Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Bercerai?


__ADS_3


"Lepaskan! Brengsek!"


Bug!


Bug!


Bug!


"Argh!"


Seorang pria tampak memberontak saat tubuhnya diseret paksa oleh dua orang preman berbadan besar. Perlawanan yang digencarkan rupanya memancing amarah para makhluk bermuka sangar itu, hingga ia mendapatkan pukulan kasar.


"Jangan melawan jika tidak ingin mati!" hardik salah satu dari preman setelah puas menghajar sanderanya.


"Kurang ajar! Aku ini bos kalian!" tegas si sandera yang tak dan tak bukan adalah Stefan.


"Bos kami bukan kalian, tapi Nyonya Lana." Preman berkepala botak seperti bohlam lampu taman itu tergelak pecah dan diikuti oleh preman yang satunya.


"Lepaskan aku! Kalau tidak--"


"Kalau tidak kenapa?! Hah?! Jangan berisik! Tetap di sini dan awas kalau sampai coba-coba untuk kabur! Nyonya Lana sudah memberi wewenang kepada kami untuk membunuhmu jika kau berani melawan!" sentak si preman dengan memberi peringatan keras.


Teramat sakit, itulah yang dirasakan Stefan kini. Seorang istri yang selama ini ia cintai dengan tulus, tega melemparinya ribuan batu hingga menembus sanubari.


Dia baru sadar, hatinya telah dibutakan oleh cinta selama ini, mematahkan nalar akan arti cinta sejati. Sampai-sampai rela melakukan hal-hal bodoh yang bisa menghancurkan diri. Pria itu telah gagal menjadi seorang suami.


Brak!


Setelah mengikat tangan, kaki dan juga menyumpal mulut Stefan, para preman itu keluar dari ruangan dengan diakhiri suara keras hantaman pintu. Dia bahkan sampai terjingkat karena ulah berlebihan orang-orang suruhan Lana itu.


Pandangan dibawa menyisir setiap sudut ruangan. Berharap ada celah untuk dia melarikan diri tanpa ketahuan. Hingga ia dibuat terkejut saat menyadari ada orang lain yang diyakini juga korban penculikan.


Bi Milah? Kenapa dia juga ada di sini?


Batin Stefan bertanya-tanya. Melihat wanita itu tampak meronta agar terbebas dari jeratan tali membuatnya tidak tega. Ia lantas bergerak mendekati Milah meski sangat kepayahan karena posisi tubuh saat ini sedang terikat hingga menyita banyak ruang geraknya.


Pria itu tampak berusaha keras mencari cara agar kain yang membungkam mulut Milah terlepas. Ia memposisikan tubuhnya dengan membelakangi wanita itu hingga tangan dapat menjangkau kain tersebut. Dan berhasil!


Tidak ingin berlama-lama, Milah juga berusaha membantu Stefan melepas penyumpal mulutnya dengan mengikuti instruksi pria itu. Dan Akhrinya berhasil juga.


"Bi, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Stefan sedikit berbisik. Tidak ingin para preman mendengar percakapan mereka.


Milah tampak mengatur napas dan rasa tegangnya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Diam-diam aku berniat memberi tahu tuan Axton tentang kebusukan kalian, tapi aku terlambat. Lana dengan cepat mencurigaiku. Hingga aku berakhir di sini sekarang," terang Milah dengan raut kecewa di mukanya.

__ADS_1


Stefan seketika tertunduk lemas seketika. Lebih tepatnya pria itu tengah merasakan raungan sesal di rongga dada. Bahkan saat ini ia terlalu malu untuk sekedar melihat wajah kecewa di depannya.


"Maaf, Bi. Aku sangat menyesali perbuatanku," lirih Stefan.


Tanpa terasa denyutan di dada mendorong titik-titik cairan bening untuk membingkai matanya kini. Pria itu berkali-kali mengutukki dirinya sendiri akan segala kebodohannya selama ini.


