
Langit senja mengantar hari menuju petang. Kejenuhan yang melanda, mengajak Naora menikmati keindahan taman luas yang membentang. Sebuah tempat kesukaan, terletak tidak jauh dari kolam renang.
"Andai aku sudah bekerja, mungkin tidak akan sejenuh ini. Baru beberapa hari tinggal berada satu atap bersama Axton dan Lana, serasa sudah sewindu lamanya. Beruntung masih ada Bi Milah dan para pekerja lainnya, jadi aku merasa tidak kesepian." Naora bermonolog sendirian. Ia membelai lembut kelopak bunga mawar yang memamerkan warna merah merekahnya.
Setelah menjalani interview kerja beberapa hari yang lalu, ia memang belum mendapatkan panggilan lagi. "Sebaiknya aku mengirim surat lamaran kerja lagi besok."
Sebenarnya, Naora tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan yang bisa menempatkan dirinya di posisi yang bagus, karena Edrich, Ayah angkat sekaligus mertuanya itu selalu membuka lebar pintu kesempatan untuk menjadi salah satu anggota dari Sanders Corp.
Namun, itulah Naora. Dia selalu berusaha berdiri untuk tidak melampaui garis semestinya. Mengingat statusnya yang hanya sekedar putri angkat. Sadar diri agar tidak dianggap tak tahu diri. Begitulah pikirnya. Sekalipun ia bisa bekerja berdampingan dengan keluarga Sanders, itu harus karena kemampuan yang dia miliki.
Melangkah santai, ia menapaki jalan taman buatan yang mengantarnya ke tepi kolam renang. Dipandangi pantulan bayangan muka cantiknya pada permukaan air kolam yang tenang, lalu mengedar pandang ke sekitar air jernih yang menggenang.
"Sepertinya akan sangat menyenangkan jika berenang di sini. Kapan-kapan aku akan mengajak Bi Milah dan Pak Hasan berenang bersama." Naora tersenyum.
Plung!
Perhatian Naora tiba-tiba beralih kepada sepasang cicak yang baru saja terjebur ke kolam. Sepertinya, cicak-cicak itu terlalu asik berpacaran dan kurang berhati-hati.
Naora terkikik melihat kedua hewan tergolong masuk kelas reptil itu berenang dengan sangat lincah di dalam air menuju ke tepian. Seolah mereka sedang berlomba adu kecepatan untuk menjadi pemenang.
"Aku baru tahu ternyata cicak merupakan perenang handal." Naora masih terkekeh geli.
Receh sekali jiwa humoris Naora. Hehe.
Gelak lirihnya langsung menguap tak tersisa, saat sepasang cicak itu kembali bercumbu setelah mentas dari kolam. Mereka bertumpang tindih, mengabaikan Naora yang menontonnya dengan pipi yang memerah.
"Apa mereka tidak punya malu bermesraan di depanku? Aku saja sangat malu melihatnya."
Ayolah Naora, itu hanyalah sepasang cicak yang sedang memadu kasih di tempat terbuka. Kenapa juga harus semalu itu? Mungkin mereka sedang mencari sensasi baru karena bosan bercinta sambil menempel di dinding. Pasti pegal semua itu badan. Xixi.
Wanita beriris hazel itu tercenung sejenak kala bayangan kejadian memalukan beberapa hari yang lalu tiba-tiba merayapi pikiran tanpa mengetuk pintu dahulu. Cicak-cicak yang sedang bertumpang tindih tidak jauh dari tempat ia berpijak seolah sedang melakukan reka ulang peristiwa yang menimpa dirinya bersama Axton.
"Hish! Kenapa aku kembali mengingatnya?" Ia mengibas udara di depan muka, bermaksud mengusir bayangan yang membuatnya merasa canggung jika tak sengaja berpapasan dengan Axton.
"Naora? Kamu sedang apa di sini?" Naora terkesiap saat sebuah teguran terdengar, seiring dengan tepukan ringan di pundaknya. Lantas ia memutar tubuh, mencari tahu siapa gerangan. Ternyata wanita itu adalah madunya, istri tercinta sang suami, Lana.
"Aku sedang mencari udara segar," jawabnya.
Lana tersenyum ramah. "Apa kau keberatan jika aku menemanimu di sini?" ucapannya terdengar tulus dari hati.
__ADS_1
"Aku tidak keberatan," timpal Naora, memandang sekilas muka Lana, lalu kembali melabuh pandang ke genang air di depannya.
Lana menurunkan pandangan ke tangan Naora, menelisik dengan seksama. "Apa lukamu sudah sembuh?" sungguh, sikapnya terkesan sangat tulus, membuat Naora berkali-kali meyakinkan diri bahwa itu asli dan nyata, tidak dibuat-buat. Bukan tipu muslihat dari siluman rubah yang menjelma menjadi manusia.
Ah ... tak seharusnya aku terlalu berburuk sangka kepada orang lain.
Benar Naora. Terlalu larut pada prasangka buruk akan membuat hati terpenjara pada rasa cemas, gelisah, dan tidak tenang. Karena memelihara emosi negatif dalam diri dapat mengundang aura jiwa negatif pula. Dalam kacamata pengelihatan, semua orang akan terlihat bak musuh dalam selimut, muka dua, penjahat, pengkhianat, dan lain-lain. Meskipun hal itu tidak sepenuhnya benar.
