
Sepasang kaki jenjang Axton terpaku di depan rumah kediaman Edrich, sang Ayah. Sesaat, ia tampak urung melangkah mendekati bangunan mewah itu dengan segera. Termangu, perasaan sedih dan kecewa kembali mengikatnya. Menepis kearoganan yang selalu disangga gagah.
Bagaikan tertarik ke dalam ruang waktu yang membawanya kembali ke masa lalu, pria itu hanyut bersama kenangan di masa kecil berujung pilu.
Kehangatan menyapa hati di kala ingatan akan kenangan indah melintasi pikirannya. Mengundang sebuah senyuman samar di bibirnya. Namun, kesenangan yang dirasa, berangsur-angsur sirna, tergantikan oleh kepahitan hati yang melanda.
Ingatan buruk seolah tak mengijinkannya untuk berbahagia, meski hanya sesaat saja. Merenggut kenangan manis itu seketika. Axton kembali merana.
Sungguh tega.
Tepukan lembut di pundak, menuntun pikiran untuk kembali dari lamunannya. Lanjut melabuhkan pandangan ke sebuah tangan putih yang kini menjadi atensinya.
"Hatimu baik-baik saja?" Suara lembut Naora mengiringi senyuman tipisnya tapi terkesan manis.
Axton terkesima. Lantunan kalimat sederhana yang terdengar penuh akan sarat perhatian itu bagaikan hembusan angin surga yang menghangatkan jiwa.
Sesaat ia melupakan segalanya yang selalu dijadikan alasan kuat untuk membenci Naora sedari dulu, yaitu segenap kasih sayang, perhatian, dan waktu Edrich yang selalu dipersembahkan untuk si putri angkatnya itu. Sementara Axton, Ia harus menjadi putra yang terabaikan dari kecil hingga dewasa.
Naora mengulurkan lengan tangannya. "Peganglah tanganku jika kau ragu." Ia seolah bisa mengerti apa yang dirasakan suaminya itu saat ini.
Naora memang sudah tahu menahu perihal hubungan Axton dengan Edrich yang jauh dari kata sehat. Sayangnya, dia belum menemukan alasan penyebab kerenggangan hubungan sepasang anak dan ayah itu, hingga saat ini.
Hati yang hampir terlena akan perhatian Naora, segera ditariknya kembali. Mengelak belaian hangat yang menelusup di hati. Memasang kembali sifat arogan pada diri.
"Aku tidak butuh." Axton menolak mentah-mentah niat baik sang istri. Membiarkan diri dikuasai oleh rasa gengsi. "Tidak perlu bersikap sok peduli kepadaku kalau hanya untuk terlihat baik di depan Daddy."
Menarik kembali uluran tangan yang tak bersambut ramah, Naora terlihat jengah. "Ya ... terserah kau saja." Ia mulai mengayun kaki, berniat masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Mencekoki hati dengan rasa ketidak pedulian.
Namun, ternyata hal itu sulit, hatinya memberontak dan menolak keras akan sikap bertentangan dengan apa yang ada pada diri seorang Naora.
Akhirnya wanita berparas cantik itu kembali memutar tumitnya yang sempat beberapa kali mengambil langkah, lalu mendekati Axton yang ternyata masih terpaku pada pijakannya. "Saat ini, simpan dulu rasa gengsimu yang tak berguna itu."
Diraihnya jari-jari besar itu tanpa meminta persetujuan si empunya terlebih dahulu. Mengabaikan raut muka masam di depannya. "Ayo kita masuk ke dalam bersama-sama. Bukankah kau ingin memperbaiki hubunganmu dengan Daddy?"
Axton terperangah akan sikap Naora yang terkesan sesuka hati. Meski nyatanya ia tak bisa menolak. Membiarkan kaki mengikuti langkah kaki kecil Naora. Sepasang netranya pun enggan lepas dari punggung kecil yang seharusnya dilindunginya itu.
"Tuan Muda Axton, Nona Naora."
Langkah sepasang suami istri muda yang baru saja melewati ambang pintu masuk rumah utama itu seketika tersendat, saat sosok pria berparas oriental menyapa ramah dari arah berlawanan.
"Dokter Jimmy?" Naora membalas sapaan seseorang yang bekerja sebagai dokter pribadi keluarga Edrich itu. Sementara Axton masih setia dengan mulut terkatup. Baginya, sahutan wanita yang masih memegang tangannya itu sudah cukup mewakilinya.
"Dok, apa terjadi sesuatu dengan Daddy?" Melihat kehadiran Jimmy di kediaman Edrich tentu saja menimbulkan sederet pikiran negatif di dalam otak Naora.
__ADS_1
Helaan napas ringan yang keluar dari bibir sang dokter serta binar muka yang mendadak berubah seolah menggambarkan sebuah situasi yang kurang baik.
"Beberapa saat yang lalu, Tuan Edrich tiba-tiba pingsan. Dan--."
Belum sampai Jimmy menyelesaikan kalimatnya, Noara pergi dengan langkah tergesa menuju kamar Edrich, membawa kekhawatiran yang meradang tiba-tiba.
"Bagaimana keadaan Daddy sekarang?"
Axton masih bersikap tenang. Kendati reaksinya tidak terlihat secemas Naora, tapi percayalah bahwa sebagai seorang putra kandung, ia menyimpan segunung kasih sayang kepada Edrich.
Ya ... walaupun segala bentuk sikap perhatiannya berakhir pada penolakan dingin dari sang Daddy. Ditambah lagi lontaran kalimat tajam menusuk hati. Sungguh perih yang akan terus terpatri.
