
"Daddy, kami datang." Naora mengecup sayang kening Edrich yang masih setia memejamkan mata. Diambil posisi duduk di sebelah ranjang lalu mengusap lembut tangan tua yang berhias jarum infus itu. "Daddy, cepatlah bangun. Coba kau lihat, perutku sudah membesar dan sebentar lagi lahiran. Cucumu ini pasti juga menanti sambutan kakeknya yang super tampan ini." Kendati tiada respon yang diterima, Naora seolah tidak pernah bosan mengajak berbicara Edrich setiap berkunjung.
Ditatap nanar wajah sang daddy yang terlihat lebih kurus dan pucat. Pemandangan itu, membuat kesenduan di hati kian mencuat. Selama ini ia sudah terbiasa melihat senyuman Edrich yang hangat, dan juga ... pelukan erat.
Naora mengubah posisi ke berdiri, meraih pelan tangan Edrich lalu meletakkan di perutnya. Kali ini ia ganti mengajak interaksi pada bayi yang dikandungnya. "Sayang ... ini tangan kakek sedang menyapamu. Apa kau senang?"
Wanita yang sedang hamil tua itu tersenyum hangat di sela kesenduan saat merasakan pergerakan pada perutnya. Ternyata, si bayi seoah ingin turut berinteraksi dengan sang kakek.
Axton yang juga berada di ruangan di sana terkesima melihat pemandangan di depan mata. Hingga rasanya ia tidak akan tahan jika hanya berdiam saja.
"Dad, cepatlah bangun. Apa kau tidak bosan berada di sini terus? Lihatlah, cucumu juga ingin kau segera sadar dari tidur panjangmu itu."
Pria itu sedikit membungkuk ke arah Edrich yang masih saja membisu seperti patung. "Aku lebih baik menerima pukulanmu setiap hari dari pada harus melihatmu seperti ini. Aku janji tidak akan menghindar jika kau memukulku. Maka dari itu segera bangunlah."
Ketukan waktu terus berdetak, mengiringi jarum jam mengitari porosnya. Matahari juga sudah berdiri gagah di atas kepala. Menandakan waktu makan siang telah tiba.
Sepasang suami istri itu berniat mencari makan siang. Bagi Axton, ritual rutin itu tidak boleh sampai terlambat, mengingat Naora sedang hamil sekarang, butuh banyak asupan gizi demi kesehatan sang ibu dan juga bayi.
Jangan salah, semenjak tahu ia akan menjadi seorang ayah, sikap posesif Axton kian parah. Hmm ... bukan posesif sih, tapi ... perhatiannya lebih terarah.
Semua kebutuhan istri, Axton lah yang selalu berperan layaknya sebuah kantong ajaib milik robot kucing dari Negeri Sakura. Tidak ada kata 'nanti' di kamusnya, apa lagi menunda jadwal periksa. Calon ayah muda itu juga sangat memperhatikan menu makanan sehat Naora. Jam istirahat juga tidak luput dari pengawasannya. Bahkan, malam-malam ia sering terbangun hanya untuk membetulkan posisi tidur si wanita. Axton benar benar sudah menjadi suami yang super siaga.
"Axton, bukankah itu Nathan dan Joe?" Langkah Naora seketika terhenti saat matanya menangkap sosok orang yang sangat ia kenal berada di taman belakang rumah sakit.
Dua sudut siku-siku seketika menghiasi kedua pangkas alis tebal Axton beriringan dengan hati yang bertanya-tanya. Pasalnya, dari jauh terlihat, Nathan sedang duduk di kursi roda. Siapapun yang melihatnya pasti berasumsi bahwa pria itu sedang tidak baik-baik saja.
"Jalan pelan-pelan, Naora," tutur Axton saat melihat Naora berjalan menuju taman dengan langkah cepat. Gegas ia tahan tubuh istrinya dan berkata. "Berjalan pelan atau aku gendong?" Ia memberi pilihan dengan raut tegas.
Dicubit gemas lengan berotot suaminya seraya mendengus. "Hish! Akan sangat memalukan jika kau sampai menggendongku di tempat umum seperti ini. Ya sudah, ayo kita segera hampiri mereka."
"Joe? Nathan? Kenapa kalian ada di sini?" tanya Naora yang baru saja tiba di taman. Kemudian ia menggiring perhatian kepada Nathan yang sedang berada di kursi roda dengan wajah pucat. "Nathan, kau kenapa? Sakit?"
"Kenapa kau sangat perhatian ke dia, Naora?" sela tiba-tiba Axton karena tidak suka. Baginya, sikap perhatian Naora sangat berlebihan meski hanya sekedar menanyakan keadaan Nathan saja.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah dengan sikapku ini, Axton," sanggah Naora.
