Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Boleh?


__ADS_3


"Aaahhkk ...!"


Naora menjerit kala kayu balok si preman melesat cepat ke arahnya sebagai sasaran. Reflek kedua tangan menyilang di atas kepala, sebagai bentuk perlindungan diri dari serangan lawan. Hati sudah pasrah dengan keadaan. Namun, batin tak berhenti mengadu kepada Tuhan. Ia sangat mengharapkan akan keselamatan.


Brak!


"Axton!" Wanita itu sangat terkejut saat tubuh gagah sang suami berdiri kokoh di depannya, menjadikan tameng untuk dirinya dari serangan si preman.


Namun, Naora tidak bisa berlega diri begitu saja. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa balok kayu itu mendarat tepat di tangan sang suami. Barang pasti pria itu sedang terluka kini.


Brak!


Satu serangan kayu balok kembali melayang. Akan tetapi kali ini Axton kembali menang. Preman itu terpental dalam sekali tendang. Pria itu gegas membawa Naora ke dalam pelukan sayang. Hingga wanita itu sedikit lebih tenang.


"Sial!" umpat Axton saat 2 preman lain yang sebelumnya sukses ia lumpuhkan kembali bangkit dan hendak menyerangnya.


"Hei! Apa yang kalian lakukan?!"


Para preman seketika terkejut saat rombongan orang yang diperkirakan warga di sekitar kawasan memergoki aksi kejahatan mereka. Merasa kalah angka, mereka langsung berlari tunggang langgang menuju mobil dan kabur.


"Woi! Woi! Woi! Main kabur aja! Badan aja yang gede tapi nyali kecil kayak e'ek cicak! Mukanya aja yang sangar tapi beraninya main keroyok kayak emak-emak lagi rebutan minyak! huuuu!" damprat seorang warga berbadan sedikit cebol yang merasa kesal.


Sementara seorang warga yang lain tampak mendatangi Axton dan Naora, memastikan keadaan mereka. "Apa kalian baik-baik saja? Sebenarnya apa yang baru saja terjadi?" tanyanya dengan perasaan iba.


"Saya tidak tahu dari mana datangnya para preman itu. Tiba-tiba mereka menghadangi mobil kami dan menyerang," beber Axton yang masih setia menenggelamkan Naora di dalam pelukannya.


"Pak Imam, sebaiknya kita bawa mereka ke rumah dulu. Hari sudah larut. Hujannya juga masih sangat deras. Saya lihat kendaraan mereka juga rusak." Seorang pemuda bernama Rudi itu datang memberi saran.


Sejenak Imam memperhatikan penampilan Axton dan Naora yang sudah basah kuyup dan tampak menggigil karena kedinginan. Lalu ia kembali berlisan. "Anak muda, sebaiknya kalian ikutlah bersama kami terlebih dahulu untuk berteduh. Rumah kami tidak jauh dari sini."


Sepasang suami itu tampak saling melempar pandangan seolah tengah mempertimbangkan. Hingga anggukan ringan menjadi respon dari jawaban.


"Baiklah," jawab Axton begitu saja.


"Terima kasih ya Pak. Maaf sudah merepotkan," imbuh Naora yang berusaha bersikap lebih ramah untuk menutupi sikap dingin Axton.


Imam mengulas senyuman tipis lalu menuntun Axton dan Naora menuju mobil pick up yang bagian belakangnya sudah bermuatan manusia. Sesaat Axton sempat bertanya-tanya, baru dari mana mereka dengan kendaraan seperti itu?


"Ayo, Neng. Kamu duduk di depan sama Abang. Pria itu biar di belakang saja." Udin memandu tubuh Naora untuk masuk dan duduk di bangku mobil sebelah sopir, tentunya bersama dia juga.


Axton sontak memasang muka super masam lalu menepis tangan si Udin dari pundak Naora. Ia sangat tidak suka jika pria lain menyentuh wanitanya. Apalagi melihat sikap pria bertubuh sedikit cebol itu yang terkesan genit kepada si istri, membuatnya panas hati.


"Jangan sentuh-sentuh istri saya," tekan Axton terkesan sangat dingin.


"Saya hanya ingin menyuruh Neng cantik jelita ini untuk segera masuk ke dalam, Om. Kasiannya Nengnya sudah kedinginan, butuh yang anget-anget." Udin terlihat santai.


Ia bahkan kembali mengajak bicara Naora. "Ayo, Neng. Masuk aja. Abang jinak kok. Nggak doyan gigit. Tapi kalau, Neng minta digigit, ayuk ah! Abang malah seneng." Si Udin kian menjadi.


Naora tersenyum hambar. Jujur ia merasa risih karena sikap udin memang kelewat bar-bar. Sekilas diliriknya paras tampan Axton yang sudah terlihat ingin menggampar, lalu menanggapi celotehan pria setengah cebol itu dengan sabar.

__ADS_1


"Saya akan bersama suami saja di belakang, Pak. Terima kasih," ucap Naora.


"Neng pasti takut dimarahi sama Om ini ya?" celetuk Udin kembali seolah tak kenal sungkan apalagi takut. "Ada Bang Udin di sini, dia tidak akan berani marah-marah."


Naora seketika dibuat tercengang. Sementara Axton kian berang.


Si cebol keriput ini harusnya dimusnakan dari muka bumi. Merusak populasi manusia saja.


Batin Axton menggeram kesal.


"Pak Udin, jangan terlalu lama mengajak mereka mengobrol. Mereka keburu kedinginan," tutur imam yang terlihat gedek dengan kelakuan pria yang sudah tidak muda itu.


Plak!


