Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Kembali Ke Kota


__ADS_3


Garis-garis tanda tanya terpahat jelas di wajah ayu Naora. Ia telisik satu persatu orang-orang yang sedang duduk di depan muka. Beberapa kali mata juga diajak melirik ke arah Axton seolah menuntut kejelasan darinya. Hingga, perhatian wanita itu langsung terpusat kepada seorang pria tua saat mulai bersuara.


Orang yang menjabat sebagai kepala desa itu mulai membuka percakapan. "Saya selaku wakil dari seluruh warga desa mengaturkan banyak-banyak terima kasih atas kebaikanmu, Nak Axton. Bagaimana cara kami membalas hutang budi yang teramat besar ini?" ucapnya dengan mimik penuh haru dan juga rasa syukur.


Tidak berbeda dengan sang pemimpin, beberapa warga yang kebetulan juga ikut serta mendampingi turut merasakan hal yang sama. Sementara Naora, ia masih setia menyimak dengan anteng sembari menunggu jawaban dari rasa penasarannya.


Sedangkan Nathan, Jovana, dan Wildan juga terlihat di dalam satu ruangan yang sama, mengambil tempat duduk saling berjajar rapi. Jujur si wanita sedikit merasa risih karena posisinya diapit oleh dua lelaki.


Interaksi di antara Axton dan para warga pun berjalan begitu saja. Pembahasan perihal bantuan sosial yang mencangkup beasiswa bagi anak-anak dari orang tua kurang mampu hingga pembangunan infrastruktur desa mengalir dengan semestinya.


Terkesima dan juga senang, Naora berkali-kali berdecak kagum akan aksi tak terduga sang suami. Keharuanpun kian menyelimuti sanubari. Sungguh tidak disangka jika Axton si raja arogan memiliki sisi simpati begitu tinggi.


"Bapak tidak perlu berterima kasih, karena itu memang sudah kewajiban saya."


Terus terang Axton sedikit kikuk menunjukkan sikap empati kemanusiaannya di depan para warga. Itu memanglah bukan gayanya. Semenjak mengalami trauma akibat peristiwa tragis yang merenggut nyawa sang mama, ia mengubur dalam-dalam sisi kelembutannya. Hanya kearogansian yang dibiarkan berkuasa.


"Selain itu, semua yang saya lakukan juga sebagai bentuk rasa syukur akan kehadiran calon bayi yang ada di kandungan istri saya," sambung Axton kembali.


Berbeda dengan beberapa detik yang lalu, kali ini binar wajahnya terlihat lebih cerah. Sungguh rasa bahagia urung berpaling dari hati, mengingat ia akan menjadi seorang ayah.


Naora tampak tertunduk, menyembunyikan bingkai netranya yang mulai mengembun. Ucapan Axton bagaikan sentuhan hangat pada jantungnya yang bertalun. Bisikan rasa ingin memeluk tubuh gagah sang suami terus saja mengalun. Namun, masih ia tahan dan tidak menunjukkan polah apapun.


Waktu terus merangkak pelan, mengantar sang mentari bertemu senja sore. Setelah usai dengan pembahasan rancangan proses pelaksanaan kegiatan bantuan sosial tersebut, Axton, Naora, Nathan dan Wildan berniat langsung kembali ke kota. Sementara Jovana, berencana tidak langsung meninggalkan desa. Kemungkinan ia akan menetap hingga dua hari ke depan di sana.


Axton dan Naora pulang dengan mobil yang di kemudi Wildan. Sedangkan Nathan pulang dengan mobilnya sendiri tanpa ada teman. Hingga, pikirannya begitu leluasa hanyut dalam lamunan.


Nathan sempat diam-diam menahan tawa saat melihat ekspresi Wildan yang tampak bermuram durja. Pasalnya, beberapa saat yang lalu ungkapan perasaan cintanya ditolak Jovana. Entah mengapa, rasa tenang memenuhi ruang hati tanpa diminta.


Hatiku seketika lega. Aneh memang. Padahal aku tidak menaruh harapan lebih ke Jovana. Apakah aku mulai menyukainya? Dan apa ini? saat akan meninggalkan desa, hatiku juga merasa tidak rela. Seolah separuh jiwaku masih tertinggal di sana.


Pria bermata teduh itu tampak bergelut dengan batinnya yang terus berceloteh, tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan di depan mata.


