
"Lana?! Kau kenapa?!"
Naora tampak panik, sementara ponselnya masih menempel di telinga. Apa yang terdengar di balik panggilan telepon seolah tengah menggambarkan suasana yang sedang tidak baik-baik saja. Ia bahkan beberapa kali mendengar suara mengaduh Lana.
"Baiklah, aku akan kasih tahu Stefan untuk segera ke sana." Naora mengakhiri panggilannya setelah lawan bicaranya memberi tahu tempat di mana ia berada sekarang.
"Nona, sebenarnya ada apa?" Tanya stefan yang memang belum beranjak dari sana sedari tadi.
Menghela napas untuk membuang kecemasannya, Naora pun menjawab. "Katanya Lana baru saja terjatuh hingga terluka. Ia tadi mencoba menghubungimu agar segera menjemputnya tapi tidak kau angkat. Makanya dia menghubungiku. Dia berada di tempat favoritnya seperti biasa. Aku tidak tahu di mana itu, tapi katanya kau sudah tahu," jelas Naora.
Stefan tampak terkejut seolah merasa bersalah akan ketidakbecusannya dalam bekerja. "Baiklah, saya akan segera menjemput Nyonya Lana," pamitnya langsung karena tidak ingin mengulur-ulur waktu.
"Aku ikut denganmu, Stefan. Aku ingin melihat keadaan Lana."
Langkah Stefan seketika terhenti. Diam-diam batinnya tertegun. Ternyata semudah itu membuatnya terpancing agar mau ikut. Tidak perlu menggunakan adegan paksa, cukup memanfaatkan titik rasa simpatinya saja. Astaga, dia wanita yang baik. Memiliki sisi kemanusiaan yang tinggi. Hanya manusia tak berhati yang tega menjahatinya. Dan aku salah satu dari manusia itu. Andai keselamatan calon bayiku tidak terancam, mungkin ... ah sudahlah!
…
Di sebuah kawasan lahan kosong yang terletak di pinggiran ibu kota.
"Bagaimana keputusan anda tentang calon lahan untuk proyek terbaru kita, Tuan," tanya Wildan.
"Mulai sekarang urus semua syarat pembebasan lahan untuk mencapai kesepakatan," titah Axton.
"Baik, Tuan," jawab si asisten lalu membututi sang atasan masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan kembali ke perusahaan, Axton kembali menyibukkan diri dengan benda pipih berukuran 10 inci di tangannya. Sepasang lensa matanya tampak menyidik hasil rekaman CCTV secara seksama. Hingga dua garis vertikal di antara kedua pangkal alisnya mewakili sebuah tanda tanya besar di atas kepala.
"Sejak kapan semua CCTV di setiap sudut bangunan belakang rusak?" lirihnya hampir menyerupai bisikan. Usapan jari pada dagunya seakan menuntut otak untuk bekerja lebih keras.
"Sial! Karena terlalu sibuk dengan perusahaan aku jadi meremehkan hal kecil seperti ini." Axton merutuki dirinya sendiri karena sudah betindak lengah. Bahkan beberapa CCTV di rumah itu sudah lama rusak dan dia baru tahu sekarang.
Axton mengakhiri kesibukannya ditandai dengan layar iPad yang menggelap. Diletakkanya benda pipih itu di bangku penumpang sebelahnya seiring dengan otak yang mulai merekap. Dia mulai mengumpulkan semua potongan celah mencurigakan yang tertangkap.
Sepasang mata elangnya melepas pandang ke luar kaca jendela mobil dengan pikiran menerawang. Begitu banyak hal yang berkecamuk ke dalam pikirannya sekarang.
Axton tiba-tiba tertarik dari lamunannya saat mata tanpa sengaja melihat sosok seseorang yang tampak berdiri di pinggir jalan. Mobil terus melaju, membuatnya harus memutar leher ke belakang untuk memastikan bahwa dia tidak salah melihat.
