Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan

Istri Ke-Dua Tuan Muda Arogan
Patuhi Perintahku


__ADS_3


Di sebuah bangku salah satu sudut taman, Naora terpekur dengan pikirannya. Menengadahkan muka ke arah langit hitam bertabur bintang, melabuh pandangan menerawang. Ingatan akan percakapannya bersama Milah kemarin terus saja terulang.


"Bi, sebenarnya Axton sakit apa?" Naora mencoba mencari jawaban dari rasa ingin tahunya.


Sebesar apapun kekecewaannya terhadap Axton, kecemasan tetaplah ada. Bukankah itu manusiawi apalagi bagi seorang Naora, si wanita berhati emas dengan tingkat empati tak terkira? Lagian, tumbangnya pria arogan itu di hadapannya, bukanlah sesuatu yang dapat dipandang sebelah mata, apalagi dianggap hanya angin lalu begitu saja.


Mungkin jika wanita lain yang berada di posisinya saat ini, lebih memilih berpura-pura buta dan tuli. Tidak mau tahu, masa bodoh, apalagi peduli. Sayangnya, sikap seperti itu tidak ada pada diri Naora sang istri.


Milah menghela napas pelan. Melihat ekspresi Naora yang seolah tersiksa oleh rasa penasaran dan juga kekhawatiran, membuatnya tak tega untuk tidak menjawabnya dengan segera.


"Tuan Muda sebenarnya memiliki trauma psikologis yang berkaitan dengan kolam renang. Seperti yang Nak Naora lihat tadi, apa yang terjadi padanya adalah dampak fatal dari traumanya. Bibi juga terkejut saat menyaksikan tindakan nekat Tuan Muda, padahal sebelumnya dia selalu berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan pinggiran kolam renang," jelasnya, disusul helaan napas kembali.


Sedih, mengingat serangkaian peristiwa masa lalu yang menyebabkan sang Tuan Mudanya itu harus menanggung rasa trauma psikologis sedari kecil, membuat perasaan keibuannya dilanda kepiluan. Dia sangat tahu, bagaimana menderitanya Axton di balik sikap arogannya.


Ternyata aku dan dia memiliki trauma yang sama. Hanya saja, aku tidak separah dia. Dan aku akan bertekad untuk memerangi rasa traumaku ini. Kata hati Naora.


"Jelas-jelas dia sadar akan trauma yang dimiliki, tapi kenapa dia nekat menolongku?"


"Tentang itu, Bibi juga tidak tahu pasti, Nak Naora. Yang Bibi tahu, Tuan Muda Axton terlihat sangat cemas waktu kamu tak segera sadarkan diri."


Naora terdiam sejenak, memberi kesempatan pada otak untuk mencerna perkataan Milah, lalu kembali berlisan. "Ternyata pria searogan Axton, juga bisa merasa bersalah. Itulah sebab dia mencemaskanku. Hmm ... menurutku lebih tepatnya ia takut jika aku mati di rumah ini karena ulahnya," timpalnya, yang lebih menjurung ke cara pandang yang lebih realistis.


Lagian mana mungkin Axton menolongku atas dasar rasa tanggung jawab sebagai seorang suami yang memiliki kepedulian kepada seorang istri. Dia hanya tidak ingin aku mati saja. Mungkin ... dia takut arwahku gentayangan di rumah ini. Bisik hati kecil Naora. Ia memang berusaha agar tidak terbuai ke dalam rasa terlalu percaya diri yang akan menjerumuskannya pada sebuah harapan tak pasti.


"Seharusnya Nak Naora tidak perlu bertanya kepada Bibi tentang alasan tindakan Tuan muda, karena sepertinya Nak Naora sudah mendapatkan jawabannya sendiri." Milah mengulas senyum diikuti sindiran halus, dan tentu Naora menyadari hal itu.


Naora tersenyum kikuk seraya menggaruk ujung hidung mancungnya. Namun, gegas ia kembali melontarkan pertanyaan lagi. Rasanya begitu banyak hal yang harus dia korek agar tidak memposisikan dirinya sebagai penghuni rumah yang tidak tahu apa-apa seperti kambing congek.


Ditatapnya muka Milah yang sudah penuh akan tanda penuaannya itu. "Bi, kalau boleh tahu, apa penyebab traumanya itu?"


