Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Makan Siang 2


__ADS_3


"Jujur, aku ingin bertemu dengan istrimu yang baru."


Nathan berkata tanpa menyadari ekspresi Axton dan Naora yang berubah secara serempak. Keduanya diam-diam saling melempar pandang.


"Asal kau tahu, istri baruku itu--" Kalimat yang belum sampai titik akhir, tiba-tiba harus berhenti di tengah jalan. Axton tersentak ringan saat sepasang tangan melingkari lehernya dari belakang, disusul sebuah kecupan singkat di pipi.


"Lana," lirih Axton.


"Honey ... aku kira kau bersama siapa tadi." Lana melirik ke arah Naora sekilas lalu mengabaikannya. Ia terlihat lebih tertarik akan keberadaan pria yang duduk di sebelah madunya. "Hai, Nathan. Bagaimana kabarmu?" sapanya berbasa-basi.


"Seperti yang kau lihat, Lana. Aku sehat dan tentunya masih sangat tampan."


Lana tergelak lirih seiring dengan tangan menarik kursi, kemudian menjatuhkan pantanya di sana. "Kau ternyata masih sama ya, suka bercanda."


Nathan menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. "Ya ... beginilah aku, yang apa adanya dan tidak pernah memakai topeng untuk menutupi kedok aslinya."


Kalimat Nathan seolah mengandung makna sindiran, tapi entah itu ditujukan kepada siapa. Yang jelas, lisan yang terucap bukan karena celetukan belaka.


"Ngomong-ngomong dia siapamu?" Lana langsung mengalih topik. Ia menanyakan keberadaan Naora seolah mereka tak saling kenal.


"Dia sekretaris pribadi baruku. Namanya Naora."


Samar-samar, garis kerutan terlihat di antara kedua pangkal alis tebal Axton. Pernyataan Nathan ternyata sukses mengusik hatinya. Sekretaris pribadi? Aku tidak suka mendengarnya.


"Ow, berarti kalian akan sering menghabiskan waktu bersama saat bekerja." Lana masih tampak tertarik dengan topik perbincangan kali ini.


"Tentu saja," jawab Nathan antusias. Diputarnya leher ke arah Naora yang sedari tadi hanya diam. "Bukankan begitu, Naora?"


Naora menjawab dengan senyuman tipis disusul sebuah anggukan ringan.


"Kau terlihat sangat senang dengan sekretarismu ini, Nathan," celetuk Lana kembali.


Senyuman merekah kian membingkai muka tampan Nathan. "Ya ... tentu saja." Pria itu kembali memutar leher ke arah Naora. "Bukankah kau juga begitu, Naora?"


Seperti sebelumnya, Naora mengangguk sebagai bentuk jawaban. Bedanya, sepasang bibir mungilnya tersenyum lebih kentara dan juga menawan. Tingkah ramah Nathan memang sebanding dengan mukannya yang rupawan.


Naora ... terkagum.


Lain halnya dengan Axton yang sedari tadi menahan lahar panas yang hampir saja menyembur dari ubun-ubun. Hati pria itu bergemuruh hebat.


Dengan mudahnya dia mengiyakan semua perkataan Nathan. Dan apa itu? Dia terus saja menebar senyuman kepada pria lain. Dasar betina penggoda!


"Ngomong-ngomong, kenapa pelayannya tidak segera datang sih?!" Lana mengedar pandangannya ke sekitar, mencari keberadaan pelayan Restauran yang memang tak kunjung datang.


Bertepatan dengan itu, sosok yang dicari pun datang mencoba menawarkan menu makanan restauran kepada mereka.


"Kenapa kau lama sekali?! Kami sudah di sini dari beberapa menit yang lalu dan kau baru datang menawarkan menu sekarang. Pelayanan di restauran ini sungguh buruk!" Axton tiba-tiba memarahi si pelayan. Melayangkan protes kepada pihak restauran yang dianggapnya lalai dalam melayani tamu.


Suasana hatinya sedang sangat buruk saat ini. Namun, tak mungkin dia marah-marah begitu saja tanpa ada alasan pasti. Ia sangat butuh sebuah wadah sebagai tempat pelampiasan emosi. Dan pelayan itu adalah pilihan yang tepat untuk dijadikan korbannya kini.


Mimpi apa aku semalam? Mungkin begitu batin di pelayan.


"Maaf atas kelalaian kami, Tuan." Pelayan berjenis kelamin perempuan itu menunduk sebagai bentuk rasa bersalah.


"Aku akan melaporkannya kepada pimpinan kalian agar kau dipecat!"


"Maaf, Tuan. Saya mohon jangan lakukan itu. Saya berjanji akan bekerja lebih baik." Pelayan tersebut tampak mengiba.