"Hentikan mobilnya," titah Axton kepada si sopir setelah yakin dengan apa yang dilihat.
Sementara di sudut lain. Dengan disopiri Stefan, Naora sudah dalam perjalanan menuju tempat Lana berada. Namun, laju mobil yang membawanya tiba-tiba melambat dan menepi hingga ke empat roda menjejak pada rerumputan di luar badan jalan.
"Kenapa berhenti? Apakah kita sudah sampai?" Naora bertanya kepada Stefan. Wanita itu mengedar pandangan hingga pemandangan di luar jendela membuatnya tidak yakin bahwa ia sudah sampai tujuan.
Saat ini mereka sedang berada di kawasan sepi yang jauh dari permukiman warga. Di bahu kanan kiri jalan hanya ada hamparan lahan ilalang dan beberapa bangunan terbengkalai tak bertuan.
__ADS_1
"Sepertinya mobil kita mogok. Saya akan keluar sebentar untuk memeriksa mesinnya," ucap Stefan.
"Baiklah."
Tidak lama, wanita itu terkejut melihat asap mengebul dari kap mobil setelah Stefan membukanya. Dia langsung berhamburan keluar di saat itu juga. Mengantisipasi akan kejadian buruk yang tak terduga.
"Mobilnya kenapa, Stefan?" Naora mulai panik.
"Mobil mengalami overheat karena air radiator kehabisan, Nona."
"Ya Tuhan ... lain kali kau harus lebih berhati-hati dan rajin memeriksa mesinnya, Stefan. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu saat berkendara?"
Tertegun, sebentuk perhatian sederhana Naora yang tertoreh di setiap kalimatnya, membuat hati kecil pria itu tertampar. Hingga keraguan pada dirinya kembali menguar.
Lana bahkan tidak pernah seperhatian itu kepadaku. Kenapa dia yang orang lain justru peduli?
Batin sesaat mulai goyah. Namun, gegas ia menguatkan kembali kemantapan hati yang sempat melemah. Keselamatan calon bayinya bisa terancam jika ia berhenti dan menyerah.
"Maaf, Nona." Stefan memasang mimik bersalah. "Kalau begitu saya akan mencari air untuk mengisi radiator," imbuhnya lagi.
"Apa tidak ada air di mobil?"
"Tidak ada, Nona."
Naora menggiring sepasang mutiara hazelnya untuk menyapu lingkungan sekitar. "Sepertinya kita sekarang berada di tempat yang jauh dari permukiman warga, Stefan. Terus bagaimana kamu bisa mendapatkan air? Apa sebaiknya kita panggil mesin derek saja?"
"Ya sudah kalau begitu. Aku akan menunggumu di sini," ucap Naora.
"Nona Naora sebaiknya menunggu di seberang jalan saja. Jangan terlalu dekat dengan mobilnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan." Stefan memberi saran dan langsung disetujui wanita itu tanpa berpikiran buruk sedikitpun.
Kaki dibawa berjalan mendekati bangunan yang dituju. Di sela ayunan tungkainya, Stefan kembali merasa ragu. Entah mengapa, hati terasa berat untuk melanjutkan rencana durjananya itu. Namun, lagi-lagi bisikan setan kembali berseru. Membuat langkahnya terus melaju.
Pria itu tampak memindai keadaan lingkungan. Sepasang mata diajak berjaga-jaga, tidak ingin orang lain melihat gelagatnya yang mencurigakan. Kemudian ia masuk ke halaman bangunan.
"Kenapa kau lama sekali?! Badanku sampai gatal-gatal karena digigit nyamuk," sengit Lana yang rupanya sudah berada di bangunan kosong itu lebih dulu.
"Aku sudah menyarankan agar kau di rumah saja 'kan?"
"Tidak! Aku tidak ingin melewatkan momen yang sudah kutunggu-tunggu. Mataku ini harus menyaksikannya sendiri."
"Tapi kau sedang hamil, Lana."
