
Sinar mentari mulai menyapa pagi. Suara alam menyambut dengan berseri. Sepasang anak manusia masih terbuai di alam mimpi. Di bawah selimut tebal, mereka tenggelam dalam berbagi kehangatan yang dimiliki.
Lengan kekar tengah menjadi bantalan ternyaman bagi si wanita. Sementara bagi si pria, tubuh si wanita bagaikan guling bernyawa terhangat sepanjang masa. Keduanya tampak saling menikmati posisi tidurnya.
Jika dilihat seperti saat ini, Axton dan Naora terlihat layaknya sepasang suami istri yang saling menyayangi. Tiada perseteruan, perdebatan, ataupun hati yang tersakiti. Dan juga ... poligami.
Semalaman, Axton begitu larut dalam getaran rasa di dada. Bahkan ia seakan lupa akan keberadaan Lana. Sosok Naora, sungguh mengusik dunianya.
Entah sudah berapa kali ia terus mendaratkan kecupan lembut di pucuk kepala istrinya. Ia juga tak bosan memandang pahatan cantik di muka Naora. Ratusan pujian pun tak luput dari bibirnya. Pria itu terlena ke dalam suasana. Kendati ia harus mati-matian menahan hasrat untuk bercinta, karena tubuhnya memang selalu bereaksi jika bersama si wanita.
Pria itu sudah berjanji pada dirinya sendiri. Tidak akan ada tindakan paksa perihal mendapatkan haknya sebagai suami. Yang dia inginkan, semua itu berjalan sesuai keinginan hati nurani.
Perlahan, tubuh yang masih tenggelam ke dalam rengkuhan Axton menggeliat samar, disusul terbukanya sepasang kelopak mata. Naora mulai terjaga dari tidurnya.
"Hmm ... rasanya nyaman sekali," racau Naora yang tak langsung bisa mencerna situasi. Mungkin karena semua nyawanya belum sepenuhnya kembali. Ia kian menenggelamkan tubuh ke dalam dada bidang sang suami.
Hingga suara jantung yang berdegub teratur, serta dengkuran halus mengalun merdu, menelusup ke dalam indera pendengaran, seketika menarik cepat semua kesadarannya. Ia terkesiap saat ruang geraknya sedikit tersita. Gegas dibawa pandangan menyusuri pemandangan di depan mata.
Naora tercekat di saat itu juga. Ia ingin berteriak, tapi muka lelap di depan mata mencegah niatnya. "Axton?" lirihnya lalu mengedar pandangan di sekitar dengan sisa ruang gerak yang dimiliki. Pasalnya tubuhnya masih terkurung di antara kedua tangan kekar Axton.
"Seingatku semalam aku masih berada di taman. Dan sejak kapan aku sudah berada di kamarku?" Muka bantalnya tampak kebingungan. Ia menggeliat, mencoba membebaskan diri dari lilitan tangan di tubuhnya.
"Berhentilah bergerak, Naora."
Naora tercekat saat suara parau khas bangun tidur Axton menyeruak ke dalam pendengaran. "Kau sudah bangun?"
"Belum."
Bibir Naora mencebik. "Kau bilang belum bangun tapi bisa menjawab pertanyaanku."
Masih dengan mata terpejam. "Kau sudah tahu, terus kenapa masih bertanya, Naora?" Ucapan Axton membuat istri ke-duanya itu mati kutu.
Suasana kembali hening. Posisi mereka bahkan tak perpindah. Naora diam-diam mengamati setiap pahatan tegas muka sang suami. Batinnya pun mulai mengagumi.
Aku baru sadar kalau dia memiliki bulu mata yang panjang dan lentik. Kalau dilihat dari dekat ... dia sangat ...
"Aku sangat tampan."
Naora terhenyak tak mengerti, saat suara serak Axton tiba-tiba memecah keheningan.
"Kau baru saja memuji dirimu sendiri? Dasar narsis," cibirnya.
"Aku hanya mengatakan apa yang hatimu ingin katakan, Naora."
Napas Naora seketika berhenti di tenggorokan. Ia terperangah karena suami arogannya itu seolah bisa membaca apa yang dipikirkan. Si wanita kian terhenyak kala sesak kian dirasa, sebab pria itu kembali mempererat rengkuhan tangan.
__ADS_1
"Axton ... k-kau ... membuatku sesak." Ia kembali menggeliat, sebisa mungkin lepas dari lilitan tangan kekar si pria.
Alih-alih mendengar keluhan istrinya, Axton malah menambah kekuatan belitan tangan. Kaki besar bahkan ikut berperan, menindih tubuh kecil itu tanpa sungkan. Pria itu, mulai membuka kelopak mata, memamerkan sepasang mutiara abu-abu yang begitu mengagumkan.
Axton menatap lekat manik cantik Naora. Mengunci sepasang netranya dengan sorot mata penuh makna. Wanita itu kembali terkesima. Lensa abu-abu milik Tuan muda arogan itu seolah menyimpan berbagai rasa.
"Sebenarnya apa yang membuatmu semalam menangis, Naora?" Axton akhirnya mulai mencari obat rasa ingin tahunya dengan menanyakannya langsung kepada yang bersangkutan.
