
Di kamar rawat inap rumah sakit, sebuah hati tengah berkabut pilu. Wajah pucat yang memenuhi ruang netra menyisakan kesedihan di dalam kalbu. Kendati dulu ia teramat membenci, tapi nyatanya titik kecemasan tetaplah bertalu.
Edrich tidak sendiri, ada Naora yang menemani. Sama halnya dengan sang daddy yang tengah bermendung sanubari, Naora pun berpayung rasa nyeri. Melihat orang tersayang terbaring tak berdaya, mana mungkin mereka bisa berbahagia diri.
Axton memang sudah melewati masa kritis, setelah mendapatkan penanganan para medis beberapa jam yang lalu. Beruntung dia hanya mengalami gegar otak dan patah tulang ringan pada bahu kirinya. Akan tetapi bukan berarti pria itu tidak bertaruh nyawanya saat berada di ruang IGD. Cedera akibat benturan keras di kepala sempat membuatnya mengalami hipovolemia, hal itu disebabkan tubuh kekurangan banyak darah.
Menurut kesaksian Wildan di saat insiden kecelakaan itu terjadi, Axton sempat berusaha menghindari truk, meski akhirnya ia sedikit telat mengejar waktu, hingga tubuhnya terpental jauh karena kendaraan besar yang masih melaju dengan cepat itu menyerempetnya.
Edrich mengulurkan tangan dan menjatuhkannya di kepala sang putra berbalut perban itu. Kemudian ia memberi usapan lembut dengan segudang harapan akan kesembuhannya. Perlahan dibawa bibir mendekati telinga Axton.
"Cepatlah bangun, putraku. Kau sudah melewati masa kritis, jadi tak seharusnya kau berlama-lama berbaring lemah di ranjang rumah sakit ini. Daddy ingin memberi tahumu sesuatu hal yang wajib kau ketahui."
Setelah selesai membisikkan sesuatu, pria itu mengalih perhatiannya kepada Naora yang berdiri di sebelahnya. "Naora, tolong jaga berandalan ini ya. Kalau besok dia tetap belum bangun siram saja pakai air."
"Daddy ... mana tega aku melakukan itu? Dia sedang terluka, harusnya dirawat dengan penuh perhatian. Lagian dia bisa seperti ini juga demi menyelamatkan nyawaku," bantah Naora tidak terima. Ya ... meskipun ia tahu kalau Edrich berkata seperti itu tidak sampai hati.
Edrich langsung berdiri dengan sekali pijakan kaki seiring helaan napas panjang dan diakhiri senyuman tipis di bibir.
Kelembutanmu itu mengingatkanku pada mendiang Areum, Naora. Pria itu berdecak kagum di dalam hati.
"Ya sudah, Daddy pergi dulu. Ada hal lain yang harus kuurus." Pria itu mengayak gemas pucuk kepala Naora sebelum membawa kaki keluar ruangan.
Tidak lama Edrich pergi, daun pintu kamar rawat inap kembali terbuka. Bersamaan dengan itu sosok Lana muncul dari balik sana. Wanita itu melenggang masuk dengan mimik tak sukanya.
"Kau bisa keluar sekarang, Naora. Biar aku yang menjaga suamiku di sini sekarang." Lana berlagak sok ambil andil. Padahal beberapa saat yang lalu ia bahkan tidak berani memasuki ruangan karena masih Edrich.
"Tidak. Aku akan tetap di sini karena aku juga istrinya."
"Kau terlalu percaya diri berkata seperti itu, Naora. Sebentar lagi hanya aku lah satu-satunya istri Axton."
"Terserah apa katamu, Lana. Asal jangan lupa saja, bahwa yang baik akan membawa kebaikan begitu juga sebaliknya, bahwa yang buruk juga akan membawa keburukan."
Lana berdecih. "Jangan sok menceramahiku. Aku peringatkan kau, saat Axton sadar besok jangan coba-coba menemuinya kembali. Kau sudah menyetujui kesepakatan kita beberapa jam yang lalu."
__ADS_1
Naora tak menjawab, tepatnya ia memilih diam karena jengah. Dibawa tubuhnya mendarat ke sofa untuk melepas lelah. Namun, belum sampai niatnya itu terlaksana Lana menariknya dengan kasar selaras dengan raut wajahnya yang pongah.
"Keluar sekarang! Kau harusnya sadar diri dengan statusmu sekarang!"
Terus terang, Naora sangat dongkol dengan sikap Lana yang terkesan sangat bodoh dan juga ... gila. Madunya itu seolah sengaja melupa tentang statusnya sebagai istri sah si tuan muda.
Tidak pantas jika membuat keributan di rumah sakit, akhirnya Naora memilih bersikap bijak yaitu tidak menanggapi sikap menyebalkan Lana lebih lama. Akhirnya ia memilih keluar dari ruangan saat itu juga. Namun, bukan berarti dia mau jadi kalahan begitu saja.
