Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Harga Diri Axton


__ADS_3


Axton terlihat membisu. Lidahnya mendadak kelu. Cukup berat baginya untuk menjawab 'iya', tapi dia juga tidak ingin berbohong seperti seorang penipu. Terus terang, saat ini ia tengah mengumpat kesal di dalam kalbu.


Sial! Kalau bukan karena Naora, hal seperti ini pasti tidak akan terjadi!


"Honey kenapa kau hanya diam? Berarti benar dugaanku? Jadi ini alasannya kau tidak segera tiba di kamar tadi?" Lana terus mencecar Axton yang masih setia dengan bibir terkatup.


Entah mendapat dorongan dari mana, wanita itu membuka paksa satu persatu kancing kemeja Axton, untuk mencari tahu lebih jauh. Sepasang bola matanya seketika membelalak kala melihat begitu banyak kissmark yang membuatnya kian murka.


"Semua ini pasti perbuatan wanita ja.lang itu 'kan?! Dia pasti yang menggodamu duluan dengan cara murahan! Dasar ja.lang!"


Axton tertegun, saat mendengar ucapan Lana. Dia tidak menyangka, wanita yang selalu bersikap manja dan lembut itu, ternyata bisa berlidah kasar saat emosi melanda. Apakah saat ini, sang istri sedang menunjukkan sedikit eksistensi momok hati yang selama ini tersimpan di punggungnya? Apa mungkin ada sesuatu yang belum ia ketahui tentang si wanita?


Pria itu bertanya-tanya.


Namun, segera ia tampik pikiran buruk tentang istri kesayangannya. Ia berusaha keras melingkupi pikiran dan hati oleh sebuah pengertian tak terkira. Lana juga manusia biasa, yang bisa kasar saat hatinya kecewa. Begitu pikirnya.


Suara isakan tangis Lana kian mendramatisir keadaan. Axton seketika tersadar dari lamunan. Ia pun mulai membuka bibir untuk berlisan. Sungguh, hati kecilnya tidak akan tahan melihat wanita menangis sesenggukan.


"Lana, berhentilah menangis. Aku tadi sangat marah dengan Naora, jadi aku berniat memberinya pelajaran. Hanya itu saja." Akhirnya Axton mulai menenangkan wanita itu dengan serentetan penjelasan dan alasan.


Lana membawa netra basahnya menatap muka Axton. "Memberinya pelajaran dengan cara mencumbunya begitu maksudmu?!" Ia kian menangis histeris, sementara Axton kembali terdiam.


Jujur, Axton memang sangat payah jika sudah berurusan dengan wanita yang menangis.


Dibawanya tubuh menduduki bibir ranjang. Kaki Lana seolah tiada tenaga lagi untuk menopang. "Kau menyakitiku, Honey! Kenapa dulu tidak kau biarkan saja aku mati jika pada akhirnya hatiku kau sakiti?! Apa kau sudah lupa dengan janjimu dulu untuk melindungiku dan menjaga hatiku? Kau bahkan berjanji di depan ibuku sebelum ia meninggal!"


Wanita itu kian menggebu saat mengungkit kembali janji Axton kepadanya. "Kau seharusnya bersyukur memiliki pendamping hidup seperti aku, Honey. Kalau bukan aku, siapa lagi yang bisa menerima kekuranganmu yang memalukan itu? Di balik semua harta, tahta, dan martabatmu, kau hanya pria cacat yang tidak bisa memberikan kepuasan batin pada seorang wanita!"


Lana kembali beranjak dan mendekati Axton yang masih berdiri. Tangan diajak menyapu sungai air mata di pipi. Ia memandang muka suaminya dengan tatapan penuh harapan dari hati.


"Milikmu bahkan tidak berfungsi. Berarti kau tidak meniduri istri mudamu itu -kan? Jika kau berniat menidurinya, sebaiknya segera urungkan niatmu itu jika tidak ingin dipermalukan olehnya. Kau harus ingat, hanya aku yang bisa menerima semua kekuranganmu dengan sepenuh hati, bahkan aku tidak mempermasalahkan dengan kekuranganmu yang lainnya."

__ADS_1


Wanita itu mencoba mengais sedikit harapan guna menghibur diri. Selain itu, ia juga memberi kalimat penekanan agar Axton selalu mengingat akan semua ketulusan yang diberi, seakan sosoknya telah berjasa besar di dalam hidup pria itu selama ini.


WHAT?! Apa tidak salah?


Lana terus saja meluapkan kekecewaannya tanpa memperhatikan gurat-gurat pada muka Axton yang sudah mengeras. Semua perkataan Lana yang mengungkit semua kekurangannya, ternyata mengusik perasaannya dengan tegas. Malu? Itu sudah sangat jelas.


Harga dirinya sebagai seorang pria seakan terjatuh ke dalam kubangan lumpur hitam, membuatnya terlihat menjijikkan. Terutama dihadapan para wanita pemburu kenikmatan.


"Aku tidak cacat, Lana. Aku hanya masih dalam masa penyembuhan."


Selaan suara yang begitu berat dan dingin tiba-tiba menguar ke dalam indera pendengaran Lana. Gurat amarah terlihat menyelubungi muka tampan si pria. Sorot matanya sudah berkabut oleh rasa kecewa, membuat nyali si wanita menciut seketika.


"Honey, maksudku bukan seperti itu." Emosi yang semula menyelimuti hati, berangsur-angsur menguap, tergantikan oleh rasa gugup. Pasalnya, ini adalah kali pertama Axton memasang muka dingin di depannya.


