Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Axton Yang Malang


__ADS_3


"Kau beri minuman ini kepada wanita itu lalu ajak dia ke tepi kolam," titah Rosmala kepada Axton seraya mengulurkan segelas minuman yang sudah dicampur oleh serbuk asing, tentunya hanya dia saja yang tahu.


Dengan ragu Axton menerima minuman tersebut. "Ini minuman apa, Mom?"


"Itu jus buah delima kesukaan Areum. Sudah cepat berikan ke dia!" desak Rosmala. Mata beberapa kali di ajak mengedar ke sekitar, memastikan tidak ada orang lain yang melihat gelagatnya.


"Tapi, Mom." Bocah itu seolah merasa berat untuk menuruti perintah sang Mommy.


Bak manusia berkepribadian ganda, Rosmala langsung memasang ekspresi lembut, menepis gurat-gurat kebencian secepat kilat. Ia sedikit membungkuk, hingga pandangannya bersejajar dengan pandangan Axton, lalu mengulas senyuman hangat.


"Putraku ... bukannya kau ingin merasakan kasih sayang dariku? Maka dari itu, patuhi perintahku."


Rosmala membelai sayang kepala Axton. Ia seolah berkamuflase untuk mengelabuhi anak kecil di depannya.


"Apa yang kau pikirkan, putraku? Aku hanya memintamu memberikan minuman ini saja, tidak ada niat lain."


Wanita itu masih terus membumbui pikiran polos Axton dengan serangkaian lisan yang terkesan sarat akan ketulusan. Hingga, seringaian samar-samar tercetak di bibir saat usahanya dirasa tidak berakhir percuma.


"Hapus air matamu dulu sebelum menemuinya."


"Iya, Mom."


"Dan tersenyum lah. Jangan buat dia cemas karena melihatmu menangis."


"Baik, Mom."


"Dan satu lagi, jangan bilang kalau minuman ini dariku."


Axton kecil merespon dengan sebuah anggukan kepala. Akhirnya ia mematuhi perintah Rosmala. Sikap lembut dadakan yang diterima membuat bocah polos itu luluh begitu saja, tanpa adanya pikiran buruk tentang niat wanita itu yang sebenarnya.


Dengan segelas air di tangannya, ia melangkah mendekati Areum yang sedang berada di dekat kawasan kolam renang. "Bi Areum ... kau sedang apa?" sapanya dengan seutas senyuman di bibir. Kendati hati kecilnya masih terluka karena siksaan yang selama ini diterima dari Rosmala.


Areum seketika memutar leher ke arah sumber suara. Wanita cantik itu langsung mengumbar senyuman hangat di muka. Binar kasih sayang terpancar indah di sorot matanya.


"Nak Axton, Bi Areum baru saja memberi makan kucing peliharaanmu," jawabnya seraya menunjuk seekor kucing yang tengah melahap rakus makanannya. Pandangan Axton pun mengikuti ke mana jari wanita itu bergerak.


"Nak Axton, minuman apa yang kamu bawa itu?" tanya Areum lagi karena penasaran.


"Ini jus kesukaan Bi Areum." Tangan kecil yang masih memegang gelas minuman itu terulur ke arah Areum.


"Ini untukku?"


Axton mengangguk cepat. Sesekali ia melirik ke arah Rosmala yang masih mengawasinya dari kejauhan. Wanita itu tampak memberi anggukan seraya tersenyum seolah baru saja memberi pujian.


"Terima kasih ya. Minumannya enak," ucapnya setelah menegak sebagian minuman itu.

__ADS_1


Hingga akhirnya kedua anak manusia itu larut dalam bercengkerama. Suara canda gelak tawa pun beberapa kali turut menghiasi kebersamaan mereka. Axton bahkan tampak antusias mendengar Aruem yang tengah bercerita.


Tanpa disadari, pemandangan yang mereka pamerkan menumbuhkan rasa tidak suka di hati Rosemala. Rupanya, wanita itu sedari tadi masih setia memasang mata. Mengawasi sembari menunggu sesuatu mengejutkan tentunya.


