
"Axton, kau mau apa?"
"Tubuhmu sudah terlalu lama tersapu udara dingin, Naora. Kau perlu yang hangat-hangat sekarang."
Tanpa menunggu protesan lagi, Axton membawa tubuh Naora menuju ke bangunan rumah. Tanpa mereka ketahui bahwa Lana sedari tadi memantau mereka dengan hati yang resah.
"Kau mau ke mana, Lana?" Stefan yang sedari tadi juga berada di sana langsung menghalau niat wanita itu dengan menarik tangannya.
Lana melempar muka gusar ke arah si pria. "Aku harus menegur mereka, Stefan! Axton juga sudah menusukku dari belakang. Aku tidak terima diperlakukan seperti itu!"
Wanita itu seenaknya menuduh Axton tanpa mau berkaca. Ia seolah tidak sadar dengan momok buruk pada dirinya.
Itulah manusia. Salah satu kebiasaan dan perilaku yang kurang baik, tapi terlalu sulit untuk disadari adalah sifat suka menilai sesama. Tidak sedikit dari mereka yang rela menghabiskan waktu berharga untuk menilai orang lain daripada menilai diri sendiri, pemirsa!
Hidup mereka seolah-olah harus terfokus untuk melihat dan menilai orang lain hingga diri sendiri selalu lupa untuk bertanya kepada dirinya sendiri, 'siapa aku?' Semoga kita bukan tergolong manusia yang hanya pintar menilai orang lain tapi tidak pintar menilai diri sendiri.
Well! Kembali ke cerita!
"Biarkan saja mereka, Lana. Jika kau menegurnya justru akan mempermalukan dirimu sendiri," tutur Stefan.
"Jadi aku harus diam saja melihat mereka bermesraan di belakangku?! Aku tidak bisa!" sahut Lana dengan nada meninggi.
"Sedang apa kalian berdua di sini?"
Lana dan Stefan seketika terhenyak bersamaan saat sebuah gelombang suara menelusup di antara percakapan mereka.
"Bi Milah," lirih Lana tampak gugup, khawatir wanita tua itu menaruh curiga terhadapnya.
"Bi Milah sendiri sedang apa di sini?" Stefan mengalihkan pertanyaan Milah.
"Tadi Bi Milah kebetulan lewat dan mendengar suara keributan dari sini." Ia memindah atensinya kepada si majikan wanitanya, Lana. "Nyonya sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nyonya terlihat marah?" tanya Milah yang sudah memasang mimik muka penuh tanya.
Sial! Kenapa juga wanita tua ini tahu aku berada di sini. Stefan juga sedang bersamaku sekarang. Bisa-bisa dia akan menaruh kecurigaan kepadaku.
"Aku marah, karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri suamiku bermesraan dengan wanita lain, Bi. Naora sudah menggoda suamiku."
Akhirnya ia menjadikan kedekatan Axton dan Naora sebagai alibi. Setidaknya itu lebih baik dan tentunya bisa mengalihkan perhatian Milah tentang keberadaannya bersama Stefan saat kini.
Rasa jengah kembali menelusup ke hati, Milah tampak menggeleng kepala karena sikap majikan perempuannya itu. "Siapa yang anda maksud wanita lain Nyonya? Nak Naora itu istri sah Tuan muda."
Sanggahan berani Milah menumbuhkan rasa tidak suka pada diri Lana. Dari dulu, wanita yang mengasuh Axton dari kecil itu memang tidak pernah segan menyinggung perkataannya. Jangankan Lana, wanita itu bahkan tak sungkan mengingatkan si Tuan muda jika sudah bertindak di luar norma.
"Terserah apa yang Bibi katakan! Dari dulu kau memang tidak pernah menghargaiku sebagai satu-satunya nyonya di rumah ini!" Lana langsung melenggang pergi dengan membawa perasan dongkol, meninggalkan Milah dan Stefan di sana.
Samar-samar helaan napas terdengar dari bibir Milah sebelum menggiring perhatian kepada pria yang masih berdiri tidak jauh darinya. "Nak Stefan," panggil Milah dengan suara lembutnya.
"Iya, Bi ... ada apa?"
"Bibi percaya kalau kau itu seseorang yang baik." Ia mengulas senyuman tipis tapi sorot matanya penuh makna. Tanpa ia sadari ucapannya membuat hati Stefan tercubit.
"Bibi masuk ke dalam dulu ya," pamitnya.
"Iya, Bi."
__ADS_1
Kau salah menilaiku, Bi. Aku ini seseorang yang sangat buruk.
…
Di dalam kamar milik Naora.
Axton merebahkan tubuh mungil si wanita di atas peraduan. Ia pun menyusul mengambil posisi berbaring di sebelahnya tanpa sungkan. Tidak lupa memungut selimut tebal untuk memberi peran. Ditariknya Naora hingga tenggelam ke dalam rengkuhan. Lanjut memandang paras cantiknya seolah tiada bosan.
"Apa masih dingin?" tanya Axton.
Suara dan ekspresinya terkesan dingin, tapi bertolak belakang dengan perlakuan yang diberikan kepada Naora. Sarat akan perhatian, begitulah kesannya.
Menggeleng ringan, Naora memberi tanggapan. "Tidak, sekarang justru aku merasa sangat hangat."
Suara si wanita terdengar lirih. Terus terang ia sedikit canggung. Pasalnya, ini kali pertama si pria arogan itu memperlakukannya dengan manis. Begitulah yang diketahuinya Naora.
