Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Amarah Di Dalam Mobil


__ADS_3


Seorang wanita tampak duduk di depan cermin meja rias kamar hotel, menunggu kedatangan seseorang yang diharapkan akan membawa kabar gembira. Hingga atensinya beralih kepada suara daun pintu yang terbuka.


Dia sontak beranjak dari duduknya, lalu mendekati si pria yang baru saja masuk ke kamar. Dengan mimik muka penuh harap, dilisankan pertanyaan dengan perasaan tidak sabar.


"Bagaimana Stef, apa kau berhasil?"


"Duduklah dulu, Lana." Stefan menuntun wanita itu duduk di bibir ranjang.


"Cepat katakan, Stef. Jangan buat aku penasaran," desak Lana.


Stefan menghela napas ringan terlebih dahulu sebelum akhirnya membawa lidah untuk berkata. "Seperti yang kita duga. Axton langsung datang menemui Naora dan Nathan, setelah aku mengirim foto kedekatan mereka ke dia."


"Terus?"


"Axton sangat murka."


Laporan yang diterima, sukses mencetak seringai kepuasan di bibir Lana. "Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak kepadaku. Tidak kusangka kalau akan bertemu dengan Naora dan Nathan di hotel ini. Hingga kita bisa memanfaatkan kesempatan. Saat ini, Axton pasti sedang memberi pelajaran kepada wanita ja.lang itu. Aku sangat mengharapkan hal itu terjadi, hingga hubungan mereka selalu panas dan tidak pernah akur."


Selayaknya seseorang yang memiliki kepribadian ganda, secepat kilat muka sinis Lana berubah sendu. Bahkan sepasang netranya sudah terlihat basah karena air mata pilu.


"Sebenarnya aku kasihan dengan Naora. Akan tetapi, aku juga harus mengasihani diriku sendiri. Aku sangat takut jika Axton berpaling dariku. Aku mencintainya dan tidak mau kehilangannya. Dan sejak adanya wanita itu, keharmonisan rumah tanggaku jadi tergoncang. Selama ini kehidupanku sudah sangat menderita. Oleh karena itu, aku tidak ingin kebahagiaan yang sudah aku genggam terlepas." Ia terus mengasihani dirinya sendiri.


Stefan menarik tubuh bergetar Lana dan menenggelamkannya ke dalam pelukan. Dibelai lembut surai panjang wanita itu dengan penuh perasaan. Menahan denyutan perih di dada yang ia kesampingkan.


"Lana ... apa kau bahagia dengan kehidupanmu seperti sekarang ini?"


"Tentu saja aku bahagia. Malah sangat bahagia. Meski Edrich membenciku, yang penting Axton mencintaiku. Akan tetapi, kebagiaanku mulai terusik semenjak Axton menikah lagi." Lana sedikit mengurai diri dari rengkuhan si pria. Dilabuhnya pandangan lekat pada sepasang manik hitam di depannya. "Stefan, kau tidak pernah lupa 'kan dengan janjimu untuk selalu ada di saat aku membutuhkanmu? Kau bilang akan melakukan apapun demi kebahagiaanku."


"Iya, Lana. Aku masih sangat ingat akan janjiku. Tapi aku heran, apa bagusnya pria itu, hingga membuatmu mencintainya? Dia bahkan tidak bisa menyenangkanmu di atas ranjang seperti aku."


Lana memandang muka Stefan dengan tatapan tidak suka. "Apa kau lupa? Di saat aku benar-benar terpuruk dan dipandang hina oleh orang-orang, Axton lah satu-satunya orang yang memandangku penuh belas kasih. Kau bahkan tak mampu melindungiku ketika aku disiksa ayah tiriku waktu itu. Aku bahkan harus terjun ke dunia malam karena kau bangkrut dan kabur dari rumah. Di mana tanggung jawabmu sebagai suami!" Emosinya tiba-tiba meluap.


Rasa bersalah yang merambat di hati, membawa kepala tertunduk seketika. Stefan, memang tak menampik semua yang dikatakan Lana. "Maaf, Lana." Hanya itu yang mampu terlisan oleh lidah.