"Persetan dengan kehamilanku!" hardik wanita itu lalu mencoba memberi instruksi kepada orang suruhan melalui panggilan telepon.
Sementara Stefan, rasanya tidak terima dengan ucapan Lana barusan. 'Persetan dengan kehamilanku', kalimat itu seolah menusuk perasaannya sebagai calon seorang ayah.
"Bagus! Kurang sedikit lagi, rencanaku berhasil!" Lana sedang berada di atas awan sekarang. "Kemarilah, Stefan! Kau juga harus menyaksikannya. Di sana! Coba kau lihat. Truknya sudah terlihat dan siap menabrak wanita benalu itu." Lana tampak bersemangat seolah melihat nyawa orang dipermainkan adalah hal yang menyenangkan.
__ADS_1
Lana terus mengamati Naora dari kejauhan. Tanpa ia sadari, rasa gamang sedang mengganggu Stefan. Keraguan pun kian merajai pikiran.
Suara hatinya terus berkoar seolah sedang berunjuk rasa. Melayangkan protes akan rencananya yang durjana. Hingga sisi kemanusian tumbuh begitu saja.
Stefan kian dibuat cemas saat melihat jarak truk yang terus melesat ke arah Naora sebagai sasaran kian terpangkas. "Aku sudah tidak tahan, Lana. Aku harus menolongnya!"
"Apa yang kau katakan, Stefan?! Jangan gila! Rencanaku hampir berhasil!"
Sayangnya, pria itu seolah tuli. Ia kini sudah tidak peduli akan kemarahan sang istri. Baginya menyelamatkan Naora lebih penting saat ini.
Pria itu langsung berlari cepat mendekati Naora seraya berseru agar Naora tahu. Ia seolah sedang adu kecepatan dengan sang waktu. Tidak ingin semuanya terlambat dan berakhir dengan sesal yang bertalu.
"Stefan ...! Berhenti!" panggil Lana seraya berteriak.
"Stefan ...!"
Aaahkk ...!
Brak ...!
Lana seketika membalak sempurna. Ia terkejut luar biasa melihat pemandangan berdarah di depan mata. Tubuhnya mendadak lemas di saat itu juga.
"Ini tidak mungkin."
☘
☘
☘
Bersambung~~
Nofi mau curhat sedikit ya🥰
Mungkin banyak dari para reader yang mengeluh tentang kebusukan Lana yang tidak segera terbongkar. Bahkan ada yang berkomentar bahwa si kang ketik sengaja mengulur-ngulur dan memperpanjang bab cerita hingga karya ini kurang berbobot.
Dan seperti ... sinetron di ikan terbang🤣
Nggak kok sayangku, Nofi hanya menulis sesuai alur yang sudah ditetapkan. Dan sebenarnya prediksi awal karya ini bakal tamat hingga mencapai 80 bab saja. Ternyata semua tidak sesuai ekspetasi. Waktuku untuk menulis di sini tidak nutut, jadi yang seharusnya 1 bab itu jumlah katanya panjang, mau tidak mau terpotong dan dilanjutkan ke bab berikutnya. Yang seharusnya 1 bab mau tidak mau menjadi 2 bab.
Belum lagi Nofi hanya bisa up 1 episode sehari. Jadi kesannya ceritanya sangat lamban. Tapi gimana ya, Nofi juga nggak bisa memaksa tubuhku untuk up double😩
Setidaknya Nofi harus menyisihkan 3 jam untuk waktu tidurku. Kalau nggak tidur bisa kejang Nofi nanti🤣
Oya kebusukan Lana bentar lagi terkuak kok.
Terima kasih ya kalian masih setia menyimak karyaku yang kurang berbobot ini. Tapi percayalah, Nofi nulisnya sudah dibaik-baikin. Menulis sesuai aturan PUEBI. Pilihan katanya juga Nofi perhatiin kok.
__ADS_1
Okey. See you next chapter. lop you😘