Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Sewenang Wenang


__ADS_3


Suara dengkuran halus Naora terus mengiringi malam yang merangkak ke pagi. Suhu panas tubuhnya sudah dapat teratasi. Dengan kata lain, keadaan wanita itu kian membaik dan tentunya dapat meluruhkan kecemasan di hati sang suami.


Sang suami?


Iya ... sang suami, siapa lagi kalau bukan Axton Sanders. Naora 'kan suaminya cuma satu, tidak seperti Lana yang menyimpan rahasia besar di balik kelembutan sikapnya.


Sepasang bola mata di balik kelopak cantik berbingkai bulu-bulu halus nan lentik itu tampak bergerak-gerak samar. Pertanda, jiwanya sudah kembali ke peraduan setelah semalaman berpetualang di negeri kapuk.


Wanita itu mulai membuka mata dengan kernyitan di kening. Kendati demamnya sudah mereda, tapi masih menyisakan rasa pusing. Ia menggeliat ringan seiring dengan rasa tidak nyaman pada tenggorokannya yang kering.


"Aku haus sekali," keluh Naora. Mata langsung melirik ke meja nakas sebelah ranjang, dan segelas air putih seolah melambai-lambai menawarkan diri.


Diajak tubuhnya berpindah ke posisi duduk dengan bersandar pada headboard. Ia meraih segelas air tersebut lalu mulai menegaknya.


"Pelan-pelan saja minumnya."


Naora seketika menyembur sisa air dari mulutnya. Gelombang suara yang tiba-tiba menjalar ke indera pendengaran, sungguh mengagetkannya.


"Hei! Kenapa kau jorok sekali?!" sentak Axton saat tubuh dan beserta alat kerja di pangkuannya basah karena semburan frontal Naora. "Kau sudah mengacaukan pekerjaanku, Naora!" Mulutnya terus mengomel seraya memindahkan laptopnya ke meja nakas.


"Itu karena kau mengagetkan, Axton!" Naora memaksa membela diri, meski masih terbatuk-batuk.


"Kaunya saja yang tidak langsung menyadari keberadaanku. Jelas-jelas aku sudah berada di sampingmu sedari tadi." Pria itu meraup gelas yang masih dipegang Naora, lalu meletakkannya di meja nakas. Lanjut mengambil beberapa lembar tisu dan sedikit melemparnya ke arah si wanita. "Bersihkan mulutmu dengan ini."


Dengan perasaan kesal, Naora menjumput tisu tersebut lalu mengelap bibirnya dengan kasar. Hingga ia mulai menyadari suasana kamar yang tampak begitu berbeda.


"Ini ... di mana?" Matanya menyisir seluruh sudut ruangan.


"Di hotel."


"APA?!" Naora sontak memeriksa tubuhnya, memastikan tidak ada yang aneh di sana. "Fyuhh ...! Syukurlah." Ia merasa lega, yakin mahkota kesuciannya masih terjaga.


Axton menatap jengah Naora. Gelagat wanita itu seolah menyudutkan dirinya, menuduh ia telah melakukan perbuatan mesum kepada si wanita.


"Aku tidak menyentuhmu semalam, lagian aku tidak nafsu mencumbu orang yang lagi sakit," ketusnya.


"Aku tidak bisa mempercayaimu, Axton. Kau itu sudah sering sekali mencuri ciumanku."


"Aku ini siapamu, kau harus ingat, Naora. Bukan hanya mencium saja, bahkan aku berhak melakukannya lebih dari itu."

__ADS_1


Iya aku memang berhak memilikimu seutuhnya, tapi mulai saat ini aku tidak akan memaksamu untuk itu.


Si wanita seketika beringsut mundur, sedikit menjauh dari si pria. Ucapan Axton bagaikan ancaman halus bagi Naora. Gegas ia mengalihkan pembicaraan ke topik lain untuk mengusir rasa canggungnya.


"Kenapa harus ke hotel? Kita bisa langsung pulang ke rumah semalam."


Axton masih mengatupkan bibir, enggan menjawab pertanyaan dari Naora. Tidak mungkin ia berkata jujur tentang niat hatinya yang memang ingin menjaga wanita itu saat sakit tanpa mendengarkan rengekan histeris Lana.


