
Tujuh purnama telah terlewati dengan meninggalkan berbagai cerita. Namun, bukan berarti kisah perjalanan hidup berakhir begitu saja. Selama alam semesta masih baik-baik saja, masa depan akan tetap selalu melambaikan asa.
Edrich masih setia terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan tubuh dipenuhi oleh alat-alat medis penunjang kehidupan. Iya, setelah kejadian na'as yang menimpanya waktu itu, ia tertidur panjang.
Besar harapan yang Axton dan Naora rengkuh di setiap doanya untuk kesembuhan Edrich. Kendati dokter sudah memvonis bahwa persentasi kesembuhan sang pasien hampir tidak memiliki harapan. Saat ini, hanya peran alat-alat medislah yang mampu mempertahankan kinerja jantung pasien.
Andai semua alat penunjang itu dilepas, barang tentu Edrich sudah berpulang ke Sang Maha Kuasa. Akan tetapi, bukankah kita diwajibkan untuk percaya bahwa keajaiban Tuhan itu benar-benar ada? Bagi-Nya, tidak ada yang tidak mungkin bisa. Apa yang Dia kehendak, maka terjadilah di depan mata.
Iya, jika Tuhan menghendakinya. Dan kalau tidak, jangan keburu berburuk sangka. Karena, Dia tidak mungkin lepas tangan begitu saja, tidak akan kehabisan cara untuk menyayangi para makhluk ciptaannya. Sudah ada berbagai hadiah terindah yang siap terpampang di depan mata.
Bersabarlah wahai manusia!
Di kediaman Sanders, suara tangisan bayi terdengar nyaring hingga menyapu langit-langit ruangan. Di sana terlihat seorang wanita tengah sibuk berusaha membuat bayi yang masih berusia dua bulan itu tenang.
"Cup cup sayang ... sabar ya, susunya sebentar lagi datang." Ia menimang si bayi dengan sangat sabar. Bahkan sorot matanya syarat akan kasih sayang yang tulus. "Ya Tuhan ... suaramu lantang sekali. Kalau sudah besar kau sangat cocok menjadi perwira TNI." Wanita itu masih sempat bercanda di sela kerepotannya.
"Nak Naora, ini susunya." Tidak lama, Milah datang dengan membawa sebotol susu lalu menyodorkannya kepada Naora.
"Terima kasih, Bi. Waah ... susunya sudah datang nih. Buruan diminum biar menjadi anak yang kuat kelak." Masih dalam posisi menimang, Naora memasukkan ujung dot susu ke mulut mungil makhluk kecil itu. Dan di saat itu juga, suara tangisnya mereda. "Ya Tuhan ... Bi Milah, coba kau lihat. Alan terlihat sangat kehausan seperti baru saja selesai ikut lomba lari maraton," kelakar wanita itu, membuat Milah tak mampu menahan tawa.
"Dia terlihat menggemaskan." Milah mentoel lembut pipi bayi Alan.
"Iya, pipinya juga tembem seperti bakpao di alun-alun kota."
Kedua wanita itu sekertika tertawa kecil seolah puas menjadikan bayi Alan sebagai bahan candaan.
"Naora ... berhentilah terlalu perhatian dengan makhluk berisik itu. Harusnya kau lebih memperhatikan kandunganmu yang sudah membesar." Axton menunjukkan secara terang-terangan perasaan tidak sukanya.
"Axton ... dia masih sangat kecil dan lemah, pasti membutuhkan sentuhan kasih sayang kita. Bisakah kau sedikit saja perhatia kepadanya?" Naora berjalan mendekati suaminya lalu memperlihatkan muka polos si bayi. "Coba kau lihat, bukankah bayi Alan sangat tampan?"
Axton memandangi bayi tersebut dengan tatapan tak terbaca. Namun, tidak lama ia langsung mengalihkan sorot matanya kepada Naora. "Aku tidak peduli, sebaiknya kau serahkan bayi ini kepada Bi Milah. Biar dia yang mengurus."
"Axton ...." Naora berusaha merayu dengan mimik muka memohon iba.
"Naora ... kau tahu aku tidak suka dibantah. Lagian kau sedang hamil tua, jangan sampai kelelahan dan terlalu sering mengangkat beban. Aku tidak ingin kau dan bayiku kenapa-kenapa. Jika itu sampai terjadi, siapa yang harus disalahkan? Bukan kau, Naora ... tapi akulah yang harus disalahkan karena tidak becus melindungi kalian," tegas Axton.
__ADS_1
Milah tersenyum hangat melihat putra asuhnya itu begitu perhatian kepada Naora. Ia seperti kembali melihat sosok Axton yang dulu, seperti sedia kala. Iya ... meskipun ia tahu bahwa seorang Axton tidak akan lepas dari sifat dingin dan tegas karena itu memang sudah karakternya.
Sementara Naora tampak menghela napas, mencoba memaklumi sikap suaminya. Bagaimanapun juga tidak mudah bagi pria itu untuk menerima kehadiran bayi Alan di dalam keluarga. Ada alasan kuat yang memang sulit dilupakan begitu saja.