__ADS_1


"Pergi! Ganti dengan pelayan yang lain!" usirnya diakhiri sebuah titahan di akhir kalimatnya. Dia bahkan tidak peduli dengan beberapa mata pengunjung lain yang menyorotinya.


"Baik, Tuan." Pelayan itu pun pergi dengan muka lesunya.


"Pelayan itu memang pantas dimarahi. Masih bagus tidak benar-benar dipecat. Kinerjanya memang sangat buruk." Lana turut menggerutu seolah memberi dukungan kepada tindakan Axton.


Dia sangat arogan! batin Naora.


Berbeda dengan Lana. Naora justru terlihat tidak suka dengan sikap Axton yang terkesan sangat berlebihan. Ingin sekali ia memberi teguran. Namun, itu tidak mungkin ia lakukan di tempat umum, apa lagi di depan Nathan.


Bagaimanapun juga, dia tidak melupakan statusnya. Harus ada beberapa adab sebagai istri terhadap suami yang harus dijaga. Salah satunya tidak menegur pasangan di depan banyak mata. Lebih baik hal itu dilakukan ketika sedang berdua saja.


Bukankah begitu ibu ibu semua? Sikap saling menjaga image pasangan sangat penting di dalam sebuah hubungan. Sayangnya, banyak dari kita yang khilaf, hingga tanpa sengaja mempermalukan pasangan di ruang publik, bahkan tak segan-segan mengumbar aibnya saat emosi merajai.


Ayo, sama-sama kita intropeksi diri! Tak terkecuali Authornya!


Oke. Kembali ke cerita!


Apalagi mengingat watak Axton yang mudah sekali marah dengan tiba-tiba. Ditambah lagi tingkat arogansi yang melangit dan juga sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Menegurnya di depan umum tentu suatu keputusan yang tak seharusnya ada.


"Permisi Tuan dan Nyonya, ini daftar menu di restauran kami. Silahkan memilih menu yang ingin dipesan." tampak seorang pelayan pengganti datang dan memberikan beberapa menu book.


"Kau ingin makan apa, Naora? Pilihlah yang kau suka," tanya Nathan kepada Naora dengan penuh perhatian.


Naora membaca deretan tulisan pada menu book. Sepasang matanya terlihat naik turun, hingga pilihannya terjatuh pada makanan berbahan daging. "Beef steak black pepper sauce dan minumannya lychee apple tea."


"Samakan menu makan siangku dengan miliknya ya," ucap Nathan kepada si pelayan.


"Baik, Tuan," jawab ramah si pelayan dan langsung mencatat menu yang di pesan pada secarik kertas yang dibawa, sembari menunggu pesanan dari Axton dan Lana.


"Aku juga sama dengannya." Axton menyela tanpa berpikir panjang. Sekali lagi, matanya bersiborok dengan mutiara hazel di depannya. Ada sebuah makna yang sulit diartikan dari tatapannya. Membuat Naora keheranan pada saat itu juga.


Yang pasti, mimik muka kaku dan keras tidak pernah ketinggalan permisa! Itu memang sudah menjadi ciri khas dari seorang Axton Sanders, si Tuan muda. Tepatnya ... setelah peristiwa yang merenggut nyawa sang Mommy di masa lalunya.


"Berikan aku semua menu makanan yang paling mahal di restauran ini," ucap Lana dengan pongahnya.


Selang beberapa waktu, semua menu makanan yang dipesan sudah tersaji di atas meja. Menguarkan aroma lezat yang menggugah selera. Dan tentunya ... bisa memanjakan lidah mereka. Para cacing di perut pun bersorak gembira.


"Ini untukmu Naora." Nathan memberi steak daging miliknya yang sudah dipotong kepada Naora.


Naora terpanah. Rasa kagumnya kepada Nathan kian bertambah. "Terima kasih Nathan. Kau tak seharus merepotkan dirimu sendiri."


"Aku tidak repot. Lagian kau terlihat sangat buruk ketika menggunakan pisau steak," ledek Nathan dan sukses membuat Naora terkikik geli.


"Ternyata kau menyadarinya juga. Aku memang sangat payah."


"Karena aku memperhatikanmu."


"Kau membuatku tersipu, Nathan."


"Aku suka melihatmu, tersipu. Kau terlihat lebih cantik."


"Apa kau sedang menggodaku, Tuan Nathan?"


"Anggap saja begitu, Nona Naora."


Sekali lagi, Naora terkikik begitu juga Nathan.


"Ya sudah, cepat habiskan makananmu," ucap Nathan.

__ADS_1


"Baiklah."


