
Sang malam mulai merangkak ke pagi. Langit suram perlahan memudar karena sapuan nakal cahaya mentari. Seruan alam pun turut menemani para insan untuk mengawali hari.
Suara hentakan langkah kaki yang menuruni anak tangga, mengiringi gerutuan lirih dari bibir mungil Naora. Wanita itu mendengus kesal karena sempat kebingungan mencari cara untuk menyembunyikan bekas ciuman Axton di lehernya.
Beruntung ada Milah yang datang memberi solusi dengan cara meminjamkan sebuah scarf untuknya, hingga ia bisa merasa lega. Kendati harus melewati kunyahan serapannya, karena waktu sudah hampir siang dan harus segera berangkat kerja. Namun, ia masih menyempatkan diri untuk meneguk segelas susu coklat kesukaannya. Setidaknya, perut tidak dibiarkan kosong begitu saja.
"Masuk ke dalam mobilku duluan. Kau akan berangkat kerja bersamaku." Titah Axton saat Naora baru saja menghabiskan segelas susu.
"Aku naik taksi saja," tolak Naora.
"Naora!" sentak Axton dengan tampang kerasnya.
Pria itu sangat tidak menyukai sebuah penolakan. Sementara Naora membenci pemaksaan. Kedua karakter yang bertolak belakang, terbingkai di dalam ikatan pernikahan. Jadi tidak khayal, jika di antara mereka selalu dihiasi oleh pertengkaran.
Jangan salah. Hubungan akan terasa membosankan jika di dalam sebuah pernikahan selalu rukun dan tidak pernah ada masalah.
Jangan harap sebuah hubungan akan selalu manis bak buah kurma. Justru setelah mengalami kepahitan karena pertengkaran, rasa manis itu akan lebih terasa.
Hanya saja, kita harus lebih pintar dalam menyelesaikan masalah tanpa masalah. Kebijakan dalam bersikap juga sebagai penentu, apakah pertengkaran itu akan menjadi bumbu pernikahan atau mungkin bom waktu perpisahan?
Oke! Kembali ke cerita.
"Iya ... iya! Kau cerewet sekali, seperti pria tua yang kehilangan gigi palsunya," cicit Naora yang mau tidak mau menuruti perintah Axton. Dengan jengah ia melenggang masuk ke dalam mobil.
"Honey, kenapa kau selalu memaksanya? Biarkan saja jika dia ingin berangkat bekerja sendiri. Jujur, aku sangat tidak tenang saat melihatmu terlalu dekat dengannya." Lana kembali mengungkapkan isi hatinya seolah belum puasq semalaman meraung kecewa karena sikap Axton yang mulai menunjukkan ketertarikan kepada Naora.
Seakan ragu untuk menjawab, karena Axton sendiri masih dilema dengan perasaannya. Pria itu masih kesulitan mencari alasan yang tepat akan tindakan posesifnya kepada Naora. Hingga akhirnya ia memilih beranjak dari kursi meja makan, dan berniat segera berangkat kerja. Satu alibi jitu agar bisa mengalihkan perhatian Lana.
"Berhentilah bermain ponsel saat makan Lana. Dan bisakah kau antar suamimu ini sampai ke pintu depan saat akan berangkat kerja?" Axton menuturi sekaligus melisankan sebuah permintaan sederhana.
Lana turut beranjak dari kursi. Lalu mengecup sekilas bibir sang suami. "Aku belum selesai dengan makananku, Honey," ucapnya, sebelum kembali duduk, membuat Axton menggelengkan kepala. Si wanita memang sering kali memandang remeh hal-hal kecil, tanpa disadari hal itu sangat dibutuhkan oleh suaminya.
Bertepatan dengan itu, Milah datang dengan membawa sebuah kotak kecil di tangannya. "Tuan Muda, ini benda yang ada minta." Ia mengulurkan tangan berisi benda tersebut kepada Axton.
"Terima kasih Bi." Pria itu menerima benda tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku kerja.
