Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Melarikan Diri


__ADS_3


"Apa yang akan kau lakukan?" Axton langsung mencegah tangan seorang asisten dokter kandungan yang hendak menyingkap baju bagian perut Naora.


Kalau saja si asisten dokter adalah seorang wanita, mungkin calon ayah muda itu tidak akan bertingkah berlebihan. Ia sangat tidak suka jika bagian tubuh sang istri dilihat oleh pria lain meski semua itu hanyalah sebuah bentuk formalitas prosedur pekerjaan.


Sang dokter wanita dan asistennya tampak terperangah dengan sikap suami pasien mereka. Bahkan si asisten seketika gelagapan karena tatapan kilat tajam Axton yang seolah ingin memangsanya. Sementara Naora yang sudah terbaring di ranjang periksa juga langsung geleng kepala.


"Maaf, Tuan. Asisten saya akan membantu dalam pemeriksaan kandungan istri anda. Harap tenang ya." Dengan ramah sang dokter mencoba menjelaskan sekaligus meminta pengertian.


Sesaat Axton duduk terdiam di samping sang pujaan hati. Pria itu seolah sudah bisa mengerti, tapi ternyata ia berulah lagi.


"Jangan sentuh istriku. Biar aku saja yang melakukannya," cegah Axton saat si asisten dokter itu hendak kembali menyingkap baju Naora. "Bisakah kau keluar saja?" pintanya dengan aura dingin.


Ah iya ... Axton itu adalah salah satu makhluk Tuhan yang jarang meminta, tapi lebih tepatnya menitah!


"Tapi Tuan--"


"Katakan saja apa yang harus aku lakukan?" Axton langsung memotong ucapan dokter.


"Axton ... kau jangan begitu." Naora turut meminta pengertian.


"Tapi, Naora ... dia seorang pria. Bagamana bisa aku membiarkan dia melihat tubuhmu?"


Naora mendadak ingin tepuk jidat melihat sikap posesif suaminya. Saat ini ia juga merasa malu di hadapan dokter.


"Baiklah, Tuan. Saya akan meminta dia untuk berada di luar sementara." Dokter rupanya mencoba menaruh pengertian, sedetik kemudian ia memberi isyarat kepada asistennya untuk keluar ruangan.


Menghela napas ringan, Naora seketika merasa lega. Beruntung sang dokter tidak terlalu mempermasalahkan sikap berlebihan suaminya. Kalau tidak, mungkin ia akan pulang dengan sebungkus kresek di kepalanya.


Untuk apa?


Untuk menutup malu lah!


Seolah langsung paham tanpa dijelaskan, Axton menyingkap baju atasan Naora hingga sebatas bawah dada. "Katakan, apalagi yang harus aku lakukan?" tanyanya dengan nada bicara khas seorang Axton. Dingin dan terkesan arogan.


"Selanjutnya biar saya saja yang melakukannya, Tuan. Anda duduklah dengan nyaman dan dampingi istrinya, ya," tutur ramah sang dokter.


Wanita yang mengenakan pakaian serba putih itu mulai mengoleskan gel pelumas di perut Naora. Kemudian menempelkan alat transduser pada bagian kulit yang sudah diolesi gel sambil digerak-gerakan.

__ADS_1


"Tuan, Nyonya, lihatlah di layar." Dokter mengarahkan perhatian sepasang suami istri itu ke arah layar besar yang terpasang di dinding.


Axton dan Naora langsung menggiring pandangan ke arah layar dengan sangat antusias.


"Ini adalah kantong bayinya. Ukuran janin masih sebesar buah ceri. Karena usia kandungan sudah memasuki minggu ke tujuh, beberapa proses pembentukan di beberapa organ seperti kontur mata, hidung, mulut, telinga, dan beberapa bagian lain di wajah bayi mulai terbentuk. Dan ini tangan dan kakinya juga sudah tumbuh dan terlihat seperti dayung. Coba kalian dengar, detak jantungnya juga normal," jelas dokter dengan sabar.


Hati kedua calon orang tua itu seketika bermandikan rasa haru. Getaran di dada mewakili kebahagiaan baru. Tak mampu mengelak, dua pasang bingkai jendela hati mereka pun mengembun karena dorongan rasa kalbu.


"Axton ... itu anak kita," ucap Naora dengan keharuan tak terkira.


"Iya Sayang. Itu buah cinta kita." Axton beberapa kali menghadiahi kecupan sayang di pelipis sang istri sebagai bentuk curahan hatinya yang sedang berbahagia. "Aku mencintaimu, Naora." Pria itu bersikap tanpa menghiraukan keberadaan dokter yang sedang memperhatikannya.