Interaksi di antara Naora dan Nathan terlihat begitu akrab. Malah ... mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih. Dan tentunya hal itu tak luput dari perhatian Axton.


Kau sangat berani menebar pesona di depan pria lain, Naora. Bersiaplah nanti di rumah!


"Kalian terlihat sangat serasi. Aku sangat senang jika kalian menjadi kekasih." Lana kembali berceletuk.


Mimik muka Naora berangsur-angsur berubah. Ia tahu, perkataan Lana merupakan sebuah sindiran halus. Dia sudah bersuami, mana pantas mendapat perkataan seperti itu?


Sementara Axton ... ah! Rasanya ia ingin meledak saat ini juga. Lidah Lana bagaikan sebuah pematik yang menyulutkan sumbu amarahnya.


"Honey ... coba cicipi milikku. Bukankah ini kesukaanmu?" Seolah tak mau kalah manis dari Nathan dan Naora, Lana menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Axton. Tak menghiraukan mimik muka Axton yang sudah seperti kertas bungkus yang ditekuk tak berarturan.


"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Lana ketika Axton menyambut suapannya.


Masih mengunyah malas makanan di dalam mulutnya, Axton merespon pertanyaan Lana dengan sekali anggukan.


Lana tersenyum senang. "Makanlah yang banyak ya."


"Saat makan di restauran seperti sekarang, apa kau tidak teringat dengan istrimu yang satunya, Axton?"


Sesaat, Axton menjeda kegiatan mengunyahnya. Melirik sekilas ke Nathan yang bertanya. Dan kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda. "Aku tidak pernah memikirkannya, jadi buat apa aku ingat."


Ada denyutan pilu di hati ketika Naora mendengar perkataan, suaminya. Pria itu terlihat tanpa beban saat melontarkan kalimat yang barang tentu menyakitinya. Namun, ia tekan dalam dalam perasaan itu sebisanya. Dan memilih melanjutkan kegiatan pengisian perutnya.


"Axton tidak mencintainya. Tentu saja dia tidak akan mengingat istri ke-duanya itu. Bahkan dia tidak pulang sekalipun, Axton tidak akan mencarinya. Sungguh, aku mengasihaninya." Lana mencoba menekankan, meski mengandung makna simpati di akhir kalimatnya.


Sekali lagi, Lebam di hati harus kian membiru. Dada Naora kian berpilu. Ucapan Lana bagaikan sebuah palu yang menghujam paku di kalbu. Siapa saja yang mendengarnya pasti tahu dari maksud ucapanya itu.


Mereka berdua sangat kompak sekali membullyku. Ke mana perginya perasaan mereka? Naora merasa, suaminya dan madunya tengah bekerja sama merundungnya.


"Ah ... bagaimanapun juga kau harus bersikap adil, Axton. Dia juga tanggung jawabmu. Tulang rusukmu yang membutuhkan bahumu. Atau kalau kau tidak mampu, berikan istrimu itu kepadaku. Aku pasti akan menyukainya dan memperlakukannya dengan manis."


Nathan tergelak lirih di sela gelengan kepala. Memang terkesan bercanda, tapi terselip keseriusan di setiap untaian kata. Ucapannya juga sukses mewakili perasaan istri kedua sahabatnya. Yang tak lain adalah Naora, wanita yang duduk di sampingnya.


"Sebaiknya kau tarik kembali perkataanmu itu!" sahut Axton terkesan tak terima.


"Kenapa? Jangan-jangan kau tidak rela."


"Kau tidak akan menyukainya, Nathan."


"Iya ... memang apa alasannya?" Nathan terus memancing.


"Karena dia sangat jelek. Tubuhnya juga seperti anak kecil. Buruk sekali. Kau tidak akan nafsu dengannya," jawab Axton seenak lidahnya.


Di sisi lain, Lana tentu merasa puas sekarang. Sikap Axton yang seolah sama sekali tidak tertarik dengan Naora, membuatnya tenang.


Sementara Naora. Dia sangat kesal! Rasanya ingin sekali ia menarik lidah Axton dan menggaruknya dengan garbu yang dia genggam. Hingga tercetus sebuah ide, untuk memberi pria itu pelajaran.


Diam-diam ia mengumpulkan kekuatan pada kakinya yang bersembunyi di bawah meja dan langsung menginjak kaki Axton. Namun, tidak disangka, pria itu bertindak di luar dugaan.


Ahk! Sial! Ternyata dia sudah menyadari niatku. Kakiku tidak bisa bergerak! Ya Tuhan ...! Apa yang dia lakukan?! Tidak ...!




☘*

__ADS_1


Bersambung~~


Waah.. ! Telat sekali upnya... maaf ya🙏


__ADS_2