Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Kisah Masa Lalu


__ADS_3


Suara derap langkah mengiringi sepanjang jalan menuju taman. Naora seolah enggan menyia-nyiakan kesempatan. Hingga ayunan tungkainya melambat dan berhenti saat sesosok yang seharian memenuhi tempurung kepalanya sudah berada di hadapan.


"Axton," panggil Naora dengan napas sedikit tersengal-sengal.


Suara lembut yang menguar ke dalam indera pendengaran seketika mengalihkan atensi Axton dari kolam teratai di depannya. Pria itu kemudian memutar tubuh, hingga sosok Naora memenuhi ruang mata. Ia perhatikan penampilan si wanita dengan seksama. Dan di saat pula gurat-gurat protes muncul di paras tampannya.


Seakan tidak rela jika dinginnya udara malam menjamah kulit lembut Naora, Axton melepas mantel tebal miliknya lalu memakaikan ke tubuh kecil yang hanya berbalut baju tidur tipis itu.


"Jangan keluar malam dengan berpakaian seperti itu. Kembali lah ke kamar, udaranya sedang dingin."


Nada suaranya terdengar dingin, setali tiga uang dengan parasnya. Namun, tidak dengan hatinya. Percayalah, Axton hanya belum begitu pintar mengespresikan segala perasaannya. Terutama di depan Naora. Bahkan saat ini muka masam dan arogan masih terlihat jelas di sela sikap perhatiannya.


"Tunggu, Axton." Naora menarik tangan besar si pria yang berniat pergi meninggalkan taman.


Yang benar saja, baru beberapa detik Naora bisa bertatap muka dengan Axton setelah seharian menunggunya dengan perasaan cemas, tapi pria itu justru berniat segera menyudahi interaksi. Sikapnya seolah terkesan menghindari.


"Ada apa?" tanya Axton, sedikit memutar tubuhnya ke arah Naora.


"Kau mau kabur lagi?"


Diam-diam batin pria tampan itu terperangah tak percaya. Naora seolah bisa membaca isi kepalanya. Setelah kejadian kemarin malam, Axton seakan tidak memiliki muka lagi untuk berhadapan dengan si wanita. Rasa insecure pun turut bersemayam di dada. Kendati, ia tak mampu mengelak bahwa segala bentuk perhatian wanita itu menciptakan sensasi hangat di dinding jiwa.


Axton hanya membalas sekilas tatapan Naora lalu memilih kolam teratai di depanya sebagai objek tangkapan mata. "Bukan seperti itu."


"Terus?" Lisan pertanyaan yang meluncur dari ujung lidah Naora terkesan mendesak Axton untuk segera memberi penjelasan.


"Aku hanya ingin menenangkan diri saja, Naora," kilah pria itu.


"Tatap aku jika sedang berbicara, Axton." Si wanita tampak melempar balik kalimat titah yang biasa pria itu jadikan senjata untuk mendesaknya berbicara selama ini.


Dari kolam teratai, Axton mengalihkan pandangannya ke arah Naora, membalas tatapan sarat akan perhatian yang sudah jelas itu untuk siapa. Siapa lagi kalau bukan untuk seorang Axton Sander yang diam-diam menyimpan sisi menyedihkan dari dirinya. Dan hal itu sudah berlangsung sangat lama.


"Kau mau apa, Naora?"


"Apa kau baik-baik saja sekarang?"


Bukannya langsung menjawab, Naora justru balik bertanya dan membuat Axton mengerutkan kening. Ia bertindak seperti itu bukan berarti ia tidak tersiksa oleh rasa penasarannya akan masa lalu suaminya yang dianggap penting. Hanya saja ... memastikan kondisi perasaan Axton juga tak kalah penting.


"Seperti yang kau lihat sekarang," jawab Axton seperlunya.


Axton menurunkan cengkeraman Naora dari tangannya, berniat segera pergi dari tempat ia berpijak. Tapi, lagi-lagi Naora menghalau kakinya yang sempat bergerak.


