
Sang pagi bersambut mentari. Langit cerah tampak berseri. Sejuknya embun turut mengiringi. Kicauan burung bernyanyi merangkai sebuah simponi alami.
Di bawah selimut hangat, seonggok daging bernyawa masih terlelap diiringi dengkuran halus. Hingga, jiwa yang sudah lelah mengarungi dunia mimpi menggugahnya untuk terjaga kembali.
Naora ... menggeliat ringan, meregangkan otot-otot kakunya. Perlahan kelopak mata terbuka dan mulai memindai suasana ruangan dengan nyawa belum sepenuhnya berkumpul di raga. Hingga ingatan akan kejadian semalam meraup kembali semua kesadarannya.
"Axton ...." Ia langsung berpindah ke posisi duduk dan mencari keberadaan Axton yang tak tampak di dekatnya. Bahkan di seluruh ruangan.
Wanita itu sangat ingat, kalau semalam masih duduk di lantai hingga ketiduran. Dan ketika bangun ia sudah berada di atas peraduan.
"Pasti Axton yang memindahkanku ke ranjang. Kenapa dia tidak membangunkanku? Dan apa dia sudah baik-baik saja?Aku harus memastikan keadaannya." Kecemasan yang melanda, mengajak tangan menyibak selimut yang membungkus tubuhnya lalu melangkah keluar kamar.
"Lana ... di mana Axton sekarang?" Ia bertanya langsung ke madunya yang kebetulan berpapasan dengannya.
Sesaat, Lana tampak berpikir sebelum menjawab. "Aku juga tidak tahu dia berada di mana sekarang. Tapi pagi-pagi sekali ia sempat memintah jatah di atas ranjang kepadaku sebelum pergi. Suamiku itu memang tidak bisa jauh dari sentuhanku."
Aku harus membuat Naora terus berpikiran buruk kepada Axton agar dia tidak betah dan enyah dari rumah ini. Keberadaan wanita murahan ini sungguh mengusik ketenanganku.
Namun, alih-alih kemakan dengan ucapan Lana, Naora malah memandang lawan bicaranya itu dengan tatapan jengah. "Sepertinya aku salah bertanya kepadamu, Lana." Ia melipat kedua tangan di depan dada.
"Dan apa ini? Kau bahkan tak terlihat khawatir sama sekali di saat keberadaan Axton tidak di rumah. Padahal dia sedang butuh perhatian dan dukungan saat ini. Kau malah memilih mengumbar cerita privasimu yang di mana aku pun tidak bisa mempercayainya. Berhentilah, memanas-manasiku jika tidak ingin kau sendiri yang terbakar pada akhirnya," sambungnya kembali, mencecar madunya itu dengan serangkaian kata yang monohok.
Kali ini, Naora benar-benar mengesampingkan perasaan cemburunya. Saat ini, dia hanya ingin memastikan bahwa suami arogannya itu baik-baik saja.
"Aku heran, bisa-bisa Axton memelihara seorang istri sepertimu. Haah! Aku seharusnya membenarkan, kalau cinta itu memang buta." Ia memutar tumit lalu pergi.
Dan aku pun sepertinya juga sudah buta karena cinta karena masih saja mengharapkan balasan cinta dari pria yang terus menoreh luka di hatiku. Aku berharap, suatu hari nanti perasaan ini bisa kutepis jika akhirnya tetap tidak bersambut kasih. Batin Naora bermonolog di sela langkahnya, meninggalkan Lana yang masih terbungkam tak mampu berkata-kata.
β¦
Tidak terasa langit terang telah berselimut malam gelap pekat. Naora kini sudah terlihat lebih segar setelah selesai dengan ritual berendam di air hangat. Setidaknya, hal itu bisa mengurangi beban pikirannya untuk sesaat.
Seharian ia dibuat cemas karena Axton tak kunjung kembali ke kediaman. Beberapa kali ia melakukan panggilan telepon dan mengirim pesan, tapi tak jua ada tanggapan. Nathan yang biasanya selalu tahu tentang keberadaan sahabatnya itu kini pun kebingungan.
Axton seolah hilang ditelan bumi.
__ADS_1
"Sebenarnya dia di mana? Setelah kejadian semalam seharusnya dia lebih menenangkan diri di rumah. Bukan malah keluyuran."
Naora terlihat jengkel di sela rasa cemas. Ia lalu memandangi bias diri di cermin meja rias. Sorot mata menatap lurus bersamaan helaan napas.
Keresahan yang terus memenuhi rongga dada perlahan membawa ingatannya melayang di saat ia berupaya menenangkan Axton kemarin malam. Wanita itu terlena ke dalam lamunan.
Pandangannya mulai kabur, seiring dengan buliran kristal yang meluncur dari pelupuk mata. Naora sudah pasrah akan nyawanya.
Entah dari mana datangnya kekuatan. Jiwa kembali berusaha mengais secerca harapan. Wanita itu kembali bangkit dari kepasraan. Lidahnya mulai merangkai sebuah lisan. Hingga hati milik Axton merasakan getaran.
"Kak Ax-ton ...."