Stefan dulu adalah seorang pemain yang sukses di dalam bidang bisnis. Aset kekayaan yang dia miliki seakan tidak akan pernah habis. Di masa kejayaannya, pria itu selalu memanjakan Lana dan memperlakukannya dengan sangat manis. Cintanya kepada wanita itu, memang teramat besar, seolah tidak akan pernah terkikis.


Namun, sebuah kelalaian yang diperbuat ternyata berakibat fatal bagi kehidupannya. Stefan harus kehilangan semua harta bendanya hanya dalam satu kedipan mata. Pria itu terjerembat ke dalam pusaran kemiskinan yang sebelumnya tak pernah ia kira.


"Kau harus melakukan apapun demi kebahagiaanku, Stefan. Bukankah kau mencintaiku?" tuntut si wanita. Ia juga memberi penekanan dalam sebuah kalimat tanya.


Sebenarnya, saat Stefan tahu bahwa istri yang dicintainya menikah dengan pria lain ada sebuah ketidak relaan di hati kecilnya. Waktu itu ia sempat tidak terima dan murka. Meski pada akhirnya, ia mau tidak mau harus mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan Lana dan juga untuk menebus kesalahannya.

__ADS_1


"Iya, Lana. Ya sudah, sebaiknya kita segera pulang sekarang. Akan menimbulkan banyak pertanyaan nanti, jika majikan perempuan sering pulang malam bersama sopirnya."


"Hal itu tidak akan terjadi, Stef. Bukankah hal yang wajar jika majikan keluar diantar sopirnya?" Lana kembali menggelayut manja di dada bidang si pria, membawa tangan bermain-main di tubuh yang selalu memberinya kepuasan.


Tubuh Stefan seketika meremang saat ada sesuatu yang menelusup dan meremas miliknya. "Lana ... ahh!"


"Aku ingin bermain sekali lagi sebelum pulang."



Cerahnya langit malam bertabur gemerlap bintang perlahan menampakan muka suramnya. Awan hitam mulai menjajah dengan dengan pongahnya, siap memuntahkan isi perut ke daratan bumi yang dipenuhi oleh anak manusia.


Dalam hitungan detik, suara rintikan air hujan terdengar menyerbu atap mobil yang melaju cepat, membelah pekatnya jalanan ibu kota. Axton, memainkan benda bulat di depannya dengan amarah yang mendera.


Deru jantung yang berdetak rancau, mengiringi muka tegang Naora. Kuda besi yang ia tumpangi terus menyalip kendaraan-kendaraan lain layaknya sebuah pertandingan di sirkuit balapan terkemuka. Hingga pergerakan empat roda seketika terhenti seiring pijakan pedal rem di bawah sana.


Axton menepikan kendaraannya di sebuah kawasan yang kebetulan sedang lengang pengguna jalan berlalu lalang. Ia melucuti seatbelt dari perut kerasnya dan menatap Naora dengan muka garang.


Naora terkesiap saat menyadari Axton menekan central door lock mobil, sehingga semua pintu diyakini terkunci rapat. "Axton, kau jangan berbuat yang aneh-aneh." Naora memberi peringatan.


Wanita cantik itu kian gugup saat melihat si pria membuang jas kerja yang membungkus tubuh gagahnya, lalu melepas satu persatu kancing kemeja hingga memperlihatkan otot-otot di perutnya. Dada sudah bergetar tak karuan karena tatapan tajam yang menghunusnya bagaikan mata elang si pemburu mangsa.


"Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada wanita murahan sepertimu, Naora." Nada suaranya sangat rendah dan dalam, tapi sarat akan amarah yang berkobar.


"Aku bukan wanita seperti itu Axton!" Si wanita tidak terima.


"Kau menjajakan bibirmu dengan pria lain, apa namanya itu kalau bukan murahan?!" Sarkas Axton yang sudah berada di atas tubuh Naora.


Sekuat tenaga, Naora mendorong dada keras si pria guna mengurangi rasa sesak karena beban yang menghimpitnya. Namun, upaya yang dilakukan berakhir sia-sia. Tubuh gagah itu sama sekali tak berpindah dari posisinya.


"Dengarkan penjelasanku dulu Axton."


"Aku tidak butuh penjelasanmu, karena aku lebih mempercayai apa yang kulihat!"