Jimmy mengalihkan perhatiannya kepada Axton. "Kondisi Tuan sudah mulai stabil. Tapi masih sangat dianjurkan untuk banyak istirahat agar tidak kelelahan dan pikiran stress," jelasnya.
"Syukurlah."
"Kalau begitu saya permisi dulu." Jimmy mengangguk sekilas sebagai kode etik kesopanan sebelum melenggang pergi menuju pintu keluar.
Menyiapkan diri dan perasaan untuk suatu hal menyakitkan yang mungkin akan kembali ia terima dari sang Daddy. Axton menghempas keraguan dan menyelipkan secercah harapan di hati.
Semoga Daddy tidak menolak kedatanganku lagi kali ini, suara hatin kecilnya. Kemudian diajaknya tungkai untuk melangkah, menyusul Naora yang mungkin sudah berada di kamar Edrich.
Sementara di dalam kamar Edrich, Naora tak henti-hatinya menumpahkan segala kecemasan dan perhatian akan kondisi si Ayah angkatnya itu.
"Apakah masih ada bagian yang sakit? Katakanlah kalau Daddy sangat merasa tidak nyaman. Naora akan menelepon dokter Jimmy untuk segera kembali."
Tangan diajak membelai pucuk kepala si putri angkatnya itu. "Daddy sudah mendingan, Naora. Kau jangan terlalu mencemaskan Daddy."
"Bagaimana aku tidak cemas, Daddy. Kau baru saja pingsan. Sudah sepantasnya aku bersikap seperti ini."
Tak melepas sikap perhatiannya kepada Naora, pria yang tengah duduk bersandar headboard ranjang itu melabuhkan tatapan penuh arti. "Naora, apa kau bahagia dengan pernikahanmu?"
Deg!
Bagaimana bisa aku bahagia pada nasib pernikahan yang akan berujung pada perceraian? Bahkan tiada sedikitpun cela bagiku untuk merasakan indahnya sebuah ikatan suci yang terucap di atas ikrar pernikahan.
Sebisa mungkin menunjukkan bahwa dia sedang baik-baik saja di depan Edrich, Naora membingkai muka cantiknya dengan ulasan senyuman manis.
"Aku ... bahagia dengan pernikahanku, Daddy." Ia menutupi luka hatinya dengan dusta. Selama berdusta demi kebaikan, tidak apa-apa. Begitu pikirnya.
Sepertinya jawaban Naora membuat Edrich tak lagi bertahan dengan senyuman palsunya. Sedih, kecewa, dan marah terbingkai menjadi satu pada mimik mukanya yang berangsur-angsur berubah.
"Kau tak cukup pintar dalam berdusta, Naora."
Wanita itu tertegun. Dia bisa langsung paham maksud dari ucapan Edrich tanpa harus melewati proses pencernaan otak untuk berpikir lama.
__ADS_1
"Daddy ... apakah Daddy--."
"Panggil anak itu sekarang!" pungkas Edrich. Amarah yang semula masih tertahan di hati, mulai menunjukkan eksistesinya melalui gurat-gurat pada mukanya.
"Daddy, Naora mohon jaga emosimu. Itu tidak baik untuk kesehatanmu."
Suara pintu terbuka, disusul munculnya tubuh Axton dari balik pintu, seketika menarik perhatian kedua anak manusia tersebut.
"Daddy ... bagaimana dengan keadaanmu?" dengan ragu, Axton masih setia dengan sikap perhatiannya kepada Edrich.
Alih-alih mendapat balasan atau sambutan hangat dari sang Daddy. Tatapan berkabut amarah justru yang Axton dapati. Ia terpaku tak mengerti, saat pria paruh baya itu menuruni ranjang dan mendekatinya.
Plak!
Muka tampan Axton seketika terlempar ke samping saat Edrich menghadiahinya dengan sebuah tamparan keras.
Berbeda dengan Naora yang langsung terkejut dan cemas. Axton justru bergeming, tiada perlawanan maupun pembelaan diri. Bahkan ia membalas tatapan kebencian Edrich dengan tatapan sendu.
Tangan yang selalu ia harapkan uluran kasih sayangnya justru memberi sebuah tamparan di pipi. Sakit memang, tapi rasa sakit itu tak mampu menandingi rasa sakit karena luka di hati.
Mungkin inilah yang disebut sakit tak berdarah.
"Kenapa Daddy?" lirih Axton.
"Masih tanya kenapa?! Sudah cukup kau menjadi anak pembawa sial hingga istriku meninggal dan sekarang berani-beraninya kau kembali membuat ulah!" tidak peduli dengan keadaan kesehatannya, Edrich meluapkan amarahnya.
"Daddy, aku mohon jangan begini." Naora mencoba menenangkan, sayangnya pria tua itu tak menghiraukan.
Edrich melangkah menuju laci meja, dan meraup sesuatu dari dalam sana. Dengan kasar ia melempar lembaran-lembaran tipis tepat di muka Axton.
"Lihat ini semua!"
β
β
β
Bersambung~~
Maaf ya, jika akhir-akhirnya belum bisa rajin up setiap hari. Bahkan komenan kalian belum sempat Nofi balas satu-satu. Pekerjaan di dunia nyata sungguh menguras waktu dan tenaga, hingga menulis satu bab saja membutuhkan waktu 2 x 24 jam.
Parah!π€¦ββοΈ
Dan terima kasih ya atas dukungan setia kalian... Nofi sangat terharu dan senang...
__ADS_1
Doain agar Nofi bisa kembali rajin up ya..
lop lop you sekebon pisangπππππ