
Arus waktu terus mengalir, membawa untaian kisah perjalanan hidup manusia. Tidak terasa satu purnama telah terlewati tanpa melepas asa. Dan selama itu pula segumpal hati terus merana. Jiwa seolah tenggelam ke dalam sepi, meski ingar- bingar keramaian jalanan kota menguar tak terjeda.
Di belakang kemudi, Axton terlihat fokus pada pekatnya jalan raya yang dipadati kendaraan berlalu lalang. Namun, siapa sangka kalau ia sedang berkelam kabut pikiran karena tiada hadirnya si wanita tersayang. Bagaikan dilanda musim kemarau panjang, hati si tuan muda terasa gersang.
Setelah perdebatan terakhir di rumah sakit waktu itu, Axton belum lagi bertemu dengan Naora. Nathan yang juga ikut membantu mencaripun tak jua menemukan keberadaannya. Wanita itu seolah hilang ditelan masa.
Tiiiinnn ...!
Axton seketika terlepas dari lamunan seiring dengan bantingan kasar setirnya ke arah bibir jalan saat mobil yang dibawa hampir beradu keras dengan kendaraan lain. Karena terlalu tenggelam ke dalam pikiran kacau, menyita fokusnya saat mengemudi.
Pria itu langsung mematikan mesin kendaraan, berniat meluangkan sedikit waktu untuk meraup ketenangan di dada. Tangan diajak menggusar kasar rambut seiring dengan helaan napas beratnya. Seolah hati kian tersiksa, melemahkan setiap saraf di tubuh, ia menjatuhkan kepala di atas lipatan kedua tangan yang bertumpu pada setir mobilnya.
"Naora kau sebenarnya bersembunyi di mana? Jangan siksa aku seperti ini. Aku bisa gila," keluh pria itu.
"Haah! Apa ini hukumanku karena dulu sering memperlakukanmu dengan buruk. Percayalah, Naora aku sudah lama menyesalinya."
Frustrasi! Axton beberapa kali mengetuk-ngetukkan dahi pada setir. Merasa tindakannya tidak mampu mengurangi kegalauan hati, ia menghempas punggung pada sandaran bangku mobil dengan perasaan getir.
"Lebih baik kau pukul aku dan marah-marah di hadapanku dari pada harus hilang dari pandanganku."
Sungguh, sosok Naora bagaikan tetesan embun penyejuk jiwa. Sentuhan, senyuman, perhatian, sorot mata, suara, dan semuanya yang ada pada diri wanita itu sudah menjadi candu bagi si tuan muda. Jadi, tidak salah jika saat ini Axton menggila.
"Aku sangat merindukanmu."
Tentu saja Axton merindu. Sejam berpisah saja ia sudah sangat ingin bertemu. Apalagi sampai sebulan berlalu. Sungguh ia tidak akan mampu.
Sepasang netra sendu diajak menyoroti pemandangan di luar jendela. Bola mata tergiring pasrah mengikuti gerak tubuh para manusia yang keluar masuk ke bangunan pusat perbelanjaan kota. Hingga, bidikannya tiba-tiba menajam, dan terpaku pada sosok seorang wanita.
"Naora?"
__ADS_1
Yakin bahwa ia tidak salah melihat, gegas dibawa kaki menuruni tunggangan lalu melangkah lebar mendekati sasaran yang masih menjadi bidikan matanya. Pria itu terus memangkas jarak hingga tangan mampu menjangkau bahu seorang wanita.
"Naora," sapa Axton bersemangat. Dia bahkan sudah bersiap-siap ingin memeluknya.
"Maaf, anda siapa?"
Pupus sudah harapan akan bisa bertemu kembali dengan sang istri tersayang. Rupanya Axton telah salah orang. Kalau dilihat dari belakang, wanita tadi memang sangat mirip dengan Naora yang beberapa hari ini menghilang.
Tanpa menghiraukan tatapan keheranan wanita asing itu, Axton pergi begitu saja. Kali ini, hati kecilnya kian merana. Memang sebuah fakta, tanpa Naora disampingnya, ia bagaikan butiran debu yang tak berarti apa-apa.
Sementara itu, di belahan bumi lainnya. Di desa terpencil jauh dari keramaian kota. Sebuah kawasan asri, berpanorama alam yang memanjakan mata. Hutan, gunung, sawah, dan sungai menjadi paduan akan keindahan Sang Maha Pencipta.
