Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Perhatian Axton


__ADS_3


"Ada apa lagi?" tanya Nathan saat melihat langkah Axton yang masih menggendong Naora tiba-tiba terhenti.


"Suruh sopirmu untuk mengantarku," pinta Axton. Bukan! Bukan sebuah permintaan, lebih tepatnya sebuah titah.


"Bukannya kau membawa mobil sendiri?"


"Aku sedang tidak ingin menyetir. Kenapa kau banyak sekali bertanya, Nathan? Cepatlah!"


"Kau itu sedang meminta tolong tapi kenapa berlagak seperti majikanku? Bersikaplah layaknya orang yang sedang meminta tolong," gerutu Nathan lalu memanggil seorang supir untuk diperintahkan mengantar sahabat si tukang perintahnya itu.


Selang tidak lama, Axton dan Naora sudah berada di dalam mobil yang siap mengantar mereka kembali ke kediaman. Nathan hanya bisa menatap nanar kendaraan besi pengangkut sahabat serta wanita yang dicintainya itu.


Bersamaan bayangan mobil tak lagi tertangkap mata, helaan napas berat terdengar sendu dari bibir Nathan. "Hatiku sangat tidak nyaman melihat mereka bersama. Bagaimana pun juga, perasaanku kepada Naora masih terpahat di hati."


Ia lantas memutar tumit lalu mengayunkan kaki menuju ke dalam rumah. "Harusnya tadi, tak kuberi tahu saja Axton agar pria itu kelimpungan mencari keberadaan Naora. Ia harusnya diberi pelajaran. Haah! Hatiku ini memang tercipta dari emas, jadi mana mungkin aku bertindak seperti itu." Pria bermata teduh itu masih sempat-sempat menggedumel di sela langkahnya.


Sementara di dalam mobil, tangan kekar masih setia merengkuh hangat tubuh ringkih Naora yang masih terlelap di dalam pangkuannya. Beberapa kecupan lembut terus mendarat di pucuk kepala si wanita, seiring rasa sesal yang memenuhi rongga dada.


"Maafkan aku Naora," lirihnya seraya kian mengeratkan pelukannya. Tanpa disadarinya, dari banyaknya sikap buruk yang diperbuat selama ini, itu kali pertama ia berlisan kata maaf kepada Naora.


"Axton ...."


Hingga Axton sedikit terhenyak saat suara lemah terdengar dari bibir Naora. Rupanya, wanita itu perlahan membuka mata. Kendati tubuhnya masih sangat tak berdaya.


"Kenapa kau bangun? Tidurlah kembali," pintanya.


Naora memaksa mengedarkan pandangan meski harus menahan pusing di kepala. Ia ingat terakhir kali bertemu dengan Nathan sebelum kehilangan kesadarannya. Akan tetapi, kenapa ia sekarang bersama suaminya? Wanita itu bertanya-tanya di sela kesadarannya yang belum sepenuh kembali ke raga.


"Tidurlah, Naora." Axton menempelkan kembali kepala Naora di dadanya saat wanita itu tampak kepayahan menjauhkan diri.


Pasrah. Pusing masih setia menggerogoti kepala, membuatnya lemah dan tak berdaya. Hingga Naora membiarkan diri terlena dalam dekapan Axton yang ternyata mampu memberikan kenyamanan yang tak pernah didapatkan sebelumnya. Meski kekecewaan di hati masih terselip di sana. Namun, untuk kali ini ia sedang tidak ingin banyak berkata.


Wanita itu kembali memejamkan mata. Menenggelamkan muka di dada si pria. "Axton ... apa kau baik-baik saja?" Naora masih sempat bertanya, meski suaranya terdengar sangat lirih dan lemah, tapi Axton mendengarnya.


Axton sedikit menunduk, memudahkan mata menjangkau muka pasi Naora. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Di dalam sini, suaranya sangat berisik." Jari telunjuk Naora menunjuk pada bagian dada Axton sebelum akhirnya ia kembali terlena dalam mimpi.


Deg! Deg! Deg!


Helaan berat terdengar dari bibir Axton. Deru napasnya bergetar karena terpaut dalam deguban jantung yang meronta.


