Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Pengakuan Axton


__ADS_3


Setelah memuntahkan semua isi perutnya, Lana terduduk lemas di sofa. Sementara Axton masih memandangnya dengan tatapan iba.


"Lana, apa kau sedang datang bulan hingga perutmu sakit?"


"Aku sedang tidak datang bulan. Ini hanya masuk angin."


"Aku antar kau ke dokter ya?"


"Tidak! Aku tidak mau!" Lana langsung menolaknya dengan cepat. Wajahnya kian pucat.


Axton yang semula berdiri berganti posisi duduk di sebelah Lana. "Sangat sakit ya?"


Pria itu sedikit tersentak saat tangan yang dibawa mengusap pundak si wanita disambut oleh tepisan kasar. Niat hati ingin memberi perhatian, tapi justru penolakan yang diterima.


"Kau masih bertanya? Ya jelas aku sedang sakit. Ini semua karena kamu, Honey! Dua hari kau tidak memberiku kabar. Panggilan telepon dan pesan singkat dariku pun tidak kau respon. Padahal aku sangat mencemaskanmu hingga membuatku terjaga selama dua malam. Apa kau sudah tidak menganggapku ada? Aku ini istrimu, Honey. Kenapa kau jahat sekali kepadaku?!" Lana mulai membasahi wajah kecewanya dengan air mata.


Hati kecil Axton tercubit seketika. Sadar bahwa tak seharusnya ia mengabaikan Lana begitu saja. Namun, pria itu juga tak mau menyangkal kalau keberadaan Naora memang sukses mengalihkan dunianya. Hingga otak dibuat lupa akan sosok wanita lain yang juga berada di naungan tanggung jawabnya.


"Kau sudah berubah, Honey ... semenjak ada wanita itu kau terus mengabaikanku. Kau lupa, siapa wanita yang pertama ada di hatimu. Wanita itu aku, dan bukan dia!"


Suara isak tangis Lana mengiringi kebisuan si pria. Lidah yang masih berat untuk berucap kata seolah membenarkan semua perkataan Lana.


"Maaf."


Lana terhenyak dari tangisnya. Tanggapan singkat Axton kian membuatnya yakin bahwa tidak ada yang salah dari perkataannya. Niat hati ingin memojokkan si pria agar merasa bersalah, tapi malah membuatnya dilanda emosi jiwa.


"Aku tidak bisa langsung memaafkanmu. Kecewa di hatiku sudah terlampau dalam."


"Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku, Lana."


Sekali lagi, wanita yang masih bermain dengan isak tangis itu kembali terhenyak karena tak percaya. Dulu, pria itu akan langsung kebingungan jika ia merajuk di depan mata. Namun, sekarang sudah sangat berbeda. Axton seolah sudah tak ingin terlalu mengambil pusing akan rengekannya.


Diusapnya cairan bening dari bingkai mata, Lana mencoba mengatur emosi lalu menatap serius wajah tampan suaminya. "Yakinkan aku bahwa tidak terjadi apa-apa selama dua malam kau bersama istri ke-duamu itu, honey. Kau tidak bercinta dengannya 'kan?"


Lana tiba-tiba memasang ekspresi seolah sedang mengingat sesuatu. "Oya, aku sampai lupa jika kau tidak bisa melakukan kegiatan panas di atas ranjang. Sekalipun itu terjadi, itu pasti karena kekhilafan belaka. Meskipun aku tahu kalau itu mustahil terjadi." Ia berkata dengan sangat percaya diri.


Hati kecil seolah menunjukkan perasaan tidak terima akan ucapan Lana. Apa lagi saat semua perlakuannya kepada Naora hanya dianggap kekhilafan belaka. Axton sangat tahu, bahwa ada cinta di setiap sentuhannya.


Disokong oleh perasaan jengah, pria itu membawa tubuh gagahnya berdiri. Namun, perhatian tak langsung lepas dari sang istri. Tatapannya begitu mengandung arti.