Di sebuah bangunan sederhana, kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung di sana. Terlihat beberapa anak begitu antusias menerima materi dari gurunya.
Jika diperhatikan dengan seksama, tidak ada satu pun dari peserta didik tampak mengenakan seragam selayaknya seorang murid pada umumnya. Karena sejatinya mereka hanyalah anak-anak dari para orang tua yang memiliki strata ekonomi kurang mampu hingga tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan di bangku sekolahan.
Oleh sebab itu, para calon penerus bangsa yang kurang beruntung itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat ada dua sukarelawan membagikan ilmu pengetahuan mereka secara cuma-cuma. Kedua manusia berhati malaikat itu memang sengaja merangkul anak-anak untuk kembali merasakan bagaimana serunya menuntut ilmu.
"Anak-anak, kegiatan belajar kita hari ini cukup sampai di sini ya. Ingat, langsung pulang ke rumah terlebih dahulu agar orang tua kalian tidak khawatir," tutur lembut salah satu relawan berparas cantik.
"Ingat! Jangan bermain di daerah sungai karena air sedang meluap. Itu sangat berbahaya bagi kalian." Kali ini ganti seorang relawan berpenampilan tomboy yang menuturi.
"Siap, Bu Guru ...," jawab mereka lagi dengan kompak juga.
"Sampai bertemu besok ya anak-anak, selamat siang," ucap kedua relawan itu bersamaan.
"Selamat siang, Bu Guru."
Setelah mengucapkan salam, para peserta didik langsung berhamburan keluar ruangan hingga menyisakan kedua relawan itu saja.
"Bagaimana, apa kau masih betah berada di tempat terpencil ini?" tanya Jovana.
__ADS_1
"Tentu saja masih betah. Di sini sangat menyenangkan. Apalagi saat melihat wajah bahagia anak-anak. Rasanya itu bangga bisa mengajari anak yang awalnya tidak bisa menulis, akhirnya bisa menulis. Ada kepuasan tersendiri,” jelas teman Jovana yang tak lain adalah Naora.
Jovana adalah satu-satunya sahabat Naora yang hobi berkecimpung dalam kegiatan kemanusiaan terutama di bidang pendidikan. wanita itu bahkan rela mendedikasikan hampir seluruh waktunya untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak yang berasal dari orang tua kurang mampu dari segi perekonomian. Baginya, mendidik adalah bagian dari panggilan jiwa sehingga ia menjalankan kegiatan mengajarnya sebagai suatu kewajiban yang muncul dari nurani dan ketulusan.
"Kau yakin tidak ingin pulang? Suamimu pasti sedang menunggumu loh."
"Please! Jangan paksa aku Jo. Aku masih sangat kecewa dengannya." Naora bersengut seraya merapikan buku-buku materi di atas meja.
"Kalian belum sepenuhnya bercerai loh, tidak baik merajuk terlalu lama."
"Tapi dia jelas-jelas meminta cerai." Naora memfokuskan perhatiannya kepada Jovana. "Kau terkesan mengusirku secara halis, Joe. Apa kau tidak suka jika aku berada di sini bersamamu?"
"Bukan seperti itu maksudku, Naora. Kau ini kenapa sih? Gampang banget marah-marah seperti nenek-nenek yang sedang PMS."
"Terserah kau mau ngomong apa saja Joe. Yang jelas aku masih sangat kecewa dengannya. Aku membencinya."
Tanpa menunggu balasan tanggapan dari Jovana, Naora melenggang pergi begitu saja. Wanita itu masuk ke dalam kamar yang memang berada dalam satu bangunan tempat belajar bersama.
Helaan napas panjang mencelos dari sepasang bibir Jovana. Entah mengapa, ia merasa beberapa hari terakhir ini sahabatnya itu begitu sensif dan mudah sekali tersulut amarah.
Sementara di dalam kamar. Naora langsung menjatuh badannya di peraduan seraya menenggelamkan wajahnya di bantal.
"Aku sangat membencimu, Axton! Dasar si arogan menyebalkan!" Ia terus meluapkan kekecewaannya.
Tidak terasa, kesenduan hati menyokong cairan bening membingkai mata dan pada akhirnya meluncur membelah pipi. "Aku membencimu, tapi ... aku juga rindu."
☘
☘
☘
__ADS_1
Bersambung~~
Maaf cuma bisa ngetik seribuan kata nih🙏 Mata dah sangat beratt