"Kau salah paham! Dengarkan ak--"


Naora seketika terbungkam. Axton mengunci bibir ranumnya dengan pagutan kasar dan dalam. Derasnya guyuran hujan disertai kilat petir yang menyambar langit malam, seolah menggambarkan kedua hati beraut suram.


Plak!


Naora melayangkan tamparan keras saat Axton hampir menjajah mahkota kesuciannya, hingga penyatuan raga pun terurungkan begitu saja. Rasanya ia sangat tidak rela jika gerbang harga diri seorang wanita yang selama ini ia jaga, harus direnggut dengan cara hina dan paksa. Meskipun pria itu adalah suaminya sendiri, tapi jika kelembutan tak didapatkan, jangan harap ia akan menyerahkan sesuatu paling berharga pada dirinya.


"Beraninya kau!" bentak Axton disusul layangan tangan yang siap menampar balik Naora.

__ADS_1


"Aargg ...!" Namun, pria itu mengerang frustrasi. Sorot mata rapuh di balik ketegaran Naora, menumbuhkan rasa tidak tega di dalam diri. Tubuh mungil yang terkungkung di bawahnya, serasa sayang jika harus disakiti.


Akhirnya objek lain yang menjadi korban kemarahannya. Pria itu beberapa kali meninju sandaran bangku mobil yang berada tepat di sebelah muka cantik Naora.


"Kenapa?! Aku suamimu, jadi berhak atas tubuhmu. Kenapa?! Hah?! Atau kau hanya ingin tidur dengan Nathan?! Jika kau berpikiran seperti itu, bersiaplah kau akan kusiksa hingga menyesal!" Amarah yang merajai pikiran, membuat Axton berbicara serampangan tanpa memikirkan perasaan lembut si wanita.


Dada Naora berdenyut pilu. Setiap untaian kata yang meluncur bebas dari bibir Axton, menorehkan luka lebam hingga membiru. Harga diri yang terus menjadi sasaran hinaan, membangkitkan amarah yang mulai menggebu.


"Kau adalah pria paling brengsek yang pernah ada di dalam hidupku! Kau bajingan kasar dan tak berperasaan! Aku ... sangat membencimu, Axton Sanders!" Sarkas Naora, menumpahkan segala kekesalannya. Meskipun begitu, ia masih bertahan untuk tidak berurai air mata.


Masih berselimut amarah, Axton beranjak dari tubuh Naora. Ia menutup kembali resleting celana, lalu menekan central door lock, hingga kunci pintu mobil terbuka.


"Keluar sekarang." Rupanya, pria itu berniat mengusir Naora dari mobil tanpa perasaan. Ia bahkan tidak peduli dengan keadaan di luar sedang turun hujan.


Tanpa adanya protesan, Naora yang juga tengah terselubung amarah sontak menurunkan kaki dari kendaraan. Menuruti perintah si Tuan muda arogan.


Brak!


Wanita itu membanting kasar pintu mobil sebagai pelampiasan amarahnya. Sementara Axton langsung menghidupkan kembali mesin kendaraan lalu membawanya pergi meninggalkan Naora yang sudah basah kuyup dan kedinginan.


Pria itu kembali dibuat frustrasi saat teringat akan Naora yang menggigil di bawah guyuran air hujan. Nyatanya, hati kecil tak sepenuhnya tega.


"Arrrg! Sial!" Ia langsung memutar setir mobil, berniat kembali menemui Naora.


"Kemana perginya dia?"


Sayangnya, keberadaan Naora tak lagi ada di sana saat mobil Axton tiba di tempat.





Bersambung~~


Alhamdulilah ... akhirnya bisa up, meski ngetiknya sambil mengejar waktu. Maaf ya, jika waktu up nya tak beraturan. Hari ini jam 23.30 baru bisa up🤣 Ya Allah ... gimana sih aku ini?🤣


Mohon dimaklumi ya🙏


Terima kasih masih setia membaca dan mendukung karya lomba yang terabaikan ini ... 🤣


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen.

__ADS_1


Jika ada kelebihan poin, bisa kok dibuat dukung karya ini🤣 Vote gratis mingguan juga Nofi tunggu loh🤭


Lop you pull..😘


__ADS_2