Milah membalas tatapan Naora dengan perasaan sendu. Lagi-lagi ia kembali teringat akan sosok wanita yang dulu selalu tersenyum hangat kepadanya. "Ibu Tuan Axton meninggal karena tenggelam di kolam 20 tahun yang lalu. Mirisnya, Tuan muda Axton melihat sendiri saat ibunya meregang nyawa. Waktu itu, dia masih berusia delapan tahun, masih kecil dan rapuh, tapi dia sudah harus menyaksikan peristiwa mengerikan itu."


Naora seketika terkejut. Ia bahkan sampai menutup mulut dengan sebelah tangannya. Tidak menyangka akan musibah yang menimpa Axton. "Ya Tuhan ... waktu itu ia pasti sangat terpukul."


Milah tersenyum simpul sebagai tanggapan, menutupi telaga beningnya yang sudah mengembun. Iya, Tuan Axton memang sangat terpukul dan terus merasa dihukumi hingga saat ini. Bahkan peristiwa kematian ibunya seolah tak membiarkannya hidup dengan tenang. Batinnya berbisik pilu.


"Tak seharusnya ia menempati rumah yang memiliki kolam renang," komentar Naora.


"Sebelumnya rumah ini tidak memiliki kolam, Nak Naora. Setelah Tuan Axton menikah dengan Nyonya Lana, barulah kolam itu dibangun atas permintaan Nyonya Lana."


Tersenyum hambar, Naora tak menyangka kalau seorang Axton bisa bertindak seperti itu. "Benar kata orang-orang, jatuh cinta bisa bikin manusia bertindak bodoh, termasuk melakukan  apa pun yang diminta pasangan meski harus mengorbankan dirinya."


Milah tergelak lirih. Kesenduan yang menyelimuti hatinya perlahan memudar. "Sepertinya, Tuan Muda akan lebih sering bertindak bodoh jika jatuh cinta dengan Nak Naora."


Naora tergelak. "Bi Milah pintar sekali mengajak bercanda. Mana mungkin dia bakal jatuh cinta sama aku?"


"Nak Naora harus tahu juga, saat kau tak sadarkan diri tadi, Tuan Muda melakukan ini kepadamu." Milah mempertemukan kesepuluh jari tangan beberapa kali seolah memperagakan orang yang berciuman. "Napas buatan."

__ADS_1


"Haaah..! Kenapa aku malah kembali mengingatnya?" Naora seketika kembali dari lamunannya. Ingatan percakapan yang berujung tentang kedua pasang bibir yang saling menempel seketika mengundang semburat merah di pipi.


"Dia bahkan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa setelah merenggut ciuman pertamaku di kamar kemarin. Memang dia kira aku tidak punya hati apa? Menyebalkan sekali." Naora terus menggerutu kesal.


"Sebenarnya kenapa waktu itu dia menciumku?" Ia mengangkat lima jemari lentik dan dijatuhkan ke bibirnya. "Aku merasa bibirnya seakan masih menempel di sini."


Naora terkesiap saat suara langkah kaki terdengar kian mendekat. Diputar lehernya ke arah sumber suara, hingga sepasang mutiara hazelnya menangkap sosok Axton yang berjalan menuju taman.


Buru-buru ia bawa tubuhnya beringsut di balik pagar tumbuhan di dekatnya, bermaksud bersembunyi sebelum Axton menyadari keberadaannya. Tidak peduli dengan gaun tidurnya yang kotor karena duduk di atas tanah.


Kenapa aku malah bersembunyi? lirih Naora, keheranan dengan tingkah lakunya sendiri dan mau tidak mau harus bertahan dengan posisinya saat ini. Sudah terlanjur.


Dalam heningnya malam, Naora diam-diam memperhatikan gelagat Axton yang tampak berdiri menghadap kolam teratai. Sorot mata dan air mukanya seolah syarat akan makna, tapi begitu sulit didiskripsikan dengan telanjang hati.


Ada apa dengan raut mukanya itu? Sebenarnya apa yang dia rasakan saat ini? Rasanya ingin sekali aku menghiburnya? Naora tertegun, saat melihat kesenduan di balik senyuman tipis Axton.


Baru kali ini, Naora melihat seorang Axton Sanders melepas paras kearogannya. Bahkan saat ini, pria itu lebih terlihat membutuhkan pundak sandaran seseorang.


"Kyaaak ...!" Naora tiba-tiba memekik seiring dengan tubuh yang beranjak seketika. "Apa itu tadi?" serunya, saat tangan sempat menyentuh sesuatu yang terasa lembut tapi berbulu.


Miaow ...