Untuk saat ini kalian kubiarkan tertawa senang. Anggap saja itu hadiah perpisahan kalian dariku.


Wanita itu menyeringai licik dengan penuh keyakinan bahwa rencananya akan berhasil tanpa sia-sia. Dan benar saja, tidak perlu menunggu lama, seringai kepuasan langsung menghiasi muka. Adegan di depan mata sungguh menyenangkan hatinya.


Byurr ...!


"Bi Aruem ...!"


Dari kejahuan terdengar suara benda terjebur ke dalam genangan air kolam disusul gelombang pekikan histeris dari bibir Axton.


Ternyata efek obat biusnya bereaksi dengan cepat. Kalau sudah seperti itu dia tidak akan bisa berkutik di dalam air dan akhirnya tenggelam.


Rosmala bersorak gembira di dalam hati. Dirasa tujuannya sudah berjalan sesuai keinginan, wanita itu pun melenggang pergi dari sana, berlagak seolah tidak mengerti apa-apa.


Sementara itu, Axton tampak begitu panik saat Aruem tampak kesulitan keluar dari air. Beberapa saat yang lalu wanita itu tiba-tiba merasa lemas dan pusing, membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam kolam.


"Bi Aruem!" Axton mencoba mengulurkan tangannya, berharap bisa dijadikan pegangan Aruem.


Namun, pergerakan wanita itu kian melemah. Otot-ototnya di dalam tubuhnya seolah lumpuh. Hingga akhirnya ia tenggelam ke dasar kolam.


Axton kian panik dan ketakutan. Ia berniat mendatangi Rosmala untuk meminta bantuan, tapi ternyata sosok wanita yang sedari tadi memantaunya dari jauh itu sudah tidak ada di tempat. Akhirnya ia mencoba keluar dari kawasan kolam renang untuk mencari bantuan orang lain.


Selang tidak lama, bocah itu kembali bersama dua orang satpam. Salah satu dari mereka langsung terjun ke dalan air dan membawa tubuh Aruem ke pinggiran kolam.


Terlambat sudah ....


Beberapa hari kediaman berkabut duka. Edrich yang tidak bisa menerima kenyataan pun murka. Pria itu mulai menyalahkan Putra semata wayangnya. Kendati, ia tahu bahwa Rosmala lah yang menjadi dalang dari peristiwa yang merenggut nyawa Aruem, wanita kesayanganya.


Seolah belum puas menjebloskan Rosmala ke dalam buih, Edrich nyatanya tidak bisa berpuas hati begitu saja. Rasa kehilangan yang mengakar dalam seolah membutakan mata hatinya. Jiwa dibiarkan dikuasai oleh kebencian tak bercela. Bagi pria itu, sang putra juga turut ambil andil atas kematian istri ke-duanya.


"Kau telah membunuh ibu kandungmu sendiri, Axton! Dia ibu kandungmu! Dasar pembunuh!"


Bagaikan dihantam ombak badai di tengah samudra. Hati kecil Axton yang masih sangat polos dan belum begitu banyak tahu akan ragam rasa kehidupan harus rela menelan pil pahit secara bulat-bulat. Kebenaran yang baru saja ia ketahui kian menambah kehancuran hatinya.


Areum adalah cinta pertama Edrich. Keduanya sudah menjalin kasih cukup lama. Namun, cinta mereka sempat kandas karena Edrich harus menikahi Rosemala karena perjodohan bisnis yang sudah disepakati oleh pihak para orangtua.


Namun, pria itu dibuat kecewa saat mengetahui bahwa perjodohan itu semerta-merta demi menuruti permintaan Rosemala yang memang sudah jatuh hati kepadanya. Hingga akhirnya ia memilih menuruti semua kata hati, yaitu kembali pada sang pujaan hati, Areum.


Rosemala, awalnya dia adalah sesosok yang baik. Akan tetapi, hatinya harus patah karena suami yang ia cintai membawa wanita lain ke dalam hubungan rumah tangga mereka. Wanita itu adalah Areum.


