
Bayangan paras cantik terpancar di dalam cermin rias depan mata.Tangan bergerak naik dan turun, menyisiri surai panjangnya. Kesibukannya perlahan melambat seiring dengan lamunan yang menyapa.
Suamiku sedang apa bersama madunya? Apakah ia sedang bermadu mesrah dengan Lana? Apakah pria itu sedang mengobati rindunya bersama istri pertama?
Ah ...! Pikirannya sungguh terganggu oleh bayang-bayang yang memang sudah sewajarnya jika itu terjadi, tapi ia seolah berat untuk ihklas. Mengingat kalau sang suami harus berbagi cinta dengan wanita lain, dadanya serasa diremas. Sesak mulai bergumul di rongga dada karena udara yang diperas.
"Bolehkah aku serakah sedikit saja? Rasanya aku ingin Axton hanya menjadi milikku." Naora menghela napas berat di sela kesibukannya menyisir rambut. "Haah! Aku tidak boleh egois. Jika aku bersikap seperti itu pasti akan menyusahkan Axton. Harusnya aku sadar diri, kalau aku ini hanya istri ke-dua." Naora masih berkata dalam lirih.
Wanita cantik itu belum tahu saja, meski statusnya sebagai istri ke-dua, tapi di hati Axton ia adalah yang pertama. Dari tumbuhnya rasa cinta sampai kegiatan bercinta. Semua itu baru pria arogan itu dapatkan dari seorang Naora Alesha.
Helaan napas kedua kembali terdengar, kali ini mewakili suatu perasaan kuat untuk ingin bertemu. "Haah! Baru beberapa jam tidak melihat wajahnya, dan aku sudah rindu."
Samar-samar ia tersenyum kecut. "Lucu sekali, aku merindukan seseorang yang saat ini masih berada satu atap denganku."
Tubuh mungilnya terhenyak saat sepasang tangan besar tiba-tiba melingkari bahunya dari belakang. Terlalu hanyut ke dalam pikiran, ia sampai tidak sadar akan kedatangan si pria kesayangan.
"Axton, kau mengagetkanku." Naora tampak senang meski sempat terkejut.
Bagaikan seorang istri yang sudah lama tidak bertemu dengan sang suami, Naora merasa kerinduannya kini terobati. Terlihat jelas dari binar wajahnya yang seketika berseri.
"Kau merindukan siapa?"
Rupanya Axton sempat mendengar sekilas ucapan Naora saat berbicara dengan dirinya sendiri tadi.
Ia membelai lembut kepala Axton yang bertengger di ceruk lehernya sembari memandang paras tampannya dari pantulan cermin di depannya. "Kenapa kau datang ke sini?" Naora bersuara lembut. Ia seolah enggan menjawab pertanyaan dari si suami.
"Aku merindukanmu, Naora." Axton menghadiahi kecupan di pundak lembut sang istri. "Aku sangat merindukanmu." Ia kembali mengecup dan menghirup aroma vanila di tubuhnya.
"Kau aneh sekali Axton. Baru beberapa jam kita berpisah kamar, tapi kau sudah rindu," cibir Naora.
Padahal wanita itu juga merasakan hal yang sama. Bukankah itu sama saja dia mencibir dirinya sendiri? Please!
"Tidak aneh, Naora. Orang yang merindu itu wajar. Apalagi yang dirindu istrinya sendiri. Yang aneh itu merindukan istri orang."
Naora tersenyum kecil seraya menahan geli karena Axton masih saja bermain bibir di pundaknya. Tubuhnya mulai meremang saat merasakan sensasi dingin dari jejak saliva si pria.
"Hmm ... Axton, bukankah seharusnya kau melepas rindu bersama Lana?"
Ucapan Naora seketika menghentikan kesibukan Axton. Perlahan tubuh gagah di belakangnya kembali menegak seiring dengan tangan terulur meraih sisir dari atas meja rias.
"Rambutmu sangat indah," puji si pria seraya menyisir surai sepinggang Naora. Ia mengutarakan kekagumannya sekaligus mengalihkan topik.
"Benarkah?"
"Iya."
"Axton, ada apa dengan wajahmu?" selidik Naora yang menyadari mimik suaminya yang terlihat sedikit muram dari pantulan cermin.
"Memang ada apa dengan wajahku?" Pria itu malah balik bertanya.
__ADS_1
"Kau seperti memikirkan sesuatu. Ahk!" Naora terkesiap saat axton mengangkat tubuhnya lalu membawanya di ranjang.
Axton berbaring miring menghadap Naora seraya bertopang kepala.
"Axton, ada apa?" Ia menatap lekat mutiara abu-abu sang suami.
Tangan bergerak terampil, menyingkirkan setiap helaian rambut yang menutupi indahnya pahatan pada durja sang istri. "Aku sedang menyesali sesuatu."
"Apa itu?"
Axton meraih tangan Naora lalu menempelkannya di dada. "Di dalam sini, Naora ...."
"Ada apa? Apa ada masalah dengan jantungmu? Kau sakit?"
Entah sudah ke berapa kali, Axton kembali terkesima. Gurat-gurat kecemasan pada wajah Naora sungguh membuatnya serasa seperti seseorang yang beharga.