"Kucing? Syukurlah hanya kucing, aku kira ulat bulu raksasa. Ngomong-ngomong sejak kapan ada kucing di sini?" Ia terus berceloteh, melupakan tujuannya bersembunyi di balik pagar tanaman. Dan tanpa disadari bahwa Axton sudah memperhatikannya.


"Sedang apa kau di sini?" suara bariton Axton sukses menyentak perhatian Naora.


Blush ...


"A-aku--," kalimat Naora terputus karena selaan Axton.


"Kau menguntitku," tuduh Axton, lalu menggendong kucing peliharaannya yang tampak menggesek-gesekkan tubuhnya pada kaki sang tuan.


Si wanita langsung memasang tampang terkejut setelah Axton melayangkan sebuah tuduhan yang menurutnya ... sangat nggak banget. "Aku sudah berada di sini terlebih dahulu sebelum kau datang," sanggahnya.


"Terus apa yang kau lakukan malam-malam di balik semak-semak tanaman itu?"


"Karena aku ingin," balasnya sekenanya.


"Ingin bersembunyi dariku maksudnya?"


"Ee?" Naora seakan mati kutu. Axton begitu mudah membaca situasi.


"Kenapa?"


"Ee? Apanya?"


Axton mengambil beberapa ayunan kaki, membawa tubuh gagah berbalut piyamanya berdiri tepat di depan Naora. "Kenapa kau bersembunyi dariku?"


Naora menggigit bibirnya, entah mengapa dia berubah menjadi seorang yang bodoh. Tak mampu mencari alasan dengan cepat. Ditambah lagi tatapan mengintimidasi Axton membuatnya kian salah tingkah.

__ADS_1


Axton menggiring maniknya ke arah bibir ranum wanita di depannya. "Kau sedang menggodaku?"


Si wanita tercengang luar biasa. Tidak terima atas tuduhan kedua Axton. "Atas dasar apa kau menuduhku seperti itu?"


"Si betina akan menarik perhatian seksual si pejantan dengan cara menggigit bibirnya. Seperti yang kau lakukan saat ini. Apa kau bermimpi untuk bercinta denganku?"


"HAH??" Naora seakan mengalami syok terapi. "Apa kau tidak berpikir kalau perkataanmu itu sangat tidak sopan?!" Ia melayang tinjuan ke lengan Axton. "Betina, pejantan, memang kau pikir binatang? Iya aku tadi bersembunyi saat kau datang. Jangan tanya kenapa, aku juga tidak tahu kenapa aku bersembunyi."


Axton menangkap tangan Naora saat hendak menghadiahinya kembali sebuah tinjuan. "Beraninya kau memukulku! Kau sepertinya tidak takut kuhukum!"


"Aku tidak pernah takut kepadamu."


"Kau terlalu yakin."


"Kenapa tidak?"


"Akan kubuktikan." Axton menarik tangan Naora hingga tubuhnya mendekat. Andai tidak ada kucing yang sedang bermanja dalam gendongan Axton, sudah pasti tubuh mereka akan saling menempel sempurna.


"Kyaak! Jangan!" pekik Naora bersamaan dengan mata terpejam di kala Axton hampir menciumnya.


"Pembohong!"


Naora kesal ternyata Axton mencoba mempermainkannya. "Rasakan ini!"


"Argh ...! Apa kau cari mati?!" Axton meringis kesakitan karena sebuah tendangan di kakinya.


"Kau yang cari mati!" Ia langsung merebut hewan berbulu dari gendongan Axton. "Kucing ini aku yang bawa. Lagian kau itu lebih pantas memelihara buaya atau kudanil, sesuai dengan karaktermu yang setiap hari isinya marah-marah."


Wanita itu melenggang pergi. Namun baru beberapa kali mengambil tapakan kaki ia berhenti dan kembali memutar tubuh. "Aku sangat merindukan Daddy Edrich dan aku akan mengunjunginya besok. Tidak ada salahnya kau kuberi tahu terlebih dahulu."


"Aku akan mengantarmu."


"Tidak perlu."


"Aku tidak suka ditolak."


"Aku tidak peduli."


"Kalau begitu aku tidak akan mengembalikan kalungmu ini." Axton mengeluarkan sebuah kalung liontin milik Naora yang ternyata masih dibawanya.


"Kembalikan." Naora mendekat, mencoba merebut kembali kalungnya. Sayangnya, tubuh Axton tertalu tinggi, terlalu sulit menggapai kalung tersebut.


"Kau harus mematuhi semua perintahku jika ingin kalung ini kembali."




__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2