Dua bulan yang lalu, Stefan yang masih menjalani hukumannya di dalam penjara, menyampaikan permohonannya kepada Milah agar berkesempatan berbicara dengan Axton dan Naora. Hingga dengan perantara Milah yang memang sering menjenguknya, sepasang suami istri itu pun bersedia. Meski harus cukup menguras kesabaran karena Axton sangat sulit diraih hatinya.
Axton dan Naora sempat dibuat tidak percaya saat Stefan mengabarkan bahwa Lana meninggal sebelum melahirkan bayinya. Wanita itu melakukan percobaan bunuh diri saat kondisi kandungannya sudah memasuki usia tua. Beruntung bayi bisa segera diselamatkan oleh pihak kesehatan dengan melakukan operasi cesar, tapi tidak dengan Lana yang tidak lama setelah itu meregang nyawa.
Berakhir sudah kisah hidupnya di dunia ini. Haruskah kita mengucapkan 'selamat tinggal' untuknya?
Apa yang terjadi dengan Stefan? Tentu saja ia merasakan kesedihan karena kehilangan. Akan tetapi, di sisi lain ia teramat lega saat tahu bahwa bayinya bisa diselamatkan. Setidaknya, hal itu mampu menjadi obat hati yang dirundung kepiluan.
Saat bertatap muka dengan Axton dan Naora di ruang pengunjung lapas, Stefan tidak berhentinya meminta maaf dan menyesali semua kejahatan yang telah ia lakukan. Hingga sepasang suami itu dibuat terperangah saat Stefan memohon agar mereka bersedia merawat bayinya.
Pria itu sudah tidak memiliki pilihan. Tidak ada sanak keluarganya yang dapat diberi kepercayaan. Dia juga tidak tega jika bayi Alan dititipkan ke panti asuhan. Dan hanya sosok Naora dan Axton yang terbenak di pikiran. Demi si buah hati, Stefan rela membuang rasa malu yang harusnya disimpan.
Axton sempat menolaknya tegas, tapi lagi-lagi setiap tutur kata Naora membuatnya tak mampu untuk berkata 'tidak'.
"Naora, kemarilah." Axton yang masih berdiri di depan pintu kembali menitah dengan raut masamnya.
"Iya, Nak Naora."
Naora melangkah mendekat lalu melingkari tangannya di pinggang suaminya. Perutnya yang sudah membesar seolah tak menjadi penghalang untuk bermanja ria.
"Axton, jangan pasang muka seperti itu di depanku. Tersenyumlah. Karena kau sangat tampan jika tersenyum." Ia mendusel mukanya di dada Axton, menikmati aroma maskulin yang selalu menjadi kesukaannya.
Mendapati tingkah istrinya yang menggemaskan, suasana hati Axton seketika berubah haluan. Suami mana yang tidak suka digitukan oleh wanita kesayangan.
Dikecup pucuk kepala Naora dengan penuh cinta. "Temani aku di ruang kerja."
"Kau minta ditemani lagi?"
"Aku sudah mengatakannya, kenapa kau masih bertanya?"
Semenjak kehamilan Naora sudah memasuki trisemester ke tiga, Axton benar-benar bersikap sebagai suami siaga. Dia bahkan lebih memilih bekerja di rumah sembari mengawasi wanitanya.
"Kau tiggal jawab apa susahnya sih?" Naora mencebik.
__ADS_1
"Aku hanya bekerja sebentar, setelah itu harus menjenguk daddy, dia pasti sudah sangat merasa kesepian."
"Aku ikut ya."
"Kau di rumah saja."
"Axton, aku juga ingin menjenguk Daddy. Kangen banget ...."
"Naora, kau tidak boleh kelelahan. Beristirahat saja di rumah."
"Kau selalu saja begitu. Tidak mengerti perasaanku." Naora berjalan cepat menyusuri koridor rumah dengan muka cemberut. "Kyaak! Axton, kau mengagetkanku!" Ia terkejut saat pria itu tiba-tiba menggendongnya.
"Kau sedang hamil besar, tapi tidak bisa berjalan dengan pelan. Itu sangat berbahaya, Naora. Aku tidak suka melihatnya," ucap Axton menunjukkan keposesifannya. "Jangan cemberut lagi. Aku akan menjenguk Daddy bersamamu."
"Benarkah? Kau memang yang terbaik, Axton."
"Tentu saja."
"Permisi, Tuan Axton."
Masih dengan menggendong Naora, Axton memutar tumit hingga sosok seorang satpam mengisi ruang pandang.
"Ada apa?" tanya Axton.
"Ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya."
☘
☘
☘
Bersambung~~
Kalian ini ya ... jangan rayu-rayu Nofi agar ini karya tidak jadi tamat dengan segera. 'Kan Nofi oleng jadinya ... 🤣
Lagian peminat para pembaca sudah berkurang buuaanyaaak sekale!
__ADS_1