Semoga saja, Lana adalah orang baik. Kita lihat saja ya bagaimana dia sebenarnya setelah ini.
Naora tersenyum simpul. "Lukaku sudah mendingan."
"Syukurlah." Lana merasa lega. "Maaf ya, kalau bukan gara-gara aku, kau tidak akan terluka," sesalnya.
"Tidak perlu kau pikirkan."
Suasana hening sesaat. Kedua wanita berbeda karakter itu terpaut dalam pikirannya masing-masing.
Diam-diam Lana memperhatikan Naora yang tampak memainkan liontin kalung di lehernya. Sorot matanya menggambarkan sebuah ketertarikan pada benda berkilau berwarna biru tersebut.
"Kalungmu sangat cantik, Naora," Lana mengungkapkan sebuah kekaguman. Rasanya ingin sekali ia menyentuhnya.
Naora mengulas senyuman tipis. "Terima kasih, aku juga merasa kalung ini juga sangat cantik."
Naora tampak berpikir sejenak sebelum memutuskan. Bagaimanapun juga, benda itu teramat berharga untuknya. "Hmm, baiklah." Ia melepas kalung dan meletakkan pada telapak tangan Lana yang masih tersodor di depannya.
"Waah ... ini sangat cantik sekali. Aku sangat menyukainya," puji Lana dengan binar mata memuja, tanpa meminta ijin kepada si empunya terlebih dahulu ia memakai kalung tersebut.
"Naora, apakah kalung ini terlihat cantik di leherku?"
"Iya cantik."
"Aku sangat menyukai kalung ini."
Perasaan Naora mendadak tidak tenang. Gelagat Lana seolah menunjukkan sebuah hasrat untuk memiliki kalung tersebut.
"Bolehkah aku memilikinya?"
Dan benar saja. Firasat Naora terbukti sekarang. Ia sangat tidak menyukai akan sikap Lana. "Maaf, aku tidak bisa memberikan kalung itu kepadamu."
"Ayolah, aku akan mengganti kalung ini dengan kalung yang lebih mahal dan mewah." Lana mencoba merayu dengan cara bernegoisasi.
__ADS_1
"Aku tidak bisa, Lana. Bisakah kau kembalikan kalung itu sekarang?" tolak Naora lalu meminta kembali benda kesayangannya tersebut.
"Tapi ... aku sangat menyukai kalung ini. Ijinkan aku memakainya untuk beberapa hari saja ya."
Naora mulai kesal. Mana mungkin ia rela meminjamkan pemberian terkahir kedua orang tuanya. Apalagi, Lana terlihat begitu posesif dengan benda itu sekarang, memancing kecemasannya.
"Maaf aku tidak bisa. Tolong kembalikan kalung itu."
"Biarkan kalung ini aku pakai sebentar," rayunya kembali, tapi sayang, Naora seperti tidak ingin memberi kesempatan lebih lama kepada Lana untuk menyentuh kalung itu.
"Sikapmu ini sungguh tidak sopan, Lana." Naora mencoba mengambil kembali miliknya, tapi Lana justru menggenggam erat seolah tak ingin melepasnya.
"Berhentilah bersikap seperti anak kecil. Kau bisa meminta suami tercintamu itu untuk memesankan kalung yang serupa." Naora memberi saran yang menurutnya itulah satu-satu cara terbaik untuk memuaskan keinginan Lana.
Kesabaran Naora sepertinya sudah berada diambang maksimal. Ia sudah tidak tahan, apalagi mendapati gelagat Lana yang kian posesif dengan kalung liontin tersebut. Hingga aksi rebutan pun tak terhindarkan.
Sementara itu, Axton menuruni mobil mewahnya yang sudah terparkir rapi di halaman rumah. Melangkah cepat mencari keberadaan Lana. Mengingat siang tadi Lana sempat marah-marah kepadanya melalui panggilan telepon, memaksanya pulang lebih awal dari pada hari-hari sebelummya.
Beberapa hari ini, pria tampan itu memang lebih memilih pulang sedikit terlambat dari kantor, bukan sedikit tetapi sangat terlambat. Jam 11 malam ke atas, baru dia tiba di rumah. Maka tak khayal jika Lana marah karena merasa kesepian, tentunya kedinginan juga.
Hal itu dia lakukan bukan karena tanpa alasan. Ia hanya mencoba menghindari diri untuk bertemu dengan Naora. Setelah peristiwa tumpang tindih di waktu itu, ia seolah menggila dengan perasaan aneh yang menggerogoti hati dan pikirannya.
"Kyaak ...!"
Byur ...!
Axton terhenyak saat kaki hampir menapaki anak tangga. Indera pendengarannya menangkap jeritan seseorang. Yakin kalau sumber suara berasal dari arah kolam renang, ia pun bergegas menuju ke sana.
"Apa yang kau lakukan?!" sentak Axton setelah sampai di kawasan kolam.
☘
☘
☘
Bersambung~~
Maaf ya jika komenan kalian belum Nofi balas. Nanti bakal tetep Nofi balas kok.
Dan bagi komen yang ternyata nggak kebalas atau kelike, itu karena komennya disembunyikan oleh sistem NT.
__ADS_1
Terima kasih masih setia dengan karyaku ini. Lop yu pul.
😘😘😘