Bibir Milah mengulas senyuman tipis disusul oleh anggukan kecil sebagai tanggapan untuk si Tuan muda "Mari Tuan, saya antar anda ke depan."
"Iya, Bi."
"Honey, hati-hati ya di jalan. Segeralah pulang, jangan buat aku menunggumu sampai terlalu malam." Lana memberi sebentuk perhatian, dan Axton hanya mengangguk kecil.
…
"Kenapa kau lama sekali, Axton?" omel Naora setelah tubuh gagah Axton masuk ke dalam mobil.
"Jalankan mobilnya." Axton memberi titah kepada si sopir sebelum menanggapi wanita yang tengah merajuk itu. "Kenapa? Kau sudah tidak sabar ingin segera bertemu Nathan?" Bukannya menjawab, Axton malah menghadiahi kalimat tuduhan.
"Kau sudah tahu akan hal itu," jawab Naora dengan santainya.
Dengusan kesal terdengar samar. Namun, Axton sedang tidak ingin berdebat panjang kali ini. Dirogohnya sebelah saku jas kerja, lalu ia melempar sesuatu ke arah Naora. "Gunakan ini untuk membalut luka di pipimu."
__ADS_1
"Ini ... untukku?" Naora bertanya seolah tak percaya.
"Kau masih bertanya? Bodoh!" ketus pria itu.
"Kali saja kau sedang mengigau, hingga kau tidak sadar dengan perbuatanmu."
"Sikapku yang seperti ini, bukan lagi yang pertama, Naora."
"Iya ... iya, aku ingat. Yang pertama itu, setelah kau menyiramiku dengan kuah panas," cicit Naora seraya tangan mulai membuka sebungkus plester dan mulai menempelkannya di pipi.
"Kenapa kau sangat payah?! Mendekatlah!"
"Untuk apa?" Naora langsung memasang muka was-was. Pasalnya dia sudah sangat hafal dengan sikap Axton yang random. Suka bertindak sesuka hati dan tanpa aba-aba sebelumnya. Termasuk dalam hal menyosor.
"Mendekatlah, Naora ...! Plester yang kau pasang tidak benar!" Ia mulai geram karena menyadari gelagat Naora yang terkesan berhati-hati kepadanya.
"Ee? Iya." Ia sedikit mencondongkan muka kikuknya ke arah Axton.
"Sudah."
"Terima kasih."
"Hm." Axton hanya mendengung tanpa melihat ke arah Naora. Sepertinya pemandangan di luar jendela mobil lebih menarik dari pada muka cantik si wanita.
"Dasar si muka masam," gerutu Naora dengan cicitan khasnya.
Axton hanya melirik sekilas lalu kembali melempar pandangan ke arah lain. "Ingat, kau di sana bekerja. Bukan untuk menggoda Nathan. Jangan bersikap murahan. Dengarkan nasehatku." Nada suaranya terdengar sangat datar, tapi kalimat tuturan yang meluncur dari ujung lidahnya terdengar sangat pedas.
Bibir Naora mencebik kesal. "Kau itu memang tidak bisa membedakan mana nasehat, dan mana hinaan."
"Iya ... iya." Naora menjawab malas.
Suasana menjadi hening, hingga tidak terasa mobil yang mereka tunggangi sudah berhenti di depan halaman luas gedung Alexindo Corp.
"Aku turun dulu ya." Naora terkesiap saat Axton mencekal tangannya, hingga niat untuk menarik handle pintu mobil terurungkan. "Ada apa?"
Beberapa saat, lidah Axton terasa membeku, hingga berat untuk menyampaikan apa yang ada di hati.
"Ada apa Axton? Aku harus segera masuk ke kantor." Kebisuan pria tampan di sebelahnya, membuat Naora keheranan.
"Dasi."
"Ee? Dasi?" Untuk kesekian detik, Naora mencoba mencerna perkataan si pria. Hingga sepasang netranya menangkap keberadaan dasi di depan mata. "Ow ... kau tinggal bilang apa susahnya sih?"
"Aku sudah bilang."
