebelah Naora. "Baiklah jika kau memaksa."
"Tunggu! Kau duduklah di sebelah sini. Aku akan berpindah ke sana," sela Nathan, menghalau Axton agar tidak duduk terlebih dahulu. Rupanya ia ingin duduk di samping Naora dan meminta Axton menempati kursi yang berada di seberang meja.
Dengan perasaan dongkol, Axton mau tidak mau menuruti permintaan sahabatnya. Ia mengitari meja lalu menarik bangku dan mendaratkan tubuhnya.
Di antara Axton dan Naora, tidak ada satu dari mereka yang membuka mulut tentang hubungan mereka di depan Nathan. Keduanya terlihat seolah tidak saling kenal. Bukan ingin menutupi. Bukan!
Axton masih sibuk dengan perasaan panas di hati. Apalagi mengingat alasan penolakan Naora yang ternyata demi pria lain, yang tak lain sahabatnya sendiri.
Sementara Naora ... entahlah, dia bahkan tak berpikir untuk mengungkit hubungannya dengan Axton di depan Nathan saat ini. Malas saja.
"Kau datang sendiri?" tanya Nathan kepada Axton yang sedari keberadaannya mampu menjadi pencair suasana di antara ketiganya. Tentunya tanpa ia sadari.
"Tidak, aku datang bersama istriku."
"Istrimu yang mana? Bukankah istrimu ada dua?" celetuk Nathan berupa pertanyaan sindiran.
"Mana yang kau harapkan datang?" Axton malah balik bertanya.
"Jujur, aku ingin bertemu dengan istrimu yang baru."
β
β
β
Bersambung~~
Wah! Akhirnya bisa up. Meski cuma 1000 kata dan juga sangat terlambat. Tapi bukankah itu lebih baik dari pada nggak up sama sekali hari ini?
π€£ Nofi ngarep pujian lo ini, karna bisa up.π€£
Bercanda kawanβ
Terima kasih ya kalian masih bersedia menyisihkan waktu berharga kalian untuk memantau kisah Axton dan Naora. Terima kasih juga karena kedermawaan kalian dalan memberi dukungan pada karya ini.
__ADS_1
Lope lope you sekebon jagung, pisang, dan terong..ππ