"Aku sedang tidak baik-baik saja, Naora. Sepertinya, jantungku sedang bermasalah," lirih Axton yang tampak kewalahan dengan kerusuhan di dalam dadanya.


"Pak, antar aku ke sebuah hotel terdekat," titahnya kepada si sopir.


"Iya, Tuan."


Selang beberapa manit kemudian, Axton menggendong Naora menuju satu unit kamar hotel yang sudah di pesan. Seolah bagaikan barang berharga, pria itu meletakkan tubuh kecil si wanita dengan sangat hati-hati dan penuh perasaan.


Dipastikan istri ke-duanya itu mendapatkan posisi tidur ternyaman, Axton mencoba sedikit membuat jarak. Namun, ia terhenyak saat jari-jari lentik Naora mencengkeram erat kemejanya, membuat ia kesulitan untuk bergerak.


Senyuman hangat seketika membingkai muka tampannya.

__ADS_1


What?!


Dia tersenyum, kawan! Tersenyum hangat lagi! Bukankah ini fenomena yang langka? Si muka dingin, si muka masam, si muka tembok, dan si muka-muka menyebalkan lainnya seolah langsung mundur alon-alon dengan bendera putih di sebelah tangannya hanya karena pesona ulasan memukau dari lengkungan bibir seorang Axton Sanders.


Diamati sepasang tangan Naora yang tampak seperti menggenggam sesuatu. Axton tampak mengulum senyum karena merasa lucu.


"Dia tidur seperti bayi. Kedua tangannya menggenggam erat." Axton terlihat gemas. Iseng, ia menelusupkan jari telunjuk ke dalam genggaman Naora, dan ternyata benar, genggamannya reflek mengerat lebih kuat.


Pria itu mendengus geli seolah genggaman Naora layaknya sebuah mainan yang menyenangkan. "Ada-ada saja."


Membiarkan tangan kecil Naora tetap menggenggam kemejanya, Axton pun mengambil posisi berbaring di sebelahnya. Hati-hati sekali, ia tarik tubuh hangat itu ke dalam dada. Terhanyut ke dalam suasana, ia seakan lupa akan keberadaan Lana yang barang pasti tengah gelisah menunggu kepulangan suaminya.


Terlena oleh bisikan lembut sang hati, sepasang netra Axton memindai setiap pahatan cantik yang saat ini sedang terlelap. Kekaguman pun mulai menghinggap.


Entah ia sadar atau tidak akan perasaannya. Yang jelas, pria itu sudah terbius oleh sejuta pesona Naora. Perlahan, dipangkasnya jarak yang memisahkan mukanya dan muka si wanita. Melakukan satu cecapan bibir, dirasa tidak apa-apa.


Tidak masalah bukan? Toh sekalipun ingin melakukan lebih dari ciuman tentunya sah sah saja. Namun, igauan tak jelas Naora mengurungkan aksinya. Axton menyadari gurat tak nyaman di muka istrinya.


"Apa dia sedang kesakitan?" Ia menyentuh kening Naora guna memastikan suhu tubuhnya. "Panas tubuhnya sudah mulai turun."


Perhatian Axton tiba-tiba terpaku pada baju sweater dan celana traning serba kedodoran yang membungkus tubuh Naora. "Kenapa aku baru menyadari kalau dia sedang mengenakan pakaian Nathan?"


Curiga, pria itu lantas meraih ponselnya dan mengetik sebuah pesan.


^^^Axton:^^^


^^^Kenapa Naora memakai pakaianmu?^^^


Tidak perlu menunggu lama, balasan pesan langsung diterima.


^^^Nathan:^^^


Axton seketika merutuki dirinya sendiri lalu kembali mengirim pesan.


^^^Axton:^^^


^^^Siapa yang mengganti pakaiannya?^^^


Astaga ...! Sempat-sempatnya Axton memikirkan tentang siapa yang membantu Naora mengganti pakaiannya. Jujur, ia kini sedang menaruh curiga.