"Ijinkan aku untuk tahu semuanya tentangmu, Axton. Termasuk tentang masa lalumu."


"Aku rasa tidak perlu."


"Aku perlu tahu."


"Itu tidak penting, Naora."

__ADS_1


"Nyatanya itu penting bagiku."


"Kau tidak akan suka medengarnya."


Naora lebih mendekat dan berdiri tepat di depan Axton. Dipandangnya wajah tampan pria itu dengan tatapan penuh kesungguhan. "Kau terlalu berburuk sangka kepadaku, axton."


Axton menghela napas. Kenapa dia bisa lupa bahwa istri ke-duanya itu memiliki kegigihan yang tidak mungkin mudah ditebas.


"Kenapa kau sangat keras kepala, Naora?"


"Karena untuk saat ini, sikap keras kepala diperlukan."


"Ternyata kau juga suka memaksa."


"Bukankah kita sama?"


Akhirnya, Axton memilih menyerah seiring dengan helaan napas panjang. Ia melepas tautan matanya dengan Naora dan menatap lurus ke arah kolam teratai.


"Kau boleh ikut membenciku setelah mendengar cerita masa kelamku."


"Jika aku mau, pasti aku sudah membencimu sedari dulu." Axton seketika tertohok, sadar bahwa segala sikap kasarnya kepada Naora selama ini memang pantas mendapat kebencian dari wanita itu.


"Axton, aku akan kelelahan jika terlalu lama berdiri di sini. Coba kau liat ini?" Naora menunjuk bintik-bintik merah di tanganya. "Di sini nyamuknya juga ganas-ganas. Aku bisa kehabisan darah nanti. Jadi sampai kapan kau akan membuatku menunggumu untuk bercerita?"


Pria itu kembali menghelas napas panjang. Sungguh tidak mudah baginya menguak kembali kisah masa lalunya yang jauh dari kata senang. Butuh kuda-kuda kuat agar mentalnya tak kembali berperang.


Namun, entah mengapa ... melihat muka Naora yang tampak tersiksa oleh rasa penasaran membuatnya tidak tega. Di tambah lagi ... ekspresi wanita itu saat berbicara tampak menggemaskan di pandang mata. Jadi ... mana sanggup ia berkata 'tidak' untuk permintaannya.


"Dulu ... waktu berusia 7 tahun, aku membunuh ibu kandungku dengan kedua tanganku sendiri."


21 tahun silam ...


Gelombang suara isak tangis menjalar rata ke seluruh ruang kamar. Seorang anak kecil meringkuk di sudut ranjang dengan tubuh yang bergetar. Bingkai netra basah memandangi muka wanita di depannya dengan tatapan nanar. Beberapa kali ia mengusap rasa sakit di lengannya karena luka memar.


"Mommy, Axton berjanji tidak akan membantah lagi." Ia menangkup kedua tangan di depan paras polosnya seraya memohon.


"Sudah aku katakan untuk tidak terlalu dekat dengan wanita itu! Tapi kau sangat bandel!"


Plak!


Plak!


Plak!


"Aahk! Aahk! Ampun Mom. Sakit Mom!" Axton kecil terus mengaduh kesakitan. Ia mengiba, mengharapkan secercah belas kasihan dari sang Mommy, tapi wanita itu seolah buta dan tuli.


Rosmala, wanita yang dipanggil 'Mommy' oleh bibir mungil itu menyambuk tubuh kecil yang sudah tampak ringkih itu tanpa ampun. "Ini hukumanmu agar kau tidak mengulangi kesalahanmu lagi! Kau membuatku marah, bocah!"


Srek ...!


Bruk!

__ADS_1


"Ahk ...!" Axton kecil memekik kesakitan saat Rosmala menarik tubuhnya dari ranjang hingga tersungkur ke lantai.


"Ahk! Sakit Mommy!" Ia mencoba menarik pergelangan tangannya yang berada di bawah kuasa injakan kaki Rosmala, tapi lagi-lagi tubuh kecilnya tak berkutik.


