
Di sebuah VIP room restauran mewah hotel bintang lima. Sebuah pembahasan seputar kerja sama proyek baru sedang berlangsung untuk beberapa lama. Hingga sebuah jabatan tangan sebagai lambang kesepakatan dari kedua pihak perusahaan pun mengiringi senyuman Nathan dan koleganya.
"Semoga jalinan kerja sama kita berjalan lancar dan sukses, Tuan," ucap Nathan mantap.
"Saya sangat yakin akan kemampuan Tuan Nathan yang tentunya tak diragukan lagi," balas si kolega.
"Terima kasih."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi undur diri."
Nathan mengangguk kecil tanpa menanggalkan senyuman ramahnya. "Baiklah, silahkan."
Keberadaan si kolega pun tak lagi terlihat karena tertelan daun pintu. Pria berparas ramah itu menggiring mukanya ke arah Naora yang sedari sibuk merapikan beberapa lembaran berkas kerja sama yang sudah ditanda tangani.
"Naora."
"Iya, Tuan." Panggilan Nathan menghentikan aktifitas Naora seketika.
"Setelah ini kau jangan pulang dulu ya."
Wanita itu memasang muka penuh tanya. "Apakah ada pekerjaan lain yang harus dikerjakan lagi, Tuan?"
Pria itu menggeleng seraya menyematkan seutas senyuman simpul. "Tidak, Naora. Pekerjaan kita sudah selesai untuk hari ini. Aku hanya ingin mengajakmu ke tempat yang menarik. Kau tenang saja tempatnya masih berada di hotel ini."
Sesaat, Naora melihat arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjuk angka 8. "Tapi Tuan--"
"Panggil Nathan, Naora. Sekarang sudah di luar jam kerja."
"Ee? Iya, Nathan. Tapi ini sudah malam, aku harus segera pulang."
"Hanya sebentar saja. Aku ingin membawamu ke lantai tertinggi dari gedung hotel ini."
Naora tampak berpikir sesaat sebelum mengiyakan ajakan Nathan. "Baiklah, tapi aku tidak bisa berlama-lama."
Senyuman mengembang sempurna seketika tercetak jelas di muka tampan Nathan. "Kalau begitu kita ke sana sekarang." Tanpa permisi, pria bermata teduh itu menggenggam tangan Naora dan menariknya keluar dari VIP room.
Sepanjang langkah kaki menyusuri koridor hotel, rasa tidak nyaman bersemayam di hati Naora karena genggaman Nathan di tangannya. Beberapa kali ia berusaha menegur secara halus, tapi pria itu seolah menganggapnya hanya bercanda.
__ADS_1
Sesampainya di tempat yang dituju, Naora langsung dibuat terpukau oleh pemandangan yang luar biasa cantik di depan mata. Dari balik dinding kaca, ia bisa melihat lautan cahaya dari kendaraan dan gedung pencakar langit di sekitar gedung hotel yang dipijakinya. Suasana langit malam juga kian indah dengan taburan bintang berlian yang mengiringi sang bulan purnama.
"Apa kau menyukainya?"
Wanita cantik itu mengangguk takjub, tanpa melepas pandangan dari panorama di luar dinding kaca. "Ini sangat indah Nathan." Wanita itu lalu menunjuk ke arah lampu-lampu mobil yang bergerak. "Coba kau lihat! Mereka terlihat seperti sungai cahaya berarus tenang. Cantik sekali," imbuhnya antusias.
Berbeda dengan Naora yang tampak menikmati lukisan alam di depannya, Nathan justru memilih pahatan cantik di muka Naora sebagai objek pandangannya.
Bagiku, seindah-indahnya pemandangan di luar sana tak mampu menyaingi setiap ukiran cantik di mukamu, Naora. Ahh ... rasanya aku ingin sekali menyimpanmu dan tak akan membiarkan orang menikmati kecantikanmu.
Nathan sedikit memangkas ruang jarak yang memisahkan dirinya dengan Naora. "Kau terus saja memuji pemandangan di sana, hingga lupa untuk berterima kasih kepada orang yang membawamu ke sini. Aku ... juga ingin dipuji." Pria itu seolah mangajukan protes. Bahkan ia tak malu memasang muka cemberut dibuat-buat.
Naora seketika menutupi bibirnya yang terkikik geli. Tingkah pria tampan di sampingnya memang selalu membuatnya bersenang hati. "Kau memang pria yang menyenangkan, Nathan. Itu pujianku untukmu. Terus bagaimana caraku berterima kasih kepadamu?"