Jovana sangat urakan, kasar, dan sangat galak, tapi nyatanya sukses mengusik pikiranku sedari tadi. Jika memang rasa ini tumbuh dari bibit cinta, berarti wanita itu sungguh luar biasa. Aku adalah seorang Nathan yang tidak mudah move on ke lain hati sekali mencinta, dan dia bisa secepat dan semudah itu menarik perhatianku tanpa melakukan apapun. Jovana ... Jovana. Nama itu sungguh tidak asing di telingaku.


Sementara itu di dalam kendaraan yang membawa Axton dan Naora.


"Naora, apa kau tidak mengidam sesuatu?" tanya Axton dengan tangan masih belum ingin jauh dari perut istrinya.


Naora menjatuhkan kepalanya pada bahu kokoh suaminya. "Aku hanya ingin segera pulang dan memeluk Daddy. Entah mengapa aku sudah sangat merindukannya."


Dikecup sayang pucuk kepala Naora, disusul jemari membelai pipi halusnya. "Sebelum pergi menemuimu, aku meminta Daddy untuk tinggal lebih lama di rumah kita. Mungkin hampir sama denganmu, hatiku seolah sudah tidak ingin menyia-nyiakan lebih banyak lagi waktu kebersamaan kami."


Naora mendongak ke arah si pria. "Aku sangat senang kalian bisa kembali akur, Axton."


"Itu karena berkatmu." Axton mengecup bibir ranum istrinya.


"Axton, malu ...," bisik Naora seraya menunjuk ke arah Wildan menggunakan lirikan matanya.


"Abaikan saja dia." Pria itu kembali mencium Naora. Kali ini berupa lumattan manis yang menyenangkan. Bahkan tubuh keduanya mulai meremang.

__ADS_1


"EHEM!" Wildan berdehem keras sebagai kode akan perasaan tidak suka. Ia sudah tidak tahan melihat tingkah kedua majikannya yang sedari tadi mengumbar kemesraan di depannya.


Pemandangan seperti itu tidak seharusnya tersaji di hadapan orang yang baru saja patah hati. Sepasang suami istri itu bagaikan menabur cuka pada lukanya yang masih menganga.


"Ada apa?" Axton langsung memasang raut masam, merasa kesenangannya terganggu.


"Anu Tuan, barusan ada lalat nekat masuk mulut," Wildan berkilah. Padahal ia sudah sangat ingin bersumpah serapah.


"Cepat muntahkan!"


"Sudah ketelan, Tuan."


"Menjijikkan."


Sesaat Axton sempat merutuki diri. Bisa-bisanya ia menanggapi perkataan sangat tak berfaedah si asisten pribadi.


"Kau sangat lucu, Wildan," sela Naora tampak terkekeh geli. Jiwa humor calon mama muda itu hanya sebatas lalat yang ketelan.


Dasar Naora.


"Apa kau baru saja memuji pria lain di depanku, Naora?" Jiwa posesif Axton kembali kumat.


"Iya, Wildan itu memang lucu. Aku yakin dia pria yang asyik dan tidak membosankan." Naora kian menjadi. Rasanya sangat menyenangkan menggoda suaminya yang saat ini tengah bermuka masam seperti asam jawa.


"Kalau dibandingkan dengan tuan, saya memang lebih murah senyum dan tentunya tidak mudah meledak seperti petasan, Nona Naora," timpal Wildan terkesan berani, tidak lupa senyuman meledek turut mengiringi.


Meskipun begitu, nyalinya akan langsung menciut jika sudah menerima ancaman maut dari sang atasan. Potongan gaji 50 persen, mencabut semua tunjangan fasilitas yang diberikan kepadanya seperti mobil dan apartemen mewah.


"Suamiku ini memang mahal senyum. Ia seperti orang yang menderita sakit gigi tahunan." Naora semakin cekikikan.


"Apa saat ini kalian sedang bersekongkol membullyku?!" geram Axton sedikit tertahan. Mana mungkin ia meluapkan amarahnya di hadapan Naora yang sedang hamil?


Ditarik tubuh istrinya hingga menempel sempurna ke dadanya, Axton pun berbisik sangat pelan agar Wildan tidak bisa mendengarnya. "Bersiaplah menerima hukumanku jika sudah sampai rumah nanti, Naora."


Senyuman Naora seketika meredup, tergantikan oleh rona merah yang menghiasi pipi. Ia tahu betul maksud dari perkataan sang suami. Hanya membayangkannya saja, tubuh sudah bereaksi.