"Awas kalau kau sampai mengadu ke ayahmu saat kembali dari Inggris nanti! Dan jangan mengadu juga kepada si pengasuhmu itu jika tidak ingin kembali kusiksa!" ancam wanita itu dengan raut muka garangnya, membuat bocah kecil itu kian ketakutan. Ditambah lagi kayu yang selalu terangkat dan sewaktu-waktu siap menyambuknya kembali membuat nyalinya menciut.


Rosmala melempar kayu cambuknya dengan kasar. Ditatap wajah polos Axton dengan sorot mata kebencian sebelum memutar tungkai dan berniat pergi.


"Kenapa Mommy tidak menyayangiku?! Axton juga ingin disayang, Mom. Selama ini, kenapa malah Bi Areum yang selalu baik dan menyayangiku?"


Entah dari mana keberaniannya muncul, Axton melontarkan sebuah protes sekaligus unek-unek yang selama ini tersimpan di kepala. Ia bahkan berani menyebut nama pengasuhnya sebagai tolak ukur perbandingan kasih sayang yang diterima.


Selama ini, Areum lah yang selalu merawat Axton dengan kasih sayang melimpah ruah selain sang Daddy. Hingga kedekatan di antara mereka sudah layaknya sepasang ibu dan anak.


Namun, Rosmala nyatanya sangat membenci melihat kedekatan mereka. Dan ketika Edrich tidak di rumah, ia akan melampiaskan amarahnya dengan menyiksa bocah tersebut.


Menyeringai sinis, Rosmala kembali memutar tumit, mendekati Axton lalu mengambil posisi berjongkok di depannya. "Kau harusnya marah kepada si pengasuhmu itu. Karena dia lah yang menjadi alasan utamaku membencimu."


"Tapi kenapa, Mom? Bi Areum sangat baik. Dia menyayangiku, tidak seperti Mommy," protesnya kembali disertai derai air mata yang seolah enggan untuk surut.


"Diam!" sentak Rosmala, membuat Axton terjingkat ketakutan. "Beraninya kau memuji wanita itu di depanku!"


"Mom ... apa yang harus Axton lakukan agar Mommy tidak lagi membenciku?" lirihnya yang masih menyisipkan sedikit keberanian di dalam ucapannya. Kendati, sepasang netra polosnya masih saja menumpahkan bulir-bulir bening.


Rosmala tak langsung menjawab. Ia beranjak dari posisi berjongkok, lalu berjalan mendekati jendela. Ia kembali menyeringai jahat saat melihat sosok Areum yang terlihat di luar sana.


"Kau ingin aku tidak membencimu?" tanya Rosmala penuh makna. Tatapannya bahkan tak kunjung lepas dari sosok wanita yang selalu dianggap duri di dalam rumah tangganya.


"Iya, Mom."


"Kalau begitu kau harus melakukan sesuatu untukku."


Wanita itu menarik tubuh kecil Axton lalu menyeretnya keluar dengan sebuah rencana di otaknya.





Bersambung~~


Flash back tentang masa lalu Axton lanjut besok ya ... di sini udah pukul 12 malam nih. Mata dah lengket karena nguuuantooook banget🥱🥱


Dan jika ada yang tanya kapan Axton dan Naora belah duren? Nanti ya, setelah selesai dengan flash back. Lagian Authornya juga harus siap mental kalau mau garap part +21.


Maklum Author paling polos se EnTe dan Mang Atun ini selalu keder jari-jarinya jika disuruh ngetik part uwuh🤣


Peace✌


Well. Terima kasih ya masih setia memantau kisah cinta Axton dan Naora... Jangan lupa tampol ganas ikon LIKE tinggalkan KOMEN cantik di setiap bab.. Nofi maksa ini🤣 Berncanda kok✌

__ADS_1


Yang punya Vote dan Gift bolehlah disumbangkan ke karya ini..🥰


Sarangheyo ...😘😘


__ADS_2