"Jadilah kekasihku."
Wanita itu tergelak lirih. "Kau jangan bercanda, Nathan."
Raut serius perlahan mulai terulas di muka tampan si pria. Namun, hal itu tidak menyurutkan garis senyum di bibirnya. "Aku serius, Naora ...." Ia menatap lekat mutiara hazel Naora. Meyakinkan kepadanya akan perasaan hati yang tengah dirasa.
Nada suara serta mimik muka Nathan yang terlihat jauh dari kata bercanda seketika meluruhkan senyuman di bibir Naora. Dipandang serius sorot mata pria di depannya. "Nathan, jangan bercanda seperti ini. Kau bisa membuat seorang wanita salah paham."
Naora terpaku. Ungkapan perasaan Nathan membuat pikiran di otak berkecamuk tak menentu. Mengingat akan statusnya sebagai istri sah Axton, membuat ia diserang oleh perasaan tak enak hati kepada pria itu.
Sesaat dilema sempat menyapa di dada. Bagaimanapun juga, ada status pernikahan yang harus ia jaga, tapi perasaan Nathan juga tidak ingin dibuat patah dan kecewa.
Tubuhnya sedikit terkesiap, saat Nathan kembali mengecup buku-buku jari tangannya. Bodohnya, ia bahkan tak mampu segera membuka bibir untuk sekedar menegur tindakan tak sopan si pria.
"Naora ... maaf jika aku terlalu cepat mengungkapkan perasaanku. Kau pasti sangat terkejut dan bingung."
"Ee?" Wanita itu malah tampak seperti orang bodoh. Terus terang dia sedang bingung merangkai kata yang cocok untuk keluar dari suasana canggung saat ini.
"Naora, apa aku membuatmu tidak nyaman? Tapi aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku bersungguh-sungguh."
Untuk beberapa detik, suasana hening. Naora masih bergeming. Sementara Nathan tampak sabar menunggu tanggapan dengan deru dada yang berdesing.
Hingga suara gelak lirih terdengar dari bibir mungil si wanita, membuat si pria jadi bertanya-tanya.
"Kenapa, Naora?"
__ADS_1
"Kau ini sangat lucu, Nathan. Kita belum lama saling kenal, bagaimana mungkin kau bisa secepat itu menyukaiku? Aku yakin kau sedang mengerjaiku. Sudah ya, cukup bercandanya."
Naora masih saja berceloteh di sela tertawa ringannya. Ia bahkan tidak menyadari akan muka Nathan yang sudah berbingkai kecewa.
"Naora ... apa kau ingin aku membuktikannya?"
"Tidak perlu Nathan, Lagian aku ini wanita yang sudah bersu--, hmp!"
Ocehan Naora seketika terputus di tengah jalan. Sepasang mata wanita itu membola sempurna saat Nathan nekat mencium bibirnya tanpa sopan. Dan bersamaan dengan itu, seseorang datang dengan membawa kepalan tangan disertai muka merah karena amarah yang tak tertahan.
"Beraninya kau menyentuhnya!"
Tubuh Nathan tersentak saat sebuah tangan menarik kuat kerah lehernya.
Bug!
Belum sempat ia mencari tahu siapa pemilik tangan tersebut, ia harus menerima satu tinjuan keras di tulang pipi, membuat tubuhnya terhuyun hingga menabrak dinding kaca.
"Axton!" Naora memekik. Ia sangat terkejut karena menyaksikan tindakan kasar Axton terhadap Nathan.
"Kau pulang sekarang!" Axton menarik kasar tangan Naora, tapi langkahnya langsung terhenti karena Nathan menghadangnya.
"Siapa kau hingga berhak membawa wanita ini? Lepaskan dia."
"Aku suaminya! Jadi aku berhak atas semua yang ada pada dirinya!"
Bagaikan dihantam ribuan batu meteor dari langit, pernyataan yang baru saja terbebas dari lidah Axton, membuat Nathan terkejut luar biasa.
Tidak bisa langsung percaya begitu saja, Nathan menatap muka tegang Naora. "Naora, apa benar yang dikatakannya?"
Hingga hati yang semula dipenuhi harapan akan cinta yang bersambut, akhirnya harus patah saat anggukan berat kepala Naora menjadi jawaban akan kebenaran dari ucapan Axton.
Tanpa disadari oleh mereka, seseorang sedari tadi tengah memasang mata secara diam-diam dari sudut ruangan lain.
☘
☘
☘
__ADS_1
Bersambung~~