Tidak Naora ...! Sebenarnya itu bukanlah kali pertama. Waktu kau sakit dan juga tertidur di taman, Axton semalaman menjaga dan memelukmu hingga kau terlena. Tanpa kau sadari tentunya.
"Axton, kau bisa kembali ke kamarmu sekarang," ucap Naora, meski hati kecilnya belum rela jika si pria pergi dengan cepat.
"Jadi kau mengusirku?" Axton tampak kecewa. Entahlah, rasanya dia masih ingin berlama-lama bersama Naora.
"Bukan seperti itu, Axton. Hanya saja Lan--"
Lidah yang sudah berlisan kembali terbungkam saat satu ibu jari Axton bermain nakal di bibir mungil Naora. Wanita itu mengurung niat untuk menyela. Apa lagi sorot mata teduh si pria yang sangat langka itu membuatnya tak lagi berkata-kata. Ia terkesima.
"Aku ... ingin mencicipinya lagi."
"Ee?" Karena diserang rasa gugup, Naora seolah mendadak bodoh.
"Ee?" Ia kian tidak paham.
Ya Tuhan, mimik muka Axton yang seperti saat ini sungguh membuatku gugup. Kemana muka masamnya itu pergi?
"Naora."
"Ya," jawabnya cepat.
"Boleh?"
"Apanya?"
"Ini?" Axton melirik ke arah bibir ranum Naora. Ibu jari masih bermain-main di sana.
Ya Tuhan ... apa dia baru saja meminta ijin untuk menciumku? Axton yang seperti ini terkesan manis.
Batin Naora terus bermonolog seiring dengan degub jantung yang sudah tak karu-karuan.
"Apa kau akan menuruti perkataanku jika aku bilang 'tidak'?"
Axton menggeleng. "Biasanya aku lebih menuruti apa yang hatiku inginkan."
Aku menyesal karena baru saja bilang dia manis. Batin wanita itu kembali.
"Lalu untuk apa kau meminta ijin segala?" Naora memasang muka kesal. Meski tak sepenuhnya kesal.
__ADS_1
Axton mendengus geli melihat reaksi wanita yang masih berada di dalam rengkuhan tangannya. Pria itu sangat gemas jadinya. Hingga membuatnya tidak bisa menahan hasrat lebih lama. Ia pun memulai dengan kecupan pertama.
Dari kecupan ringan perlahan mulai merambah ke dalam lumattan lidah. Menciptakan ciuman yang kian dalam dan basah. Kedua insan itu telah terbuai pasrah. Setiap sesapan bibir sungguh memberi sensasi mesrah.
Jantung yang berdetak berisik bagaikan melodi cinta. Mereka hanyut ke dalam nikmatnya permainan pertukaran saliva. Perasaan yang kian menggelora, membakar hasrat untuk berkelana.
"Ahh ... Axton ...." Tubuh Naora kian meremang saat merasakan sensasi basahnya lidah milik Axton yang mulai merayap ke tulang rahang dan bermuara ke leher.
Pria itu lajut bermain nakal dengan sebelah tangan menyusup ke dalam baju tidur si wanita dan langsung merangkum posesif sebelah gundukan kenyal di dalam sana. Axton kian bersemangat kala desahhan demi desahhan mengalun merdu dari bibir Naora.
"Jangan sekarang, Axton."
Tangan yang sudah menjelajah ke bagian tubuh sensitif Naora seketika terhenti. Axton juga langsung mengangkat mukanya yang semula tenggelam di antara buah dada. Dibawa netra berkabut gairah untuk memandang muka cantik di bawahnya.
"Kenapa?"
Naora memasang raut muka memohon. "Aku ... belum siap." Kendati ia sempat terlena ke dalam cumbuan lembut Axton, tapi hatinya masih meragu.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu."
Respon yang diterima sungguh di luar dugaan Naora. Tanpa ada banyak ungkapan protes, pria itu menuruti permintaannya begitu saja. Kemana perginya si Axton yang kasar dan pemaksa?
Apakah hanyut ke dalam arus cinta yang mulai bermuara di hati?
Ia kembali membetulkan gaun tidur Naora yang sudah melorot ke batas perut. Lanjut menutupi lekuk tubuh indah itu dengan selimut. Ditarik si wanita ke dalam dekapan lembut.
"Sekarang tidurlah. Ini sudah malam."
"Maaf."
"Kau harus tetap membayarnya, Naora. Entah itu kapan."
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa tidak akan meminta secara paksa perihal hakku di atas ranjang terhadap Naora.
Akhirnya pedang sakti yang sudah siap bertempur ke medan perang harus mengibarkan bendera putih sebelum sempat unjuk kebolehan. Demi menjaga perasaan Naora, Axton rela menahan ngilu semalaman.
Beberapa saat ia menatap iba si burung perkututnya yang sudah siap mengepakkan sayap. Namun harus patah semangat.
Sabar ya. Belum waktunya kau masuk ke dalam sarang.
Ralat, bukan burung perkutut, tetapi burung garuda. Kan Axton keturunan bule, jadi ukurannya beda dong dengan yang lokal. Haha ...!
Astagfirullah ...! Otak kotor Author kembali berkelana. Tolong ...! Aku masih LDRan!
Di sela kefrustrasiannya, Axton tiba-tiba menyadari sesuatu.
Kenapa aku baru menyadari bahwa milikku ini selalu bereaksi jika bersama Naora saja? Bukankah ini berarti aku sudah sembuh? Kemana saja kamu selama ini Axton?
☘
☘
☘
Bersambung~~
__ADS_1
Ternyata belum jadi belah duren pemirsa ...! Bagi yang sudah tegang, maafkan Author paling lugu ini ya🤣