Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Suka Sekaligus Duka


__ADS_3


Sentuhan atmosfer begitu terasa menegangkan. Kunjungan kontraksi menciptakan suara rintihan. Peluh keringat pun turut menyapa dalam kesakitan. Iya, perjuangan keras seorang calon ibu sedang mengisi alur kisahnya di ruang persalinan.


Axton tak hentinya memberi semangat kepada Naora. Kendati sebenarnya pria itu pun tengah berselimut kecemasan tiada tara. Andai kalau bisa, ingin sekali ia menggantikan posisi sang istri sekarang juga.


Sungguh, Axton tidak tega. Apa yang dirasakannya saat ini adalah fakta. Bukan sekedar bualan belaka. Bahkan batinnya beberapa kali berdoa, agar derita Naora biar dia saja yang rasa.


"Naora sayang, semangat ya. Kau wanita kuat, kau wanita hebat." Axton menghujani pucuk kepala Naora dengan ribuan kecupan.


"Axton ... rasanya sakit sekali. Ya Tuhan ...!" Naora terus merintih seraya meremas tangan Axton. Namun, beberapa detik kemudian bibir wanita itu melengkung membentuk senyuman tipis di tengah perjuangannya.


"Ada apa, Naora?" Axton mengernyit keheranan saat si istri masih sempat tersenyum di sela usahanya menahan rasa sakit.


"Wajah tegangmu terlihat lucu."


Serasa lemas bak tak bertenaga, Axton menempelkan keningnya pada pelipis Naora. Dari deru napas terdengar jelas bahwa jantungnya sedang bergetar luar biasa.


"Abaikan mukaku, Naora. Kau sebaiknya fokus dengan dirimu sendiri," lirih Axton seraya mati-matian menutup kekhawatiran yang melanda. Namun, tetap saja usahanya itu tampak sia-sia di mata Naora. Wanita itu ternyata sangat peka dengan perasaan suaminya.


"Tersenyumlah, kau terlihat tampan kalau sedang tersenyum."


Axton menarik kembali mukanya lalu memandang lekat paras cantik istrinya. "Naora, bagaimana bisa aku tersenyum di situasi seperti ini? Aku tidak gila."


"Tersenyumlah, Axton. Aku ingin melihatnya. Setidaknya senyumanmu itu bisa membuatku tenang," pinta Naora. Samar-samar ia tampak meringis karena sensasi remasan di perutnya.


Demi menuruti kemauan sang pujaan hati, Axton akhirnya mengulas senyuman tipis. Diraih tangan Naora lalu melabuhkan satu kecupan tapi sarat akan cinta.


"Apa kau sudah senang, Sayang?" tanya Axton penuh kelembutan.


Mengangguk pelan sembari mengulas senyum, Naora berkata. "Kenapa kau masih bertanya, tentu saja aku senang."


Axton kembali mendaratkan bibirnya di kening Naora. Dia seolah tak pernah bosan menghadiahi ciuman penyemangat untuk sang istri yang sedang berjuang melahirkan buah cinta mereka.


"Kita lanjutkan ya. Kau pasti masih kuat. Aku percaya istriku ini bukan wanita lemah," tutur Axton.


"Iya."

__ADS_1


Axton menuntun tangan Naroa agar mencengkeram tangannya. "Remaslah tanganku, kalau perlu tancapkan kuku-kukumu di sini jika itu bisa mengurangi rasa sakitmu."


Naora menggeleng. "Aku tidak ingin melukaimu."


"Rasa sakit pada lukaku tidak akan sebanding dengan rasa sakitmu, Naora."


Di dalam situasi seperti sekarang, sepasang kekasih itu masih sempat saling menunjukkan rasa cinta yang luar biasa. Mereka sama-sama tidak ingin melihat pasangannya kesakitan.


Seorang dokter dan perawat yang membantu persalinan Naora tersenyum hangat menyaksikan pemandangan indah yang tersaji di depan mereka. Interaksi di antara kedua anak manusia itu memang terkesan sangat romantis dan bisa membuat iri bagi siapa saja yang melihatnya.


Hingga kontraksi kembali datang. Ekpresi Naora pun sudah terlihat menegang karena rasa sakit yang menyerang. Sang dokter langsung memberi instruksi dengan pembawaan tenang.


"Nyonya, tolong dengar lagi aba-aba dari saya ya. Tarik napas dalam ... buang pelan-pelan. Iya betul seperti itu. Ayo mulai mengejan!"


Waktu terus berjalan, Naora terus berjuang keras melahirkan bayinya. Sementara Axton, mendampinginya dengan hati tiada henti membisikkan doa.


Hingga suara nyaring tangisan bayi menyapa. Sebagai bentuk akhir perjuangan Naora. Lega sudah, anak mereka lahir dengan sempurna. Axton bahkan sampai menitihkan air mata karena keharuan yang dirasa. Kedua orang tua itu teramat bersyukur akan pertemuan manis dengan malaikat hasil buah cinta mereka.