"Hish! Kau cuma bilang 'dasi', tapi tidak memintaku untuk membetulkannya." Naora membawa tangannya, menyentuh lilitan dasi di leher si pria.
"Apa tidak kurang jauh?!" sindir Axton saat menyadari gelagat Naora yang terkesan sangat menjaga jarak kepadanya. Wanita itu bahkan hanya menggerakkan tangan dan tanpa memindahkan sedikitpun tubuhnya.
"Diamlah, yang penting tanganku masih mampu menjangkaunya." Sejauh mungkin, Naora berusaha tidak terlalu dekat dengan Axton.
"Sedikit mendekatlah, Naora! Aku sangat risih melihat tingkahmu," titah Axton, tapi gelengan Naora yang dia dapat.
__ADS_1
"Tidak mau."
"Mendekatlah!"
"Tidak!"
"Kenapa?!"
"Aku tidak ingin lipstikku pudar, Axton."
Dua garis seketika terukir jelas di antara kedua alisnya. Axton mulai mengerti apa yang dipikirkan Naora. "Ck! Kau takut aku cium rupanya. Apa kau lupa, semalam siapa yang berani menciumku?"
Blush ...
Semburat merah seketika terbit di kedua pipi Naora. Ia malu jika mengingat tindakan nekat yang sebelumnya sama sekali tak direncana.
"Aku tidak ingat." Wanita itu berkilah.
"Jadi apa kau juga lupa saat bermain-main dengan mil! Kekh!"
Ucapan Axton tiba-tiba tersendat. Ia juga tampak kesulitan untuk bernapas. Naora sengaja menarik kuat dasinya hingga membuat lehernya tercekik.
"Apa kau tidak bisa menjaga ucapanmu? Di sini tidak hanya ada kita berdua." Naora berbisik geram kepada Axton. Sesekali ia juga melirik ke arah si sopir yang sedari tadi sudah menjadi saksi hidup perdebatan mereka sepanjang perjalanan. Sungguh, ia kian malu sekarang.
Brak!
Axton kembali lega, disusul oleh suara bantingan pintu mobilnya. Ternyata wanita itu sudah melenggang pergi dengan perasaan dongkolnya.
"Naora ...! Awas kau!"
…
Jarum jam terus berputar pada porosnya. Sang surya pun mulai kembali dari singgasana. Bergilir tugas dengan sang bulan purnama. Di saat banyak dari para pemburu rejeki sudah berbondong-bondong kembali ke gubuknya, Axton justru masih senantiasa bergelut dengan komputer lipatnya.
Tarian sepuluh jari di atas keyboard terhenti tiba-tiba. Sepasang manik mata dibawa melirik ke penunjuk waktu yang tersemat di layar komputernya. Pria itu, teringat akan sesosok wanita.
Siapa dia? Apakah Lana? Atau mungkin Naora? Kalian pasti sudah bisa menebaknya. Haha!
Diraih benda pipih yang tergelatak di atas meja kerja. Axton langsung melakukan sebuah panggilan di sana. Ingin memastikan, bahwa wanita yang beberapa hari ini memenuhi tempurung kepalanya itu sudah tiba di rumah. Mengingat beberapa jam yang lalu, wanita itu menolak kiriman sopir pribadinya di saat jam pulang dengan alasan harus lembur kerja.
"Dia berani tidak mengangkat panggilan telepon dariku," gerutu Axton setelah satu permintaan panggilan tidak diterima.
Sekali lagi, pria itu hendak melakukan panggilan untuk ke-dua kalinya, tapi sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, mengurungkan niatnya.
Amarah di dalam dada tiba-tiba bergemuruh bak deburan ombak di tebing batu karang. Muka Axton seketika menjadi garang. Sebuah foto yang tertera di dalam sebuah pesan, tak membuat hatinya tenang
^^^Dari: 081 xxx xxx xxx^^^
^^^Datanglah ke restauran hotel bintang lima dekat Imperial Klub Golf.^^^
☘
☘
__ADS_1
☘
Bersambung~~