Selama memberi nafkah batin, Axton selalu melakukannya dengan penuh kelembutan. Sangat bertolak belakang dengan karakter luarnya yang keras dan arogan. Naora sukses dibuatnya kecanduan.


"Axton, aku sepertinya ngidam," ucap Naora sedikit berbisik.


"Katakan kau ingin apa?" Axton menatap serius wajah ayu istrinya.


"Aku ingin pisang."


"Ya sudah kita beli sekarang."


"Tapi ... bukan pisang yang seperti biasa."


"Memangnya pisang yang seperti apa, Sayang? Hm?"


"Pisang yang bertelur," bisik Naora seraya menggambar garis-garis absrak di dada Axton dengan ujung jarinya.

__ADS_1


Serigala bertelur, gajah bertelur, dan sekarang pisang bertelur, besok apa lagi coba? Maklumin ya, emaknya Axton dan Naora ini memang pecinta telur. Haha!


Otak Axton seketika bekerja dengan cepat, langsung paham jenis ngidam yang diminta wanitanya. Kemudian ia kembali berbisik. "Ternyata sekarang kau sudah mulai nakal ya. Lagian itu bukan ngidam, Naora ... tapi kebutuhan."


Naora kembali menunduk karena tersipu malu. Baru kali ini ia berani bersikap seberani seperti itu. Hormon kehamilannya memang menimbulkan berbagai perasaan, sensasi, dan emosi baru. Termasuk dorongan gairah melakukan hubungan intim dengan prianya itu.


Ckiiiitt ...!


Tubuh kedua manusia itu seketika terhuyung ke depan saat Wildan menghentikan laju mobil secara tiba-tiba. Axton bahkan sudah siap menggunakan lidah tajamnya untuk mencincang si asistennya. Namun, sesosok wanita yang berada di luar jendela mobil membuat ia mengurungkan niatnya.


Wildan gegas menurunkan kaca jendela dan melempar tatapan penuh tanda tanya ke arah wanita yang beberapa saat yang lalu mencegat mobilnya


"Ayu, bukahkah kau anaknya pak kepala desa?" tanya Wildan seraya menelisik penampilan wanita itu yang terlihat sederhana dengan membawa tas tenteng besar.


"Mas Wildan, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di saat seperti ini." Wanita bernama Ayu itu sedikit melongok ke arah bangku belakang mobil hingga kedua sosok yang ia kenal tertangkap mata. "Sore Mas Axton dan Mbak Naora," sapanya tersenyum ramah.


"Iya sore juga," balas Naora tak kalah ramah, sementara Axton hanya menanggapinya dengan anggukan kecil.


"Kau kenapa ada di kawasan sepi seperti ini, sendirian lagi? Dan kau mau kemana?." Wildan menyela cepat karena penasaran. Kenapa di hari menjelang petang seperti sekarang, wanita itu berada di pinggir jalan yang sisi kanan kirinya adalah hutan?


Wajah wanita berparas manis itu mendadak terlihat muram. "Sebenarnya saya berniat mengadu nasib di ibu kota. Dan tadi saya diantar pacarku. Tapi ... di dalam perjalanan kami berdebat."


"Lalu kau diturunkan di jalan begitu saja?" tukas Wildan dan langsung mendapat anggukan kecil Ayu.


"Bisakah Ayu menumpang di mobilmu, Mas Wildan?"


"Ow tentu saja boleh! Ayo masuklah!" Wildan tampak bersemangat. Bahkan rasa patah hatinya karena ditolak Jovana menguap begitu saja. Ia bahkan tidak meminta persetujuan terlebih dahulu kepada Axton sebagai bentuk adap kesopanan terhadap atasannya.


"Terima kasih, Mas Wildan." Ayu langsung mengitari mobil lalu membuka pintu.


Wanita desa itu terlihat kesusahan saat hendak menaiki mobil karena tas bawaannya terlalu besar, hingga menyita banyak ruang untuk dia agar bisa duduk dengan nyaman.


"Sini tasnya, biar ditaruh di belakang."


"Ah, iya terima kasih." Ayu menyerahkan tasnya kepada Wildan.


Dan dengan tanpa merasa berdosa sedikitpun ia meletakkan tas tersebut ke pangkuan Axton.


"WILDAN ...!!! GAJIMU AKU POTONG 100 PERSEN!"





Bersambung~~


Jodoh Wildan sudah keliatan nih🥰


Tetap baca dan dukung karyaku ini hingga tamat ya ... Terima kasih. lop you😘

__ADS_1


__ADS_2