"Tuan dan Nyonya, selamat ya. Anak kalian lelaki. Dia terlahir dengan sehat dan juga sangat tampan," ucap si dokter dengan perasaan kagum. Lalu ia memberikan bayi yang sudah dibersihkan itu kepada Naora untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini).


"Apakah sakit?" tanya Axton kepada Naora yang terlihat meringis seperti menahan sakit saat bibir mungil Axton junior mulai menemukan sumber makanan pertamanya di dunia.


"Beneran tidak apa-apa?"


"Beneran, Axton. Lagian aku juga sudah terbiasa menyusuimu setiap mal--"


"Naora, kau jangan katakan apapun lagi. Fokuslah menyusui bayi kita ya." Axton menyela cepat seraya menutup mulut Naora. Rupanya dia malu kepada sang dokter dan perawat yang tanpa sengaja mendengar ucapan istrinya.


Ya jelaslah malu. Rahasia negara kok diumbar!


Dasar Naora!


Suara ketukan pintu yang tiba-tiba terdengar seketika menarik perhatian sang dokter. Selang tidak lama seorang perawat muncul dari balik pintu dengan raut wajah serius.


"Permisi dokter, ijinkan saya untuk bertemu dengan Tuan Axton," ucap perawat tersebut.


"Ada apa?" sela Axton yang ternyata mendengar namanya disebut.

__ADS_1


"Bisakah anda ikut saya ke kamar perawatan Tuan Edrich sebentar?"


Axton tampak berpikir sejenak sebelum menoleh ke Naora. "Sayang, aku pergi sebentar ya. Dokter akan mengurusmu dan bayi kita. Tenang saja aku juga akan segera kembali," tuturnya.


Naora mengangguk tanda patuh, meski gurat kecemasan sudah membingkai wajah lelahnya. Apa mungkin dia sedang kelelahan karena baru saja melahirkan, maka perasaannya sedikit peka? Raut serius wajah perawat tadi sukses menumbuhkan pikiran buruk di kepalanya.


Di kamar perawatan VIP tempat Edrich terbaring tak berdaya. Axton memaku pada pijakan kakinya. Ditatap nanar tubuh yang terbaring kaku tanpa nyawa. Rasanya ia tidak ingin percaya dengan kenyataan di depan mata.


Namun, suara keras mesin elektrokardiogram selaras dengan layarnya yang menampilkan garis panjang, berarti tidak ada lagi detak jantung. Axton terasa lemas hingga tubuhnya bergetar hebat.


Beberapa saat yang lalu, tim dokter sudah berusaha keras, berkejaran dengan malaikat maut untuk merebut kembali jiwa pasien mereka. Akan tetapi, kekalahan yang diterima. Rupanya sang takdir lebih berkuasa. Edrich telah tiada.


"Kenapa kalian hanya diam saja?! Cepat lakukan sesuatu. Bukankah aku sudah membayar mahal kalian untuk kesembuhannya?!" seru Axton kepada beberapa tim dokter yang berada di ruangan yang sama.


"Maaf, Tuan. Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi pasien mengalami mati otak hingga--"


"Cukup! Aku tidak peduli! Siapa yang menyuruh kalian melepaskan alat-alat itu?! Cepat pasang kembali!" pangkas Axton dengan cepat. Ia benar-benar ingin menolak kenyataan.


Rasanya begitu sulit ia terima. Baru beberapa menit yang lalu Axton merasakan kebahagiaan tiada tara karena baru saja menyandang status sebagai ayah muda. Dan sekarang kenapa kebahagiaannya itu harus beriringan dengan duka? Apakah ini adil untuknya?


Axton melangkah lemah mendekati tubuh sang daddy yang tak lagi memberikan kehangatan. Dingin, itulah yang dirasakan.


"Dad, apakah kau sedang menghukumku dengan cara seperti ini? Aku baru saja merasakan kembali uluran kasih sayangmu dan sekarang kau ingin pergi lagi."


Jebol sudah tanggul sumber mata air kesedihannya. Tubuhnya bersimpuh lemas di sebelah ranjang rumah sakit seraya memeluk tubuh Edrich.


"Aku bahkan belum sempat memperlihatkan anakku kepadamu. Apa kau tega melihat cucumu tidak memiliki kakek?" Suara Axton terdengar bergetar karena sebisa mungkin agar isak tangisnya tidak pecah.


Percayalah! Menangis tanpa bersuara itu rasanya sangat menyakitkan!





Bersambung~~

__ADS_1


Harusnya ini bab terakhir, tapi ternyata tidak sesuai ekspetasi. Jadi masih ada beberapa bab lagi. Mungkin ....3 bab lagi.😭


__ADS_2