
Alunan merdu musik dan lagu melengkapi nuansa bahagia di sebuah acara resepsi pernikahan. Beberapa tamu undangan juga sudah banyak yang berdatangan. Di atas panggung, sepasang mempelai tampak berbahagia berhias senyuman. Iya, hari ini adalah hari sakral janji suci di antara Ayu dan Wildan.
Axton berserta Naora dan Axcel tampak duduk di kursi tamu paling depan. Di sana juga ditemani Nathan dan jovana yang duduk bersandingan.
"Joe, harusnya kau di rumah saja. Kandunganmu sudah sangat besar. Tanggal hari perkiraan lahiranmu juga tinggal menghitung hari saja," tutur Naora sebagai bentuk kepeduliannya.
"Aku tidak akan membiarkan suamiku pergi sendirian, Naora. Sangat tidak aman," sahut Jovana dengan sesekali melirik sinis ke arah Nathan.
Nathan hanya merespon istrinya dengan senyuman penuh kesabaran tanpa banyak berkata. Ia mencoba memaklumi saja, selama masa kehamilan pertamanya, suasana hati Jovana memang lebih sensitif dan mudah sekali berubah-ubah tanpa diminta.
"Apanya yang tidak aman Joe?" Naora penasaran.
"Coba kau lihat di sana." Jovana menunjuk ke salah satu sudut ruangan yang di mana para segerombolan tamu undangan wanita tengah memandangi Nathan dengan tatapan mendamba. "Sungguh, aku sangat membenci tatapan kagum mereka ke suamiku. Haruskah aku kasih surat peringatan tanda kepemilikan atas suamiku saja ke mereka?"
"Pffft!" Naora berusaha menahan tawanya yang hampir pecah. Sementara Axton terlihat masa bodoh dan lebih memilih mengajak bercanda bayi Axcel. Memang bagi pria itu, tiada yang lebih penting dari keluarganya sendiri.
"Jovana sayang, mereka melihatku bukan berarti mengagumi. Kau jangan berpikir secara berlebihan. Itu tidak bagus untukmu dan bayi kita." Nathan akhirnya bersuara juga, bertutur selembut mungkin agar tidak menyinggung perasaan istrinya.
"Halah! Itu karena kau selalu bersikap ramah dan baik pada siapa saja, termasuk kepada para wanita. Itu tidak menutup kemungkinan kau pernah bermain mata dengan mereka. Aku bahkan sampai bosan karena hampir setiap hari menerima paketan kado dari para penggemarmu." Sepasang netra Jovana mulai tampak mengembun.
Dirangkul sayang pundak istrinya, Nathan kembali mencoba menenangkan dan memberi pengertian. "Coba kau ingat-ingat. Apa aku pernah menerima dan membuka kado dari mereka? Tidak 'kan? Karena bagiku semua pemberian itu tidak lebih penting dari perasaan istriku yang paling cantik ini."
"Kau tidak bohong 'kan?"
"Apa kau melihat kebohongan di mataku?"
Jovana menggeleng sebagai tanda percaya, tapi tetap saja dia masih meragu akan ketulusan Nathan. "Kau membuatku cemas jika terlepas dari pandanganku," cicitnya lagi, membuat si pria tampak menghela napas berat seraya meraup banyak kesabaran.
Naora mencolek lengan Jovana. "Joe, sebenarnya kau tidak sendirian. Coba kau lihat di sana." Ia menunjuk ke sebuah sudut ruangan dengan ujung hidungnya.
"Rupanya suamimu juga menjadi sasaran mata jelalatan para ular," celetuk Jovana saat melihat beberapa tamu undangan wanita yang sedang asyik memandangi Axton dengan tatapan ... nakal!
"Tapi aku tidak pernah mencemaskan hal itu," ujar Naora tersenyum penuh makna.
__ADS_1
"Kok bisa?"
Naora tersenyum lalu meraih jemari Axton. Dibelainya lembut tangan si raja hatinya itu sebelum kembali mengalihkan perhatian ke Jovana.
"Karena aku mempercayai suamiku. Kau harus tahu, salah satu pilar keutuhan rumah tangga adalah saling percaya. Sebuah hubungan tanpa kepercayaan adalah sia-sia, karena tidak akan bertahan lama. Jika kalian saling mencinta maka junjunglah tinggi sikap saling percaya. Dan jika ditanya, mana yang lebih penting di antara cinta dan kepercayaan? Jawabannya sudah jelas kepercayaan," jelas Naora.
"Apa alasannya kepercayaan itu lebih penting?" Jovana rupanya kian tertarik. Sedangkan Nathan juga turut menyimak.
"Axton, apa kau mau menjelaskan alasannya?" Naora mencoba menggiring peran kepada suaminya untuk menjawab pertanyaan Jovana.
"Apa perlu?" tanya Axton terkesan malas.
"Axton ...," tuntut Naora yang membuat pria itu tidak akan mampu menolak permintaannya.
Pria berparas masam itu mendesah jengah sebelum akhirnya terpaksa berucap kata. "Alasan kenapa kepercayaan lebih penting karena perasaan cinta bisa saja berubah dan seiringnya waktu cinta bisa surut dan pasang kembali, tetapi kepercayaan adalah fondasi yang memungkinkan untuk mengatasi segala perubahan termasuk rasa cinta." Axton menjeda penjelasannya lalu melirik ke arah Naora. "Haruskah aku lanjutkan lagi? Aku yakin temenmu ini tidak bodoh," sambungnya kembali.