Rosemala kian dibuat kecewa setelah mengetahui Areum hamil. Semua kebaikan di dalam dirinya seketika sirna. Perasaan jahat yang sebelumnya tidak pernah muncul mulai menegakkan kepala.


Jika dirinya mempunyai anak yang bisa menggerakkan perasaannya, apakah mungkin situasinya akan membaik? Tapi sayangnya, Rosemala tidak bisa hamil yang berarti mandul.

__ADS_1


Saat mengetahui kenyataan bahwa dia seorang istri pertama tidak bisa memiliki anak dari pria yang dia cintai itu sama saja hukuman baginya. Setengah dari diri wanita itu menjadi gila.


Areum yang menyadari bahwa keberadaannya adalah duri di dalam rumah tangga mereka pun sadar diri. Hingga ia memilih mengalah atas segala sikap buruk madunya. Bahkan ia begitu pasrah saat Rosemala meminta bayinya ketika lahir dan melarangnya mengungkapkan identitas yang sebenarnya di depan anaknya kelak. Edrich yang semula menentang keras akan keputusan sepihak Rosemala mau tidak mau harus menurutinya karena Areum terus meminta pengertian.


Kisah cinta yang rumit memang. Dan hebatnya, para orangtua tidak mengetahui keretakan di dalam rumah tangga anak mereka selama ini.


"Axton pembunuh ... Axton pembunuh ...."


"Teman-teman jangan mau berteman dengannya. Dia itu pembunuh."


"Iya! Dia itu seperti monster. Tega membunuh ibunya sendiri!"


"Aku sangat takut dekat-dekat dengannya. Aku takut dibunuh! Hih! Serem ...!"


Sementara itu ... kondisi Axton kian menyedihkan. Belumlah sembuh luka hati yang ditorehkan oleh ayahnya sendiri, kini ia harus menerima perlakuan buruk dari teman-temannya di sekolah. Bahkan orang tua para murid seolah turut merundungnya dengan tatapan sinis dan ucapan pedas.


Entah bagaimana ceritanya, berita tentang kematian Areum melebar luas ke kalayak umum dengan cepat. Yang jelas, hal itu sangat berimbas buruk bagi kesehatan mental Axton.


Sungguh, Axton kecil yang malang.


Helaan napas panjang terdengar mengiringi suasana. Pria itu menjeda lidah untuk melanjutkan cerita tentang masa lalunya. Masih dengan pandangan lurus ke arah kolam teratai di depan mata, pria itu tersenyum getir saat itu juga.


"Dulu ... aku sengaja sering membuat onar di sekolah dan juga memukuli teman-temanku demi mendapat perhatian Daddy. Aku bertindak seperti berandalan kecil, tapi usahaku ternyata tak berarti apa-apa. Daddy malah mengirimku ke rumah ini, tinggal bersama para pembantu."


Hening ... tiada sahutan dari Naora yang dari awal memaksan Axton untuk bercerita. Merasa heran, Pria itu memutar lehernya ke arah si wanita. Hingga ia kembali tertegun dengan pemandangan di depan mata.


"Naora ... kamu--"





Bersambung~~


Maaf ya, bab ini kesannya terburu-buru aku menjelaskannya. Tapi semoga kalian tetap mudeng dan nggak mumet gara2 membaca tulisanku🤣✌


Sebenarnya aku tidak begitu puas dengan bab ini. kayak gk ngena banget ... mbulettt dan gk begitu mantengin diksi😔 Rasanya pingin gk up hari ini, tapi aku takut di demo oelh para ibuk-ibuk berdaster🤣


Well. Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon LIKE Tinggalkan KOMEN cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini🤣 Berncanda kok✌


Yang punya Vote dan Gift bolehlah disumbangkan ke karya ini..🥰


Sarangheyo ...😘😘


Well. Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon LIKE Tinggalkan KOMEN cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini🤣 Berncanda kok✌

__ADS_1


Yang punya Vote dan Gift bolehlah disumbangkan ke karya ini..🥰


Sarangheyo ...😘😘


__ADS_2