^^^Nathan:^^^


^^^Bagaimana kalau aku menjawab bahwa aku sendiri yang menggantikan pakaiannya.^^^


^^^Axton:^^^


^^^Apa kau ingin mati?!^^^


^^^Nathan:^^^


^^^Dasar bodoh! Kau langsung percaya begitu saja dengan perkataanku. Mana mungkin aku bersikap lancang! Tadi aku meminta asisten rumah tanggaku untuk mengganti pakaiannya.^^^


^^^Axton:^^^


^^^Bajingan kau.^^^

__ADS_1


^^^Nathan:^^^


^^^Kau juga bajingan.^^^


Axton meletakkan kembali ponselnya dengan perasaan lega. Ia pun kembali merengkuh tubuh Naora.


Sementara itu, di belahan bumi lainnya.


Lana tampak mondar-mandir dengan perasaan gelisah. Kecurigaan membalut hati karena sosok Axton dan Naora sedang tidak berada di rumah. Pikiran buruk kian berkecamuk tak berarah.


Tak tahan dengan keresahan di hati, ia berniat menemui Stefan untuk dijadikan tempat menumpahkan segala ketidak nyamanannya di dada. Kelakuannya yang seperti itu memang sudah menjadi hal biasa. Tentunya di saat Axton sedang bekerja.


"Lana, kenapa malam-malam kau datang ke sini?" Stefan tampak terkejut karena sosok Lana tiba-tiba membuka pintu kamar dan masuk dengan membawa muka suram.


Wanita itu langsung berhamburan ke dada pria yang merupakan suami pertamanya itu. Ia menjatuhkan air mata seraya tergugu. "Stef ... sepertinya Axton dan Naora sedang bersenang-senang di belakangku."


"Apa maksudmu, Lana? Mana mungkin itu terjadi? Bukankah Axton hanya mencintaimu?"


Terus terang, jantung Stefan terasa perih saat mengatakan hal itu. Namun, ia sadar bahwa ia harus pengorbankan perasaannya demi kebahagiaan Lana.


"Hari sudah sangat larut, tapi mereka berdua sama-sama tidak berada di rumah sekarang. Aku curiga kalau mereka sedang bermesaraan sekarang. Kau harus melakukan sesuatu untukku, Stefan. Hatiku sangat merasa sakit dan hanya kau yang bisa menyembuhkannya."


Pria itu membelai sayang surai panjang istrinya. "Kecurigaanmu belum tentu benar, Lana." Ia mencoba menenangkan.


"Aku sangat takut, Stefan. Keberadaan wanita itu sungguh mengancam posisiku di rumah ini. Aku tidak ingin miskin! Kau harus melakukan sesuatu agar wanita itu menyingkir dari kehidupan Axton!" Air mata Lana kian menganak sungai.


"Kau tenang saja, Lana. Jangan tergesa-gesa." Tiba-tiba pria itu teringat sesuatu. "Oya, bukankah hari peringatan kematian Ibunya Axton hampir mendekat? Kau bisa memanfaatkan kelemahan Axton yang satu itu untuk membuat Naora ilfill kepadanya."


Muka suram Lana mendadak berubah cerah. "Kau benar sekali, Stefan. Kenapa aku tidak kepikiran sampai ke sana? Coba kita lihat, apakah wanita itu bisa menerima kekurangan Axton yang satu itu." Ia menyeringai sinis.


"Aku rasa, wanita itu akan kabur duluan setelah tahu sisi lain Axton yang sangat mengerikan itu."


"Haaah ... aku merasa lega sekarang, Stefan."


"Ya sudah, segera kembali ke kamarmu sebelum ada orang lain yang curiga."


"Tidak akan ada yang curiga, Stefan. Semua orang sudan tertidur. Axton paling juga tidak pulang. Dan semua CCTV yang berada di bangunan belakang menuju kamarmu juga sudah kau rusak."


"Terus, apa kau ingin lebih lama di sini?"


"Stefan ... puaskan aku malam ini."





Bersambung~~


Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon like. Tinggalkan komen cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini🤣


Vote gratis mingguan juga boleh disumbangkan ke lapak yang masih sangat sepi pembaca ini..


Sumbangan Gift juga akan Nofi terima dengan senang hati🥰

__ADS_1


lop lop you pooolllll sekebon pisang😘😘


__ADS_2