"Terus kenapa kamu juga bisa berakhir seperti ini?" tanya Milah yang rupanya keheranan karena yang dia tahu, Stefan adalah kaki kanannya Lana.


"Aku berniat mengakui semua tindakan kejahatanku dan Lana ke kantor polisi. Termasuk kejahatan yang hampir merenggut nyawa Axton kemarin. Namun, tidak kusangka, Lana bergerak lebih cepat. Padahal aku ini suaminya, tapi dia tega berbuat seperti ini kepadaku," aku Stefan.


"Ya Tuhan ...?! Kalian itu memang gila! Tidak tahu balas budi. Padahal tuan Axton sudah berbaik hati menampung kalian dari jalanan."


Rasanya Milah tidak ingin mempercayai apa yang sudah diketahuinya. Selama ini, ia menilai Stefan sebagai seseorang berkepribadian yang baik, ramah, dan sopan apalagi terhadap orang tua. Sama halnya dengan Naora, Stefan selalu memberi perhatian selayaknya seorang putra menyayangi ibunya.


"Kita harus segera mencari jalan keluar sekarang, Bi."


"Tapi bagaimana caranya?"


Stefan kembali mengedar pandangan ke seluruh ruangan, hingga bibirnya menyungging saat menangkap satu celah yang diyakini mampu membawa mereka keluar dari sana.



Axton manampilkan reaksi terkejut seolah tidak percaya bahwa Naora tiba-tiba mengajukan surat gugatan cerai kepadanya. Ia tampak meremas secarik kertas itu sebagai bentuk rasa kecewa. Namun, tidak lama ia menyabet pena dari tangan Lana lalu mengisi tanda tangannya pada kolom kosong yang bersebelahan dengan tanda tangan milik Naora.


Puas! Di dalam hati Lana bersorak gembira seakan tengah merayakan kemenangannya.


Kesenangan Lana tiba-tiba terhenti saat pintu kamar terbuka seiring dengan sosok Naora yang muncul dari balik sana.


"Mau ngapain kamu datang kemari?" ketus Lana yang langsung menunjukkan sikap tak bersahabatnya.


Sementara Axton membisu dengan raut muka sulit terbaca. Tiada gurat amarah ataupun lengkungan senyuman bibir sebagai penyambut kedatangan Naora. Pria itu bahkan melirik ke arah wanita itu hanya sekilas saja. Entahlah, sebenarnya apa yang sedang dipikirkannya.


Oke kita lihat saja!


"Tentu saja aku ingin menemui suamiku, Lana." Naora menyahut lalu menghampiri Axton yang masih duduk bersandar pada headboard ranjang rumah sakit. Terus terang wanita itu merasa senang sekaligus lega karena sang suami sudah sadar.


"Axton, bagaimana keadaanmu?" tanyanya dengan lembut dan penuh perhatian.


Diraih jemari besar si pria. Namun, penolakan yang diterima. Naora tertegun seketika. Hanya masih sebatas penolakan kecil, hatinya sudah sakit tak terkira. Bersamaan dengan itu ia pun mulai curiga bahwa ada yang salah dengan suaminya.


"Axton ...?"


"Kenapa kau masih datang? Ingin mengambil surat gugatan cerainya? Ini ambillah. Aku juga sudah menandatanganinya," ucap Axton terkesan dingin seraya melempar surat yang sedari tadi masih digenggamnya ke wajah Naora.


Naora terkesiap dengan denyutan nyeri di dada. Sikap Axton kian menyakitinya. "Aku akan menjelaskannya, Axton. Kau salah paham. Sebenarnya--"

__ADS_1


"Tidak perlu, karena surat ini sudah cukup menjelaskan semuanya," pangkas pria itu dengan cepat.


Wanita cantik itu menatap lekat paras Axton dengan perasaan gundah. Bahkan netra cantiknya sudah terlihat basah. "Axton, bukankah kau mencintaiku? Jadi kau harus mendengarkan dan mempercayai penjelasanku." Ia tetap keukuh berusaha meyakinkan sang suami.