Terus terang, semalaman ia kembali dibuat susah tidur karena Naora. Sungguh, bayang-bayang akan tangisan pilu si wanita kemarin malam telah mengusik pikirannya.
Tatanpan Axton kian dalam saat Naora masih setia dengan kebisuan. Wanita itu tengah menutupi sesuatu, dan dia sangat tahu hal itu. "Jawab aku, Naora. Kenapa kau menangis di taman?" desaknya.
Naora tidak menyangka, bahwa Axton telah melihat sisi rapuhnya yang selama ini ditutupi. Bagaikan seorang terdakwa di depan meja sidang, Naora merasa gugup akan tatapan menuntut Axton kini.
"Apa kau menangisi Nathan?"
Tuduhan tak berdasar yang ditujukan untuknya membuat ia bersemangat melempar lirikan tajam kepada pria tersebut.
"Haruskah aku menangisinya?"
"Jangan macam-macam, Naora."
"Aku tersenyum di depannya tidak boleh, menangis pun juga tidak boleh. Kau memang aneh. Lain kali aku akan pakai topeng Joker saja kalau keluar."
"Itu ide bagus. Aku setuju."
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
Rupanya rasa penasaran pria itu sudah tak terelakkan. Pokoknya, dia harus tahu alasan Naora menangis hingga sesenggukan. Begitulah yang ada di pikiran.
"Aku hanya sedang merindukan kedua orangtuaku."
Naora berdusta. Lagian mana mungkin ia berkata apa adanya. Axton bisa besar kepala nanti jika sampai tahu ia menangisinya.
Oh ... tidak bisa!
Axton tampaknya mempercayai jawaban Naora. Terlihat dari anggukan ringan di kepalanya. Wanita itu seketika merasa lega.
"Aku tidak ingin melihatmu menangis di depan pria lain. Kau harus ingat itu," Axton menegaskan.
"Tergantung situasi."
"Jangan membantahku, Naora."
"Aku juga wanita, Axton. Ada kalanya butuh bahu lain untuk bersandar."
"Kau bisa menggunakan bahuku."
__ADS_1
Bukannya merasa terharu, Naora malah memasang muka meledek. "Apa kau ini sedang kesurupan? Atau mungkin sedang kekurangan asupan kemenyan hingga kau asal berbicara? Bahumu itu sudah jelas bukan untukku. Aku sangat sadar akan posisiku di kehidupanmu."
Wanita itu kembali menggeliat. "Lepaskan aku. Kau membuatku sesak."
"Tidak akan."
"Lepaskan aku, Axton. Sebenarnya kau ini kenapa? Jangan bermain-main denganku. Apa kau tidak memikirkan istri tercintamu itu yang saat ini mungkin sedang kedinginan? Lagian aku tidak ingin pipiku terkena tamparannya lagi karena merasa suaminya digoda."
Kalimat pengingat Naora ternyata tak sia-sia. Axton langsung mengurai lilitan tangannya. Bayangan Lana kembali berputar-pitar di otaknya.
Lana pasti sangat sedih saat ini. Semalam aku tidak kembali ke kamar. Dia pasti cemas.
Pria itu menyibak selimutnya lalu berpindah ke posisi duduk, berniat gegas menuruni ranjang. Namun suara Naora menghentikannya.
"Aku hari ini akan mengunjungi Daddy."
"Untuk apa?"
"Aku ingin menemaninya berziarah."
Axton mengerutkan dahinya. "Ziarah?" Mimik mukanya sarat akan pertanyaan.
Sama halnya dengan Axton. Naora pun turut memasang muka bertanya-tanya karena sikap Axton yang terkesan tidak tahu. "Hari ini adalah hari memperingati kepergian Ibumu. Apa kau lupa?"
Jiwa Axton seketika bergejolak tak menentu. Dadanya bergemuruh hingga bertalu-talu. Keringat dingin dengan cepat membasahi sekujur tubuh gagahnya itu. Raut pasi turut menghiasi muka saat peristiwa kematian sang Ibu terngiang di kepala dan seolah enggan berlalu.
Ia gegas menuruni ranjang lalu mengayun tungkai menuju pintu keluar. Dibanting daun pintu kamar hingga dindingnya bergetar. Naora pun tak luput dari rasa kaget karena tindakan Axton yang kasar.
"Sebenarnya ia kenapa? Sikapnya tadi membuatku cemas." Wanita itu keheranan.
Sedangkan dari luar kamar, Lana menyadari gelagat Axton yang sudah sangat ia hafal. "Kali ini aku sengaja menahan diri dan membiarkan wanita murahan itu merasa senang karena bisa tidur bersama suamiku semalaman. Namun, aku sangat yakin bahwa dia akan merasa jijik jika tahu semua kekurangan Axton, termasuk yang satu ini. Kita lihat saja nanti."
β
β
β
Bersambung~~
Maaf ya, Nofi belum sempet balas komen kalian satu persatu. Nofi bukan Author sombong kok..π€£ Cuma lagi benar-benar sibuk saja.
Well. Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon LIKE Tinggalkan KOMEN cantik di setiap bab.. Nofi maksa iniπ€£ Berncanda kokβ
Yang punya Vote dan Gift bolehlah disumbangkan ke karya ini..π₯°
Sarangheyo ...ππ
__ADS_1