Kepala si Udin terhuyun ke depan saat salah satu warga yang seumuran dengannya menghadiahinya sebuah tempelengan.


"Lu nyebut napa Din. Udah bangkotan lu ah, masih aja jelalatan kalau ada yang bening-bening. Pakek bergaya manggil 'om-om' segala. Ingat ... umur lu dah bau tanah juga!" sembur si Tupik.


"Sudah sini lu ikut ama gue di belakang. Mereka biar di depan." Tupik menyeret gemas si Udin yang tampak keberatan meninggalkan Naora.


Berselang tidak lama, Axton dan Naora sudah berada di kediaman Imam. Kedatangan mereka disambut ramah oleh istri dan anak si tuan rumah. Mereka juga diberi pakaian ganti agar tidak terlalu lama kedinginan karena basah kuyup.


Orang-orang tampak berbincang-bincang ringan sembari menyantap minuman hangat dan kudapan. Malam semakin larut, sudah waktunya tamu dipersilahkan beristirahat. Mengingat di rumahnya tidak ada kamar kosong, lantas Imam beserta istrinya membawa Axton dan Naora ke bangunan terpisah yang berjarak sekitar 50 meter dari kediaman mereka.


"Kalian bisa bermalam di sini. Rumah ini meski sudah lama tidak ditempati tapi istri saya selalu membersihkannya setiap hari," ucap Imam.


"Semoga kalian nyaman ya bermalam di sini. Oya, obatnya Ibu letakkan di atas nakas ya," imbuh Arsih, istri Imam.


Tidak ingin lama-lama, Imam dan Arsih ijin pamit dari sana. Hingga menyisakan sepasang anak manusia itu saja.


"Kau kenapa, Naora?" tanya Axton, menyadari mimik wanitanya yang mendadak bermendung kelabu.


Tak berniat langsung menjawab, wanita itu mengambil obat luka dari atas nakas lalu duduk di bibir ranjang. "Aku akan mengobati lukamu," ucapnya tampak tak bersemangat.


Axton ikut menjatuhkan tubuhnya di sebelah Naora. Tangan dibawa mendarat ke pipi putihnya. Raut penuh tanda tanya pun turut menghiasi muka.


"Ada apa? Hm? Kenapa kau tiba-tiba terlihat sedih?" Axton bertanya dengan nada lembut.


Lagi-lagi tak langsung menjawab, Naora malah fokus mengobati tangan Axton yang terluka karena pukulan preman tadi. Melihat luka-luka sang suami merangsang perasaan nyeri. Hingga mendorong cairan bening dari sepasang jendela hati.


Tertegun, Axton kian dibuat bertanya-tanya. Ia langsung memutuskan kefokusan Naora dari lukanya. Ditangkup muka cantik si wanita, disusul tatapan lekat tak bercela. Sepasang ibu jari langsung berperan menyeka pipinya yang dibasahi air mata.


"Sebenarnya kau kenapa, Naora? Apa kau sakit? Jangan diam saja kalau aku bertanya. Sikapmu ini membuatku cemas."


"Aku sedih, Axton." Naora mulai terisak dalam satu kali ucapan kalimat.


"Kenapa? Ada apa?"


"Gara-gara melindungiku, kau kembali terluka. Padahal lukamu yang lama masih belum sembuh. Sekarang kau malah mendapat luka yang baru." Wanita itu kian terisak seiring dengan perasaan bersalah.


"Jadi karena lukaku ini kau bersedih?"

__ADS_1


Naora mengangguk lemah sebagai jawaban.


Axton menyungging senyuman di bibir sembari membatin.


Di saat seperti ini pun dia terlihat sangat menggemaskan. Bisa-bisanya ia menangisi luka kecil seperti ini.


"Aku tidak apa-apa, Naora. Luka kecil ini tidak akan membunuhku."


"Kenapa kau lakukan itu, Axton? Harusnya kau biarkan saja preman itu tadi memukulku.


"Bagaimana bisa aku membiarkan wanita yang kucintai terluka."


Naora menatap dalam manik abu-abu si pria. Ia melihat sebuah kejujuran di sana. "Axton ...," lirihnya.


"Demi Tuhan, aku mencintaimu, Naora." Axton kembali meyakinkan Naora terhadap perasaannya.


Perasaan haru menyongsong hasrat di dalam dada. Wanita itu beranjak dari bibir ranjang lalu berpindah ke pangkuan si pria. Leher Axton pun mulai terhias oleh kalungan tangannya.


"Terima kasih," ucap Naora.


"Untuk apa?" tanya Axton.


"Karena sudah melindungiku dan juga mencintaiku."


"Itu sudah kewajibanku, Sayang." Si pria memberi kecupan manis di dagu Naora.


Di luar rumah, hantaman ribuan air langit seolah membentuk alunan merdu tangga nada. Suasana sudah sangat mendukung hingga sepasang Adam dan Hawa itu mulai hanyut ke dalam perasaan yang membuana.


Sentuhan dan belaian, kecupan dan sesapan pun terjadi silih berganti. Suara rintik hujan di atas genting dan decapan permainan bibir seolah saling mengiringi.


"Naora ...." Sepasang netra Axton sudah berkabut gairah. "Boleh?" tanyanya penuh makna.


"Apanya?" Naora sempat balik bertanya di sela kuasa hasratnya yang hampir membuncah.


Tangan diajak menelusup di balik kain lalu mereemas sepasang benda sintal di sana. "Aku ingin."


"Hmm ... ahh ... tutup dulu pintunya, Axton."





Bersambung~~


Nofi minta muup .......! part ini lanjut besok ya🙏


🤣🤣🤣


Menyambar

__ADS_1


__ADS_2