"Aku selalu menepati janjiku. Hingga saat ini aku masih melindungimu dari ayah tirimu. Dan jangan salahkan aku jika kau merasa perasaanmu tersakiti pada akhirnya. Bukankah dari awal kau selalu menolak ajakanku untuk memperjuangkan hubungan kita, meraih restu dari Daddy. Kau ... juga ambil andil ketika aku menerima perjodohan itu. Bukan hanya Daddy saja yang menyeretku ke dalam pernikahan yang tidak ku inginkan itu, tetapi kau juga. Kau memaksaku hanya karena gentar akan gertakan Daddy. Jadi, seharusnya kau bisa memprediksi dan menerima resiko dari keputusanmu itu, Lana. Bagaimanapun juga, aku akan tetap menyentuh Naora karena Daddy mengharapkan seorang cucu penerus keturunan keluarga Sanders dari Naora."


Untuk beberapa detik, suara Lana seolah tercekat di tenggorokan. Hingga ia hanya mampu merespon semua kalimat Axton dengan kebisuan. Baru kali ini ia melihat Axton berbicara begitu panjang, membuatnya keheranan. Namun, gegas wanita itu mengusai keadaan, segera menarik lidah untuk kembali berlisan.


"Honey ... bagaimana bisa kau memberi Daddymu cucu, sedangkan kamu ti --" Lana tidak berani melanjutkan kalimatnya. Khawatir, Axton kian tersinggung.


Diambil gerakan tangan melingkari perut berotot sang suami yang selalu menjadi dambaan para kaum hawa. Lana, kembali berupaya menarik simpati hatinya. Mimik muka bersalah, sorot mata memelas, dan suara sumbang karena menangis, sudah dalam mode menyala.


"Honey, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung. Sikapku tadi karena aku terpancing oleh rasa cemburu. Aku hanya takut kehilanganmu, aku juga tidak rela jika cintamu untukku terbagi untuk wanita lain. Aku sangat mencintaimu, Honey. Tidak peduli dengan segala kekuranganmu."


Axton menghela napas dalam-dalam, hingga memenuhi rongga dada. Ia berupaya menenggelamkan amarahnya. Walaupun, getaran emosi masih bergulung-gulung di dalam jiwa. Namun, minat untuk berdebat dengan Lana tak bisa bertahan lama. Lebih tepatnya, ia merasa malas untuk banyak berkata.


Berbeda ketika ia berhadapan dengan Naora. Ketika bersama wanita itu, berbagai perasaan seolah bergumul menjadi satu dan menciptakan sebuah sensasi yang berbeda. Sebuah emosi tak teraba, hingga sulit membuatnya untuk mengeskpresikannya dengan jelas dan nyata. Namun satu hal yang pasti, ia tidak mendapatkan luapan rasa itu pada diri Lana.


Perlahan, Axton merenggangkan sepasang tangan yang melingkari perutnya. "Ini sudah malam. Segeralah beristirahat. Aku akan pergi ke ruang kerjaku dulu." Tutur kata Axton kembali melembut, tapi tak selaras dengan raut dingin pada mukanya. Lana tentu saja tidak bisa lega begitu saja.


Tubuh yang hampir berputar mengikuti pergerakan tungkai kambali terhenti karena sebuah tarikan di lengannya. "Ada apa lagi?"


"Kau pasti ingin menemui istri mudamu itu lagi. Aku tidak rela, Honey ...." Ia kembali merengek seperti anak kecil.

__ADS_1


Merasa jengah akan sikap Lana, axton reflek mendengus kasar. "Aku bilang kalau aku mau ke ruang kerja,Lana ... bukan ke kamar Naora."


"Aku akan menemanimu." Si wanita terlihat memaksa.


"Kau tidur saja," tolak Axton.


"Tapi, Honey ... ak--" ucapanya Lana langsung terputus saat suara bariton milik Axton menyela.


"Jangan ganggu! Aku butuh waktu tenang sekarang, Lana!" sentak Axton sebelum mengambil langkah lebar menuju pintu keluar, meninggalkan Lana yang terpaku oleh keterkejutannya.


"Sebelumnya, Axton tidak pernah menyentakku seperti barusan. Ini semua gara-gara wanita ***.*** itu!"


Ia juga mengambil langkah menuju luar ruangan. Bukan untuk menyusul Axton, melainkan ada hal lain yang ingin dilakukan. Hingga sepasang kakinya kian berayun cepat saat sebuah ruangan yang dituju sudah tertangkap mata.


Aku akan memberi pelajaran kepadamu!





Bersambung~~


Maaf ya teman-teman kemarin Nofi gk bisa up ... Saat mendekati imlekkan, pekerjaan pasti menggunung dan kayal gk ada habisnya..🙏


Terima kasih ya masih setia nyimak karya ini. Jujur, ketika Nofi gk bisa up, rasa cemas jika kalian kabur dari lapak ini, itu ada loh😩 Tapi ... semuanya kembali kepada hak para readers, kalau masih mau bertahan nyimak alhamdulilah.. kalau milih pergi Nofi gk bisa ngelarang🥰


Bye bye...


Wo ai nimen😘


Btw, bab ini sebenernya dah Nofi up dari kemarin malam, tapi masih direview terus statusnya. Mungkin sistem NT lagi eror..

__ADS_1


__ADS_2