Axton tertegun setelah mendengar panggilan yang dulu sempat menumbuhkan debaran di dada. Cengkeraman jari-jarinya berangsur-angsur merenggang dari leher Naora.
Masih dirajai oleh gejolak rasa yang terus menghujam jiwa, si pria beranjak dari tubuh si wanita. Ia beringsut mundur dengan menekuk kedua lututnya. Sepasang tangan dibawa menutup telinga, menghalau bisikan-bisikan yang seolah terus menghantuinya.
"Arrrggg ...!" Axton kembali meraung, meluapkan segala belenggu kekelaman akan rasa yang menyiksa.
Setelah meraup rakus udara hingga memenuhi rongga paru-paru, Naora mencoba bangkit dari posisi. Kendati masih kepayahan, ia seolah tak peduli dengan apa yang akan terjadi. Yang jelas, hatinya sangat sakit melihat kondisi menyedihkan sang suami.
Wanita itu mencoba merengkuh tubuh gemetar Axton dengan berani. Berharap tindakannya mampu menenangkan hati. Namun ....
Beruntung tindakan pria itu tak meruntuhkan kegigihan seorang Naora Alesha. Wanita itu kembali merengkuh si pria.
"Arrrgg ...! Arrrgg ...!" Axton kian menggila membuat pelukan Naora kembali terlepas. Hingga wanita itu tak lagi mampu membendung air mata kesedihan.
"Cukup! Axton! berhentilah menyiksa dirimu seperti ini!"
Naora seketika terduduk lemas. Rasa sakit di dada seolah merenggut seluruh kekuatannya hingga tandas.
"Kau membuatku khawatir, Axton."
Ia terisak hingga sepasang bahunya tampak bergetar. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menunjukkan air matanya di depan Axton dengan sangat sadar.
"Kau menakutiku, Axton." Naora kian berderai air mata, membasahi paras cantiknya hingga rata. "Aku takut kau terluka lebih dalam. Aku takut kau tersiksa lebih lama. Aku takut, Axton. Kenapa kau lakukan ini kepadaku?"
Axton terdiam seketika. Tertegun, itu lah rasa yang tengah merayap di dalam dada. Air mata Naora seolah mengalihkan segala perhatiannya. Ia juga tidak menyangka wanita itu menangis demi dia.
__ADS_1
Masih tergugu sedih, Naora mendekati Axton dan melayangkan beberapa kali pukulan lemah pada dada bidang di depannya. "Sudah cukup kau membuatku sedih dengan sikap kasarmu selama ini, jadi jangan menambah kesedihanku lagi dengan sikapmu yang seperti sekarang. Kenapa kau suka sekali membuatku menderita?"
Naora menghentikan pukulannya lalu memeluk tubuh Axton yang tidak memberikan respon apapun. Tidak ada sebuah penolakan maupun sambutan. Yang ada, deguban jantung yang menggetarkan dada. Wanita itu bahkan bisa merasakannya.
"Naora ...." lirih Axton.
Naora terhenyak ringan saat suara Axton kembali menembus pendengarannya. Ia sedikit melerai pelukannya lalu memandang lekat sepasang iris abu-abu yang ternyata bersambut pandang.
"Iya, Axton. Ini aku, Naora. Sekarang tenangkan dirimu ya. Jangan bersedih lagi. Aku di sini untuk menemanimu." Ia kembali memeluk Axton. Kali ini dekapannya lebih dalam dan penuh sayang.
"Naora ...," lirih Axton kembali.
"Iya ... aku di sini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana."
"Jangan menangis."
Naora gegas menghapus air mata yang membasahi bingkai netranya. "Iya, aku sudah berhenti menangis."
Naora bergidik saat Hembusan semilir angin yang masuk dari pintu balkon menyentuh kulitnya. Wanita itu seketika keluar dari lamunannya, disusul helaan napas panjangnya. Bagaimanpun juga, rasa cemas kepada Axton tentu masih ada.
Ia lantas melirik ke arah jam dinding. "Ini sudah sangat larut, apa Axton belum pulang juga? Apa mungkin dia sudah berada di kamar bersama Lana? Tapi ... aku belum mendengar suara mobilnya datang sedari tadi. Bukankah itu berarti dia belum di rumah?"
Dinginnya tiupan angin yang masuk ke kamar kian membuatnya bergidik kedinginan. Naora gegas beranjak dari duduk, berniat menutup pintu balkon. Namun, belum sempat daun pintu tertutup sempurna, pandangannya menangkap sebuah objek yang berada di luar rumah dari kejauhan.
Keinginan menggebu sontak membawa kaki melangkah pergi meninggalkan kamar. Wanita itu berlari seolah tengah mengejar waktu yang kian terkikis.
β
β
β
Bersambung~~
Well. Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon LIKE Tinggalkan KOMEN cantik di setiap bab.. Nofi maksa iniπ€£ Berncanda kokβ
Oya, mumpung sudah hari senin, yang punya vote bolehlah disumbangkan ke karya ini..π₯°
__ADS_1
Sarangheyo ...ππ