Selang beberapa lama, Axton tampak menuntun Naora keluar dari ruang pemeriksaan. Binar bahagia sepasang anak manusia itu terus mengulas indah di wajah mereka.


"Naora, mendekatlah." Axton langsung menenggelamkan tubuh Naoa ke dalam pelukannya sesudah memasuki mobil.


"Kau kembali mual?" tanya Naora yang langsung bisa mencerna keadaan.


"Iya, aku sedari tadi menahan mual. Bau rumah sakit sangat menjijikkan." Pria itu menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Naora, menghirup rakus aroma tubuh wanita itu yang selalu sukses menjadi obat pereda mualnya.


"Axton, ini masih di mobil. Tahan dulu sampai di rumah." Naora langsung memberi peringatan saat tangan suaminya mulai menelusup di balik cangkang gunung kembarnya.


"Kau itu modus!"


"Bukan modus, Naora sayang ... tapi menyelam sambil minum susu. Mengobati mual sekaligus menuruti nafsu. Aw!" Axton mengaduh kesakitan saat Naora mencubit gemas perut kerasnya.


"Mesummu sungguh luar biasa, Axton!"



"Kenapa kau tidak mau turun? Apa ada yang salah?" Nathan kebingungan melihat reaksi Jovana yang masih keukuh tidak mau keluar dari mobil.


Padahal sebuah bangunan restauran mewah sudah menanti kedatangan mereka. Nathan juga sudah menyiapkan segala macam rupa yang berbau romantis untuk mempermanis suasana lamarannya.


Namun, sepertinya apa yang sudah disiapkan terancam berakhir sia-sia. Jovana benar-benar tidak menginginkannya.


"Jovana ... katakanlah. Kau kenapa? Apa yang kau inginkan?"


"Dinner mewah, candel light, makanan lezat, bunga, cincin, alunan musik romantis, dll. Aku tahu kau pasti sudah menyiapkannya di dalam sana. Tapi bukan itu yang aku mau, Nathan."

__ADS_1


"Coba katakan, biar aku mengerti," pinta si pria dengan nada lembut dan hati-hati. Tidak ada kekecewaan yang mengiringi, kendati Jovana menolak kejutan yang sudah dipersiapkan tadi. Bahkan saat ini ia malah tidak ingin membuat wanita itu tersakiti.


"Diterima atau tidaknya ajakan menikahmu tergantung restu dari kedua orang tuamu." Raut penuh makna terpahat jelas di wajah cantik Jovana.


"Baiklah, kalau itu maumu."


Tidak ingin membuang lebih banyak waktu lagi. Dan persetan dengan persiapan dinner romantis yang sudah menanti. Lupakan! Karena itu sudah tidak berarti. Tujuan utama Nathan kali ini hanya ingin segera menjadikan Jovana istri. Pria itu gegas meraih ponsel lalu menelepon seseorang yang sangat ia sayangi.


"Halo?" Gelombang suara lembut Rosa langsung terdengar setelah permintaan panggilan tersambung.


"Mama, Nathan akan datang membawa seseorang. Tolong kasih tahu Papa juga. Siapkan diri kalian ya." Tanpa basa-basi, pria bermata teduh itu langsung mengatakan inti dari tujuannya menelepon.


"Kau akan membawa siapa, Putraku?"


"Singa betina."


"APA?! "



Ayunan kaki seorang petugas kesehatan rumah sakit terlihat mendekati salah satu kamar perawatan pasien. Ia berniat memantau ulang perkembangan kondisi pasien yang sudah beberapa hari belum sadarkan diri.


"Ya Tuhan ...!" Petugas kesehatan yang berprofesi sebagai perawat itu langsung menjerit saat sepasang matanya disuguhkan oleh pemandangan yang mengejutkan.


Seorang petugas kepolisian berjenis kelamin wanita tampak tergeletak di lantai dengan bersimbah darah. Keadaannya sangat miris dipandang. Perutnya robek dan muka penuh dengan luka sayatan benda tajam. Di samping korban, juga terlihat sebuah pecahan kaca kamar mandi yang diduga dijadikan senjata.


Perawat itu mencoba memeriksa denyut nadi korban, tapi ternyata sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Petugas kepolisian yang bertugas mengawasi seorang pasien bernama Lana itu sudah tewas.


Diedarkannya pandangan ke sekeliling, mencari keberadaan Lana yang rupanya sudah tidak berada di ruangan. Hembusan angin yang menyapu kulit langsung menarik perhatian si perawat untuk mendeksti jendela yang terlihat terbuka.


Keterkejutan kembali menyergap saat melihat sebuah tali yang terbuat dari potongan seprai dan tirai terjuntai di luar jendela. Kemungkinan besar, Lana kabur melalui ventilasi ruangan tersebut.





Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2