Hingga ia seketika tertegun, saat seringaian meremehkan terbit di bibir Axton. Ia masih sangat ingat raut pria itu saat ini sama persis dengan raut kebencian di saat awal-awal pernikahan.


"Kau bodoh, Naora. Apakah kau lupa dengan perkataanku di awal kita menikah? Baiklah aku akan mengingatkanmu jika kau memang lupa, 'Jangan mengharapkan sebuah kehadiran cinta di dalam pernikahan sialan ini. Sampai kapanpun itu tidak akan terjadi'," ucap Axton dengan sangat entengnya.


"Kau bohongkan?! Jangan bercanda, Axton?" Naora seolah masih enggan menerima kenyataan.


"Aku sudah puas dengan tubuhmu dan tidak membutuhkannya lagi."


Sial! Ucapan terang-terangan Axton sukses merenggut harga diri seorang Naora Alesha. Wanita itu tentu saja tidak terima.


"Kalau kau tidak mencintaiku dan juga sudah tidak membutuhkanku lagi, tidak seharusnya kau mempertaruhkan nyawamu demi menolongku kemarin."


"Dan saat ini aku sedang menyesalinya sekarang. Harusnya ku biarkan saja kau dimakan truk."


Masih berusaha tabah. Kendati bingkai netra sudah tampak basah, tapi ia masih enggan untuk menangis karena hati yang patah. Apalagi melihat reaksi Lana yang tampak sumringah. Tidak! Di depan wanita itu jangan sampai ia terkesan lemah.


Naora tidak akan kalah!


Diraup kertas pengajuan gugatan cerai yang sempat tergeletak dilantai, lalu kembali memasang sikap tegar dan tidak mudah ditindas di depan si pria. Hingga seringaian misterius membingkai wajah ayunya, membuat Axton keheranan terutama Lana.


"Hah ...! Ya sudah kalau kau ingin menyudahi permainan ini. Toh, aku juga tidak memiliki rasa cinta kepadamu. Kau bahkan tidak pernah mendengar kalimat 'aku mencintaimu' dari bibirku bukan?"


Naora sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Axton lalu kembali berkata. "Apa kau pikir aku akan menyesal karena sudah pernah tidur denganmu? Buat apa aku menyesalinya, toh aku juga merasakan nikmat yang sama. Kita sama-sama mendapatkan kepuasan 'kan? Tapi percayalah, kau tidak akan mendapatkan rasa candu yang sama ketika kau melakukannya dengan wanita lain, termasuk dengan istri pertamamu itu."


Sindiran yang terdengar sukses menghujam hati Lana. Ingin sekali ia membantah tapi nyatanya tidak ada celah untuk melempar balik perkataan Naora. Akhirnya ia hanya bisa bersumpah serapah di dalam hatinya.


"Kau terlalu percaya diri sekali, Naora," ucap Axton dengan nada dinginnya.


Naora menegakkan tubuhnya lalu melipat kedua tangan di depan dada. "Jika perkataanku terbukti salah, pantai selatan akan aku pindah ke utara. Ayam jago akan aku buat bertelur. Angin ribut akan aku buat berdamai. Camkan itu," ucapnya dengan sangat percaya diri.


Setelah sukses membuat kedua manusia itu melongo, Naora langsung melenggang pergi dari ruangan, membawa hati yang terluka. Selang tidak lama setelah kepergian wanita itu, perhatian Axton dan Lana kembali tersita oleh sosok manusia yang baru saja datang.


"Apa yang kau lakukan kepada Naora?!" geram pria itu sedikit tertahan. Ia tidak mungkin bersuara lantang saat masih di rumah sakit.





Bersambung~~

__ADS_1


Dan hujat saja si Axton, gpp kok.. Authornya IHKLASSSS! Tapi habis itu jangan nyesel ya..🤣


__ADS_2