…
Arunika mulai menyapu dinding cakrawala. Bersambut senandung pagi penyambut asa. Nathan yang baru saja tiba dari negeri singa, berniat langsung menjenguk sahabatnya. Ia bahkan belum sempat merehatkan badan di rumahnya.
Bagaimana bisa ia menahan lebih lama untuk tidak segera menemui Axton sedangkan dari semalam kecemasan hati terus melandanya karena mendengar kabar kecelakaan tentang sahabatnya itu. Baru beberapa saat mobilnya keluar dari bandara penerbangan, ia langsung disambut oleh nada dering ponsel yang bergetar dari dalam saku baju.
"Axton?" Ia bertanya dalam lirih. Heran saja, pagi-pagi sekali Axton sudah mengirim pesan ke dia. Bukankah pria itu sedang tidak baik-baik saja? Apa dia sudah sadar? Begitu batinnya.
Gegas ia bawa jari menekan notif pesan yang masih menghiasi layar ponselnya. Hingga barisan kata yang dibaca mengubah drastis mimik mukanya.
^^^Axton:^^^
^^^Langsung pergi ke kantor polisi setelah tiba di bandara. Tunjukan nomor rekening yang kukirim ini kepada petugas penyidik. Minta tolong kepada mereka untuk mencatat semua transaksi pengiriman uang yang tertuju ke alamat rekening dalam beberapa hari terakhir. Dan sebagai info tambahan, tersangka modus tabrak lari adalah si preman bertato yang sempat kabur. Aku sempat melihatnya sekilas sebelum tertabrak, dan kuyakin preman itu adalah preman yang sama.^^^
Apakah semua kasus yang terjadi itu ada kaitannya dengan wanita itu? Jika memang dia dalangnya otomatis dia melakukan transaksi kepada para preman bayaran untuk menggencarkan rencananya. Dan itu berarti juga ada kemungkinan ia membayar para preman suruhannya melalui transaksi bank. Haha! Binggo! Jadi itu maksud dari tujuan Axton. Yaitu melakukan pelacakan lokasi melalui rekening bank.
Monolog Nathan di dalam hati.
"Pak, antar saya ke kantor polisi," titahnya kepada si sopir.
"Baik, Tuan."
…
Di sudut kota lain. Tepatnya di kamar rawat inap tempat Axton terbaring.
"Honey, rupanya kau sudah sadar?"
__ADS_1
Lana yang baru saja kembali entah dari mana tampak senang setelah tahu suaminya sudah membuka mata. Bahkan Axton sudah dalam posisi duduk bersandar head board seolah tiada sakit yang dirasa. Wanita itu mendekat dan berniat memberi kecupan di pipi, tapi penolakan terang-terangan yang ia terima.
"Honey, kok kamu gitu sih? Aku sudah capek-capek menunggumu semalaman loh, tapi setelah kau sadar malah sambutan dingin yang kudapat," protes Lana.
Bukannya mengindahkan ocehan Lana, pria yang masih berstatus sebagai pasien itu malah tampak mengedar pandangan ke seluruh ruangan, mencari sosok Naora si istri kesayangan.
"Naora kenapa tidak terlihat?" tanya Axton tanpa menghiraukan perubahan mimik Lana.
Hati kian diserang kedengkian, perhatian Axton yang hanya tertuju ke Naora membuat Lana langsung berniat menggencarkan aksi. Bagaimanapun juga ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya kini.
"Kau lebih baik tidak mengharapkan keberadaan Naora, Honey. Wanita itu ternyata sangat buruk," cibir Lana di belakang Naora.
"Dia bukan seperti itu," bantah Axton tidak terima. Bagaimana bisa wanita bak malaikat tak bersayap seperti Naora dikatakan buruk.
"Kau harus percaya kepadaku, Honey. Coba dengar ya, istri macam apa yang menginginkan pisah di saat suaminya baru saja terkena musibah?" Lana mulai bermain dengan mulut kompornya.
Sepasang pangkal alis Axton tampak hampir bersatu seiring dengan wajah penuh tanda tanya. "Kau jangan mengada-ngada, Lana."
"Aku tidak mengada-ngada, Axton. Kalau kau tidak percaya coba lihat ini. Aku yakin setelah melihatnya kau akan membenarkan perkataanku." Lana merogoh tas miliknya lalu mengeluarkan sebuah map berisi secarik kertas.
"Ini kau lihat dengan teliti. Wanita itu bahkan sudah mengisi tanda tangannya di sini." Ia menyodorkan kertas tersebut dan langsung diterima Axton.
"Ini tidak mungkin!" Axton terlihat sulit menerima kenyataan.
☘
☘
☘
Bersambung~
1200 kata dula ya. Demi Tuhan, mataku sudah ngantuk banget. Sedari tadi ketiduran melulu saat ngetik.
Sabar ya ... kebusukan Lana bentar lagi tercium kok.
__ADS_1
Terima kasih atas segala dukungan kalian🥰🥰
Lop you😘