"Aku sama sekali tidak khilaf, Lana. Aku ...," Axton menjeda kalimatnya.

__ADS_1


Sesaat pria itu tampak bekerja keras menguasai situasi. Berat memang untuk menyelaraskan ucapannya dengan suara hati. Namun, ia tidak ingin terlalu lama menutupi. Lagian tidak akan ada bedanya berkata jujur untuk sekarang atapun nanti. Bukankah ujung-ujungnya Lana juga akan mengerti? Wanita itu juga akan tetap tersakiti.


"Aku ... mulai mencintai Naora," sambung Axton dengan berat hati. Namun, itu lah yang memang terjadi.


Bagaikan dihantam ribuan batu di dada, Lana mendadak lemas seperti kurang makan. Semua ancaman yang ditakutkan selama ini menjadi kenyataan. Bayang-bayang negatif akan nasibnya seketika menyergap pikiran.


Sialan! Selama ini aku bergerak terlalu lamban. Harusnya dari dulu aku singkirkan wanita itu. Kalau begini bukannya menceraikan Naora, yang ada malah aku yang akan diceraikan Axton. Aku tidak ingin lepas dari semua kemewahan ini. Itu tidak boleh terjadi.


"Maafkan aku, Lana. Aku tidak bisa menjaga hati ini. Sosok Naora memberi arti yang berbeda di hidupku."


Dari Naora aku merasakan apa yang tidak pernah aku rasakan. Aku juga mendapatkan apa yang tak pernah aku dapat. Dan karena Naora pula, aku mendapat pengakuan dari Daddy. Naora ... seolah tiada satu pun untaian kata yang mampu menggambarkan pesonanya.


"Cukup! Kau semakin menyakitiku!" Lana menangis tersedu-sedu. Kali ini dia benar-benar menangis. Tepatnya menangisi nasibnya kedepan.


"Apa yang harus aku lakukan agar suasana hatimu membaik, Lana. Aku tahu kalau hanya kata maaf tidak akan bisa mendinginkan emosimu."


Beberapa detik, Lana membisu meski air mata terus menganak sungai di pipi.


Sangat nustahil saat ini jika aku memintanya untuk menceraiakan Naora. Axton sudah terjerat oleh goda rayuan wanita binal itu. Tapi lihat saja, aku sendiri yang akan membuat wanita itu memilih pergi dari rumah ini.


"Belikan aku sebuah apartemen mewah dan pindah tangankan 10% sahammu atas namaku," pinta wanita itu.


Setelah berkecamuk dengan pikirannya, Lana mengutarakan keinginannya. Di saat misi menjerat cinta Axton dirasa mustahil, menimbun banyak harta menjadi pilihan utama. Begitu pikirnya.


"Lana, apa kau mencintaiku?" tanya Axton terkesan biasa menanggapi permintaan Lana seolah ia tidak keberatan sama sekali.


"Tentu saja, Honey. Aku sudah mengatakan hal itu berkali-kali bukan?"


"Apa dengan membelikanmu apartemen dan saham bisa membuat suasana hatimu membaik?" Pria itu kembali dengan raut wajah tak terbaca.


"Aku rasa seperti itu," jawab Lana tanpa berpikir panjang.


Lana tidak tahu, kalau saat ini Axton tengah menelisik setiap tanggapannya. Kenapa? Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Kalau memang Lana benar-benar tulus mencintaiku, dia tidak akan segampang itu menjual cintanya dengan harta?


Seiring dengan suara batin yang terus mengetuk hati, rasa bersalah Axton kepada Lana perlahan sirna. Ia bahkan semakin yakin, untuk tidak membagi cintanya kepada wanita lain selain Naora. Kendati label pria ber istri dua masih tersemat pada dirinya.


"Aku akan membelikanmu apartemen, tapi tidak dengan saham itu. Kau bahkan tidak mengerti tentang sepak terjang dunia bisnis, Lana."