"Oya, ini juga sudah waktunya mengobati lukamu. Setelah itu kita ke dokter ya, untuk memeriksa keluhanmu." Wanita itu berniat berpindah posisi, tapi tangan besar Aton kian mengurungnya.
"Aku bahkan belum menjawab pertanyaanmu, Naora."
"Itu karena aku mencemaskanmu."
"Hah! Kau sangat menggemaskan." Axton hampir saja mencicipi benda kenyal ranum Naora kalau saja sebuah jari telunjuk tidak mendarat di bibirnya.
"Jawab dulu pertanyaanku. Di dalam sini kenapa?" tuntut Naora.
Tangan yang sebelumnya sudah menempel di dada bidang Axton di ajak bergerak lembut ke kanan dan ke kiri. Barang kali tindakan kecilnya itu bisa mengurangi rasa tidak nyaman di sana.
"Iya ... kau sudah mengatakannya tadi?"
"Aku menyesal, karena terlalu terlambat menyadari perasaanku kepadamu hingga membuat dadaku merasa tidak nyaman."
Kelegaan langsung menyelimuti hati. Rupanya kecemasannya tak berarti. Nyatanya tidak ada yang salah dengan kesehatan sang suami.
Senyuman hangat membingkai paras Naora. "Kau tidak terlambat, Axton. Tuhan bahkan masih memberimu kesempatan untuk mencurahkan semua perasaan di hatimu. Bukankah tiada yang lebih baik dari pada itu?"
"Kau benar, Naora. Rupanya kau tidak sebodoh yang kupikirkan dulu," celetuk Axton mengajak bercanda.
"Hiish! Kau masih saja menyebalkan," sungut Naora.
Gemas! Mimik cemberut istrinya memancing hasrat si pria. Bahkan otaknya kembali membayangkan kegiatan indah di malam pertama mereka. Malam pertama yang sudah kadaluwarsa. Kata salah satu pembaca karya. Haha!
"Kau ingin?" Naora ternyata peka dengan gelagat Axton.
"Boleh? Kau sudah tidak sakit?"
"Rasa sakitnya sudah hilang."
"Aku lakukan ya?"
Naora mengangguk pelan. "Iya."
__ADS_1
Axton menuntun tangan Naora turun ke bawah. Hingga menyentuh sesuatu yang sudah siap membawanya terbang ke cumbanarasa.
"O'oh, jagung bakarnya ... sudah matang," celetuk Naora seraya tersipu malu.
Terkekeh geli, ucapan Naora seolah menggelitik perut. "Kau boleh memakan jagungnya, Naora." Axton memandang wajah cantik istrinya dengan senyuman nakal.
Si wanita reflek menutup mulut sembari menggeleng. "Tidak mau! Aku jijik!"
Axton kembali tergelak.
Akhirnya Axton menggencarkan aksinya. Dengan perlahan ia mulai menanggalkan semua benang di tubuh Naora dan juga tubuhnya. Sepasang anak manusia yang saling mencintai itu pun kembali melakukan penyatuan raga.
…
Gelisah! Perasaan itu mengiringi langkah kaki Lana menuju ruang kerja sang suami. Merasa kesejateraannya terancam, ia berniat berusaha menarik kembali perhatian Axton yang selama ini ia dapati.
Kurang beberapa pijakan kaki lagi, wanita itu akan sampai ke tempat tujuan. Namun, langkahnya terhenti saat ia melewati kamar Naora. Samar-samar, gendang telinga menangkap suara dari dalam sana.
Rasa penasaran yang mengungkung hati, mendorong niat untuk mencari tahu. Dengan hati-hati ia meletakkan telinga pada daun pintu.
"Axton ...."
"Iya, Sayang."
"Hmm ... aku mau."
"Kita sama-sama ya."
Samar-samar suara kenikmatan menjalar ke dalam telinga.
Hati yang sudah memanas, menguatkan tekad untuk mengintip apa yang sedang terjadi. "Bagus! pintunya tidak dikunci." Lana lantas mendorong daun pintu dengan sangat pelan hingga meninggalkan cela kecil. Memudahkannya untuk mencari tahu di dalam ruangan.
Sepasang matanya seketika membelalak sempurna. Pemandangan yang tersaji sukses mencolok mata. Panasnya hati kian memancing amarah di setiap arus darahnya.
Ingin rasanya ia membanting pintu kamar lalu melabrak Naora. Namun, niatnya terurung.
Ini tidak mungkin. Bukannya Axton cacat?! Kenapa dia bisa bercinta dengan pelakor itu? Eerrg ...! Aku tidak terima diperlakukan seperti ini. Axton benar-benar menghianatiku! Mereka sudah menusukku dari belakang!
Lana masih tak percaya dengan apa yang dilihat, tapi menyaksikan Axton yang tampak bersemangat menggagahi Naora sukses mengubah pandangan buruknya tentang sang suami selama ini.
Stefan, aku harus menemuinya sekarang!
☘
☘
☘
Bersambung~~
Terima kasih ya untuk kalian🥰🥰
__ADS_1