"Lanjutkan saja, Axton. Aku juga sedang mendengarkannya, tidak hanya mereka saja," pinta Naora.
"Ibarat kata, kehilangan kepercayaan itu seperti racun yang membunuh rasa cinta sedikit demi sedikit. Dan sedangkan kepercayaan yang tertanam kuat akan menumbuhkan cinta semakin hari semakin tinggi," terang Axton lagi dan tanpa menunggu reaksi dari para pendengar ia kembali bermain dengan Axcel. Ia seolah tidak peduli dengan tatapan terkesima Nathan dan Jovana.
"Woah! Sejak kapan kau jadi pintar seperti ini, Axton? Yang aku ingat, Axton yang dulu sangat bodoh perihal perasaan apalagi tentang rumah tangga. Naora, ini pasti karena kau yang sudah membimbingnya ke jalan yang benar." Nathan berdecak kagum sekaligus mencibir.
"Hei, jangan menangis. Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu." Nathan menyeka pipi wanita kesayangannya yang basah karena air mata. "Apa kau ingin makan sesuatu? Biar aku ambilkan." Ia mencoba mengalihkan topik. Lagian saat ini mereka sedang berada di sebuah acara resepsi pernikahan, tidak enak jika dilihat oleh orang-orang.
Jovana menyudahi suasana melow hatinya dan kembali tersenyum. "Aku masih kenyang, Nathan. Terima kasih."
Segerombolan tamu yang baru saja tiba seketika manarik perhatian seluruh penghuni ruangan. Mereka adalah tamu spesial dari si pengantin wanita yang datang dari desa, seperti keluarga dan teman.
Tidak ada yang salah dengan penampilan mereka, masih sopan dan juga enak dipandang mata. Hanya saja, apa yang dibawa mereka cukup membuat para tamu undangan yang hampir semuanya orang kota terkesima.
Ada yang membawa hasil panenan kebun, seperti pisang, kelapa, ubi, dan jengkol. Bahkan ada yang tidak tanggung-tanggung membawa beberapa ekor ayam dan juga ... anak kambing.
Beruntung, resepsi diselenggarakan di kediaman pribadi Wildan.
Meskipun seperti itu, resepsi masih berlangsung lancar dengan senyuman bahagia. Hingga .... acara mulai dibuat heboh saat hewan yang mereka bawa tiba-tiba terlepas dan membuat hura-hura.
__ADS_1
Aksi tangkap-tangkapan pun tak terelakkan. Namun, para hewan itu sangat sulit ditangkap bak belut kesurupan. Wildan bahkan sampai ikut turun tangan.
"Kyaaa!" Naora dan Jovana memekik bersamaan saat seekor ayam beberapa kali berterbangan di atas kepala mereka.
"Hap! Tertangkap juga kau!" Seru Wildan dengan bangga karena berhasil menangkap seekor ayam yang merupakan salah satu biang rusuh.
"Kau luar biasa Wildan!" puji Naora dan Jovana bersamaan seraya mengangkat ibu jari.
"Iya dong! Wildan kok dilawan." Wildan mengajak tangan kanan menepuk dada kirinya dengan muka sombong. Sedangkan tangan kiri dipakai untuk mengapit si ayam.
Wildan sudah merasa hebat dan kuat hanya karena bisa menangkap seekor ayam. Andai yang ia tangkap itu para tikus berdasi yang memakan uang rakyat, sudah pasti negeri tercinta kita ini akan makmur dan sejahterah. Fenomena harga minyak sultan juga tak ada di dalam catatan sejarah perekonomian negara. Haha!
"Mas Wildan, tolong ...! Kambingnya ...! Kyaaaa pergilah!" pekik Ayu ketika seekor kambing masuk ke dalam gaun pengantinnya.
Mengetahui istrinya membutuhkan pertolongan Wildan langsung menyerahkan ayam yang ia tangkap tadi kepada Axton tanpa sopan. Ia bahkan tidak peduli dengan muka bosnya yang sudah merah padam.
"Wildan ...!!! Awas k--" Axton yang hampir menyembur Wildan seketika terhenti saat melihat Axcel tertawa lucu seraya mencabut bulu-bulu milik si ayam. Naora bahkan tergelak lepas melihat ekspresi suaminya saat ini.
"Ini bukan lelucon putraku," protes Axton dan Axcel malah semakin tertawa lucu.
"Jovana, berhentilah. Kau sedang hamil tua. Biarkan saja ayam itu." Nathan berusaha mencegah istrinya yang hendak ikut membantu menangkap hewan-hewan tersebut.
"Sebentar saja, Nathan. Aku ingin membantu orang-orang." Wanita itu membantah lalu kembali mencoba menangkap seekor ayam.
Namun, selang tidak lama ....
"Ahk! Perutku!" Jovana meringis kesakitan setelah berhasil menangkap incarannya.
"Sayang, sepertinya kau akan melahirkan. Kita ke rumah sakit sekarang!" Nathan langsung membopong tubuh istrinya meninggalkan acara resepsi yang sudah sangat kacau itu.
โ
โ
โ
__ADS_1
Bersambung~~
Maaf ya jika banyak komentar yang belum Nofi balas๐