"Baiklah, kalau begitu belikan aku apartemen mewah dan mobil keluaran terbaru." Lana mencoba bernegoisasi.


"Baiklah."


Axton mengambil sebuah lembaran cek dari brangkas berkode miliknya lalu menuliskan nominal yang memiliki sembilan buah angka nol.

__ADS_1


"Aku rasa ini sangat cukup untuk mewujudkan keinginanmu dan tentunya membuat suasana hatimu membaik." Axton menyodorkan kertas berlogo bank itu dan langsung diterima Lana.


Wajah yang semula bermendung kelabu seketika terlihat cerah. Meski amarah di hati belum sepenuhnya padam, tapi setidaknya cek tersebut mampu mengundang senyuman merekah. Bahkan rasa lemas akibat muntah-muntah tadi pun mendadak punah.


"Honey, kau mau ke mana?" Lana menarik tangan Axton dengan cepat saat pria itu terlihat hendak keluar kamar. "Apa kau ingin menemui, Naora?" Ia melempar tatapan sangsi.


"Kenapa kau masih peduli aku mau ke mana, Lana?" Axton mulai bersikap dingin.


"Axton, jangan membuatku kecewa." Lana kembali memasang raut sedih.


"Bukankah aku sudah membayar kekecewaanmu itu dengan sebuah apartemen mewah dan mobil baru?"


Lana langsung menutup mulutnya dengan rapat. Jari-jarinya juga tampak menggenggam erat. Ucapan Axton sukses membuatnya skakmat.


Tangan yang hampir menarik handle pintu sesaat terjeda. Pria itu memutar kembali tubuh gagahnya ke arah Lana. "Kau bilang sangat mencemaskanku, tapi nyatanya kau sama sekali tidak menanyakan keadaanku. Padahal luka-luka yang ku miliki bisa tertangkap jelas oleh matamu. Apakah aku masih bisa mempercayai ketulusanmu yang sering kali kau koar-koarkan itu, Lana?"


Axton melenggang pergi keluar kamar tanpa menunggu respon dari si wanita. Rasanya ingin sekali ia menemui Naora. Di saat suasana hatinya memburuk, bayangan istri ke-duanya itu terus menari-nari di balik tempurung kepala.


Rutukkan demi rutukkan terus terucap di batin seiring dengan perasaan tertohok. Wanita itu rupanya telah bersikap ceroboh. Axton kini mulai meragukan ketulusan palsunya.


"Errrgg! Sialan! Kenapa aku sangat bodoh?! Harusnya aku tetap bersikap jaga image baik di depan Axton," gerutu Lana yang terlihat resah. Tentunya setelah sosok Axton sudah tidak di depan mata.


"Emmp! Emmp! Hah! Aku kembali mual. Setelah ini aku harus memberi pelajaran kepada Stefan karena kurang berhati-hati hingga aku positif!"


Sementara itu, Axton terus bergelut dengan pikirannya di sela langkah kaki menyusuri koridor rumah. Terus terang ia merasa ada yang janggal perihal Lana yang muntah-muntah.


"Tidak seperti biasanya Lana tidak datang bulan di awal bulan." Rupanya Axton sudah sangat hafal dengan siklus menstruasi istri pertamanya itu.


"Dia bahkan menolak cepat untuk periksa ke dokter. Gelagatnya tadi membuatku curiga. Dilihat dari raut di mukanya seolah ada sesuatu yang sengaja ditutupi."





Bersambung~~


Part ini khusus percakapan Axron dan Lana ya..


Terima kasih atas semua dukungan kalian. Please! Jangan kabur dlu... Cerita ini mang alurnya agak lambat, tapi percayalah, Nofi tidak akan membuat cerita yang mbulet.


Oya dah hari senin lagi nih.Vote mingguan geratisnya boleh banget loh disumbangkan untuk karya ini🥰

__ADS_1


__ADS_2