Axton menarik tubuh Naora ke dalam rangkulannya. "Kemarilah, jangan dekat-dekat dengannya. Takutnya ia membawa virus. Jangan-jangan dia mau mati."
Nathan yang semula terlihat lemah karena sedang sakit seakan mendapat pasokan energi dadakan. "Sahabat laknat kau, Axton! Apa kau baru saja menyumpahiku?! Tega sekali berkata seperti itu kepada sahabatmu yang sedang sakit ini!" sembur pria itu karena emosi.
Beberapa kali Nathan terlihat berusaha bangkit dari kursi roda, berniat ingin menghadiahi pukulan pada wajah pongah di hadapannya. Namun sayang, daya yang terkuras membuatnya kembali terduduk di tempat semula. Rupanya ia kembali tak berdaya. Haha!
Sementara Axton saat ini tampak beberapa kali menggeliat geli karena mendapat cubitan brutal dari Naora. Wanita itu rupanya tidak suka dengan sikap suaminya.
"Sedikitlah bersimpati, Axton." Naora sangat geregatan bercampir gemas.
"Nathan, bersikap tenanglah sedikit. Nanti kau bisa kembali mual dan muntah-muntah." Jovana mencoba mengingatkan, meski sebenarnya ia tengah menahan tawa. Baginya, perdebatan di antara Nathan dan Axton sukses menggelitik jiwa humorisnya.
"Kau itu sakit apa?" tanya Axton seraya mengusap bekas cubitan Naora di perutnya.
"Kenapa kau peduli?!" Ketus Nathan dengan napas ngos-ngosan.
"Dari pada aku tidak bertanya sama sekali."
Naora sampai geleng kepala karena kelakuan suaminya. Ternyata beberapa cubitan tidak membuat pria itu jera.
"Suamimu itu sebenarnya sakit apa sih, Joe?" Naora akhirnya memilih menggiring pertanyaan ke Jovana.
"Entahlah. Sudah beberapa hari ini Nathan diserang rasa mual dan terus memuntahkan isi perutnya. Dan beberapa saat yang lalu ia pingsan karena mengalami dehidrasi parah dan juga anemia. Bahkan ia sekarang tidak bisa berhadapan dengan sembarang makanan, karena aromanya bisa membuatnya kembali mual."
"Sayang, mendekatlah. Jangan jauh-jauh dariku." Nathan menarik tubuh sang istri seolah keberadaan wanita itu adalah obat baginya. Diraih tangan lembut Jovana, lalu dicium dan dihirup dalam-dalam seperti orang yang kecanduan nikotin.
Suara seringaian kecil Axton tiba-tiba menguar dari bibirnya. Hingga seketika menarik perhatian ke tiga manusia lainnya yang berada di sana.
"Kenapa kau tertawa? Kau terlihat bahagia di atas penderitaanku," ketus Nathan.
"Apa kau percaya hukum karma di dunia masih berlaku?" ucap Axton kepada Nathan. Sementara Naora dan Jovana tampak bertanya-tanya.
"Tentu saja aku percaya."
__ADS_1
"Karma itu sedang menghinggapimu sekarang."
"Karma apa? Jangan ngaco kalau ngomong."
"Ingat-ingat saja sendiri dengan ucapanmu waktu kita berada di desa terpencil."
Masih tersemat jelas di ingatan Axton. Dulu Nathan pernah meledeknya saat mengalami sindrom kehamilan simpatik. Dan sekarang, adalah waktu yang tepat untuk menikmati doanya yang di dengar Tuhan.
Haha ...! Axton bahagia!
"Sebaiknya, kau periksakan istrimu itu." Axton memberi saran lalu mengalihkan atensinya kepada Naora yang terlihat paham dengan perkataannya.
Sesaat, Axton dan Naora saling melempar tatapan penuh makna sebelum akhirnya kembali menyambung percakapan.
"Joe, selamat ya," ucap Naora, membuat raut muka istri Nathan itu dipenuhi tanda tanya.
"Untuk apa? Aku tidak paham."
"Ahk! Axton, perutku!"
Belum sampai Naora menjawab pertanyaan Jovana, tiba-tiba ia merasakan rasa mulas yang teramat mendera. Tubuhnya sedikit terhuyung ke arah Axton seraya memegang perutnya.
Axton seketika membelalak saat melihat cairan bening mengalir di antara dua kaki istrinya. "Ketubanmu pecah, sayang. Sepertinya kau akan melahirkan."
Tidak ingin membuang waktu, Axton langsung menggendong tubuh Naora lalu dibawa ke dalam bangunan rumah sakit.
β
β
β
Bersambung~
Dengan Pedenya setelah selesai kerja, Nofi malah enak-enakan tidur. Bangun-bangun waktu sahur dan langsung ngebut ngetik bab dehπ
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah ini ya teman-teman.