Hingga gejolak di dalam perut, membuat Naora mengabaikan jawaban dari Axton yang belum terucap. Ia mengajak dirinya untuk segera menuruni ranjang.


"Kau mau ke mana?" Tanya Axton.


"Aku mau ke kamar mandi."


"Jangan tutup pintunya."


Naora melempar tatapan sanksi. Permintaan Axton yang seperti itu, memang bukan pertama kali. "Aku tidak akan mendengarkanmu."


"Aku tidak suka dibantah, Naora."


Axton langsung loncat dari ranjang, mendahului Naora yang hendak ke kamar mandi. Berdiri tepat di ambang pintu, menghalau niat wanita itu untuk menutup daun pintu.


"Aku hanya tidak ingin semakin kau repotkan jika tiba-tiba kembali pingsan. Cepat selesaikan urusanmu, aku akan mengawasimu."


"Kau jangan berlebihan, Axton. Aku hanya ingin buang air kecil."


"Cepat masuk, sebelum kau kencing di dalam celana." Pria itu sangat menyadari gelagat Naora yang tampak mati-matian menahan hasrat ingin meluapkan sesuatu di bawah sana.


Naora menggeleng cepat kepalanya sebagai bentuk bantahan. "Aku tidak mau. Apa kau tidak bisa memahami perasaanku? Aku malu, Axton ...!"


"Aku sudah melihat semuanya. Kenapa kau masih malu?"


"Hah! Terserah!"


Sudah tak tahan lagi! Ruang kandung kemih sudah penuh oleh air seni. Sensasi rasa di bagian pucuk kian membuatnya geli. Akhirnya ia berpasrah diri, berjalan ngacir ke kamar mandi, membiarkan sepasang mata Axton mengawasi.


"Bisakah kau menutup mata dan telingamu?" pinta Naora.


"Tidak."


"Hiish ...! Kenapa dia sangat menyebalkan?!" sungut Naora dan akhirnya benar-benar menumpah sisa-sisa pembuangan di depan pria yang memantaunya dengan intens.

__ADS_1


Sementara di sisi lain. Axton diam-diam merasakan perasaan lega di hati. Setidaknya, dengan melihat dia marah-marah seperti itu jauh lebih baik dari pada harus melihat dia merintih kesakitan seperti semalam.



Setelah selesai ritual bersih-bersih badan serta pengisian perut dengan santapan pagi, Naora kembali dibuat kesal karena kesewenang-wenangan Axton dalam memutuskan sesuatu.


"Kau tidak bisa bertindak seenaknya saja tanpa memikirkan perasaanku, Axton. Lagian aku tidak bisa resign secara mendadak. Ada beberapa peraturan di lembaran kontrak kerja yang harus dipatuhi."


"Kau sudah bukan lagi karyawan di perusahaan Nathan, karena aku sudah membereskan semuanya." Axton terlihat sangat santai, tidak peduli dengan muka kusut Naora.


"Baru beberapa hari aku bekerja di sana, sekarang malah harus resign. Padahal aku sangat nyaman kerja di sana."


"Nyaman karena bisa berdekatan dengan Nathan?" tuduh Axton sembari melempar tatapan curiga bercampur ... cemburu.


"Terserah kau mau berpikiran seperti apa." Ternyata Naora sudah malas untuk membela diri akan tudingan Axton. Toh mau menjelaskan pun tiada guna. Begitu pikirnya.


Axton meletakkan tangan di kening Naora. Rupanya ia masih memantau keadaannya. Tindakannya itu sukses membuat seonggok daging di dalam rongga dada wanita itu bergetar.


"Sepertinya kau sudah kembali sehat." Axton menarik kembali tangannya. "Setelah ini kau pulang lah terlebih duhulu. Sopir akan mengantarmu."


"Kenapa kita tidak pulang bersama saja?"


Membisu sejenak, pikiran Axton kembali dipenuhi akan sosok Lana.


"Itu karena ...."





Bersambung~~


Bab ini dilanjutin bessok ya..


Maaf ya, cuma bisa up sedikit.🙏


Sedari tadi Nofi ngetik sambil nahan kantuk. Dan ahirnya udah gk kuat🙏


Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon like. Tinggalkan komen cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini🤣

__ADS_1


Vote gratis mingguan juga boleh disumbangkan ke lapak yang masih sangat sepi pembaca ini..


__ADS_2